Lindsey duduk lama di sudut ranjang. Sudah setengah jam ini dia hanya terdiam saja tanpa bisa melakukan apa pun. Darrel telah berhasil membuat dirinya tersudut. Sekarang, yang bisa Lindsey lakukan adalah bertahan sebisa mungkin agar ia tak terlalu terpuruk.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam lebih. Dulu, sewaktu mereka masih menjalani hari-hari sebagai suami istri normal, malam-malam seperti ini mereka habiskan untuk menikmati waktu berdua. Saling mencurahkan perasaan satu sama lain, saling memuja, dan saling melengkapi. Jarang Lindsey dibiarkan sendirian. Hanya beberapa kali saja dalam sebulan Darrel pergi tak berada di sisinya. Secara keseuluruhan, semenjak mereka menikah, Darrel benar-benar menjadikan Lindsey sebagai fokus utamanya.
Sebagai lelaki yang sibuk dan bisnisman handal, Darrel cukup peka dalam menjaga sebuah hubungan. Lindsey hampir tak memiliki keluhan apa pun selama mereka menikah. Dia benar-benar jatuh dalam pesona Darrel dengan sangat dalam. Sekilas, lelaki itu memang sempurna dari banyak sisi. Hingga kemudian sisi lain itu terkuak.
Lindsey menutup wajahnya, tak ingin mengingat kembali malam itu. Dia lelah untuk terus mengulang ingatan serupa yang membuatnya semakin takut dengan Darrel. Dia lelah untuk terus menjadi paranoid. Sebisa mungkin, selama ia berada di rumah ini, Lindsey akan bersikap senormal mungkin. Seolah-olah semuanya tak ada masalah.
Perlakuan Darrel pada Lindsey sudah banyak berubah. Lelaki itu sudah tak sehangat dulu. Sisi-sisi buruknya mulai terlihat. Dia menekan Lindsey dengan cukup kuat, dengan sikap dominasinya yang tinggi. Sesuatu yang tak pernah Darrel lakukan sebelumnya.
Selain itu, Darrel juga tak lagi memiliki senyum tulus seperti dulu. Sinar matanya menatap Lindsey dengan sorot mata dingin. Seolah-olah entah bagaimana Darrel pelan-pelan menjadi orang yang memusuhi Lindsey. Mereka seperti dua orang yang saling berseberangan dan sulit untuk dipersatukan kembali.
Lindsey berusaha menguatkan dirinya menghadapi perubahan karakter Darrel. Bagaimanapun juga, pernikahan mereka akan berakhir nantinya. Wajar jika saat ini mereka saling menyudutkan satu sama lain.
Klek
Pintu kamar terbuka secara tiba-tiba. Lindsey menatap lelaki yang telah dua tahun ini menjadi suaminya secara hukum. Wajah Darrel sedikit lelah. Sepertinya lelaki itu baru saja menghabiskan waktu untuk mengurus pekerjaannnya yang tersisa di ruang kerja. Lindsey sempat mendengar Sean tadi mencari Darrel di ruang kerja miliknya.
"Kupikir kau sudah tidur!" Hanya itu komentar sambil lalu yang dilakukan Darrel kepada istrinya. Dia berjalan ke meja nakas, meraih gelas keramik yang berisi air putih dan menghabiskannya perlahan. Musim panas membuat Darrel merasa kekurangan cairan dengan cepat.
"Aku ... aku sedang bersiap-siap untuk tidur. Ngomong-ngomong, kau mau tidur di mana?" tanya Lindsey sedikit tergagap. Dia bangkit dan mengambil sebuah bantal besar di atas ranjang, menepukknya beberapa kali, dan meletakkan kembali benda itu di tempatnya.
"Tentu saja di sini. Kita masih suami istri, bukan?" tanya Darrel sinis, melihat keengganan yang tercetak jelas di mata Lindsey.
"Maksudku, kita akan tetap seperti dulu?" Lindsey tak yakin untuk membahas hal ini secara blak-blakan. Dia mengamati pola lantai, menghindari menatap Darrel secara langsung.
"Ya. Kita tetap seperti dulu. Hanya satu dan dua hal yang perlu penyesuaian," sahut Darrel datar. Dia berjalan ke arah ranjang, membuat Lindsey semakin salah tingkah. Mereka memang suami istri, tetapi hubungan mereka sudah sangat rumit. Membuat Lindsey sendiri merasa tak nyaman berada di dekat Darrel seperti ini.
"Penyesuaian?" tanya Lindsey tak mengerti.
Darrel mengangguk kecil, duduk di ujung ranjang di sisi yang berlawanan dengan Lindsey.
"Meskipun pernikahan kita hanyalah sebatas kesepakatan untuk memiliki anak, tetapi aku ingin kau memiliki nama baik di hadapan publik. Tampilkanlah dirimu sebagai istri yang cukup bahagia dan tidak tertekan. Aku benar-benar tak ingin melihat pernikahan kita sebagai olok-olok media masa hanya karena sikap kita yang mulai bertentangan satu sama lain." Darrel mengingatkan.
Selama ini, memang tak dipungkiri keluarga Vranzerlin sering disorot oleh media masa. Gugatan perceraian yang dilayangkan oleh Lindsey pun mampu diendus oleh wartawan dan sempat beberapa kali diberitakan. Sekarang, kembalinya mereka di bawah atap yang sama pasti cukup menjadi teka-teki. Lindsey tak akan terkejut jika mulai besok ia akan dikuntit oleh satu dua paparazzi atau wartawan untuk dimintai keterangan.
"Baiklah. Aku cukup bisa menjaga nama baik sejauh ini." Lindsey menjawab dengan sama datarnya. Dia saat ini berusaha sekuat tenaga menenangkan detak jantungnya yang mulai bertalu-talu mengantisipasi banyak hal. Kehadiran Darrel di dekatnya membuat Lindsey memiliki reaksi-reaksi kuat seperti dulu ketika mereka masih bersama.
"Kuharap demikian. Jangan terlalu bertindak bodoh." Darrel kembali mewanti-wanti, membuat Lindsey merasa kian direndahkan.
"Aku tahu maksudmu, Darrel. Jika kau takut aku akan mengoceh panjang lebar tentang pernikahan kita yang tak berjalan normal, maka kau bisa tenang karena aku tak cukup bodoh untuk melakukan itu semua!" Lindsey berkata dengan nada yang cukup keras. Dia memposisikan dirinya untuk berbaring dengan nyaman dan membelakangi Darrel ke ujung terjauh ranjang mereka. Malam ini terlalu banyak perdebatan yang terjadi. Lindsey tak berharap hubungan mereka akan membaik dengan segera.
"Kemarilah, Lindsey!" panggil Darrel sedikit melembut. Dia menatap tak suka istrinya yang lebih memilih menghindar darinya dengan cara memojokkan dirinya sendiri di sisi ranjang paling jauh.
Lindsey diam tak bergerak. Dia tak tahu harus melakukan apa. Jujur, saat ini Lindsey merasa sangat canggung. Darrel telah berhasil memberikan efek dan tekanan tersendiri bagi psikisnya.
"Bisakah kau berhenti bertindak keras kepala dan mulai bersikap dewasa?" tanya Darrel terdengar tak suka.
Perlahan, Lindsey berbalik menatap Darrel dan melihat sinar mata lelaki itu dipenuhi banyak ekspresi. Ada marah, tersinggung, dan ada juga hasrat yang mulai menari-nari di sinar matanya.
"Darrel?" Lindsey memanggil suaminya dengan suara tercekat. Lelaki itu berbaring mendekat ke arah Lindsey dan merengkuh Lindsey dengan kekuatannya yang terasa mendominasi.
"Tutup mulutmu untuk sejenak!" Darrel menyentuh dahi Lindsey lembut, turun ke bawah menjelajahi tulang pipinya.
Darrel tak terlalu suka mendengar Lindsey berbicara. Mereka hanya akan kembali dalam perdebatan tanpa ujung. Antara Darrel dan Lindsey, sudah sulit untuk disatukan ke dalam pemikiran yang sama.
"Tapi—"
"Sshhtttttt …."
Darrel mencium lembut dahi Lindsey. Saat itu juga, semua kata-kata menghilang dari mereka. Seolah-olah kata-kata tak lagi diperlukan. Mereka membuat bahasa tubuh tersendiri. Bahasa yang digunakan alam untuk mengikat pasangan yang saling melengkapi.
Lindsey terdiam dan hanya menerima. Sorot matanya menunjukkan keinginan yang sama dengan Darrel. Tubuh mereka telah memiliki bahasanya sendiri. Percuma bagi Lindsey melawan dan menolak apa yang ia rasakan. Seolah-olah hanya dengan sentuhan Darrel saja dia bisa melayang ke langit tertinggi.
Alam telah berbicara. Menunjukkan takdirnya yang sudah menjadi garisan. Dua orang yang saling melengkapi, menyatu dengan irama istimewa. Bak harmoni paling indah di dunia. Menari dengan gerakan paling primitif yang pernah ada. Memberi dan menerima. Mengambil dan melimpahkan. Saling memuja satu sama lain. Dengan bahasa dan gerakan yang penuh makna.
Di bawah sinar kamar yang temaram, dua insan saling membagi. Memberikan apa yang bisa mereka berikan. Mengambil sejauh mana keinginan hati meminta. Tak ada lagi kata-kata di antara mereka. Tak ada lagi perdebatan di antara mereka. Sepenuhnya menjadi satu dan saling mengikat diri pada satu sama lain.
Lagi-lagi, Lindsey merasa hilang arah dan kendali. Bersama Darrel, semuanya menjadi penuh warna. Apa yang lelaki ini berikan mampu membuatnya terbang. Hingga untuk sejenak, Lindsey melupakan keburukan-keburukan yang Darrel miliki. Keburukan yang menjadi alasan kuat bagi Lindsey untuk menggugat cerai.
…