Setelah kejadian lalu, dimana Nika dimarahi oleh Rama kini dirinya dan Rama sudah kembali menjadi partner kerja kembali kali ini Nika menemani Rama untuk pengambilan foto untuk sebuah majalah yang lumayan terkenal di Jakarta, Nika yang siap siaga di samping Rama selama bosnya itu tengah ditouch up.
Hal paling Nika kutuk ketika jantungnya yang berddegup kencang serta perutnya yang terasa melilit mulas kala melihat Rama yang setenggah naked dan hanya menggunakan celana jeans panjang dengan bagian tubuh atasnya tengah dibaluri highlighter berwarna keemasan yang seakan memberikan kesan glowing ditubuh Rama.
Tak ingin semakin lama menikmati keindahan tubuh Rama ia mengalihkan pandangannya dengan menyibukkan dirinya misalnya menyiapkan air minum untuk Rama, handuk kecil untuk mengusap keringatnya, dan kebutuhan lainnya yang biasanya diperlukan Rama nanti.
“Keknya asissten lo salting liat lo begini, Ram.” Rama hanya membalas dengan senyum kecilnya.
“Keliatannya dia juga tipe cewek polos banget, nggak pernah lihat cowok naked dikit begini.” oceh Mia yang masih saja membalurkan highlighter didada Rama.
“Lo udah belum sih?”
“Udehh—sana ke studio lo.” Mia mengakhiri aktivitasnya.
“Nik, ikut gue ke studio.”
Nika yang mendapat titah oleh Rama ia segera bergagas membawa kebutuhan Rama, meski jantungnya masih saja bertalu seakan ingin lepas dari tempatnya ia harus bersikap profesionalkan.
Rama duduk disebuah kursi menunggu gilirannya untuk melakukan fotoshoot dengan Nika yang berada disampingnya sama-sama menatap model yang tengah bergerak disana, Nika kagum dengan para model yang melakukan dengan luwes seandainya dirinya memiliki bakat seperti itu betapa ia bahagia sekali.
Kini giliran Rama yang akan diambil fotonya dengan seorang model yang sama-sama cantik dan juga bentuk tubuhnya yang terawat dengan indah, Nika memang memiliki bentuk tubuh yang proposional, tingginya dapat, bentuk tubuhnya juga tak kurus tak gemuk tapi sayang sekali ia tak begitu percaya diri sepertio para model wanita disini.
Baru saja Nika bisa duduk suara ribut masuk ke dalam studio itu, “Mike, Ardilla nggak bisa datang nih gimana?” suara wanita yang membuat keributan tadi.
“Kenapa emang Ki?”
“Katanya perjalanan ke sini mobilnya ditabrak, Ardilla sempat pingsan dan luka, gimana?”
Mike tampak berfikir padahal projek ini sangatlah penting dan sekarang ia tak memiliki ganti Ardilla, tampak Mike berfikir keras, semua sudah ia tentukan dengan demikian rupa apalagi waktunya sudah sangat mepet.
Tak sengaja Mike mengidarkan pandangannya kepenjuru studio sembari berfikir, netranya menatap tepat pada Nika yang masih berdiri dengan ponsel ditangannya, Nika baru bisa memegang ponsel ketika bosnya mulai melakukan pekerjaannya.
“Kayaknya gue tahu deh, gue nemu orang yang bisa gantiin Ardilla.” tampak kru Mike menatap fotografernya bingung.
“Siapa? Lo mau pakai Hera lagi?”
“Nope—itu cewek siapa?” tanya Mike.
Kiki mengikuti arah pandangan Mike yang menatap lekat seorang wanita yang tengah berdiri dengan ponsel berada digenggamannya.
“Dia?” Kiki meminta penjelasan Mike.
Mike mengangguk, “Kayaknya dia cocok bentuk badannya juga oke, dia siapa?”
“Assistennya si Rama, oke juga sih—coba gue minta dia deh.”
“Oke, thanks Kiki..” Kiki hanya sempat mengacungkan ibu jarinya karena ia harus segera mengurus perempuan yang ditunjuk oleh Mike tadi.
Nika tampak tak percaya apa yang barusan Kiki katakana bahwa dirinya diminta untuk menjadi model juga karena salah satu model mereka baru saja mengalami kecelakaan maka dari itu Kiki meminta Nika untuk mau ikut menjadi model.
“Mbak sa—saya enggak bisa gaya.”
“Nggak apa-apa nanti diarahin sama Mike kok, kalo mau ayo ikut aku biar kamu dirias.” ajak Kiki tak menyerah.
“Mbak nanti Mas Rama gimana? Aku belum ijin—“
“Gampang nanti biar aku bantuin ngomong yang penting ini kamu mau enggak gantiin jadi model?”
“Yaudah deh Mbak saya mau,” ujar Nika langsung setuju.
“Bagus! Ayo ke ruang make up.”
Sayangnya Nika tak memikirkan akibatnya nanti, ia ia pikirkan adalah rasa penasaran bagaimana menjadi model meski ia menjadi seorang pengganti saja. Dengan lengkah mantap Nika memasuki ruangan make up kembali dan ia mulai dirias.
♣♣♣
Rama mencari assistennya dengan bingung ia membutuhkan minum dan akhirnya dirinya sendiri yang mencari dan ia menarik beberapa tissue untuk mengelap kringatnya, hanya bergerak dikemera memang tak menghabiskan banyak tenaga namun panas karena pantulan lampu penerang.
Baru saja ia menikmati minumannya seseorang membuka pintunya dan menatap Kiki kru dari Mike dan juga—sebentar—assistennya tengah memakai baju model dengan riasan yang amat pas diwajahnya, semburan air muncrat dari mulut Rama, ini assistennya kenapa bisa-bisanya didandani begini.
Rama menatap kagum juga dengan hasil makeup, ia menghampiri Rama bermaksud meminta ijin untuk sebentar meminjam Nika sebagai modelnya. “Ram—“
“Kelakuan lo kan Mik?!” kesal Rama.
“Sorry bro, Ardilla nggak bisa dateng abis kecelakan perjalanan kemari jadi gue pinjem assisten lo bentaran aja, buat gue pasangin ke Radit.”
“Gila lo! Hhh—serah lo ajalah.” Rama yang hanya bisa menghela nafas kesalnya.
Nika mendekati Rama untuk meminta ijin, bahwa pekerjannya keluar dari jalur, meski tampak takut dan raut wajah Rama tak seperti tadi mau tak mau Nika tetap harus menghadap bosnya kan.
“Udah sana lo bantu si Mike dulu, gue ijinin.” Rama mendahului Nika yang akan meminta ijin sedang tangannya juga melakukan gerakan mengusir Nika.
“Makasih Mas Rama..” ringis Nika tak enak.
Karena Rama sudah selesai sesi pertama ia masih berada dikursi tunggu sembari matanya menatap Nika yang tengah diatur posisinya, awalnya posisinya masih normal namun Rama mengangga ketika Nika diminta Mike bersandar didada Radit, apalagi posisinya yang tak biasa.
“Anjing—ngapain gue yang nggak terima sih!” runtuk Rama dengan wajah kesal.
Enggan semakin melihat fotoshoot ini Rama pergi dari studio, hari ini ia memiliki dua sesi fotoshoot yang berarti Nika juga sama-sama membantu dalam dua sesi fotoshoot, kesal memang bila nasi sudah menjadi bubur bisa apa dia, ingatkan dirinya untuk membrefing assistennya untuk tak memakan gaji buta, kalo begini Rama yang rugi sedang Nika dengan menyebar senyumnya didepan kamera tanpa beban.
“Sial ngapain gue yang kesel sih—tapi gue beneran nggak suka Nika foto sama Radit mana intim banget,”
“Sadar Rama, selera lo kenapa turun begini sih.”
Rama tampak mengacak rambutnya kesal, aneh saja di lubuk hatinya ada rasa tak rela namun di otaknya mengatakan untuk tak lagi menghiraukan Nika yang pada dasarntya Nika hanyalah seorang assistennya bukan siapa-siapanya namun tetap saja hati da nisi kepalanya saling adu argument membuat Rama semakin mengacak rambutnya.
“Ram, you oke?” Rama hanya mengangguk kemudian berlalu.
♣♣♣
Nika keluar dari kamarnya, hari semakin malam dan perutnya tumbenan sekali meraung ingin di isi, ia yakin pasti makan malam tadi sudah tak lagi tersisa, Bi Inah bila memaksa makan malam itu sekali masak harus langsung habis dan sekarang Nika memberanikan diri untuk turun ke lantai satu meski ia juga tahu bila sudah waktunya istirahat semua lampu harus dimatikan, apalagi hari ini Donna tak sedang menginap dirumah Rama bila ada Donna mungkin Nika bisa meminta Donna menemaninya ke bawah namun kali ini Nika memberanikan dirinya.
Dengan berbekal lampu flash diponselnya Nika berhasil melampui lantai tiga dan dua, sekarang dirinya tengah berada di lantai satu, bersyukurnya Nika adalah letak dapur itu dekat dengan tangga, segera ia menyalakan semua lampu.
Nika memutuskan untuk membuat mie instan karena itu satu-satunya ide paling simple disaat perutnya meraung ingin di isi, Nika lantas menarik kursi untuknya bisa membuka lemari atas.
Tepat saat Nika mengobrak-abrik lemari khusus untuk makanan instan dan sayangnya taka da dan Nika masih memaksa dirinya untuk mengobrak-abrik lemari itu. Rama menatap heran bagian lantai satunya saat ia ingin keluar untuk membeli sesuatu malah melihat rumahnya kembali terang dan ia melihat Nika yang tengah sibuk mengobrak-abrik lemari dapurnya.
“Heh! Lo ngapain? Malem-malem bukannya tidur lo.” celetuk Rama membuat Nika kaget..
“Mas Rama!” teriak Nika saat sadar ternyata suara itu adalah milik Rama. “kenapa sih, ngagetin mulu kerjaannya—kalo saya didapur artinya saya mau makan.”
“Turun lo, ikut gue sekarang.” titah Rama tanpa basa-basi.
“Kemana?” Nika bertanya namun sialnya Rama sudah berlalu, tak ingin mendapat omelan dari Rama lagi baiknya dirinya memang harus segera mengikuti Rama.
Tampak Rama tengah mengeluarkan sepeda motor besarnya, entah apa yang dimaksud Rama memintanya untuk mengikutinya. “Mas Rama trus saya ngapain?”
“Ambil masker cepetan, gue tungguin,”
“Hah?!”
“Nika lo budge? Buruan!” tanpa babibu lagi Nika kembali masuk dan mengambil masker untuk menutupi hidungnya maklum corona masih mengancam, baiknya kan memang pakai masker.
Nika kembali keluar dan Rama sudah bertengger di motor besarnya, Nika kembali mendekati Rama tanpa dosa, harusnya Nika langsung menyaut arti dari Rama mengikuti dirinya bukannya segera naik tapi berdiri disisi kiri Rama.
“Lo ngapain berdiri disamping gue, bukannya cepetan naik.” omel Rama lagi.
“Emang saya diajak Mas?”
“Lo kalo laper emang bego gini ya Nik?”
“Ahh—eh iya iya, Mas maaf—“ Nika naik ke motor besar Rama
Kebodohan Nika sekali lagi adalah ia lupa tak membawa jaket, ya mana ia tahu kalo ia akan diajak Rama keluar rumah niatnya kan ia ingin membuat mie instan dan sekarang perutnya makin meronta-ronta.
“Lain kali jangan jadi orang bego bisa? Lo tuh kerja sama gue yang ngerti!” teriak Rama sambil mengomel.
“Iyaaaaa Masss—“ teriak Nika gantian tampak Rama menggelengkan kepalanya.
Keduanya berhenti disebuah warung nasi goreng 24 jam dan ini memang favoritnya Rama apalagi Rama paling suka nasi goreng ati ampela, meski ia seorang selebriti terkenal Rama tetap tak meninggalkan kebiasaannya dulu sebelum ia menjadi terkenal seperti ini, katimbang dirinya makan direstoran mewah ia lebih suka makan disebuah warung pinggir jalan seperti ini.
Nika tampak tak percaya bahwa bosnya ini bisa juga makan dikaki lima seperti ini, ia kira Rama tak pernah suka dengan masakan kaki lima seperti ini mengingat Rama seorang selebriti papan atas.
“Makan, ngapain lo lihat gue?”
“Eh iya—ini saya makan kok.” malu Nika ketika ketahauan menatap Rama.
Selesai makan malam rapel dua itu Nika dan Rama kembali pulang namun sebelum mereka balik kerumah Rama membelokkan motornya sebuah toko yang memang masih buka itu, Nika menunggu diluar dan tak lama Rama kembali keluar dengan sebuah rokok dan dua minuman soda ditangannya.
“Buat lo.”
“Makasih Mas—oh ya, makasih juga udah ngajak saya makan malam lagi ya Mas hehehe—“
“Hhmm..” gumam Rama sembari menaiki motornya dengan ikuti Nika yang juga naik ke atas motornya.
“Mas saya paling suka deh naik motor.” teriak Nika disamping kanan Rama.
“kenapa? Enakan juga naik mobil kali.”
“Ya soalnya kan imam itu posisinya didepan Mas, bukan disamping kanan saya..” jawab Nika dengan lugas tentu juga berteriak.
Tampak Rama menggelengkan kepalanya dan senyum kecil terlukis disana. “Nggak jelas lo!” ledek Rama malah Nika tertawa kencang.
♣♣♣