Makan Malam

1252 Kata
Lindsey terbelalak lebar. Dia segera menekan tombol shut down dan menutup laptop itu kembali. Kedua tangannya ia letakkam di atas meja dan menatap Darrel dengan khawatir. Mungkinkah Darrel curiga? Mungkinkah Darrel marah? Mungkinkah Darrel tersinggung? Seribu pertanyaan saling beradu di otak Lindsey. "Apa yang kau lakukan dengan laptopku?" Darrel menanyakan hal ini. Dia mendatangi Lindsey dengan langkah-langkah lebar. "Aku hanya mencoba mengecek baterainya. Kupikir aku akan meminjam laptopmu. Daya laptoku sudah sangat rendah untuk kugunakan lagi." Lindsey menunjuk laptopnya sendiri yang masih berada di meja balkon di luar. Darrel terdiam lama. Dia menatap laptop istrinya dari balik jendela kamar yang masih sedikit terbuka. "Aku ingin membutuhkan laptop untu mengetik naskah novelku. Hanya saja chargernya ada di koper paling bawah, aku sedikit malas untuk mencarinya saat ini." Lindsey menelan ludah dengan susah payah. Kebohongan demi kebohongan mulai ia lontarkan. Andai Darrel berinisiatif untuk mengecek langsung laptop dan chargernya, maka habislah Lindsey saat ini juga. Laptopnya tidak kehabisan daya dan charhernya berada di dalam tas laptop tak jauh darinya. Dari dulu, rasa penasaran Lindsey selalu membuahkan tindakan baru. Keingintahuannya sengat tinggi sehingga ia seringkali mencari tahu masalah yang sama sekali tak berhubungan dengannya. Itulah kenapa ia mendedikasikan diri sebagai jurnalis. Karena ia memiliki insting yang cukup peka pada beberapa keadaan mencurigakan dan selalu tertarik dengan sumber masalah. Seperti ngengat yang tertarik pada cahaya. Hal-hal seperti itu terkadang bisa menarik Lindsey ke dalam masalah dan kesialan. "Meskipun aku sebenarnya ingin kau berhenti bekerja, tetapi aku tak bisa melarangmu untuk melakukan apa yang kau inginkan, Lindsey. Hanya saja, batasi pekerjaanmu dan tempatkan semuanya pada porsinya. Sekarang saatnya makan malam. Tinggalkan dulu pekerjaanmu!" Darrel berbalik dan meninggalkan Lindsey begitu saja. Jika mau diakui, Darrel pun sebenarnya tak berbeda jauh dengan Lindsey. Dia penggila kerja dan selalu ingin setiap saatnya menghabiskan waktu untuk mengontrol keuangan perusahaan. Darrel adalah ambisius sejati. Dia tak kenal lelah dalam mewujudkan misi yang ia miliki. Hanya saja, setelah kehadiran Lindsey, Darrel berusaha membuat batasan-batasan terrentu agar waktunya bisa seefektif mungkin. Dia menghargai Lindsey sebagai individu, dan bersedia menekan keinginan-keinginan dan kemauan-kemauannya demi bisa menyesuaikan dengan kehidupan pernikahannya secara sehat. Karena Darrel telah melakukan ini, dia berharap Lindsey pun melakukn hal serupa. Tetapi agaknya wanita itu cukup keras kepala. Lindsey tetap saja semaunya sendiri. Kontribusinya pada pernikahan ini perlu dipertanyakan. Seolah-olah dari awal, Darrel sajalah yang berusaha mempertahankan pernikahan mereka. Sementara Lindsey berkeras dengan setiap keinginannya sendiri. Lama-lama, Darrel semakin curiga dengan istrinya. Apa yang disembunyikan wanita itu sehingga ia bisa semudah itu menelantarkan perkawinan? Bayang-bayang lelaki lain selalu muncul di otak Darrel. Darrel telah banyak memberikan segalanya untuk Lindsey. Materi, kasih sayang, perhatian, dan hal-hal dasar lainnya. Jika ia sampai kecolongan juga Lindsey berkhianat di belakang, kali ini ia tak akan main-main lagi. Mungkin, sudah saatnya wanita itu mengetahui siapa Darrel sebenarnya. Orang yang tak menghargai dirinya, akan ia buat tak berharga juga. Lindsey terlalu bodoh untuk menyia-nyiakan apa yang ada. Bukankah dulu hidup wanita itu sempurna? Ia bak ratu yang setiap keinginannya terpenuhi. Agaknya, Lindsey tak bisa bersyukur atas apa yang dulu ia dapatkan. Sepuluh menit kemudian, Lindsey turun mengikuti Darrel ke ruang makan. Wajah wanita itu sedikit pucat, tanpa pulasan make up sedikit pun. Dia berjalan dengan canggung dan memilih duduk di hadapan Darrel dengan meja besar yang menjadi penghalang di antara mereka. Malam ini, Elma, juru masak kebanggaan Darrel membuat hidangan utama kalkun panggang. Aroma daging yang menguar ke udara membuat selera makan bangkit dengan spontan. Lindsey mengambil daging tersebut dengan ditemani kacang polong dan saus spesial. Dia makan dalam diam, memilih tak terlalu memperhatikan Darrel yang kini menatap dirinya dengan cukup intens. "Kau kehilangan beberapa kilo berat tubuhmu, Lindsey!" komentar Darrel tak senang. Lelaki itu menatap beberapa bagian tubuh Lindsey dan menggeleng kecil. Istrinya sekurus model-model majalah yang hanya seperti tulang berbalut kulit tanpa lemak. Tulang leher istrinya terlihat lebih menonjol dari sebelum ia pergi dari rumah ini setahun yang lalu. "Maaf, jika kondisiku tak sesuai dengan yang kau inginkan. Beginilah aku!" Lindsey menjawab ringan, seolah-olah tak tersinggung sama sekali. Padahal, andai ia jujur, komentar Darrel terasa sedikit pedas di telinganya. Bagi Lindsey, tubuh hanyalah sekadar aset tambahan. Bukan hal yang utama dalam sebuah hubungan suami istri. Kenapa harus dibahas? Apakah Darrel adalah seorang lelaki yang hanya mementingkan penampilan fisik semata? Selain itu, berat badan Lindsey yang menurun dikarenakan ia terlalu berat memikirkan proses perceraian yang tak kunjung usai. Semua itu mau tak mau mempengaruhi selera makan Lindsey dan kondisi tubuhnya. Siapa juga yang tidak tertekan jika gugatan perceraiannya selalu ditolak oleh pengadilan? "Kau selalu keras kepada dan tak memperhatikan kondisimu sendiri. Bagaimana bisa kau akan cepat memiliki anak dan mengandung benihku jika kesehatanmu tak diperhatikan?" tanya Darrek menunjukkan reaksi tak sukanya. Ego wanita ini terlalu besar. Sisi keras kepalanya juga sanggup menyaingi Darrel. "Aku akan mencoba sebaik mungkin menjaga diriku mulai dari sekarang, Mr. Vranzerlin yang terhormat! Sehingga aku cukup layak mengandung benihmu yang berkualitas tinggi itu! Andai di matamu aku tak memiliki kapasitas yang cukup menjadi ibu biologis dari anakmu, kenapa juga kau memakai jasaku? Aku yakin mudah bagimu untuk mencari calon ibu lain yang lebih potensial dari pada diriku!" Lindsey mendongak, menghentikan aktifitas makannya dan menatap Darrel dengan pandangan serius. "Jadi, itukah yang kau inginkan sebenarnya? Aku menggunakan jasa wanita lain? Kau lebih suka aku membawa wanita lain ke ranjangku dan memuaskanku, begitu?" Mata Darrel menyipit, memberikan pertanyaan sinis kepada Lindsey. Wanita itu menundukkan pandangannya dan kembali melanjutkan aktifitas makan. Tubuh Lindsey sedikit kaku. Kata-kata Darrel sedikit menusuk kesadarannya. Seolah-olah lelaki itu sengaja memancing dirinya merasakan emosi-emosi lain yang enggan Lindsey akui. Membayangkan Darrel berada satu ranjang dengan wanita lain cukup membuat Lindsey terganggu. Entah kenapa, ada secuil kemarahan yang ia rasakan dan berusaha ia pendam. Lindsey memang tidak sempurna. Dia cantik, tetapi masih ada lusinan wanita yang kecantikannya berada di atas dirinya. Dia cerdas, tetapi masih ada ribuan wanita yang otaknya melebihi dirinya. Jadi, jika dibandingkan dengan wanita-wanita yang selama ini berada di lingkaran Darrel, Lindsey bukanlah siapa-siapa. Dunia Darrel terlalu luas dan memiliki koneksi tak sembarangan. Wanita hanyalah sekadar aset yang bisa lelaki itu temui kapan pun ia mau. "Aku tak bermaksud menyinggungmu, Darrel. Aku akan mencoba sebaik mungkin melakukan bagian dari kesepakatan ini." Lindsey berkata serius. Dia mengambil sebuah gelas kristal yang berisi air putih dan menghabiskan isinya dalam sekali teguk. Musim panas ini membuat Lindsey gerah, dan berada di dekat Darrel membuatnya lebih gerah lagi. "Bagus. Itulah yang aku harapkan. Santai saja, Lindsey. Aku akan membayar kerja kerasmu selama kau bersikap baik dan cukup kooperatif. Aku akan memberikanmu tunjangan dan nagkah yang lebih dari cukup. Uang bulananmu akan bisa memenuhi apa pun kebutuhan yang kau inginkan. Jika kau menginginkan hal lain, perhiasan, rumah, atau semacamnya. Kau bisa membicarakanny denganku. Aku masih cukup mampu membayar biaya hidupmu!" Darrel menatap Lindsey serius. Dia menekankan sendok makan yang ia gunakan di sudut meja, menghasilkan suara gesekan pelan. Lindsey hanya bisa terdiam mematung. Lelaki itu masih sama seperti dulu. Baginya, uang adalah alat tukar yang paling hebat. "Aku istrimu. Kau menawarkan sesuatu padaku seolah-olah aku adalah wanita yang menjual diri. Lantas, apa bedanya aku dengan wanita simpanan?" Darrel terkekeh kecil, menertawakan keluguan Lindsey. "Aku sendiri tak tahu apa perbedaanmu dengan mereka. Kaulah yang telah merusak pernikahan kita dan menginginkan perceraian. Untuk mempertahankan keinginanku, aku membuat kesepakatan bersamamu. Bukankah itu artinya kita saling barter dan menemukan transaksi yang pas satu sama lain? Nilai pernikahan kita sudah kau injak-injak dari sejak kau keluar rumah ini setahun yang lalu!" …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN