Mall part 2

1136 Kata
“Ayo kak.” Ajaknya lagi. “Aku sudah bilang kan. Beneran Diki loh Ra.” “Ya terus kenapa?” “Kok kenapa? Kan pacarmu?” pertanyaan Wiwid membuat gadia disebelahnya memasang raut wajah yang aneh. Sepertinya cemburu. “Udahlah kak. Ayo.” “Eh Dik. Ngapain diem saja? Kemaren mohon – mohon minta dikasih tahu acara kejutan di kampus. Ini siapa? Pacarmu?” “Eh, bb – bukan Mbak.” Jawabnya. Gafis disebelahnya langsung melepaskan pegangan tangannya pada Diki. “Oh aku bukan pacarmu ya?” Ucap gadis itu. “Sudahlah Jen, kita kan memang gak pacaran.” “Apa? Kita gak pacaran? Terus selama beberapa bulan ini kamu anggap aku apa?” “Jen, cukup.” Bentak Diki padanya. Membuat Ara dan kakaknya ikut kaget mendengarnya. Karena selama ini dia tidak pernah bersikap sekasar itu. “Tega banget kamu Dik. Kenapa kamu bentak aku hah? Salah apa aku sama kamu?” ucapnya sambil terisak. “Aku gak pernah bersikap kasar sama kamu. Kamu minta aku gak deket sama temen cowok juga uda aku turutin. Kamu minta apa juga aku kasih. Aku nunggu kamu berbulan – bulan kesini. Katanya kamu ambil cuti buat ketemu aku. Ternyata kamu ambil cuti karena dia ulang tahun?” Isaknya mulai semakin menjadi. Ada getar disetiap perkataan gadis itu. Sangat jelas dia menahan tangisnya. Menahan air matanya agar tidak jatuh. “Setelah semua itu. Kamu bilang aku bukan pacarmu? Aku bukan siapa – siapa kamu? Lalu untuk apa panggilan sayang dan segala kata cinta itu? Semuanya palsu?” ucapnya sambil mengatur napasnya. “Jen.” “Sudahlah aku gak mau denger apa – apa lagi. Sudah cukup semuanya. Sakit tahu Dik.” “Malah drama disini.” Sela Wiwid. Gadis itu memandangnya dengan tatapan “tega banget kamu bilang gitu mbak”. “Ayo mbak.” Ajak Ara. “Eh aku kasih tahu ya. Kamu gak dianggap pacar tuh sama dia. Dia kemarin mohon – mohon sama aku buat ketemu sama adikku. Asal kamu tahu, dia belum move on. Makanya jangan asal mau sama cowok hanya karena dia berseragam. Ga penting. Nyari yang pengusaha saja. Lebih jelas dan bisa diawasi.” Ucap Wiwid sambil menepuk bahu gadis itu. “Dan kamu. Gak usah deketin Ara lagi deh. Tuh, cowok itu lagi pedekate sama Ara. Ganteng, mapan, sopan, ga selingkuhan.” Ucap Wiwid sambil berlalu pergi. “Dia mantan apa masih pacarmu sih?” tanya gadis itu pada Diki. “Mantan.” Jawabnya. “Terus aku siapa kamu?” “Temen.” Plak. Sebuah tamparan mendarat di pipi Diki. “Dasar ya, bener kata kakak tadi. Sudahlah gak usah deketin aku lagi.” Ucap gadis itu sambil berlalu pergi. “Jen, tunggu Jen.” Panggilnya sambil setengah berlari. Dia meraih tangan gadis itu. Tapi ditepis olehnya. “Apa lagi?” “Sudahlah gak usah pedulikan kakak tadi. Dia cuma ngebela adiknya saja.” “Tapi kan aku bukan pacarmu.” “Yaudah ayo kita pacaran.” “Setelah kamu dicampakan sama dia, baru kamu ngajak aku pacaran? Padahal sudah beberapa bulan loh kita jalani ini. Baru juga ketemu, eh gak diakuin.” “Maaf maaf. Kita pacaran ya mulai sekarang.” “Ogah. Tadi aku gak kanu anggap. Sekarang ngajakin pacaran? Mimpi.” *** “Darimana kalian?” tanya Ibunya. “Toilet.” Jawab Wiwid singkat. Ada rasa kesal dan rasa sesal pada dirinya. Karena sudah memberitahu tentang acara kejutan itu. “Ra maaf ya.” “Buat apa mbak?” “Kemarin kamu ketemu Diki kan di kampus?” Ara hanya mengangguk. “Itu aku yang ngasih tahu Ra. Sebelumnya Nesa nanya tentang kue kesukaanmu. Lalu dia cerita mau bikin kejutan ulang tahun. Eh kok ya kebetulan si Diki chat katanya mau minta maaf ke kamu.” “Oh jadi mbak yang ngasih tahu.” “Kenapa memangnya?” “Aku aja mikir ada temenku yang lakuin itu.” “Maaf ya Ra. Kemarin gimana pas ketemu? Kalian balikan?” “Enggaklah. Gila aja mau balik sama dia.” “Oh sukur deh.” “Aku sampe malu dilihatin banyam temen loh mbak.” “Kenapa emangnya?” “Sudah bentukanku aneh gara – gara di teplokin telur dan ditepungin. Eh ada drama sama Diki pula. Dobel dobel malunya.” “Dia bilang apa saja memangnya?” “Ngajakin balik lah intinya. Aku jelas gak maulah. Buat apa juga.” “Iyalah sudah ada pak pelaut ya kan? Hahaha.” Ucapnya sambil mencolek hidung Ara. “Mbak jangan keras – keras nanti kak Hans denger.” Ucap Ara. “Gak boleh denger apa aku?” ucap Hans mengagetkan Ara. “Tiba – tiba dateng aja kayak penampakan.” Jawab Ara. “Penampakan mana ada yang ganteng.” “Hidih, siapa yang bilang kakak ganteng? Mungkin dia rabun, minus atau katarak matanya.” Cerocos Ara. “Aku denger loh tadi ada yang bilang aku ganteng.” Ucap Hans sambil menaik turun kan alisnya pada Wiwid. “Hih. Salah denger kamu tuh. Apa gini gini hah?” ucap Wiwid sambil menirukan gerakan alis Hans. “Kalian nih berantem mulu. Pantesan sama.” Sahut Ara. “Sama apanya?” ucap mereka serentak. “Sama – sama jomblo. Hahaha.” Ucap Ara sambil berlari menjauh, sebelum keduanya menoyor kepalanya. *** Hape Ara berdering. Ada panggilan video dari Luffi. Dia segera sembunyi dibalik rak. Menjauh dari kedua kakaknya yang suka rese. “Hai.” “Loh lagi dimana?” tanya Luffi. “Di mall.” “Sama siapa?” “Ayah, Ibu, Mbak Wiwid sama kak Hans.” “Siapa Hans?” “Gak penting. Anaknya om ku dia.” “Lagi belanja apa?” “Banyak haha. Mumpung ada Ayah. Kuras saja ATM nya.” “Kok kamu sendirian? Katanya ramean?” “Ya aku gak deket – deket mereka lah. Buat apa coba?” “Mau kenalan sama mertua. Hahaha.” “Siapa yang mau kenalan sama mertua?” ucap Ayahnya yang tiba – tiba sudah ada disampingnya dan mengintip ke layar hapenya. “Ayah.” “Apa?” “Kok disini?” “Ya kan belanja milih dong.” “Kan aku kaget.” “Mana yang mau kenalan sama mertua? Sini Ayah mau ngomong.” “Gak ada.” Ara segera mematikan telepon video itu segera. Sebelum Ayahnya semakin kepo. “Mana coba lihat?” “Tuh sudah mati.” Ucapnya sambil menunjukkan layar hapenya yang sudah hitam. Tapi tanpa Ara sadari, Luffi menelponnya lagi. Hapenya langsung direbut oleh Ayahnya. “Halo.” Sapa Ayahnya pada Luffi. “Halo Om.” Jawabnya. “Kamu yang tadi bilang mau kenalan sama mertua?” tanyanya to the point. “Ayah.” Ucap Ara pelan sambil menarik – narik baju Ayahnya. “Sebentar Ra. Mau kenalan sama calon mantu kok gak boleh sih.” Lalu Ayahnya berjalan pergi menuju Ibunya. Mendengar itu Luffi tersipu malu. “Bu, ada yang mau kenalan katanya.” “Siapa yah?” “Calon mantu.” “Halo Bu.” “Eh kamu. Gimana kabarnya? Kapan turun kapal?” goda Ibu Ara pada Luffi. “Loh Ibu sudah kenal?” Tanya Suaminya. “Sudah. Beberapa hari yang lalu.” “Wah, curang nih. Ayah ketiggalan info. Nak kamu kalau turun kapal. Mampir ke rumah ya?” “Siap Om.” “Eh tapi, bukannya pacar Ara itu Diki ya? Kok ini beda?” ucap Ayahnya begitu saja. Lalu Istrinya menutup mulutnya sambil mrnaruh telunjuknya di depan mukit “sssst.”. “Kenapa?” bisik Suaminya. “Nanti Ibu ceritain. Itu mereka lagi deket. Jangan ngacau deh.” “Maaf, hehe.” Luffi yang sudah mendengar penjelasan Ara sebelumnya, sudah gak kaget lagi jika ada yang berkata begitu. “Aduh maaf nih, Om gak bermaksud apa – apa.” “Gak pa – pa Om.” “Kalau lagi turun kapal jangan lupa mampir ke rumah loh.” Ucap Ayahnya pada Luffi. “Iya Om.” “Yaudah ya, Om kasih ke Ara saja ya.” “Iya Om.” “Nanti aku hubungin lagi ya kalau sudah di rumah?” “Iya, lanjut deh jalan – jalannya.” “Dah.” “Dah, muach.” Ucap Luffi sambil memonyongkan bibir seakan sedang mencium Ara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN