Awal Yang Begitu Menyakitkan
Hujan deras yang disertai dengan suara petir yang menyambar dikegelapan malam, menjadi saksi bisu, kecelakaan mobil yang terjadi disebuah jalan, suara rintihan orang di dalamnya tak terdengar oleh siapapun.
"Akh, sakit."
"To—tolong!"
Hanya suara itu yang terdengar dari sepasang suami istri yang terjepit badan mobil.
"Ayah, Ibu!" ucap seorang anak laki-laki yang masih berusia 15 tahun sambil menagis, ia juga terluka namun tidak separah orangtuanya yang ada di kursi depan.
"Sayang?" ucap seorang wanita.
"Xavier akan mencoba keluar untuk mencari bantuan!" ucap Xavier yang merupakan anak laki-laki tersebut.
"Nak, ibu sudah tidak bisa ber—tahan lagi," ucap Ibu Xavier sambil terbata-bata karena menahan rasa sakit yang sangat luar biasa.
"Ayah juga, tolong kamu bawa adik—mu, kamu jaga dan rawat dia baik-baik, jangan tinggal—kan dia sayang, dia masih bayi!" ucap Ayah Xavier yang juga terbata-bata.
"Ayah, Xavier masih kecil, Xavier takut tidak akan mampu!" jawab Xavier.
"Jika bukan kamu, siapa lagi? Kita sudah tidak punya siapa-siapa lagi dan begitupula bayi ini, bayi ini hanya punya kamu?" ucap Ayah Xavier.
"Baik, Xavier akan merawatnya!" jawab Xavier.
Setelah acara pemakaman kedua orangtua Xavier usai, Xavier hanya berdiam diri di dalam kamarnya, dia melamun dan membayangkan hari-hari bahagianya dengan ayah dan juga ibunya yang kini sudah menjadi kenangan, sungguh sangat berat kehilangan orangtua, terlebih dua-duanya sekaligus. Lamunan Xavier usai, setelah ia mendengar suara bayi menagis, Xavier kemudian melangkahkan kakinya untuk menuju ke kamar adiknya yang bernama Mala.
Setelah sampai di kamar Mala, Xavier mengendong bayi tersebut, namun bayi itu masih terus menagis.
"Adik kecil, kamu mau apa? Kakak tidak mengerti apa yang bayi inginkan ketika dia menagis?" tanya Xavier pada bayi yang digendongnya tersebut. Beberapa saat kemudian, datanglah seorang wanita paruh baya yang merupakan teman dari orangtua Xavier, wanita paruh baya itu langsung masuk ke kamar Mala karena mendengar suara tangisannya.
"Xavier apa yang terjadi pada adikmu?" tanya wanita paruh baya itu. Xavier menjawab, "Xav tidak tahu, dia terus saja menagis?"
"Sini coba aku gendong!" ucap wanita paruh baya tersebut yang bernama Nindi.
"Oh, adikmu lapar, dia butuh s**u!" ucap Nindi setelah mengendong dan melihat bayi tersebut. "Sebentar, biar Tante buatkan susunya!" lanjut Nindi yang kemudian mengembalikan bayi tersebut pada Xavier dan kemudian pergi ke dapur untuk membuat s**u.
Siang hari kemudian, Nindi pergi dari rumah Xavier, setelah ia memberitahu Xavier bagaimana cara merawat bayi, agar Xavier tidak lupa, Nindi juga menulis langkah-langkah merawat bayi di buku tulis milik Xavier. Xavier kini sudah sedikit mengerti cara merawat bayi.
Dua tahun kemudian, kini usia Mala sudah 2 tahun dan Mala juga sudah bisa berjalan, meski tidak terlalu lincah.
"Sini jalan ke arah kakak!" ucap Xavier yang pada saat itu sudah berusia 17 tahun. Balita itu tertawa bahagia dan kemudian pergi menjauh dari Xavier, sepertinya Mala ingin menjahili kakaknya dan ketika Mala sedang asik berjalan menjauh, tiba-tiba Mala terjatuh dan kemudian menagis.
"Mala?" ucap Xavier dengan panik dan kemudian ke arah Mala dan menggendongnya. Tak lama kemudian datang seseorang ke rumah Xavier dan Xavier kemudian pergi untuk membukakan pintunya, sambil mengendong Mala.
"Maaf, kalian siapa?" tanya Xavier pada kedua pria dewasa yang berada di depan rumahnya. Salah satu dari mereka kemudian menjawab, "Kami ingin mengatakan bahwa rumah ini kami sita, karena sudah dua tahun cicilannya tidak dibayarkan!"
"Baiklah, tunggu sebentar!" Xavier masuk ke dalam rumahnya dan mengemasi barang-barangnya serta mengambil semua uang yang ada di laci yang hanya tersisa beberapa lembar saja, setelah selesai ia kembali keluar.
"Ini kunci rumahnya!" ucap Xavier yang kemudian menyerahkan kunci rumah tersebut pada pria itu dan ia kemudian pergi dari sana. Xavier berjalan sambil menuntun Mala dengan mengunakan tangan kanannya, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk membawa koper.
"Kakak kita mau kemana, Mala lelah!" ucap Mala dengan suara yang sangat menggemaskan karena ia baru saja bisa bicara beberapa bulan lalu.
"Kita mau menuju ke rumah baru untuk tinggal disana, sebentar lagi kita akan tiba!" jawab Xavier.
"Kaki Mala sakit," ucap Mala yang merasakan sakit di kakinya karena berjalan cukup jauh dari rumahnya. Xavier kemudian mengendong Mala, agar Mala tidak kelelahan.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua tiba di sebuah rumah kontrakan yang akan disewa oleh Xavier, karena perjalanan yang cukup jauh, Mala ketiduran di dalam gendongan kakaknya.
"Harga sewanya perbulan 700 ribu, tetapi untuk kalian berdua saya kasih 500 ribu saja!" ucap pemilik kontrakan tersebut. Xavier menjawab, "Terimakasih, Bu!"
Siang hari kemudian, setelah menidurkan adiknya di ranjang, Xavier keluar dari kamar tersebut dan kemudian menghitung uang yang tersisa, uang tersebut hanya tinggal 500 ribu saja, sebenarnya selama dua tahun ini, Xavier mengunakan uang tabungan dari almarhum kedua orangtuanya untuk bertahan hidup bersama adiknya dan kini sisanya hanya 500 ribu, Xavier yang berusia 17 tahun itu terus berpikir, bagaimana cara memutarkan uang tersebut untuk usaha, Xavier kemudian mempunyai ide untuk berjualan sosis dan nauget keliling.
Keesokan harinya, Xavier memasak makanan untuk sarapannya bersama dengan adiknya.
"Kakak, Mala mau mandi!" ucap Mala yang tiba-tiba keluar dari kamarnya dan menemui Xavier. Xavier menjawab, "Sebentar ya, ini sebentar lagi matang!" Setelah selesai memasak dan menata makanan tersebut di atas meja, Xavier kemudian membuka baju dan celana adiknya yang masih balita itu dan kemudian menggendongnya ke kamar mandi. Mala sangat senang, ketika ia dicelupkan di dalam air.
"Yeay, segar sekali!" ucap Mala sambil menciprat-cipratkan air tersebut hingga mengenai baju kakaknya.
"Senang sekali ya?" tanya Xavier pada Mala.
"Iya, Mala suka mandi!" ucap Mala.
"Mala, habis mandi ikut kakak ya, kita jualan sosis dan nauget keliling!" ajak Xavier.
"Iya, Mala suka sosis dan nauget, enak!" jawab Mala dengan sangat antusias sambil mandi.
Beberapa saat kemudian, Xavier dan Mala keluar dari rumah kontrakan tersebut untuk berjualan.
Setelah beberapa lama keliling, akhirnya ada yang membeli dagangan Xavier.
"Aku beli sosisnya tiga!" ucap seorang bocah.
"Aku dua ya?" ucap bocah lainnya. Xavier menjawab, "Sebentar ya!" Ketika Xavier sedang menggoreng sosis pesanan dua orang bocah itu, tiba-tiba melintaslah dua orang anak SMA yang merupakan teman sekolah Xavier ketika SMP dulu.
"Xavier?" ucap Niko.
"Seorang murid yang paling pintar, ternyata sekarang jadi tukang jualan sosis dan nauget dan membawa balita? Kasihan sekali sih, lihat ini kita yang tidak sepintar kamu, tapi sekarang sudah berseragam SMA!" ucap Nella yang menghina Xavier.
"Sudah dua tahun tidak sekolah ternyata sekarang hidupnya terlantar tanpa orangtua, haha!" ucap Niko sambil tertawa. Xavier tidak memperdulikan mereka, ia terus menggoreng sosis pesanan dari dua orang bocah itu.
"Sudah, ayo kita ke sekolah, nanti yang ada kita telat lagi?" ajak Nella. Mereka berdua kemudian pergi dari sana.