Benar saja Rama mengerang kesal pasalnya Assistennya Nika sama sekali belum datang dirumahnya padahal setengah jam lagi pesawatnya segera berangkat namun assistennya yang tak tahu diri itu sama sekali belum menongolkan batang hidungnya. Sepertinya assistennya itu memang ingin dipotong gajinya, ia telepon pun tak diangkatnya kesal sekali Rama pagi itu.
“Pak Mail, bawa koper saya ke mobil terus kita ke rumah Nika buat seret dia.” ujar Rama dengan emosi meletup-letup.
“Mas Rama tahu rumah Mbak Nika?”
“Stupiddd!!” umpat Rama makin menjadi lantas Rama kembali ke dalam rumah dan meneriakkan nama managernya. “Donnnaaaaaa, Donnn, buruan turun.” teriak Rama yang tak lagi bisa sabar.
“Apa sih Ram? Gue lagi poop tahu!”
“Lo tahu alamatnya Nika kan? Cepetan kirim ke gue biar bisa gue seret dia.” Donna merasakan gojolak kemarahan Rama saat itu, dengan cepat Donna mengirimkan alamat rumah Nika secepat kilat.
“Udah.” Rama lantas berbalik kearah keluar.
Rama turun dari mobilnya, menginjakkan kakinya pada rumah Nika yang memang tak sebagus rumahnya, rumah Nika hanya sebagaian ruangan dirumah Rama, memang kalo jiwa-jiwa kesombongan sudah mendarah daging Rama pasti dengan mudah mengatakan Rumah Nika ini jelek dan sempit.
“Bisa-bisanya mereka tinggal diruamh seperti ini.” gumam Rama sembari berjalan kea rah teras Nika.
Langkah Rama terhenti ketika ia melihat seorang bapak-bapak duduk dikursi roda dengan bagian tubuh yang sepertinya tak bisa bergerak normal lagi.
“Assalamu’alaikum Pak, saya bos dari Nika. Apa Nikanya ada dirumah? Karena hari ini saya ingin Nika ikut saya pergi ke keluar kota.”
Rama masih didiamkan oleh orangtua Nika, Rama juga tampak bingung apalagi waktunya makin cepat berputar, dari pengelihatannya Rama Bapaknya Nika ini sepertinya enggan menjawab salamk dari Rama.
“Ayahhh—yah, diman—Mas Rama?” pekik Nika ketika ia menyadari bahwa bosnya sudah bertengger rapi didepan pintu rumahnya.
“Cepat kemas-kemas Nika, waktu semakin bergulir dan kamu sama sekali tidak ada niatan untuk segera mempersiapkan diri.” kata Rama dengan sorot mata tajam.
“Sayakan udah ijin Mas buat libur lho, kenapa masih disuruh kerja.”
“Kamu ikut saya sekarang atau gajimu bulan ini tidak saya kasih.” Rama menekankan ancamannya.
“Nganceemm terusss..” ledek Nika yang kemudian membawa Ayahnya masuk ke dalam kamar.
Rama keluar dari teras rumah Nika dengan memijat kepalanya pusing, ini perkerjaan penting, bila tidak ia akan rugi. Terdengar suara kaki melangkah dan menampilkan Nika yang sudah berganti pakaian dengan celana Jeans, kaos tshirt serta kemeja yang ia jadikan cardigan.
“Ayo berangkat Mas, mau nunggu dunia kiamat baru berangkat?”
“Sembarangan aja!”
Rama dan Nika sampai di Bandara, dengan Nika yang Rama tarik sedang Pak Ismail mengeret koper Rama, bahkan Nika hanya membawa tas ransel berisikan tiga baju secera asal, memang bosnya ini luar biasa biadab, ganteng doang sukanya narik-narik tangan Nika.
“Sial, sebentar lagi.”
Rama dan Nika akhirnya sudah berada di pesawat dengan penerbangan bisnis, memang Rama tak pernah main-main soal kualitas. Nika yang notabanfdnya baru sekali menaiki pesawat ini merasa ketar-katir ia tak pernah melakukan perjalanan menggunakan pesawat dan ini yang pertama kalilnya Nika menaiki pesawat, maka dari itu ia lebih memilih untuk meminta ijin ya karena ini, ia belum siap namun dipaksa siap.
Rama tampak menoleh ke arah Nika yang duduk dengan kaku disampingnya, seharusnya Nika bisakan menikmati perjalanan dengan santai dan relax. Namun, semakin Rama menamati Nika, wajah assistennya itu semakin terlihat pucat.
“Kamu lagi pertama naik pesawat?” Nika mengangguk tanpa menjawab.
“Gue tahu kenapa lo minta libur hari ini padahal lo tahu ikut gue kemanapyun itu udah tugas lo, jadi lo minta libur gara-gara ini?” Nika kembali mengangguk tanpa ada suara yang menjawab lagi.
“Payahhh.” mata Nika menatap kesal Rama yang baru saja mengejeknya.
Suara pemberitahuan membuat Nika semakin tegang, dan semua diminta untuk memakai sabuk pengaman, tapi sayang sekali Nika tak mengerti cara pakainya, berulang kali ia mencoba namun tak bisa juga dengan rasa gugupnya yang semakin mengrogoti.
“Ck, nyusahin banget sihhh!”
Rama membantu Nika memakaikan sabuk pengaman kemudian menggenggam tangan Nika yang terasa dingin saat tangannya menyentuh telapak tangan assistennya itu.
“Relaxe, pikirin aja lo lagi disabana indah banget, sambil merem pegang tangan gue erat-erat..” bisik Rama pada telinga Nika.
♣♣♣
Satu jam kemudian Nika dan Rama sudah mendarat dengan selamat di Bandar Udara Internasional Juanda, Nika menarik ranselnya dan menggendongnya dan juga membawa koper minimalis milik Rama, Nika mengikuti Rama dari belakang, tak ingin protes karena kepalanya pusing, perutnya terasa mual, sungguh ini suatu keadaan yang paling Nika benci.
“Mas Rama, silahkan masuk sudah ditunggu.” Ujar sopir yang masih terlihat muda itu sedang Rama hanya mengangguk.
“San, berhentikan diwarung makan dulu kami belum makan, masih ada waktu tiga puluh menit sebelum ada pertemuan.” Sandi—si sopir tampan itupun mengangguk menuruti perintah sang majikan.
Sedang Nika hanya diam saja enggan menanggapi ataupun bertanya-tanya, ia berfokus pada dirinya. Perasaannya terasa mendingan dan untungnya dia duduk didepan didekat Sandi yang tengah fokus ke jalanan.
Tahu Nika segera ngacir ke kamar mandi dimana ada diwarung makan tersebut. “Norak.” sarkas Rama.
Nika mengelap bibirnya bekas dimana isi perutnya keluar, perutnya sudah mendingan namun kepalanya benar-benar terasa pusing, dengan pelan Nika keluart dari kamar mandi dan menghampiri meja yang sudah terisi Rama dan memperdulikan dimana Sandi laki-laki tampan itu.
“Makan, habis tuh minum tolakanginnya.”
“Terima kasih Mas, maaf kalo saya merepotkan.” Rama hanya melirik kemudian kembali fokus ke makan siangnya.
Selesai makan Rama meminta Nika untuk turun dari mobilnya, Rama menurunkan Nika disebuah hotel mewah, Nika cenggo menatap Rama bingung pasalnya ia sama sekali tak memiliki uang untuk membayar hotel mewah ini.
“Turun, di loby ada Minka dia yang mengatur.” kata Rama menghancurkan prasangka Nika.
“Iya, Mas.”
Setelah Nika turun dari mobil Alphart itu, Sandi membawanya secepat mungkin meninggalkan Nika yang menatap kagum dengan bagunan tinggi didepannya itu. Kemudian Nika masuk kedalam hotel itu dan mencari yang namanya Minka.
“Mbak Shanika?” tanya seorang perempuan cantik dengan rok tutu.
“Benar, saya Shanika—Mbak Minka bukan?” perempuan imut itu mengangguk .
“Mari saya antar ke kamar Mbak Nika.”
Nika menatap kamar hotel itu dengan kagum seumur-umur dirinya baru saja menginjak hotel mewah ini. “Mbak Nika saya tinggal nggak apa-apa? Saya masih ada kerjaan lagi.”
“Ehh—iya Mbak gapapa saya ditinggal, terima kasih ya Mbak Minka.”
“Sama-sama Mbak, kalo ada yang dibutuhkan bisa telepon ya, selamat siang.” Minka mengangguk tanda undur diri.
Setelahnya Nika melemparkan tubuhnya ke kasur empuk, menikmati pijatan lembut dikasur itu tanpa menghiraukan Rama yang entah meeting apa ia tak ingin perduli, tak udah menunggu lama Nika sudah berada mimpi indahnya.
♣♣♣
Kurang ajarnya Rama adalah seperti ini, dimana ia menjadikan kesempatan sebenarnya ia bisa saja menempati kamarnya dikamar yang ekslusif untuknya namun malah Rama menghampiri Nika yang saat ini manusianya masih terlelap dengan nyenyak. Rama menarik lengan kemejanya hingga di sikunya, menarik kasar dasinya, setelahnya membuka kancing kemejanya, Rama membawa tubuhnya berada dipinggir ranjang dan mengamati Nika yang terpejam dengan wajah yang polos.
Tanpa sadar tangan Rama sudah berada dipipi Nika, meski Nika jarang sekali merawat wajahnya entah kenapa wajahnya amat sangat mulus taka da satupun noda disana, bahkan saat Rama masih setia mengelus dan menyentuh pipinya Nika makin nyaman dalam tidurnya.
“Ternyata kamu wanita yang sulit aku goda, tapi suatu saat pasti kamu berada digenggamanku Shanika.”
Nika menggeliat, Rama sangka Nika akan membuka mata namun perkiraannya salah, Nika mengubah posisi tidurnya dengan membelakangi Rama, tak ingin menyalahi aturan Rama memilih untuk membersihkan tubuhnya lebih dahulu, kepalanya sangat penat ia butuh guyuran air dingin sebelum ikut tidur disebelah Nika. Rama baru saja masuk kekamar mandi namun kembali keluar ia kira memesankan makanan untuk mereka berdua taka da salahnya kan, selesai memesan Rama kembali memasuki kamar mandi berniat untuk mandi.
Bel kamarnya bertepatan dengan Rama yang selesai mandi dengan berbalut handuk mandinya Rama membuka pintu kamarnya dan meminta bellboy untuk menghentikan kereta berisi makanan tepat didepan kamar mandi, kemudian Rama mendekat kembali pada Nika yang masih tidur seperinya Nika memang mengalami jetlag.
Jam makan malam masih lama, padahal waktu sudah menunjukkan waktu pukul lima sore, Rama ikut merebahkan dirinya dibelakang Nika, niat hati ingin membenahi selimut Nika namun siapa sangka Nika malah memeluk tubuh Rama yang polos bagian atas ia sudah menggunakan celana dalamnya.
“Heyy—bangun putri tidur..” bisik Rama kala Nika semakin mengeratkan pelukannya disana.
“Ehhuumm ini nyamannm, jangan menganggu tidurku,” Nika bukannya melepaskan pelukannya pada tubuh Rama melainkan Nika menduselkan wajahnya didada Rama.
“Shiittt! Cobaan apalagi ini..”
Perempuan dengan wajah Ayu itu menggeliatkan tubuhnya, tidurnya sangat nyenyak dan tubuhnya kembali segar sayang dirinya belum sadar bahwa dirinya tidur sembari memeluk bosnya.
“Tidur lo sepertinya sangat nyenyak ya, sampe ngeces ditubuh gue.” sarkas Rama mengetahui Nika bangun.
“Ehh—Mas Rama kok disini?” bingung Nika dan Rama menaikkan alisnya.
“Serah gue dong, yang bayar kamarnya juga gue—kok lo yang sewot.”
“Nggak sewot, saya cuman nanya lo Mas.”
“Sana-sana bangun, mandi lo.” usir Rama dengan mengibaskan tangannya dengan Nika yang cemberut.
Mereka berdua makan dengan lahap dan keadaan sunyi, meski canggung Nika mencoba untuk biasa saja—tapi tidak hatinya tak tenang, ia berada dikamar bersama laki-laki yang bukan muhrimnya apalagi tadoi Nika tidur berdua—satu ranjang dengan bosnya.
Nika tak munafik, dulu ia dan Kirei suka sekali menonton film dewasa ia tahu semua itu, hanya saja kali ini ia benar-benar bersama laki-laki meski Rama bosnya dan Rama benar-benar pahatan dewa yunani tampan serta seksi, Nika bertahan agar setan tak berani-berani mengusik akalnya.
“Gue mau ada acara di club tidur aja duluan, kalo lo mau pergi keluar biar ditemani sama Minka, habisin.” pinta Rama yang sembari beranjak menyahut ponsel, dompet, dan jaketnya.
“Iyaa..”
Setelah kepergian Nika, ia tak tahu harus melakukan apa—ia sudah bolak-balik memasuki sosial medianya namun berakhir bosan dan sekarang ia berakhir di balkon kamarnya menatap warna kelap-kelip lampu kota.
“Ini ya rasanya liburan ternyata enak juga, enak karena gratis sih..” Nika terkikik geli kemudian dirinya kembali menikmati angin sepoi-sepoi serta lampu kota yang tampak indah.
♣♣♣
Tengah malam Rama baru saja selesai menghadiri pesta yang dibuat oleh kliennya, kebetulan klien Rama kali ini adalah para teman-teman bisnisnya. Rama masih enggan membuka kamar sendiri pasalnya ia bisa menempati kamar executive suit yang paling bagus dihotelnya namun Rama memilih untuk kembali ke kamar yang Nika tempati.
Kunci akses Rama sondorkan pada sensor pintu, tampak lampu sudah berganti menjadi lampu tidur, Rama rasa semalam Nika tak pergi kemana-mana. Rama melepaskan jam tangannya, mengeluarkan ponsel serta dompetnya. Kemudian ia masuk ke kamar mandi, ia sempat minum namun ia tak sampai mabuk.
Dinginnya air mengguyur kepala Rama, membasahi tubuh dengan pahatan luar biasa indah apalagi tubuhnya itu adalah salah satu favorit jutaan wanita, bila saja Rama mau pamer semua wanita akan mengantri tidur dengan namun ia tak melakukan itu, tidak usah membuka bagian tubuhnya saja para wanita-wanita itu pasti akan mengantri dan bersiap mengerang dibawahnya.
Laki-laki matang itu menyudahi kegiatan mandinya, ia mengeringkan tubuhnya, menggunakan breifnya kemudian melilitkan handuk di bagian bawahnya dan ia tak sabar ingin segera tidur bersama Nika, ya assistennya yang tak pernah bisa tunduk dalam pesonannya.
Rama melemparkan handuk yang baru saja ia gunakan untuk mengerikan rambutnya dan netranya langsung menatap Nika yang terlelap membuat Rama mnegerang frustrasi pasalnya bisa-bisanya Nika ini tidur menggunakan gaun tidur satin dan sekarang bagian atas pahanya terpampang dengan jelas.
“Sialannn—cobaan apalagi ini.” erang kesal Rama sembari membanting handuk yang tadi ia lilitkan dipinggangnya itu.
Rama memang b***t namun memaksa nafsunya untuk bercinta secara paksa dalam keadaan wanita tidur bukanlah tipenya, Rama masih bisa menahan. Tidur dengan Nika memang kesalahan besar tapi tidur wanita ini membuat Rama candu dan ingin selalu ingin tidur dengan Assistennya ini, lantas Rama menarik selimut untuk menutupi tubuh Nika yang memang menggoda itu.
“Ssssttt—tidur, aku ada disini..” bisik Rama.
♣♣♣