Luxury Property

1161 Kata
Luxury Property. Sebuah perusahaan properti yang berfokus untuk melakukan pengembangan dalam macam-macam hunian, apartemen, dan perumahan elite. Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan raksasa di Manhattan yang dimiliki oleh Darrel. Pagi ini, terjadi sebuah keributan. Ada salah seorang karyawan yang katanya menjabat sebagai salah satu marketting ditemukan tewas dengan luka tembak di kepala, tepatnya bagian dahi. Petugas security berhasil menemukannya tak jauh dari gudang barang. Kebetulan, daerah itu adalah daerah yang tak ada CCTV, sehingga tak ada petunjuk kuat yang menyertainya. Hanya satu dua petunjuk yang terasa samar. Polisi sedang mencoba mencari tahu dan menghubung-hubungkan semua jejak yang ada. Tetapi hanya ada petunjuk-petunjuk minim yang mereka dapatkan. Tak ada informasi apa pun yang bisa Lindsey dapatkan dari wawancaranya pagi ini. Hanya segelintir keterangan-keterangan singkat dari saksi. Setelah dua jam lebih Lindsey membuat laporan tentang berita ini untuk dikirimkan secara elektronik pada editornya, dia memutuskan mencari kedai kecil untuk mengisi perut. Sudah terlalu siang untuk sarapan. Tetapi masih terlalu pagi untuk makan siang. Mungkin Lindsey bisa mencari kudapan dan secangkir kopi lagi untuk menggancal perutnya yang lapar. Lindsey keluar dari area Luxury Property dengan notes di tangan dan alat perekam kecil. Saat dia sudah sampai di depan gerbang utama dan berniat melanjutkan menyusuri jalan sepanjang blok ini, Lindsey dikejutkan oleh sebuah limusin hitam yang berhenti tepat di sisinya. Lindsey menatap limusin tersebut dengan sedikit gugup. Dia ingat, Darrel dulu juga memiliki limusin serupa. Semoga saja ini hanya kebetulan. Lindsey tak terlalu suka jika apa yang ia takutkan di pikirannya benar-benar terjadi. Perlahan, pintu limusin terbuka dan keluarlah seorang lelaki gagah dengan rambut gelap yang sangat familier. Saat itu juga Lindsey mencelos. Mata lelaki itu menatap tajam ke arahnya, seperti laser yang siap menekan objek. Ya Tuhan. Bagaimana lelaki itu bisa menjadi bayang-bayang yang cepat berwujud dalam hitungan detik? Bayang-bayang yang ketika Lindsey ingin melenyapkan, justru datang dengan cara yang tak pernah ia duga. "Darrel?" Mulut Lindsey mengucapkan nama lelaki itu dengan nada terkejut. Dia mundur beberapa langkah ke belakang, seolah-olah berniat melakukan perlindungan diri. "Kau juga meliput berita tentang karyawanku, Sayang?" Darrel berjalan mendekat ke arah Lindsey dengan langkah-langakah pelan layaknya predator. Suaranya dalam dan berat, mencerminkan dominasinya. Dasi putih yang lelaki itu kenakan tampak berkibar ditiup angin musim panas. Sangat kontras dengan setelan hitam yang ia kenakan. "Jangan panggil aku begitu!" tolak Lindsey merasa tak nyaman. Dia menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak menjadi pusat perhatian seseorang. Di sekitar mereka, masih banyak orang yang berlalu lalang. Termasuk pada wartawan dan reporter. Mereka sibuk mencari berita tentang kematian mencurigakan salah satu perusahaan properti ternama. Sangat tidak lucu jika salah satu reporter ada yang menangkap keberadaan Lindsey yang kini berbicara begitu dekat dengan sang pemilik perusahaan yang sebenarnya sudah dari tadi dicari-cari oleh banyak orang untuk mengonfirmasi berita yang ada. Lindsey tak ingin terjebak dengan gosip atau semacamnya. Meskipun jika mau diakui, toh sebentar lagi dia akan kembali pada Darrel sebagai istrinya untuk melakukan kesepakatan. Tetapi sangat tak menyenangkan bagi Lindsey jika saat ini ia menjadi sorotan. Tidak semua orang menyadari identitas dan status Lindsey sebenarnya, yang hingga saat ini masih menggunakan nama belakang Vranzerlin. "Jangan panggil apa? Sayang? Itukah maksudmu? Kau terganggu dengan panggilanku? Bagaimana jika kusapa kau sebagai istriku? Apakah itu lebih tepat?" Darrel terkekeh sinis, merasa Lindsey terlalu kolot. Mereka secara hukum masih suami istri. Tetapi tindakan Lindsey cukup bisa dikatakan sangat tak bersahabat. Wanita itu membuat dinding tak kasat mata dari suaminya sendiri. Dinding yang ia bangun semakin kuat setiap harinya. Hingga Darrel merasa Lindsey memiliki batasan yang tak masuk akal untuk didekati. "Berhenti memperolokku, Tuan Vranzerlin yang terhormat. Saat ini sudah cukup siang. Tidakkah kau memiliki agenda lain yang lebih penting dari pada sekadar menggangguku seperti ini? Waktu adalah uang. Pebisnis sebesar dirimu pasti menyadari arti ungkapan itu!" Lindsey menaikkan dagunya, menantang Darrel secara langsung. Notes di tangan Lindsey semakin ia genggam kuat-kuat. Ujung-ujung kukunya mengenai permukaan notes yang kasar. Setiap kali berhadapan dengan Darrel, reaksi Lindsey selalu tak terkontrol. Ada antisipasi yang kuat di balik dadanya yang berdentam laksana perang. Jantungnya bertalu-talu dengan menakutkan. Seolah-olah mereka adalah dua kutup negatif positif yang saling tarik menarik secara alami. Semua itu masih mampu Lindsey rasakan meskipun mereka saat ini sudah cukup lama berpisah. Mungkin setahun lebih. "Ya. Waktuku cukup berarti. Tadinya kupikir beramah tamah dengan istri sendiri adalah moment yang lebih berarti dari pada sekadar rapat membosankan tentang grafik keuangan. Tetapi rupanya aku salah. Berkomunikasi denganmu terasa semakin memburuk saja setiap waktu. Rupanya aku telah menyia-nyiakan waktuku sendiri." Darrel menatap sinis wanita di hadapannya. Dia segera berbalik dan kembali masuk ke limosin, meninggalkan Lindsey seorang diri dengan posisi tubuh yang kaku. Setelah cukup lama kepergian Darrel berlalu, Lindsey merasa tangannya sedikit kebas. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya dengan cepat untuk mengahalau air bening yang entah kenapa terasa ingin tumpah secepatnya. Kelopak mata Lindsey bergetar kecil, membuat bulu mata lentiknya ikut bergerak-gerak indah dan menakjubkan. Lindsey meneruskan kembali langkahnya. Dia menyusuri trotoar panjang di sepanjang blok. Tatapan matanya mulai menerawang, tak terlalu menatap kondisi jalan yang ia lalui. Dia berhenti beberapa langkah dan memegang dadanya secara otomatis. Lindsey tak terlalu suka memiliki hati yang rapuh dan ringkih. Tetapi mendengar perkataan Darrel sebelumnya, ada suatu bagian dari hatinya yang tersayat perih. Seolah-olah kata-kata Darrel merupakan sumber luka yang bisa membekas dalam waktu yang lama. Kehangatan dari lelaki itu sudah tak lagi ada. Berganti tatapan tajam dan olok-olok. Rasa sayang yang diucapkan di mulutnya sebatas sindiran saja. Dia memang jauh berbeda seperti dulu. Lindsey dan Darrel menjadi dua orang yang semakin asing satu sama lain. Lindsey tak tahu apa jadinya jika mereka kembali dipersatukan di bawah atap yang sama dengan Darrel. Awalnya Lindsey menggunakan alasan ketidakcocokan sebagai dasar untuk gugatan cerai. Dia tak menyangka alasan itu bisa jadi akan terealisasi juga nantinya. Banyak hal yang mulai berseberangan antara Libdsey dan Darrel. Melanjutkan pernikahan demi untuk mendapatkan seorang putra sepertinya hanya akan menjadi kesepatan dangkal saja. Setelah Lindsey melakukan bagiannya, mereka berdua akan kembali mengambil langkah hidup masing-masing. Dan jika Darrel cukup memiliki hati nurani, mungkin nantinya ia akan diijinkan untuk melihat dan menyaksikan perkembangan anaknya kelak. Dengan berat, Lindsey menarik nafas dan berhenti di sebuah kedai. Dia masuk dan memesan beberapa menu melalui pelayan yang hilir mudik dengan seragam kerja yang rapi. Lindsey duduk di ruangan yang berdesain semi outdoor dan mengeluarkan buku notenya. Dia kembali menganalisis atas beberapa informasi berita yang ia dapatkan. Tak ada tanda-tanda yang menonjol sebagai petunjuk atas kematian seorang marketting perusahaan yang ia temukan. Luka tembaknya persis di dahi dan diperkirakan mengalami kematian spontan. Ngomong-ngomong tentang penembakan di dahi, Libdsey jadi teringat kejadian empat belas bulan yang lalu ketika ia melihat Darrel menembak persis di dahi anak buahnya. Apakah itu semua brrhubungan? Atau ini hanya sekadar ketakutan Lindsey saja karena pernah menyaksikan hal-hal buruk sehingga kejadian yang serupa akan selalu dihubungkan dengan sumber ketakutannya. Ya Tuhan. Sepertinya Lindsey benar-benar telah menjadi paranoid sejati. …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN