BAB 7. │KEADAAN ANEH

2123 Kata
Hal terkesal yang paling malas Nika lakukan adalah ketika ia harus memaksa dirinya untuk membangunkan Rama yang sampai jam sembilan siang ini si makhluk tampan itu belum juga bangun. Semalam setelah makan malam bersama itu Nika kembali masuk kedalam kamar dan meninggalkan Rama yang bukannya masuk melanjutkan tidur malah bergabung dengan satpan serta bodyguardnya didepan dan sekarang malah membuat Nika semakin repot. Nika baru saja selesai mengemas pakaian Rama yang akan bosnya gunakan entah untuk pakaian sehari-hari dan pakaian yang akan Rama bawa untuk ia pakai saat syuting. Saat ini Nika sudah berdiri didepan pintu kamar bosnya, ia ragu antara masuk atau membangunkan Rama dari luar namun info dari Bi Inah tadi Rama ini jenis manusia yang tak bangun dengan senggolan dibagian tubuhnya, bisa saja Rama itu bangun sendiri tapi itu bila sisi tubuhnya memang ingin bangun bila tidak akan seperti ini. “Masak iya gue masuk, seumur-umur kali ini gue sebagai gadis ting-ting masuk ke kamar cowok,” dumel Nika yang kini masuk beradu dalam otaknya. “Kalo Ayah tahu aku berani masuk kamar cowok mungkin langsung disrampang kali ya kaki gue kalo nggak kepala gue, tapi ini kalo enggak buruan gue bangunin kerjaannya jadi berantakan dan yang disalahin gue lagi—hhhh—susah emang.” “Bissmillah..” Nika dengan memberanikan dirinya akhirnya memutar handel pintu kamar Rama. Hawa dingin menyentuh kulit Nika dan Rama memang masih lelap memejamkan matanya sungguh dasar manusia tak ingat bila dirinya memiliki pekerjaan yang membutuhkan waktunya dengan cepat. Nika mendekati Rama dan bersiap membangunkan sang bos. “Mas Rama bangun—udah mau kiamat lhoo—elahh kok kiamat sih, siang Mas, ayo deh bangun.“ bisik dan senggol Nika. Hanya suara dehaman saja, bukannya segera membuka matanya Rama malah berdeham dan mengubah posisi tidurnya. “Lahh dia malah ngeratin selimutnya,” kesal Nika yang akhirnya mencari cara. Remot AC bertengger apik di sisi bantal Rama sepertinya mematikan AC dan membuka kordein akan berhasil, sebelum Nika meninggikan suhu AC ia membuka kordain kemudian ia meninggikan suhu AC sembari menatap Rama. Nika sudah menunggu kiranya lima belas menit namun sayangnya, Rama emang amat manusia kebo, bukannya bangun karena kepanasan dan silau dirinya malah semakin anteng, caranya tak berhasil akhirnya Nika kembali menurunkan suhunya menjadi semakin dingin karena si bosnya ini tak kunjung bangun. “Mas Rama enggak ada niatan bangun? Mas Rama mau simulasi meninggal ya?” bisik Nika di sisi Rama yang kebetulan wajahnya menghadap kordein yang dibuka Nika serta Nika yang Pas berada di sisi wajah Rama. “Mas Rama ada syuting lho On Air lagi, jam sebelas—lama-lama aku biarin juga nih!” Nika sudah mulai lelah dan kesal. Di sisi lain Rama tengah tertawa puas, senang sekali dirinya mengerjai Nika—entah kenapa dirinya senang sekali menggoda atau menjahili assistennya ini. Sebenarnya sudah sedari tadi Rama bangun saat Nika menaikkan suhu ACnya tapi karena ia ingin menjahili Nika jadi Rama masih melanjutkan aksi tidurnya dalam kepura-puraannya. “Udah ah capek Nika Mas dibangunin susah banget masak kalah sama anak TK, dibangunin satu kali bangun nah ini berkali-kali masih aja merem, dahlah nanti kalo mas Rama telat Nika enggak mau tanggung jawab, bye—“ Grap “Ehh—“ Nika tertarik dan kembali duduk disisi Rama. Tersimpul senyum Rama disana, manis—sudah pasti, laki-laki didepannya ini digandrungi beribu-ribu perempuan apalagi Rama memiliki paras wajah yang memang ganteng. “Kalo bangunin orang tidur tuh jangan setengah-setengah Nika.” protes Rama yang masih memegang pergelangan tangan Nika. “Setengah-setengah gimana? Kan saya udah mengerahkan segala kemampuan saya buat bangunin Mas Rama tapi Mas Ramanya enggak mau bangun.” “Ya apa kek, dengan cara yang lain hanya cuman satu ide doang.” omel Rama, tetap yang namanya kancil tak boleh kalah. “Udah deh daripada kebanyakan ngomong baiknya Mas Rama sekarang bangun,” Nika sudah ancang-ancang bangun dari ranjang Rama sedang Rama tahu Nika akan beranjang semakin menarik Nika dan menjadikan Nika jatuh menimpa tubuh Rama. “MAS RAMAAAA!” ♣♣♣ Tak ingin membuat suasana semakin ribut dan semua orang masuk kedalam kamarnya, Rama langsung membungkam bibir Nika dengan tangannya. Memang dasar wanita begitu saja langsung teriak. “Lo teriak lagi, gue cium lo sekarang.” Nika menggeleng cepat tanda ia menurut. “nah bagus—“ Rama membenahkan posisi Nika yang masih berada diatas tubuhnya dengan menggeser kesisi sampingnya, senang sekali menjadi manusia dominan apalagi ia praktekkan pada Nika Assistennya yang polos, bukannya segera bangun malah Rama memeluk tubuh kecil Nika, memeluk pinggang Nika sedang Nika menahan nafasnya, ia masih takut bergerak kalo-kalo bosnya ini benar akan menciumnya. Rama tertawa dalam hati, senang sekali membuat Nika kaku seperti ini karena ulahnya, mungkin kedepannya ini akan menjadi hobi baru Rama menjahili Nika siapa tahu mendapatkan hal lebih kan rejeki. “Nafas Nika, emang lo mau pingsan?” Nika menggeleng dengan cepat. “Makanya relaks aja—gue kan cuman mau meluk lo bukan mau nidurin lo.” bisik Rama tepat disisi kanan telinga Nika. “Emm—Ma—Mass, gelii—“ Rama tersenyum jahil, kalo ditelinganya saja Nika geli bagaimana kalo Rama menghembuskan nafasnya dileher Nika apakah Nika juga akan kegelian juga? Entahlah tapi melihat Nika dengan kaos kedodorannya membuat Rama tak bisa fokus apalagi paha Nika yang ramping dan juga terlihat amat putih bukan putih melainkan warna kuning langsat yang seksi. Bukannya melepaskan Rama semakin mengeratkan pelukannya, tentu saja Nika yang risih mencoba melepaskan dekapannya, bisa-bisanya ia masuk dalam kelicikan Rama yang seharusnya Nika curiga. “Diam Nika, lo bergerak terus yang bawah sana juga ikutan bangun—“ bisik serak Rama. Sebagai laki-laki normal wajar saja sisi lain Rama bangun, apalagi dengan Nika yang berpakaian seperti ini. Bukannya melepaskan takut akan ketahuan Rama menggunakan kesempatannya untuk menyentuh ceruk leher Nika, ia sudah lama ingin menggelamkan wajahnya disana tentunya dengan bibirnya yang ikut mengekspor leher jenjang Nika itu. “Ma—Mas Rama, jangan gini dong—di bawah ada Mbak Donna dan yang nyuruh bangunin Mas Rama tadi tuh Mbak Donna, nanti dia curiga lho Mas—Mas—Mass Ramaaa—“ “Brisik banget sih lo hah!” kesal Rama yang kini melonggarkkan pelukannya dan menatap sengit Nika yang tampak mengkerut dengan tatapan Rama. “Maaaff—“ cicit Nika yang tak dipedulikan Rama bahkan laki8-laki itu malahy beranjak dari sisi ranjang kemudian menuju ke kamar mandi dengan membangting pintu kamar mandinya. “Idihhh—kenapa dia yang marah-marah—yang ada aku yang harus marah-marah!” Nika pun juga beranjak dari ranjang besar Rama kemudian pergi, ia harus merapikan baju yang akan Rama gunakan untuk nanti dan besok. ♣♣♣ Setelah peristiwa pagi itu Nika selalu berhati-hati dalam bertindak, ia takut akan menjadi sesi drama kedua kalinya ia tak ingin terperdaya kelakuan licik Rama. Meski tiga hari Nika dan Rama bagai teman yang tengah genjatan senjata namun nyatanya tadi pagi sehabis Rama selesai melakukan jogging paginya Rama menyusul Nika ke dapur untuk mengatakan bahwa mala mini Nika harus menjadi partnernya dalam menghadiri acara award yang diadakan disalah satu stasiun televisi. Awalnya Nika menolak tapi memang dasar Rama, dia memang actor dan kelakuannya untuk mengancam Nika memang luar biasa kejam. Bagaimana tidak, bila Nika tak ingin mengikuti kemauan si bosnya gajinya bulan ini terpaksa dipotong dan itu amat sangat mengesalkan, bagaimana bisa gajinya dipoting sedang ia butuh gajinya untuk membelikan obat untuk ayahnya. “Kalo enggak mau gue potong gaji lo, berarti lo mesti ikuti perintah gue kan.” “Ya tapi kenapa mesti sama saya lho Mas, ada Mbak Donna yang enggak kalah cantiknya apalagi Mbak Donna bodynya body somlehot gitu.” Nika masih mencoba tawar menawar dengan Rama. “Nggak, gue maunya sama lo! Enggak ada bantahan—sana bilang ke Donna buat bantu cari gaun sama buat makeupin lo entar.” “Masss jangan gini dong—saya takut diserang fans fanatic Mas Rama lho—“ Nika masih mencari alibi. “Bodo amat—gue nggak mau lagi ya Nik denger tawar menawar lo ini, gue bilang samperin Donna tuh nurut.” Talak Rama yang semakin kesal dengan sikap Nika. “Allahuakbar…” Dan sekarang Nika dibantu oleh Donna memilih gaun yang berada di wardrobe milik Rama, jangan salah Rama memang kurang kerjaan, selain dirinya menyiapkan jas formal untuk dirinya ia juga menyiapkan gaun mewah-mewah untuk perempuan yang menemaninya dalam pesta apapun, namun kali ini pilihan Rama jatuh pada Nika sedang Nika yang diminta untuk menemani Raama setengah hati melakukannya, ia memang assistennya laki-laki tampan itu tapi kenapa pekerjaannya juga menjadi wanita menemani Rama dalam menghadiri acara. “Mbak Donna emang Mas Rama nggak punya pacar ya? Sampai aku yang jadi tumbalnya gini, aku kan nggak pernah datengin acara formal dan penting begini, paling banter ke kondangan temen.” bawel Nika ketika mengaca menamati tubuhnya yang sudah memakai gaun yang cantik. “Mana gue tahu, Nik. Setahu gue ya Rama tuh kek cowok kupu-kupu enggak bisa jalin hubungan satu orang doang.” “Nah tuh ceweknya aja banyak ngapain pilih aku ya Mbak,” desah risau Nika. “Udahlah terima aja siapa tahu nanti gaji lo naik dua kali lipat nah lumayan tuh bisa lo buat beli obat bapak lo sama skincare lo—lo juga harus merawat wajah Nik, meski wajah lo udah lumayan cantik sih cuman saran gue, kasih dikit skincare biar makin manteb.” Donna memberikan saran yang baik untuk Nika. “Alhamdulillah sih kalo gaji aku naik Mbak hihihi—“ “Udah, gue mau ke kamar mandi dulu, sakit banget perut gue—lo bisa ganti sendirikan?” Nika mengangguk kemudian Donna beranjak dari duduknya—eh jangan lupa ntar sorean ingetin gue yak buat makeup-in lo.” “Siap Mbak!” Nika mengacungkan ibu jarinya. setelah kepergian Donna Nika kembali menatap kaca yang menampilkan dirinya, gaun merah dengan tali kecil melingkar dibahu serta bagian punggung yang sedikit terbuka, sebenarnya Niuka menolak menggunakan gaun seperti ini hanya saja ini gaun yang paling sopan dan tak terlalu terbuka meski ia harus memamerkan punggungnya. Nika juga menatap kagum dengan dirinya sendiri seumur hidupnya ini kali pertama Nika menggunakan gaun merah yang terlihat cantik dan elegan ini, sungguh tangan yang membuat gaun ini pasti sangatlah berkelas. Serta sepatu ber-haknya yang ikut menghiasi penampilannya dengan baik. Suara pintu dibanting membuat Nika terkejut dan kembali kealam yang nyata hingga suara kunci mengeluarkan bunyi klik Nika membalikkan badannya namun sayang suara lain menahannya untuk tak berbalik arah. “Jangan berbalik, tetap diposisi.” suara berat dan serak mengintruksi. Grap ‘Sial—lagi-lagi dia bikin yang dibawah tegang..’ ♣♣♣ Rama mendekati Nika yang masih berdiri dengan kaku didepan cermin didepannya, Rama memang b******k, ia seharusnya sadar wanita didepannya itu adalah assistennya bukan wanita yang siap terlentang dibawahnya, Nika itu gadis polos dan berlian untuk orangtuanya malah Rama selalu seenaknya saja dengan Nika. Tapi memang dasarmya b******n tetap b******n Rama mendekati Nika dan ia mengecup bahu terbuka Nika tiga kali Rama memberikan ciumannya disana. “M—Mas Rama ngapainn? Sa-saya mau ganti baju nih Mass..” gugup Nika namun Rama tetap menulikan telingnya, sekarang baginya Nika wanita yang sudah membuatnya menggila. “Siapa yang suruh pakai baju yang ini hhmm?” bisik Rama tepat ditelinga Nika yang saat ini sudah memerah. ‘Duh jantung lo kenapa sih, jangan detaknya kecepatan dong gue jadi takut..’ “In—ini pilihanku Mas, karena yang ini lebih baik daripada gaun yang lainnya.” terang Nika ketakutan pasalnya mata Rama menatap lekat tubuhnya yang terpantul dicermin. “kenapa dengan gaun lain?” “Ya-yang lain bajunya enggak ada akhlak Mas, cuman ini yang saya kira sedikit lebih baik.” “Hhmmm—“ Rama tampak mengangguk dengan hidung yang menyentuh kulit lengan tangan Nika. Harumm ‘Hhmm Nika pintar juga merawat badannya, kalo tubuhnya saja harum bagaimana disisi lain ya..’ Tangan Rama dua-duanya sudah memegang pinggang Nika meremasnya pelan. Nika terkesiap, bagaimana tidak Rama meremas pinggangnya serta matanya yang memancarkan ketajaman yang tak bisa Nika artikan. Dibalik tubuh Nika, ia tahu laki-laki yang kini masih setia menciumi bahunya ini hanya menggunakan celana jeans robeknya dengan rambut panjang yang ia ikat, di sisi lain lain Rama tampak seksi tapi untuk saat ini Rama bagaikan singa yang siap menerkam Nika kapan saja. Jari Rama semakin bergerak berjalan, bahkan jari laki-laki itu mengikuti alur tali kecil yang tergantung dibahunya itu, Nika sesak narfas sudah pasti gerakan lambat namun memercikan gairah itu membuat Nika seakan melumer. Hingga jari Rama menyentuh bagian dadanya dan sebentar lagi jari Rama melewati n****e yang mencuat tercetak jelas digaun sutra merah yang masih masih bergantung ditubuh Nika. Kurang ajarnya, jari Rama tak segera beranjak dari sana, dimana jari Rama memutar arola Nika yang semakin menengang, awalnya Rama hanya memutar dengan gerakan lambat dengan berakhir Rama memutar n****e Nika dengan kasar. “Aaaahhh—“ ♣♣♣
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN