Keputusan

1084 Kata
Lindsey menatap pemandangan luar dari balik jendela kamar. Dia membiarkan pikirannya mulai berkelana. Menciptakan pikiran demi pikiran yang ia miliki dan membentuknya menjadi satu kesatuan yang utuh. Lindsey dihadapkan pada pilihan yang sulit. Dia mau tak mau menyadari bahwa kesepakatan Darrel merupakan satu-satunya tiket baginya untuk keluar dari pernikahan ini. Satu-satunya. Lindsey harus menggaris bawahi ini. Tidak ada lagi jalan keluar lain. Darrel menginginkan sebuah pewaris. Lelaki itu berniat menjaga kestabilan dinastinya dan menginginkan calon anak yang jelas. Dia kini telah berusia tiga puluh satu tahun. Memikirkan ke mana semua aset kekayaannya nanti akan diteruskan sudah menjadi misinya saat ini. Cukup mengagetkan sebenarnya. Seseorang yang sangat menjunjung tinggi hedonisme, kini menginginkan seorang pewaris. Yang lebih mengejutkan dari semua itu, adalah tawaran itu Darrel berikan pada Lindsey. Wanita yang sebenarnya enggan untuk berurusan dengan dirinya dan justru menginginkan perceraian sesegera mungkin. Pertanyaan demi pertanyaan keluar dari benak Lindsey. Mencoba mencari jawaban yang sesungguhnya. Satu-satunya sumber jawaban yang ada adalah Darrel sendiri. Tetapi lelaki itu bagaikan air danau. Tidak memberikan riak sama sekali sebagai petunjuk untuk Lindsey tebak. Dia hanya berkata bahwa Lindsey masih istrinya secara hukum. Untuk apa mencari calon ibu biologis lain bagi anaknya jika Darrel sendiri masih memiliki istri. Jawaban itulah yang lelaki itu berikan. Seolah-olah hal tersebut cukup ampuh untuk membungkam semua tanya yang Lindsey miliki. Kini, Lindsey berdiri dengan kebimbangan. Dia semakin ke sini semakin tak memiliki ruang untuk bergerak. Semua pilihan yang bisa dia ambil semakin menipis. Dia dihadapkan pada tembok kokohyang bernama Darrel. Mau tak mau, Lindsey memang seperti domba yang sengaja diarahkan menuju tempat khusus sesuai keinginan sang penggembala. Dia hanya bisa berjalan, pasrah digiring ke mana pun. Suara ponsel berdering nyaring. Lindsey menoleh ke atas meja nakas dan mengambil benda mungil bergantungan hiasan kecil dari besi berbentuk huruf inisial namanya. "Ya?" sapa Lindsey kepada orang di seberang sana. "Mrs. Vranzerlin. Uh maaf, maksudku, Ms. Anderson. Sudahkah kau pikirkan baik-baik kesepakatan dari Mr. Vranzeelin untukmu?" tanya Jefferson Smith. Lindsey telah membiarkan masalah penawaran Darrel tanpa konfirmasi selama tiga hari ini. Pagi ini sepertinya entah bagaimana Jefferson pasti ditagih oleh pengacara Darrel. Lelaki itu butuh jawaban segera. Sebagaimana Lindsey butuh perceraian ini segera terjadi. Sayangnya, semua itu hanya terjadi jika dan hanya jika Lindsey menuruti apa kata Darrel. "Bukankah aku memang sudah tidak lagi memiliki pilihan, Mr. Smith? Mau tak mau kesepakatan itu menjadi kunci bagiku untuk bercerai, bukan?" Lindsey mendengkus kecil. Dia tertawa sinis, merasa kalah oleh keadaan. Di dunia ini, ada sebuah rumus di mana yang kuat akan selalu memiliki kuasa pada yang lemah. Di mana yang dominan akan menguasai yang kerdil. Mau bagaimana lagi? Memang begitulah adanya. "Jadi, kau menerimanya?" Entah kenapa, Lindsey mendengar nada Jefferson terlihat lebih lega dari pada sebelumnya. Mungkinkah lelaki itu entah bagaimana ditekan oleh pihak Darrel? Terkadang, dalam kehidupan ini, apa pun yang berhubungan dengan Darrel bisa diatur sedemikian rupa. Entah lelaki itu menggunakan cara yang seperti apa. "Ya." "Baguslah, Mrs. Vranzerlin." "Jangan panggil aku—" "Mulai sekarang, untuk sementara ini, aku memang harus memanggilmu Mrs. Vranzerlin." Suara kekehan Jefferson terdengar jelas di sambungan telepon. Dia merasa berhasil mencapai sesuatu dalam hidupnya. Setidaknya, membiarkan Lindsey mengambil kesepakatan dengan Darrel merupakan sesuatu yang perlu disyukuri. Tak ada gunanya melawan lelaki itu dengan kekuatan yang Lindsey miliki saat ini. "Itu saja tujuanmu menghubungiku?" tanya Lindsey mulai malas memabahas masalah ini. "Ya. Satu lagi yang perlu kau tahu. Mr. Vranzerlin menginginkan kesepakatan itu dimulai senin depan. Dengan kata lain, dua hari lagi dari sekarang, kau harus sudah pindah ke kediamannya." Panggilan diakhiri secara sepihak. Lindsey mengernyit terkejut dan menatap ponsel di tangannya dengan hampa. Hatinya jadi terasa tak menentu. Dengan lemah, Lindsey meletakkan ponsel miliknya ke meja nakas dan membiarkan dirinya sendiri mematung untuk beberapa saat. Senin. Darrel ingin dirinya kembali ke mansion lelaki itu dua hari dari sekarang. Lelaki itu benar-benar tak sabaran. Mungkinkah seorang pewaris memiliki arti yang sangat besar bagi Darrel? Sehingga dia mempercepat prosesnya. Bayangan untuk hidup di bawah atap yang sama dengan lelaki itu berhasil menguras semua fokus Lindsey saat ini. Sebenarnya, bukan hal yang mudah untuk melakukan semua itu kembali. Terutama setelah Lindsey mengetahui sisi lain Darrel yang masih menjadi tanda tanya baginya. Sebenarnya, siapa Darrel sesungguhnya? Identitas apa yang ia miliki? Akan jadi seperti apa Lindsey jika satu atap bersamanya? Kehati-hatian seperti apa yang ia butuhkan untuk tetap menjaga keselamatan dirinya? Lindsey terdiam lama. Dia berusaha memikirkan banyak hal. Untuk berhadapan dengan lelaki yang memiliki identitas ambigu seperti Darrel, dia harus memiliki keahlian dalam berpura-pura. Berpura-pura tak tahu apa-apa. Berpura-pura tidak melihat apa-apa. Berpura-pura tidak menyadari apa-apa. Ketidaktahuan adalah sesuatu yang menyelamatkannya. Setelah memikirkan semua ini, Lindsey tampak sedikit lebih tenang. Dia berjalan ke ruang tengah apartemennya dan memutuskan untuk membuat secangkir kopi menemani paginya. Hari ini dia akan berangkat ke kantor lebih siang. Lindsey bekerja sebagai jurnalis lapangan sehingga jam kerjanya kadang tidak seperti jam kerja orang pada umumnya. Pernah beberapa kali Lindsey tertidur lelap, tiba-tiba mendapat panggilan untuk meliput kebakaran yang terjadi pada tengah malam buta. Hal-hal seperti itu sudah menjadi makanannya setiap hari. Untuk mengisi pagi hari, Lindsey menikmati kopi dengan laptop di hadapannya. Dia mencoba mengetik naskah untuk novel terbaru. Siapa tahu bisa sedikit mengurangi kepenatan. Tulis menulis adalah dunianya. Entah dalam hal sastra, maupun jurnalistik. Lindsey sudah lama b******u dengan dunia literasi. Di dunia tersebut, dia mampu menemukan banyak hal yang lebih berwarna. Saat Lindsey baru saja selesai mengetik satu bab lebih, ponselnya kembali berdering. Ada nama Mark Wilson di layar ponsel, editornya dalam bidang jurnalistik. Segera saja Lindsey mengangkatnya. "Ya, Sir?" "Kau sedang senggang?" "Bisa dikatakan begitu. Ada apa?" "Bisa kau meliput berita tentang kematian salah satu karyawan Luxury Property? Pagi ini ada kejadian yang menewaskan seorang marketting di perusahaan tersebut." "Oh kukira aku akan meliput berita sosial tentang panti asuhan di pinggiran New York hari ini." Lindsey mencoba mengelak. Wajahnya terlihat tak menyenangkan. Sinar matanya menggelap secara tiba-tiba. "Ya. Tadinya. Tapi itu bisa menunggu. Berita ini lebih dicari. Cepat angkat bokongmu dari kursi dan segera cari informasi tentang berita ini. Aku mengandalkanmu, Lindsey. Kau masih menjadi anak buah favoritku." "Sir, tapi—" "Tak perlu berterimakasih padaku! Cepat berangkat. Buat aku mempromosikan gaji dan jabatanmu di akhir tahun ini! Aku akan segera mengirim lokasi perusahaan Luxury Property padamu!" Sambungan terputus secara sepihak. Lindsey membuang ponselnya begitu saja ke ranjang. Dia berdiri dan menyumpah serapah penuh emosi. "Sialan kau, Mark! Sialan!" Kedua kaki Lindsey ia hentakkan di keramik apartemen. Lindsey jelas tak senang dengan job kali ini. Mengulik tentang kematian karyawan di Luxury Property. Sebuah perusahaan yang ia hindari. Perusahaan itu adalah salah satu perusahaan milik Darrel. Bagaimana mungkin Lindsey akan masuk begitu saja dan bertanya-tanya tentang kasus ini? Lindsey yakin sebenarnya pasti ada rahasia tentang kasus kali ini. Apa pun tentang Darrel, semuanya menjadi sebuah teka-teki. …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN