Petang ini Darrel pulang ke mansion dengan ekspresi tak terbaca. Sean yang menyambutnya hanya bisa mengimbangi sikap Darrel dengan tak banyak bicara. Dia sudah terbiasa menghadapi emosi majikannya yang tak mudah ditebak. Kadang Darrel bisa bersikap diam sedingin kutup, terkadang amarahnya bisa meninggi dengan menjadikan orang-orang di sekelilingnya merasakan imbasnya.
Sebagai pelayan yang telah mengabdi pada keluarga Vranzerlin puluhan tahun, Sean hanya bisa memaklumi. Keluarga Vranzerlin dari dulu memang terlalu kompleks. Emosi adalah sesuatu yang tak bisa diprediksi dengan mudah oleh orang lain. Tindakan keluarga Vranzerlin sama tak mudahnya untuk diprediksi juga. Sean hanya bisa mengambil titik aman dengan tidak memancing kemarahan mereka dengan sengaja.
Dulu, Sean pernah melayani mendiang Jacob Vranzerlin , ayah dari Darrel. Dia hampir serupa dengan Darrel. Setiap keinginannya selalu ingin dipenuhi dan tidak bisa menoleransi pembangkangan sedikit pun. Bahkan, untuk keluarganya sendiri. Karena itu, dulu mendiang Srefany Vranzerlin, ibu Darrel, cukup tertekan dengan tindakan Jacob. Dia ditemukan memiliki akhir hidup yang buruk. Tak berapa lama kemudian, Jacob menyusul mendiang istrinya dan meninggalkan Darrel hidup seorang diri di usianya yang menginjak remaja. Tak heran Darrel tumbuh dengan pribadi yang tertutup dan berjarak. Mungkin karena masa lalu yang membentuknya.
"Tuan, istri anda sudah tiba sore tadi." Sean memberitahu Darrel.
Lelaki itu berbalik dan tersenyum kecil. Wajahnya menunjukkan rasa puas. Dia segera menuju lantai atas dan memasuki kamar. Sepertinya semuanya telah berjalan dengan cukup mulus. Rencananya tak ada yang melenceng.
Di dalam kamar, aura ruangan telah bebeda jauh dari sebelumnya. Ada parfum yang sangat khas yang bisa ditangkap oleh indera penciuman Darrel. Parfum milik istrinya. Dua ransel besar ada di sudut ruangan, menunjukkan sepaket pakaian yang belum sempat dirapikan.
Ada suara gemerisik di kamar mandi. Suara kran air yang tercurah ke lantai marmer. Darrel menebak Lindsey pasti tengah menggunakan kamar mandi. Wanita itu masih sama. Dia sering kali mandi saat hari sudah petang ketika musim panas datang. Benar-benar tak memperhatikan kesehatannya sendiri. Mandi di petang hari bukanlah hal yang baik.
Darrel menatap laptop yang terletak di meja kecil ujung selatan ruangan. Dia menghidupkan laptop miliknya, membuka beberapa berkas penting, dan mengalihkan informasi-informasi sensitif ke flashdisk yang ia bawa. Mata Darrel menggelap. Dia bergerak dengan cepat.
Lindsey adalah seorang jurnalis dan novelis. Dia terbiasa berpikir cepat, menghubungkan petunjuk yang satu ke petunjuk yang lain, dan mengambil kesimpulan sesuai dengan kapasitas otaknya yang cerdas.
Darrel tak bisa mengambil resiko ini. Ada sebuah rahasia yang ia senbunyikan dari Lindsey. Rahasia yang ia sembunyikan dari dunia.
Setiap orang selalu memiliki sisi lain. Sisi yang coba ditutupi dari banyak orang. Termasuk Darrel. Dia tak bisa membiarkan Lindsey memasuki batas-batas yang telah ia tentukan. Ibarat kertas, Lindsey adalah kertas putih tanpa noda. Dia akan sulit menoleransi noda hitam sedikit saja. Terkadang, ideologi dan prinsip wanita itu sangat tinggi.
"Darrel?" Suara Lindsey menunjukkan keterkejutan saat ia melihat keberadaan Darrel yang tiba-tiba duduk di kamar mereka, sibuk dengan laptop di hadapannya.
"Kau sudah selesai mandi?" tanya Darrel menatap istrinya yang telah mengenakan piyama handuk. Rambut wanita itu basah. Mengeluarkan titik-titik air yang jatuh perlahan ke bawah lantai.
Lindsey mundur beberapa langkah. Matanya menunjukkan sorot kewaspadaan. Matanya memutar pandangan ke seluruh ruangan, menilai keadaan.
"Kau bertingkah seolah-olah sedang berhadapan dengan penjahat, Sayang. Sorot matamu menunjukkan kewaspadaan penuh." Darrel memiringkan kepalanya, menatap istrinya yang dipenuhi raut kebingungan.
Kelopak mata Lindsey mengerjap bingung. Dia sedikit bimbang untuk mengambil sikap. Dalam hati, Lindsey membenarkan perkataan Darrel. Lelaki itu pernah menjadi penjahat. Menghilangkan nyawa orang bukanlah tindakan remeh yang bisa dimaafkan begitu saja. Bagaimana mungkin Lindsey tidak bersikap hati-hati dengan orang seperti Darrel?
"Mari kita membuat kesepakatan, Darrel. Bisakah kita melakukan gencatan senjata untuk sebentar saja agar kita bisa menjalani hari-hari dengan … katakanlah, lebih bersahabat?" tanya Lindsey penuh harap.
Situsi di antara mereka mulai tak sehat. Darrel selalu menatap Lindsey dengan sorot mata menyudutkan, dan Lindsey selalu merasa waspada setiap waktu. Jika semua ini berlangsung lebih lama lagi, Lindsey yakin pernikahan mereka hanya akan menjadi seperti neraka. Kesepakatan mereka entah akan terlaksana atau tidak.
"Aku selalu mencoba bersikap bersahabat denganmu. Kau saja yang terlalu memasang kewaspadaan tinggi. Sebenarnya, apa yang kau coba sembunyikan dariku, Lindsey?" tanya Darrel tak senang. Dia mengambil flashdisk dari laptop, menyimpannya di saku, dan berdiri mengamati istrinya secara seksama.
Saat ini, Darrel semakin yakin Lindsey pasti menyembunyikan sesuatu darinya. Pernikahan mereka memiliki kekuatan yang setipis kertas. Bisa robek sewaktu-waktu. Pemicunya adalah Lindsey sendiri. Dia seperti keong yang selalu bersembunyi. Setiap kali Darrel bermaksud untuk mengupas tuntas semua. Setiap kali Darrel membahas tentang sumber masalah pernikahan mereka, Lindsey selalu mengelak dan menunjukkan raut muka ketakutan. Lama-lama Darrel curiga dengan istrinya. Apa yang telah disembunyikan Lindsey selama ini? Apakah entah bagaimana Lindsey memiliki kesalahan fatal yang ia lakukan di belakang Darrel? Perselingkuhan, mungkin?
Mata Darrel menyipit tak suka. Perselingkuhan adalah hal yang paling tak bisa ia maafkan dan ia toleransi. Jika sampai Lindsey diam-diam melakukan hal itu di belakang, Darrel akan memastikan istrinya mendapat konsekuensi yang setimpal.
"Aku tidak menyembunyikan apa pun." Lindsey menggeleng kecil. Dia berjalan ke arah koper, membuka benda itu dan mengambil satu set baju piyama katun untuk ia pakai malam ini.
"Oh ya? Jika kau tak menyembunyikan apa pun, kenapa kau mencoba menghancurkan pernikahan kita tanpa ada masalah kuat?"
Lagi-lagi pertanyaan itu yang diangkat Darrel. Dia sepertinya tidak akan pernah membiarkan Lindsey terlepas begitu saja tanpa memberikan jawaban jujur.
Wanita itu memejamkan mata, merasa lelah. Darrel adalah lelaki yang keras kepala. Dia tetap akan mencari ke akar masalah dan menemukan kejanggalan-kejanggalan lain yang Lindsey sembunyikan. Mungkinkah Lindsey bisa selamanya berbohong pada lelaki itu?
"Darrel, aku hanya merasa pernikahan kita memiliki ketidakcocokan." Lindsey menjawab lirih. Tangannya sudah mulai gemetar, merasa ketakutan untuk membahas topik ini.
"Apa yang membuatmu tidak cocok kepadaku?" Darrel memutar badannya, menatap Lindsey lebih seksama.
"Aku … aku tak bisa menjabarkannya secara detail. Intinya adalah, aku merasa tertekan dengan pernkahan ini!" Lindsey mengakui sebuah fakta. Pernikahan mereka telah berhasil memberikan tekanan psikis kepada Lindsey. Wanita itu tak sepenuhnya berbohong. Dia memberikan salah satu pengakuan jujurnya.
"Kau wanita yang cukup egois, Lindsey. Pernikahan dibuat oleh kedua belah pihak dan disepakati secara bersama. jika ada keluhan dan ketidakcocokan, tekanan mental, atau sejenisnya, langkah yang paling baik adalah membicarakannya secara langsung. Komunikasi sangat diperlukan. Jila kau hanya membisu dan tak mengatakan apa pun, seolah-olah menganggap semuanya baik-baik saja, bagaimana bisa aku tahu kau memiliki keluhan di balik pernikahan ini?
"Jadi, katakan sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku. Apakah kau … diam-diam, memiliki alasan lain? Alasan kotor yang tak kau biarkan aku mengetahuinya? Seperti lelaki lain, misalnya? Aku tak akan terkejut jika kau mengakuinya. Hanya saja, sekarang aku perlu tahu siapa lelaki lain itu? Apakah dia cukup bernilai untuk kau bela hingga mengorbankan pernikahan ini?"
Lindsey membeku. Dia tak tahu lagi harus berkata apa. Ya Tuhan. Bagaimana bisa sekarang dirinya yang dituduh berselingkuh? Bagaimana bisa Darrel menuduhnya memiliki lelaki lain?
…