Lindsey memilih diam. Dituduh memiliki lelaki lain setidaknya lebih baik dari pada dituduh telah menyaksikan tindakan pembunuhan yang dilakukan Darrel. Setidaknya, memiliki lelaki lain hanya akan memancing kemarahan. Tetapi jika diketahui ia telah menjadi saksi dari sebuah pembunuhan, Celline khawatir nyawanya akan ada dalam bahaya. Bagiamanapun juga, seorang saksi merupakan celah yang harus ditutup dalam setiap tindakan kriminal. Celline tak ingin menjadi objek yang harus dibungkam.
"Jadi, benar bukan? Kau memiliki lelaki lain?" tanya Darrel tak suka. Lelaki itu mengambil langkah-langkah mendekat ke arahnya, membuat Celline merasa semakin tersudut. Piyama mandinya ia genggam erat-erat di pinggir d**a, membuat kain yang tebal ini terasa setipis udara.
"Kau bisa menuduhku apa pun yang kau suka, Darrel. Percuma juga aku mengelak. Kau adalah lelaki yang hanya melihat dan menilai apa yang kau inginkan saja." Celline menyahut dengan sedikit nada meninggi. Terserah jika Darrel berpendapat ia memiliki lelaki lain. Itu adalah masalah Darrel sendiri.
"Jadi, kau membenarkan itu?" amarah Darrel bukannya mereda, justru semakin terlihat membesar berkali-kali lipat. Bayangkan saja jika istrimu tiba-tiba mengajukan gugatan tanpa alasan jelas. Pasti pikiranmu akan ke mana-mana untuk mencari penyebab yang sesungguhnya. Begitu pun dengan Darrel.
Ego lelaki itu terkadang sangat besar. Tidak ada seorang suami yang akan bersikap netral andai tahu istrinya berselingkuh. Harga dirinya pasti akan terluka. Seolah-olah dia tidak bisa memberikan jaminan finansial, kepuasan batin, dan materiil kepada pasangannya.
"Aku tidak membenarkan. Aku hanya tak bisa mengelak atau pun menerima tuduhanmu. Kau selalu mengambil kesimpulan atas kemauanmu sendiri. Jadi, terserah kau akan menganggapku seperti apa, Darrell. Aku tak peduli. Yang jelas, pernikahan ini tidak cocok untukku!" Lindsey memberikan penekanan. Dia berlalu ke kamar mandi lagi untuk berganti baju.
Baiklah. Lindsey memang masih istri Darrel. Mereka toh nantinya juga akan melakukan hal-hal suami istri yang lebih pribadi. Tetapi untuk saat ini, Darrel masih terasa asing bagi Lindsey. Membuka pakaian di hadapan lelaki itu bukanlah langkah yang bijaksana.
"Tunggu!" Darrel berjalan cepat, menghentikan langkah Lindsey yang sudah setengah jalan.
"Apa?" tanya Lindsey kembali berbalik.
"Cepat atau lambat, aku akan menemukan penyebab kau menggugat cerai, Sayang. Termasuk jika ada lelaki lain yang melatarbelakanginya. Tetapi ingat. Jika terbukti ada orang lain, kau harus siap-siap melihat lelakimu terpuruk dengan cara paling buruk. Aku bukanlah lelaki yang bisa mentoleransi pihak ketiga." Jari telunjuk Darrel menyusuri garis wajah istrinya, menekankan ancamannya yang tak main-main. lindsey bergidik ngeri, merasakan respon tubuhnya sendiri ketika Darrel menyentuh dirinya. Sentuhan ini memililki efek yang sangat kuat. Membuat Lindsey merasa lemah dan hampir terpuruk tak berdaya di atas lantai marmer yang dingin.
"Kau dengar itu, Sayang?" mata Darrel menyipit, mendongakkan dagu Lindsey dengan sedikit paksa. Netra silver Lindsey yang indah tampak membelalak terkejut, membesar seperti binatang yang tersudut. Saat ini, Lindsey seperti burung kecil yang berada di paruh elang.
"Kau dengar itu? Baik kau maupun lelakimu, entah siapa pun dia, kalian akan merasakan konsekuensinya. Ingat-ingatlah bahwa mempermainkanku bukanlah langkah yang bijaksana!" Darrel tersenyum kecil, merasa puas melihat istrinya terpsngaruh dengan ancaman yang ia lontarkan. Lindsey harus mulai ditunjukkan kekuatan Darrel sebenarnya. Wanita itu tak bisa bermain-main dengan mudah. Menghadapi Darrel adalah langkah yang cukup berat.
"Aku tak bermaksud mempermiankanmu. Aku hanya ingin keluar dari … dari pernikahan kita. Apakah terlalu sulit untukku berpisah baik-baik denganmu, Darrel?" tanya Lindsey dengan nada tercekat. Dia mundur dua langkah, melepaskan diri dari sentuhan Darrel yang memabukkan sekaligus memiliki efek menekan dirinya.
Bagi Lindsey, sentuhan Darrel itu seperti sentuhan iblis. Memggoda, memabukkan, sekaligus menakutkan dan mampu menyeret ke dosa paling dalam. Seolah-olah jika ia tak waspada sebentar saja, Lindsey bisa jatuh ke lembah paling dalam dan terjebak bersama kegelapan selamanya.
"Kau pikir sebuah pernikahan itu adalah ikatan abal-abal yang bisa kau permainkan begitu saja? Saat kau senang kau masuk, saat kau bosan kau keluar, begitu? Jika pemikiranmu masih sedangkal itu, maka kau perlu kuberi pelajaran lebih!"
"Tidak! Tidak! Berhenti menekanku. Aku hanya ingin berpisah secara baik-baik, Darrel. Tak lebih dan tak kurang." Lindsey mrnggelengkan kepalanya dengan cepat, merasa kian sulit untuk keluar dari tuduhan Darrel yang berkembang dengan cepat.
Lindsey dituduh berselingkuh, mempermainkan pernikahan, mempermainkan Darrel, dan mengolok-olok ikatan perkawinan mereka. Pantas saja hakim tak menyetujui gugatan perceraian dirinya. Di mata hakim, Lindsey tak ubahnya seperti wanita labil yang tidak dewasa dan bersikap kekanakan pada ikatan pernikahan. Mudah bagi Darrel untuk mematahkan setiap tuduhan Lindsey. Karena di mata umum, Darrel adalah sosok lelaki setia, bertanggung jawab, dewasa, dan memiliki seribu karakter baik lainnya. Sangat bertolak belakang dengan Lindsey.
"Cepat atau lambat. Aku pasti akan mengetahui setiap alasan yang kau sembunyikan, Lindsey." Itulah kalimat terakhir yang Darrel lontarkan sebelum dia berbalik pergi dan meminggalkan Lindsey seorang diri di kamar mereka.
Suara jarum jam berdetak nyaring. Mengisi keheningan yang terasa mengganggu di ruangan ini. Lindsey berdiri mematung, mengapit satu set baju piyama dalam genggamannya. Kedua netra Lindsey menunjukkan kelelahan. Dia mengeluarkan nafas panjang dan berjalan lemah menuju kamar mandi.
Benar saja dugaannya. Menghadapi Darrel bukan hal yang mudah. Lelaki itu cenderung mengambil hal-hal buruk dari kenyataan yang ada.
Bagaimana bisa Lindsey akan hidup setahun di bawah atap yang sama dengan lelaki seperti itu? Darrel sudah menjadi pribadi yang berbeda dari yang ia kenal dulu. Lelaki itu tak lagi penuh pemujaan dan kata-kata sanjungan seperti kekasih istimewa. Dia tak lagi terlihat seperti lelaki yang dimabuk asmara. Kini, Darrel lebih cocok dinilai sebagai predator yang menjadikan Lindsey mangsa utamanya. Seolah-olah tindak-tanduk Lindsey perlu dipantau secara ketat. Dengan kata lain, Lindsey tak ubahnya seperti tahanan.
Setelah menghabiskan waktu sepuluh menit untuk berganti baju, Lindsey kembali keluar dari kamar mandi dan menoleh ke arah laptop yang tata letaknya sudah mulai berubah dari posisi semula. Mata Lindsey menyipit. Dia jadi teringat tadi setelah Lindsey mandi, Darrel mengoperasikan laptop itu dan menggunakan flashdisk. Mungkinkah lelaki itu mencoba mengambil data yang tak sebarusnya Lindsey lihat? Jika itu data biasa, kenapa Darrel seperti terburu-buru tadi?
Lindsey duduk di kursi tak jauh dari laptop dan mulai menyalakan laptop Darrel. Kenapa setelah tiba di sini dia tidak mengecek laptop ini lebih dulu? Dengan begitu, Lindsey bisa cepat menemukan hal-hal yang sekiranya mengganjal.
Dengan cepat, Lindsey mulai mengaktifkan program dan membuka penyimpanan berkas. Mencari-cari apakah ada berkas dengan nama mencurigakan.
Laporan laba-rugi tahun berjalan. Laporan perubahan modal. Laporan aset. Laporan arus kas. Laporan anggaran tahun terbaru. Laporan data karyawan. Laporan rapat triwulan.
Tidak ada yang mencurigakan. Lindsey menggeleng lemah, merasa kacau. Sepertinya ketakutannya akan Darrel semakin membesar setiap saat. Sehingga tanpa sadar dia akan cenderung memata-matai dan memantau apa pun yang berhubungan dengan lelaki itu.
Tindakan Lindsey tak bisa dibenarkan. Mungkin saja Darrel tidak sekotor yang ia pikirkan. Mungkin saja dokumen-dokumen itu tidak semencurigakan yang ditakutkan Lindsey. Wanita itu hanya semakin paranoid saja.
Baru saja Lindsey akan mematikan kembali laptop tersebut, pintu kamar terbuka tiba-tiba. Memperlihatkan sosok Darrel yang telah berganti baju kasual dengan rambut basah dan menitikkan air di lantai. Sepertinya lelaki itu baru saja mandi dari ruangan lain. Mungkin, ada kamar lain yang bisa Darrel gunakan untuk mandi dan memiliki persediaan baju miliknya juga. Seingat Lindsey, tadi Darrel tak mengambil baju apa pun dari lemari kamar ini sebelum ia keluar.
"Lindsey, apa yang kau lakukan dengan laptopku?"
…