Dua hari telah berlalu. Waktu memang terkadang lucu. Ada yang bilang waktu itu relatif. Bisa cepat dan lambat sesuai dengan keadaan kita. Tetapi, relatif yang sebagian besar bertolak belakang dengan apa yang kita inginkan. Ketika kita merasa senang, seolah waktu berjalan cepat berlalu, tak membiarkan kita merasakannya dengan pola melambat. Saat kita tertekan, waktu melambat dengan tak tahu diri. Begitulah semuanya berjalan di luar kemauan kita.
Hari cepat berganti. Membuat Lindsey tiba-tiba menyadari hari senin telah menyapa. Janji untuk datang ke kediaman Darrel sudah harus ia tepati.
Sore ini, Lindsey berdiri di depan mansion. Sebuah mansion besar yang sudah setahun ini tak ia lihat. Mansion mewah yang terlihat kokoh dan menunjukkan kebesarannya. Setiap sisi bangunan yang menghadap ke arah jalan utama didesain dengan jendela-jendela besar yang menghadirkan pencahayaan alami lebih besar. Desainnya sekilas terlihat minimalis membentuk letter L, tetapi cukup indah dan mewah.
"Mari, Nyonya! Saya antar ke dalam!" Sean Matrix, kepala pelayan keluarga Vranzerlin, menyambut Lindsey dan membimbingnya masuk melewati taman luas menuju halaman utama mansion.
Darrel adalah pencinta pemandangan. Dia mewajibkan setiap rumah dan kantornya memiliki taman luas dengan sudut menghadap matahari terbit. Katanya, pemandangan ini merupakan salah satu moment alam yang istimewa.
Di belakang utama, ada taman juga yang luas. Taman itu dilengkapi dengan jalan setapak yang menghubungkan pada bangunan pondok di belakang. Di sisi lain pondok, ada kolam yang cukup luas dan selalu terawat. Kolam yang tampak menawan di siang hari, entah kenapa terasa jadi mengerikan ketika malam tiba. Seolah-olah di sana ada teror tersendiri. Teror yang bersembunyi dalam gelap dan siap menarik siapa pun kapan saja. Lindsey merinding membayangkan semua itu. Seolah-olah ketakutannya bisa menjadi hal yang nyata dan tersuguh langsung di hadapannya.
"Kau baik-baik saja, Nyonya?" tanya Sean melihat wajah Lindsey yang mulai sedikit berkurang ronanya.
"Baik. Udara panas ini sedikit membuatku tak nyaman." Lindsey mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah, menunjukkan bahwa musim panas ini sedikit tak bersahabat.
Sean adalah pelayan Darrel. Jangan sampai dia menyadari setiap kecemasan dan setiap pemikiran buruk Lindsey. Tidak baik membuat dirinya sendiri terekspos dengan mudah.
"Anda bisa langsung ke kamar dan beristirahat, Nyonya. Tuan akan pulang menjelang petang nanti. Barang-barang pribadi anda biar dirapikan oleh pelayan wanita."
Kata-kata Sean membuat Lindsey sedikit menegang. Kamar. Lelaki itu membahas kamar. Sesuatu yang memancing otak Lindsey untuk memikirkan hal-hal ke topik lain.
"Mengenai kamar. Sean, apakah … emh … kamarku … maksudku, di mana kamarku kali ini?" tanya Lindsey gugup.
"Kamar anda sama dengan kamar yang dulu. Menjadi satu dengan Tuan." Sean memahami kebingungan Lindsey.
Bagi pelayan-pelayan di rumah ini, situasi yang terjadi pada majikan mereka menjadi rahasia umum. Tidak ada yang tidak tahu jika dalam setahun ini Lindsey mencoba menggugat Darrel dan berkali-kali Darrel mematahkan gugatan itu dengan mudah. Kembalinya Lindsey ke rumah ini bukan merupakan bentuk ketulusan diri. Wajar jika ia berharap memiliki jarak pada Darrel dan bisa memiliki privasi lebih. Termasuk kamar.
"Tidak bisakah aku menempati kamar lain yang bukan menjadi kamar utama?" pinta Lindsey sedikit berharap. Jujur, dia tak merasa nyaman jika harus memiliki kamar yang sama dengan Darrel. Kamar yang memiliki aura dominan dan kesan khas tentang lelaki tersebut.
"Tuan sendiri yang telah memberiku arahan agar membawa barang-barang Nyonya ke kamar beliau. Itu artinya kamar anda menjadi satu dengannya." Sean mengangguk kecil, seolah tak peduli dengan pertentangan batin yang masih Lindsey rasakan.
Mereka kini memasuki ruang utama. Semuanya tak jauh berbeda dengan apa yang diingat Lindsey. lantai ruangan terbuat dari marmer. Dua set kursi berlapis kulit super ditata dengan apik di dekat dinding tengah. Sebuah jam kuno terpasang anggun, memiliki dentangan yang khas setiap kali waktu berganti seperempat jam.
Di bagian kanan dan kiri dari pintu utama, terpasang dua lukisan abstrak berwarna cokekat gelap dan orange. Ada hiasan dari patung minimalis Zeus dan Poseidon di ujung ruangan. Dinding-dindungnya didominasi cat abu-abu, cokelat gelap, dan putih. Secara keseluruhan, semuanya masih tak jauh berbeda dengan saat terakhir Lindsey meninggalkan mansion ini.
Suara heels Lindsey terdengar teratur. Dia melewati ruang demi ruang hingga akhirnya tiba di lantai dua. Sean membimbingnya ke kamar utama dengan menbawakan dua koper milik Lindsey yang ia bawa dari rumah untuk keperluan pribadinya. Dia perlu persiapan, bukan? Tidak mungkin Lindsey akan bersikap boros dan membeli apa pun semaunya sendiri. Dia bukan Darrel yang apa-apa selalu mengeluarkan uang. Hidup Lindsey terbentuk dari puluhan proses sehingga ia mampu menghargai kerja keras dan tidak terlalu sembrono dalam mengeluarkan uang.
"Jika ada yang anda butuhkan. Nyonya bisa memanggil saya atau pelayan lain." Sean menunduk takdzim, mundur beberapa langkah dan menbiarkan Lindsey berdiri mematung di kamar utama yang pintunya telah dibuka oleh Sean.
Perlahan, kaki Lindsey masuk ke dalam kamar. Aroma khas parfum Darrel langsung menyerang indera penciumannya. Kamar ini didominasi warna silver dan putih. Ranjangnya berukuran king size dengan pola garis-garis tegak lurus. Kepala ranjangnya dari kayu berpelitur. Ada ukiran-ukiran sederhana di setiap sisinya.
Dua lemari besar yang menyatu ada di sudut ranjang. Salah satu di antaranya dilengkapi cermin sepenuh badan. Lindsey ingat dulu baju-bajunya ada di lemari sebelah kanan. Semuanya seperti tak berbeda. Hanya ada satu yang hilang. Dulu, di sudut selatan kamar ini ada satu set meja rias beserta kursi yang di atasnya sering tersebar make up Lindsey. Sekarang meja itu tak ada. Digantikan meja kerja sedang dengan laptop dan beberapa map berisi dokumen di sebelahnya.
Lindsey menutup pintu kamar dan duduk di ujung ranjang dengan bingung. Kamar ini sudah terasa sangat asing baginya. Dia tak tahu harus melakukan apa. Mungkin, dia bisa meneruskan dan melanjutkan novelnya yang tertunda.
Udara sore ini masih cukup cerah. Lindsey memilih duduk di balkon dan mengetik untuk melanjutkan beberapa novelnya yang terbaru. Dia selama ini menggeluti dunia literasi dalam genre romance fiksi. Karyanya sudah ada beberapa yang diterbitkan. Uang dari penjualan buku tersebut cukup lumayan untuk menopang hidupnya.
Dulu, saat Lindsey menikah dengan Darrel, lelaki itu sempat melarang Lindsey bekerja. Dia ingin menjadi tulang punggung Lindsey sepenuhnya. Apa pun yang Lindsey mau, akan diberikan oleh Darrel tanpa kecuali.
Saat itu, hidup Lindsey seperti surga. Bak cinderella yang menemukan pangerannya. Hidupnya yang biasa- biasa saja diangkat dengan begitu mudahnya oleh Darrel. Lelaki itu memuja dan memperlakukan Lindsey dengan sangat sempurna.
Hingga kemudian peristiwa itu terjadi. Sebuah peristiwa yang membuat Lindsey mempertanyakan identitas Darrel sebenarnya. Sebuah peristiwa yang membuat Lindsey memilih pergi dari hidup Darrel dan meminta perceraian.
Karena sekarang, Darrel tampak seperti sosok yang penuh rahasia kotor. Sebuah rahasia yang tak ia bagi dengan dunia.
Lindsey menatap langit sore dengan pandangan melayang. Dia kini telah berada dalam wilayah kekuasaan Darrel kembali. Berada satu atap dengannya dan memiliki tujuan kehadiran anak bersama-sama.
Kini, ada perasaan yang menyelinap di hati Lindsey yang terdalam. Apakah langkahnya benar? Apakah suatu hari nanti Lindsey akan menyesali keputusannya kali ini?
Ya Tuhan. Keragu-raguan Lindsey muncul terlambat. Membuat ia hanya bisa merutuk dalam hati. Berurusan dengan Darrel selalu tak mudah. Dia harus waspada setiap saat. Seolah-olah jika ia lengah sedikit saja, Lindsey bisa tenggelam dalam kesialan.
…