Mall part 1

1155 Kata
Pagi itu Ara bangun lebih cepat. Belum juga adzan subuh. Dia sudah buru – buru keluar kamar karena lapar. Setelah semalaman dia tidur dengan perut kosong. Karena ngambek semua orang gak di rumah. Padahal hari itu adalah hari ulang tahunnya. Dia begitu kesal karena keluarganya tak mengingat hari ulang tahunnya. Dia berjalan menuju dapur dan mendapati sebuah kotak besar di meja makan. Tapi dihiraukannya, dia menuju kulkas dan membukanya. Beruntung ada beberapa bungkus bakso disana. “Apa kak Hans kemarin kesini ya?Ini kan baksonya dia.” Ucapnya pelan. Ara segera mengambil panci dan menghangatkan dua bungkus bakso sekaligus. Sepertinya dia benar – benar kelaparan. Dia memakan bakso dengan lahap. “Wah bakso bondet kesukaanku.” Ucapnya sambil mengunyah setiap baksonya. Lalu dia penasaran dengan isi kotak besar di meja. Dia pun segera membukanya. Dan ternyata isinya adalah sebuah kue tart besar. Bertuliskan nama dan usinya. “Oh mereka gak lupa?” pikirnya. “Jangan – jangan mereka sengaja ninggalin aku kemarin? Terus dateng malem – malem dan mau ngasih kejutan. Tapi akunya tidur? Hahahaha. Keluargaku memang koplak.” Ucapnya sendiri. Setelah baksonya habis dia segera mengambil pisau untuk memotong kuenya. “Ulang tahun modelan apa ini? Potong kue sendiri dimakan sendiri. Duh nasib jomblo.” Ucapnya sambil menggigit potongan kue pertamanya. Kemudian dia mendengar pintu kamar terbuka. Ibunya keluar kamar sambil mengulung rambutnya ke atas. “Loh sudah bangun kamu Ra?” “He.em” jawabnya sambil tetap mengunyah kue dimulutnya. “Kok gak bangunin Ibu?” “Laper.” “Semalem kamu sih sudah tidur. Gak makan sebelum tidur pasti.” “Kok malah nyalahin aku? Kan kalian semua pergi. Aku ditinggalin sendiri.” Jawab Ara kesal. “Hahaha. Kan maksudnya mau ngasih kejutan. Eh yang mau dikasih kejutan malah sudah ngorok. Sudah di pulau mimpi.” “Ya siapa juga yang mau nungguin orang dinner? Tidur enak.” “Enak gak kuenya?” “Enak. Stop. Gak boleh minta. Punyaku.” “Pelit banget. Perutmu meletus kalau dimakan semua.” “Ada apa nih rame – rame.” Ucap Hans yang tiba – tiba sudah ada di dapur. “Laper juga kamu Hans?” tanya Ibu Ara. “Iya nih Tan. Laper, padahal semalem uda sempet makan sebelum kesini.” Ucap Hans sambil menarik kursi untuk duduk. Kemudian Ibu Ara mengambil dua bungkus bakso dan langsung menghangatkannya juga. “Tante paa bangun kaget loh tadi Hans.” “Kenapa Tan?” “Tante denger ada suara klutek klutek. Takut ada tikus. Jadi buru – buru bangun tadi.” “Nah itu dia Tan tikusnya. Tikus kepala hitam. Hahaha.” Hans tertawa puas sekali. Sementara Ibu Ara hanya ngikik pelan, takut anaknya marah. “Terusin saja terus.” Ucap Ara sambil mengunyah potongan kuenya lagi. “Minta Ra.” Ucap Hans. “Gak boleh.” Jawabnya dengan mengambil kotak kuenya. Lalu membawanya ke kamar dan menutup pintunya rapat – rapat. “Kesambet apaan dia Tan?” “Palingan dia sebel gara – gara kemaren pada sibuk sendiri. Niatnya mau ngerjain dia, eh kena zonk kita ya Hans.” “Iya Tan, tidurnya pules bener. Dibangunin gak respon gitu. Apa jangan – jangan dia sengaja ya Tan ngerjain kita balik?” “Hahaha. Bisa jadi sih. Yaudah ayo makan, baksonya uda siap.” Ucap Ibu Ara sambil mangap mau menyuap bakso ke mulutnya. Tapi tiba – tiba dua orang lainnya datang dan mengacau. “Punyaku mana?” ucap Ayah Ara dan kakaknya. “Di kulkas. Panasin sendiri ya, Ibu mau makan dulu.” Jawab Ibu Ara sambil menyuap sesendok bakso ke mulutnya. “Wid, panasin baksonya.” Perintah Ayahnya. “Aku deh yang kena.” Jawab wiwid. “Ara belum bangun Bu?” tanya Ayahnya, sambil ikut duduk. “Sudah kok. Tuh sudah makan bakso dua bungkus, terus kotak kuenya dibawa masuk kamar. Gak boleh minta katanya Yah.” Jawab Ibu Ara. “Raaaaa.” Panggil Ayahnya. “Apa?” “Kesini.” “Sebentar.” “Sekarang.” “Iyaaaaaaaa.” Jawab Ara sambil keluar kamar. Dia masih mengenakan piyama nya dan juga mengunyah kuenya. “Sebentar lagi subuh. Kok malah masuk kamar. Ayo siap – siap subuhan sana. Ayah hari ini cuti.” “Terus?” “Ayo jalan – jalan.” “Kemana?” “Terserah kamu mau kemana.” “Ke mall ya, belanja?” “Iya deh iya.” *** Di mall. Mereka langsung menuju food court. Karena pagi tadi perut mereka hanya terisi dengan bakso. Ara memesan beberapa ayam goreng pedas kesukaannya. Pokoknya hari itu adalah hari Ara yang tertunda. Setiap apapun yang akan dibeli harus terserah dia. Setelah makan mereka beranjak pergi ke sebuah toko baju. Selain memang sudah biasa beli disana, barangnya bagus dan juga banyak diskon. Ara memilih beberapa tunik berwarna pastel. Juga celana jeans warna hitam. “Hitam lagi?” tanya Ibunya. “Bagus Bu. Aku belum punya yang model ini.” Jawab Ara. “Bagus darimananya? Isi lemarimu semua celana hitam, warna lain palingan cuma tiga biji.” “Celana gak punya biji Bu. Hahaha.” Jawab Ara sambil tertawa. “Ra ini bagus gak?” tanya Wiwid. “Jangan yang itu. Yang warna biru aja.” “Kenapa?” “Biar gak minjem punyaku lagi.” Jawabnya sambil kedip kedip mata. “Yeeee. Iya deh iya. Dasar pelit.” “Heh inget dong. Itu badan segede apa. Bajuku pada melar kalau dipinjem terus. Situ yang pelit, ga mau beli maunya minjem teruuuuus.” “Sudah – sudah, bawa ke kasir sana.” Lerai Ayahnya. Setelah puas belanja baju, sekarang giliran Ibu Ara berburu stok buah di fresh market. Ibu Ara segera membawa trolinya melesat masuk menuju sebuah Rak besar bertuliskan “Durian Montong Super”. Hans dan Ayahnya hanya bisa geleng – geleng kepala melihat mereka bertiga. Tak butuh waktu lama, troli mereka sudah penuh. Ada duren, anggur, apel, leci, stroberi, jeruk, nanas, dan banyak lagi. “Mau buka kios buah Tan?” ucap Hans menggoda Tantenya. “Mumpung dibayarin. Hahaha.” Jawab Ibu Ara puas. Sementara suaminya hanya bisa menghela napas. Setelah kedua putrinya memborong beberapa setel baju. Sekarang ganti istrinya memborong buah seperti orang kulakan. “Habis deh jatah bulan depan.” Ucapnya sambil nyengir. “Oh tidak bisa. Jatan bulan depan harus tetap ada. Ini kan pake uang Ayah. Uang jatah Ibu gak boleh kurang sepeserpun.” “Kalau enggak?” Sahut Ayah Ara. Istrinya mendekat padanya lalu berbisik. “Jangan harap si entong bisa nelusup ke sangkarnya. Hehehe.” “Wah bahaya dong. Iya deh iya.” Jawabnya pasrah. “Bisik – bisik apa Bu?” Tanya Wiwid sok gak tahu. “Hush gak boleh nanya – nanya urusan orang dewasa.” Jawab Ibunya. “Wiwid kan juga dewasa Bu.” Godanya. “Jomblo dilarang nanya.” “Hahaha. Skak mat.” Sahut Ayahnya. Mereka sedang berada di sebuah toko home decor saat Wiwid tiba berkata. “Itu Diki bukan Ra?” reflek Ara menoleh dan melihat ke Arah tangan kakaknya menunjuk. “Mana?” tanyanya. “Itu yang lagi sama cewek. Baju merah itu loh.” Jelasnya. Ara kaget, kenapa juga harus ketemua sama cowok sok ganteng itu lagi. “Bukan kak.” Kilahnya padahal dia hapal betul bagaimana postur dan gestur Diki. “Masak sih? Bentar ya.” “Eh kak mau kemana?” “Bentar.” Jawabnya sambil berlalu. “Mau kemana Wiwid itu Ra?” tanya Hans. “Gak tahu.” “Loh dia nyamperin siapa itu?” “Hah? Dasar mbak Wiwid aneh – aneh saja sih kelakuannya.” Ara segera berlari ke Arah kakaknya. “Mbak ayo, ditunggu Ayah.” Ucapnya sambil menarik tangan Wiwid. Tapi ditepis oleh kakaknya. “Ayo kak.” Ajaknya lagi. “Aku sudah bilang kan. Beneran Diki loh Ra.” “Ya terus kenapa?” “Kok kenapa? Kan pacarmu?” pertanyaan Wiwid membuat gadia disebelahnya memasang raut wajah yang aneh. Sepertinya cemburu. “Udahlah kak. Ayo.” “Eh Dik. Ngapain diem saja? Kemaren mohon – mohon minta dikasih tahu acara kejutan di kampus. Ini siapa? Pacarmu?” Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN