senang sekali Rama ketika Nika berada dibawah kendalinya apalagi ketika Nika pertama kali mengeluarkan suara desahannya. Rama memang laki-laki paling pintar membuat wanita bertekuk lutut padanya, wanita yang tak bisa berhati-hati pasti akan jatuh pada pesonanya. Nika masih terengah dan Rama masih memeluk Nika dengan lengan tangan yang masih melingkar di antara dua bahu Nika, terpaan hawa panas dari nafas Nika membuat Rama bisa tersenyum puas.
Rama yakin pasti bagian bawah Nika sudah basah sedang Rama masih asik bermain diarea d**a Nika yang memang tak terlindung Bra, Rama meyakini bila gaun ini ia lucuti ia yakin bahwa d**a yang tertutuupi ini pasti mencuat menegang, ah—rasanya ia ingin segera mengelum aset milik Nika ini.
“M—masshh Rama..”
“Yaa—panggil namaku terus Nika.” bisik Rama dengan suara serak.
“Lepashh—tolonggghh—ahhh—“ bukan melepas Rama malah semakin mencubit n****e Nika.
Rama sudah tak bisa menahan keinginanya lagi, ia memutar Nika dan mendorongnya kea rah dinding disamping mereka, nafas mereka sama-sama beradu, Nika sudah memberontak tapi tenaga Rama lebih kuat daripadanya, haruskah ia berakhir tragis hari ini, kenapa ia harus diperlakuan kurang ajar seperti ini, Nika sudah pasrah.
Rasa hangat menyentuh bibirnya, Nika sekuat tenaga mengatumkan bibirnya, sungguh ia ingin lepas dari terkamaan Rama ini sudah keluar dari batas kesopaan. Rama masih saja mencari kesempatan dan memaksa Nika untuk mau membuka mulutnya. Memang dasar Rama laki-laki memiliki banyak tipu muslihat. Ia tahu caranya membuat wanita didepannya ini mau membuka bibirnya agar ia bisa merasai rasa bibir Nika.
Rama dan triknya tak pernah gagal, dengan sedikit trik hap Rama mengulum lidah Nika, lidah Nika kaku dan matanya melotot. Bosnya ini memang sekali-sekali harus Nika beri pelajaran.
Baru saja Rama ingin bergerak menjelajah sepertinya ini bukanlah kesempatan baik untuk Rama. Rama lengah dan itu jalan Nika untuk melakukan serangan balik.
Dukkk
“Shitt!!!”
Nika kaget, oke punya tenaganya sekali tending Rama langsung lumpuh dibawahnya sembari memegangi asetnya, Rama kira Nika adalah gadis polos yang bakal luluh dengan tipu kebuayaannya bila Rama memikirkan hal itu berarti laki-laki didepannya ini sungguhlah minta dihajar.
“Lo—arggghhhh!!” erang Rama masih meringis merasai sakit yang amat sangat.
“Maaf Mas Rama, lain kali hati-hati ya—saya memang assisten Mas Rama tapi bukan berarti bisa Mas manfaatin buat nafsu b***t Mas Rama.” Nika mengatakan dengan berani kemudian Nika meninggalkan Rama yang masih meringis tanpa ia tolong.
Nika membanting pintu wardrobe Rama dengan kasar kemudian ia pergi dari sana menuju kamarnya, dikira ia wanita yang polos, polos-polos begini ia sudah paham dengan tipu-tipu muslihat para buaya seperti Rama.
“Arrgghhh—sialaannn Nika, awas looo!” teriak Rama namun sayang Nika memilih tak menghiraukan.
“Gila aja, dikira gue kayak wanita panggilannya dia kali, enak aja.” dumel Nika sembari menaiki tangga menuju ke lantai 3.
Nika masuk ke kamarnya dengan membanting pintu kamarnya, ia harus menenangkan diri, meski rasa kesal melingkupi dadanya ia harus tetap tenang, ia tak boleh terbawa emosi berlebihan. Nika kembali mengaca dan ia menatap lehernya ada bercak kemerahan disana siapa lagi bila bukan Rama pelakunya.
“Sialannn banget sihhh dia, sebenarnya dia bos apa setan sih heran suka nyesep-nyesep begini.” Nika ngomel-ngomel dengan mengusap lehernya.
“Gua bakal mastiin kalo gue ogah ikut dia ke acara, enak aja udah ngelecehin terus gue mau nurut gitu, ihhh—sorry worry dorry ya..”
Di sisi lain Rama keluar dari ruang wardrobenya dengan memegangi asetnya, sungguh rasanya seperti kembali ia disunat apalagi baru kali ini ia mengalami penolakan mana yang menolak adalah assisten pribadinya. Sepertinya setelah ini Rama akan memberikkan hukuman pada Nika nanti, iya nanti bila asetnya sudah tak nyeri lagi.
“Awas lo Nik, gue kasih hukuman ntar lo tahu rasa lo!”
♣♣♣
Pagi-pagi sekali Nika sudah bangun menggantikan Bi Inah masak, kemarin Bi Inah ijin pada Rama bahwa cucunya sedang sakit dan ia membantu anaknya untuk menemani cucunya yang tengah di opname dirumah sakit. Nika dengan cekatan menyiapkan sarapan pagi untuk bosnya itu.
Sebenarnya Rama itu tipe manusia yang tak ribet dengan masalah makanan asalkan makanan tersebut enak dan tak membuatnya ribet pasti akan Rama lahap. Di sela-sela ia tengah memasak ia tak sadar bahwa seseorang sudah masuk kerumah bosnya.
Iya dia adalah Kirei, sahabat Nika. “Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumsa—Kireiii—“ teriak Nika heboh.
“Heh, yang bener lo jawab salam! Ulang-ulang!” Kirei tak terima salamnya tak dijawab.
“Iyee, Wa’alaikumsalam Kirei..” balas Nika dengan menekankan nama Kirei. “Ada angina apaan nih lo baru mampir kesini?”
“Kebetulan gue lewat sih—eh nih gue tadi beli bubur keinget lo, gue belinya dibubur pak Man kok.” Kirei memberikan bubur yang baru saja ia beli.
“Waahh—makasihhh—ini gue mau bikini abang lo sarapan eh lo udah bawa sarapan, makasih yaa.” Kirei hanya mengangguk mengacungkan jempolnya.
Keduanya asik membagi cerita, kesana-kemari menceritakan keseharian mereka masing-masing, Kirei sekarang juga sudah kembali kerja. Ia sangat bersyukur memiliki teman seperti Kirei, Nika tak tahu bila tanpa kirei ia tak akan bisa seperti ini, apalagi bisa membiayai pengobatannya sang Ayah dan kebutuhan keluarganya.
Kirei membuang bekas sampahnya tadi dan kembali mendudukan dirinya disampaing Nika, ada satu hal yang ingin ia tanyakan pada temannya itu, ia harus memastikan suatu hal yang ia harap akan sesuai apa yang ada diotaknya.
“Nik, jujur sama gue deh.” todong Kirei.
“Jujur apaan dah? Gue slama ini juga jujur-jujur aja kan sama lo?” bingung Nika dengan menatap sorot mata Kirei yang terlihat cemas.
“Lo udah diapain aja sama Rama? Ayo bilang ke gue Nik, kalo lo beneran diapa-apain sama si buaya butung itu bilang ke gue Nik.”
Nika menggeleng, ia mengatakan tak terjadi apa-apa antara dirinya dan juga Rama. Ia menyembunyikan kenyataan yang baru saja ia alami, yang kemarin masih bisa Nika toleransi dan masih bisa ia atasi. Ia tak ingin menjual harga dirinya dan semua yang berharga di tubuhnya begitu saja dengan laki-laki yang tak pernah ia cintai.
“Enggak kok, aman Rei—jangan su’udzan gitu ah.” Nika menepis apa yang Nika katakana.
“Bener?” Nika mengangguk. “Kalo ada apa-apa, lo sunat aja tuh asetnya.”
“Aset-aset apaan?” suara lain menimbrung.
“Apaan sih nimbrung aja kek netijen,” sewot Kirei.
“Ck, Nik gue laper bikinin makan.”
“Nih ada bubur dibawain Kirei, enak kok buburnya—saya mau masak enggak jadi Mas.”
“Ya udah, gue makan bubur aja—lo sana mandi abis itu ikut Dito.” pinta Rama tanpa menatap Nika.
“Ngapain saya ikut Dito, Mas?”
Rama memutar bola matanya kesal. “Gue kemarin udah bilang sama Dito buat ngajarin lo nyetir, kan kalo Pak Ismail enggak bisa masuk lo bisa gantiin beliau, sana!” usir Rama tanpa basa-basi lagi.
“Iya Mas—Rei gue tinggal ya.” pamit Nika yang diacungi jempol oleh Kirei.
♣♣♣
Malam minggu yang di tunggu-tunggu Nika untuk pulang, setelah ia lelah bekerja menjadi assisten Rama kini disabtu malam yang cerah ia bisa pulang, apalagi dirinya sudah siap untuk pulang, ia sudah memesan ojek online untuk menjemputnya. Nika pulang tak membawa barang banyaknya hanya tas slempang bertengger manis dibahunya.
Kebetulan sekali Nika turun dari lantai tiga ia bertemu dengan Rama yang sudah rapi juga, Nika kira laki-laki itu pasti akan melakukan kegiatan malamnya apalagi bila bukan mengunjungi hiburan malam. Rama yang juga melihat kebreadaan Nika hanya mlengos saja dan melanjutkan untuk turun ke lantai satu.
“Mas Rama saya pamit pulang dulu ya, ketemu lagi hari senin, selamat malam.” pamit Nika.
“Hhmm..”
Malam itu Nika dan Kirei memang ada janjian untuk bakar-bakar bersama dengan teman-teman mereka tentunya bertepatan dirumah Nika, meski tahu rumah Nika memang mungil dan sederhana namun para teman-temannya kekeuh memilih berada dirumah Nika.
“Nik, enak nggak kerja sama artis?” tanya Nanda teman SMA Nika.
“Biasa aja sih—harus banyakin restock kesabaran—lo mau coba Nan? Rasana ahh—mantapp.” gurau Nika membuat semua orang tertawa.
Acara temu kangen itu berakhir dengan perut yang kenyang, hati yang riang gembira, tepat pukul sepuluh semua pamit pulang dan berjanji akan mengulang acara seperti ini untuk lain waktu.
Nika merebahkan tubuhnya dikasurnya, meski kasur tipis ia sangat nyaman dengan kasurnya yang sudah menemaninya bertahun-tahun. Meski ranjang yang berada dikamarnya dirumah Rama nyaman tetap saja ia paling rindu dengan suasana kamarnya.
Rasanya baru saja lima belas menit ia memejamkan mata, ponselnya sudah berdering meraung. Awalnya ingin sekali Nika hiraukan karena matanya benar-benar tak bisa lagi ia paksa untuk terjaga tapi sayang ponselnya makin meraung-raung, mau tak mau Nika memang harus mengangkat panggilan itu.
“Hallo..” jawab Nika dengan suara kantuknya.
“……………….”
“APA!”
Nika tanpa berfikir panjang lagi langsung meraih outernya dan meraik tas slempangnya, untung saja ia memakai baju piayam panjang tak harus ribet-ribet mengganti pakaian lagi dan untungnya lagi ojek online yang ia pesan cepat sampai dan kerena aksi hiroik si mas-mas gojek tadi ia tak akan sampai dengan tepat waktu.
Nika menatap papan nama di atas SKY CLUB seumur-umur Nika baru kali ini masuk ke tempat hiburan malam dengan piayama apalagi dengan motif bebek, Nika memberikan tanda pengenalnya dan mengatakan ingin menjemput Rama, akhirnya dengan memberanikan diri ia mengikuti bodyguard yang berjaga didepannya itu mengatarkan Nika untuk bertemu dengan Rama.
“Silahkan bawa pulang bos anda.” ujar Bodyguard tadi.
“Makasih bang,”
Nika menatap Rama dengan kesal, harusnya malam ini ia bisa menikmati namanya malam minggu dengan bergelung dengan mimpi, memang bosnya ini luar biasa sekali, luar biasa ngeselinnya. Nika menarik Rama dengan sisa tenaganya, sudah mabuk, wajahnya penuh dengan babak belur, berat pula sungguh Nika benar-benar mengarahkan tenaganya.
“Hhhhh—nyusahin aja sih bos!”
Nika akhirnya kembali kerumah Rama, untung Pak Yanto selaku satpam dirumah Nika belum tidur jadi Pak Yantolah yang memapah Rama masuk ke dalam rumah.
“Makasih ya Pak, balik aja ke pos saya yang urus.”
“Oke Mbak Nika, kalo ada apa-apa bilang aja ya,” Nika mengangguk menunjukkan jempolnya.
Nika kembali fokus pada Rama yang masih tepar di sofa itu, terdengar suara Rama tengah melantunkan nyanyian, “Gini amat punya bos.” gumam Nika dengan mengelap darah yang mongering.
“Aaaaa—cayangkuuu mumumumu…”
♣♣♣
Sinar cahaya menerangi ruangan yang tadinya gelap itu menjadi terang, kebetulan Nika yang menggeliatkan tubuhnya dan mengubah sisi tidurnya menghadap kordain yang ternyata bisa terbuka secara otomatis. Perlahan mata yang tadi terpejam kini perlahan mulai terbuka, Nika seperti membiasakan matanya menatap seluruh ruangan bahkan ia mengenali sejenak dimana ia berada sekarang, terakhir yang dirinya ingat adalah dikamarnya seingatnya dikamarnya belum diplafon sebagus ini.
“Ini kayaknya gue ada diplanet lain deh—ehhh—“
Nika lantas terbangun tanpa menghiraukan kepalanya pening atau tidak yang terpenting ia harus segera bangun dari posisinya sekarang, apalagi perutnya tadinya terperangkap oleh tangan berat.
“Sialan, dia cari kesempatan dalam kesempitan lagi!”
“Emang yang bos gue udah kaya setan kelakuannya, adaaa aja nyusahin gue, pingin banget gue hih!”
Nika menyentak tangan kekar yang masih tersampir dipangkuannya itu, ia kesal—bukannya membiarkan Nika libur malah menambahi pekerjaannya lagi. Bisa-bisanya Rama membawanya untuk tidur bersama, semalam karena terlalu lelah Nika sampai tak sadar menidurkan dirinya di sofa setelah mengobati luka diwajah Rama tidak tahunya laki-laki buaya ini sudah membawanya naik ke ranjangnya.
“Sialaaannnnnn!!”
“Mas Rama bangun, udah siang.” Nika memaksa dirinya membangun Rama dengan suara halus.
“Hhmmm—bangun aja sendiri kepala gue sakit.” usir Rama tanpa dosa.
“Ya udah saya mau pulang, karena semalam Mas Rama ganggu malam minggu saya, saya minta tambahan libur sampai hari senin, titik!” pinta Nika sudah terlanjur kesal.
“Nggak! Gue nggak kasih ijin enak aja—lo senin ikut gue ke Surabaya.”
“Nggak, saya minta libur Mas Rama—jangan egois dong, harus adil.”
“Gue potong gaji lo kalo lo ngeyel.”
“Nye-nye-nyee..” ledek Nika yang keluar dari kamar Rama.
“NIKAAAA AWAS LO NGGAK MASUK, GUE NGGAK GAJI LO!”
Nika sepertinya sudah tak mengacuhkan Rama lagi, tenaganya benar-benar terkuras habis membawa Rama yang beratnya seberat dosanya, Nika meninggalkan rumah Rama untuk kembali pulang, ia yakin pasti orangtuanya cemas mengetahui bahwa anak gadis mereka taka da dirumah lagi.
“Heran, bos kok kerjaannya nambahin tugas assistennya aja.” dumel Nika sembari menanti ojek onlinenya datang.
♣♣♣