Sore yang syahdu. Ara sedang duduk di teras rumahnya. Sambil membaca novel karya Dan brown favoritnya. Secangkir green tea dan sepotong roti panggang. Lembar demi lembar dibacanya dengan fokus. Hingga tak sadar Wiwid sudah duduk seberang meja. Wiwid mencomot rotinya hingga habis. Ara akan mengambil roti panggangnya. Dia meraba piringnya. Tapi tak berasa ada apapun disana. Barulah dia menoleh dan mengecek iso piringnyi. Nihil. Roti panggangnya sudah raib tak bersisa. Kemudian dia baru melihat ada kakaknya di depannya sambil senyum – senyum.
“Mbak Wiwid makan rotiku?”
“Iya. Hehe. Enak. Bikin lagi gih. Aku minta.” Ucapnya tanpa rasa bersalah.
“Mbak gak ada akhlak emang. Sudah ngabisin tanpa ijin malah ngelunjak minta dibikinin. Sakit tapi tak berdarah.” Ucap Ara sambil menyentuh dadanya.
“Halah tepes saja pake dipegang segala.”
“Daripada gede kayak melon, BH sampe gak muat.”
“Enak tahu, empuk dan kenyal. Bisa buat bantal.”
“Siapa juga yang mau make buat bantal? Jomblo aja sok anu – anu.”
“Biarin, daripada gak jomblo tapi LDR. j****y, mending jomblo tapi banyak yang belai. Hahaha.”
“Heh mulutnya.” Ucap Ara sambil mencubit pipi kakaknya yang gembil.
“Ra minuman apa nih?”
“Kenapa?”
“Kok pahit?”
“Itu kan green tea, pahit darimananya. Ya kalo americano.”
“Apa lagi tuh?”
“Ituloh kopi item tanpa gula.”
“Bilang kopi item aja americano.”
“Kan banyak jenisnya kopi. Mbak sih kurang gaul. Kebanyakan dibelai tapi gak diajak jalan. Hahaha.” Ara tertawa puas. Kemudian dia berjalan masuk ke dalam rumah. Meninggalkan kakaknya yang sedang cemberut karena diledek olehnya.
***
Sebuah notifikasi chat masuk di hape Ara. Wajahnya berbinar melihat itu. Dengan senyum diwajahnya, dia segera membalas chat dari Luffi.
“Ra.”
“Ya?”
“Jawabannya apa?”
“Jawaban? Soal apa?”
“Yang waktu itu aku bilang ditelepon.”
“Yang mana?”
Luffi membalasnya dengan voice note.
“Mau gak jadi pacarku”
Deg. Hati Ara berdegup kencang. Dia ingat tentang perkataan Luffi ditelepon waktu itu. Karena saking kagetny dengan pernyataan cinta Luffi. Ara sampai terbatuk – batuk dan lupa untuk menjawabnya. Pernah suatu ketika dia menanti Luffi menyatakan hal itu lagi. Tapi dia tak berani bertanya lagi. Dia hanya diam dan menunggu. Selama Luffi masih ada untuknya dan selalu berkabar padanya.
“Ra. Kok gak dijawab lagi?” Luffi mengirim chat lagi, karena lama menunggu balasan Ara.
“Iya.”
“Iya apa?”
“Iya aku mau.”
“Mau apa?”
Ara merasa canggung untuk mengetik secara lengkap jawabannya. Tapi Luffi malah memojokkannya terus. Hingga ahirnya dia pun membalas.
“Mau jadi pacarmu.” Dengan wajah yang memerah dan senyum mengembang. Lalu dia jingkrak – jingkrak di atas kasurnya. Kemudian menutup wajahnya dengan bantal. Baru dia membuka balasan chat dari Luffi.
“Nah gitu dong yang lengkap kalau jawab.”
“Iya.”
“Sudah boleh manggil sayang dong?” Ara semakin melayang. Untungnya dia sudah ada di dalam kamar. Kalau tidak, mungkin kakak dan Ibunya mengira dia kesurupan.
“Sudah dari kapan juga kamu manggilnya sayang.”
“Oh iya ya. Hehe. Kan memang sayang.”
“Masa? Buktinya apa?”
“Mau bukti apa? Asal jangan kayak Roro Jonggrang aja.” Jawab Luffi sekenanya.
“Kenapa sama Roro Jonggrang?”
“Minta dibikinin seribu candi dalam satu malam. Hahaha.”
“Hahaha. Ada – ada saja kamu.”
“Ternyata perempuan itu gitu ya?”
“Gitu gimana?”
“Selalu minta bukti cinta. Roro Jonggrang minta seribu candi sama sumur. Dayang Sumbi minta perahu dan danau.” Balas Luffi sambil mikir (iya juga ya, dari jaman bahelua cewek sudah banyak maunya).
“Kalau kamu bakal buktiin cintamu ke aku dengan cara apa?”
“Apa ya? Kamu maunya apa?”
“Dateng kesini saja sudah cukup.”
“Tapi?” Luffi selalu mencoba menanyakan sedetail mungkin setiap pernyataan dari Ara. Karena ada saja buntutnya nanti kalau gak diperjelas dari awal.
“Tapi apa ya?”
“Gak usah tapi deh.”
“Lah nanya sendiri dijawab sendiri.”
“Ternyata cowok itu gitu ya?”
“Gitu gimana?”
“Dari jaman kerajaan sudah Bucin. Hahaha. Disuruh ngapain saja mau.” Balas Ara sambil ngikik pelan.
“Hahaha. Iya juga ya Sayang. Mereka kok Bucin amat ya? Disuruh apa saja mau. Kayak gak ada cewek lain saja.”
“Oh jadi kalau aku minta yang aneh – aneh, kamu bakal nyari cewek lain gitu?” Ara mulai sensi. Dia menjadi sedikit menyebalkan dengan kecemburuannya.
“Bukan gitu maksudnya. Kan lagi bahas yang di jaman bahelua sayang.” Luffi membela diri. Baru juga jadian, sudah berantem. Batinnya.
“Nah itu tadi bilang kayak gak ada cewek lain karena merema bucin. Berarti kamu gak mau bucin ke aku?”
“Astaga sayang. Kamu nih kok gemesin sih. Cipok sini.”
“Enak aja main cipok. Dasar mesum.”
“Makanya jangan negatif thingking dong.”
“Iya deh iya.”
“Nah kan ngambek deh.” Luffi mulai kelabakan menanggapi chat Ara yang semakin sensitif.
“Enggak.”
“Aku tinggal kerja nih kalau ngambek.” Ancamnya.
“Yaudah sono nyari cewek lain sono.” Balas Ara sambil menghela napas besar. Dasar semua cowok sama aja. Ucapnya.
“Wah diijinin nyari istri muda nih?” balas Luffi mencoba menenangkan Ara.
“Siapa juga yang mau sama kamu. Sudah m***m bau oli lagi.” Balasnya.
“Kamu. Cukup kamu saja.” Balas Luffi singkat, padat, dan cukup membuat hati Ara meluluh lagi.
“Cukup kamu yang mau sama aku. Itu sudah lebih dari cukup buatku.” Tambahnya lagi. Kali ini Ara sungguh sudah sepenuhnya luluh. Dia mulai senyum – senyum sendiri lagi.
“kok gak dibales sayang?”
“Iya. Katanya mau kerja?”
“Iya sebentar lagi. Masih nunggu laporan dari temen.”
“Oh yaudah. Semangat ya kerjanya.”
“Iya. Aku tahu kok. Ada istri yang harus dipenuhi kebutuhannya di rumah. Makanya aku kerja keras sampai bau oli kayak gini. Cuma buat kamu.”
“Gombal serbet pelpelan kanebo.”
“Hahaha. Yaudah aku kerja dulu ya?”
“Iya.”
“Sayangnya mana?”
“Iya Sayang.”
“Ciumnya mana?”
“Muach.”
“Gak mau ah.”
“Kok gak mau? Tadi minta sendiri.”
“Kan aku sudah pernah bilang. Gak mau kalau Cuma muach. Ge kerasa kecup basahnya. Hahaha.”
“Dasar mesum.”
“Tapi kamu sayang kan?”
“Iya sayang. Sudah sana kerja. Cari duit yang banyak.”
“Buat?”
“Buat bikin seribu candi. Hahaha.”
Luffi lega melihat balasan Ara yang sudah dalam mode normal lagi. Dia merasa ahir – ahir ini mood Ara naik turun. Cepet bad mood dan cepet good mood lagi. Jangan – jangan dia lagi PMS, batinnya. Perempuan memang aneh. Kitanya bahas apa, dianya nyaut kemana. Terus merasa disakiti dan cemburu sendiri. Lalu ngambek dan emosi. Marah – marah, padahal sendirinya yang bikin masalah. Tapi tetap dasarnya pria sudah bucin sejak jaman bahelua. Sepertinya menjadi bucin sudah mendarang daging pada diri mereka. Perempuan yang salah, tapi pria yang minta maaf. Sungguh permaian perempuan sangat luar biasa. Mereka bisa dengan mudah mengubah situasi. Menjadikan pria sebagai yang bersalah. Padahal sendirinya yang membuat masalah. Sampai ada quotes dari sang master Albert Einstein “A woman is always Right. But sometimes confused or may be misinformed or rude or stubborn or senseless or unchangeable about her opinions or even down right stupid at times but NEVER wrong... She is always Right.”.