Mata yang tadinya terpejam kini berusaha untuk terjaga, Nika perlahan membuka matanya dan membiasakan rentina matanya pada cahaya yang menyilaukan matanya tersebut, ia bangun dari tidurnya tanpa menyadari ada sosok lain dikamarnya, semalam tidurnya terlalu nyenyak mungkin karena kasurnya yang memang sangat empuk dan nyaman, Nika menggerak-gerakkan badannya mnenghilangkan rasa malas ditubuhnya.
“Enak banget ya jam sepuluh lo lagi bangun?” sarkas Rama yang sudah bangun lebih dulu darinya.
Nika langsung mengalihkan pandangan matanya kesuara berat tadi, gerakan reflek Nika langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya tersebut, ia hampir saja lupa dan mempertontonkan tubuhnya yang hanya berbalut gaun satin tipis lengkap tanpa Bra yang menutupi dadanya.
“Ma—Mas Rama kok disini?”
Rama beranjak dari duduknya menghampiri sebuah kotak yang tadi dibawakan oleh Sandi, disini Rama memang belum bercerita dengan Nika bahwa ia bukan hanya seorang artis dan penyanyi namun Rama juga memiliki beberapa perusahan yang semakin melesat. Rama membawa kotak berwarna abu itu kea rah Nika dan melemparkan begitu saja setelahnya ia meninggalkan Nika menuju balkon kamar.
“Mas, Rama ini apa?” bingung Nika dengan kotak yang dilempar Rama barusan.
“Buka aja.”
Nika lantas membuka kotak persegi itu, terlipat sebuah gaun berwarna hitam Nika meraih gaun itu mengeluarkan dari kotak ia menganga melihat gaun indah berada didepan matanya, pasti gaun yang sedang ia genggam itu pasti sangat mahal tetrlihat dari kain dan bentuk gaunnya.
Nika menghampiri Rama yang tengah menyesap rokoknya itu melupakan keadaannya yang hanya memakai gaun satin tipis. “Mas Rama ini apa? Emang mau ada acara apaan kok Mas Rama kasih saya gaun bagus ini.”
“Buat lo pakai ntar malem buat pesta.”
“Nanti malem memang ada acara apa Mas? Saya dihotel aja Mas, kan saya cuman assisten Mas Rama.”
Rama berdecak kesal, Nika pagi ini sungguhlah cerewet bahkan ini adalah aktivitas Nika ketika pagi. “Pakai aja kenapa sih, ntar malem lo ikut gue keacara pesta.”
“Ya tapi acara apa sampe saya disuruh pakai gaun ini lagi.” Nika masih ingin bertanya.
“Jangan bawel, pakai aja nanti malam.” ujar Rama lagi yang masih enggan menatap Nika.
Percuma mengulik tentang pesta yang dikatakan Rama baiknya dia harus mandi, apalagi ia sangat tidak pantas berada didekat laki-laki dengan penampilannya bak wanita bayaran.
Nika meninggalkan gaun berwarna peach yang semalam ia pakai, ia ingin berendam, sekali-sekali meski ia tak pernah menginap dihotel mewah bukan berarti ia tak tahu tentang berendam di bathtub. Nika mengambil ball bomb ia melemparkan di bathtub dengan air hangat yang mengalir sembari menunggu air penuh Nika menggosok giginya serta mencuci mukanya.
Nika menyenderkan tubuhnya dan merasakan tubuhnya semakin relaxe, ahh—rasanya nyaman sekali pikir Nika, di Jakarta ia jarang bisa melakukan hal seperti ini yang ada setiap pagi ia harus mengurusi Rama. Ya beginilah Nika bekerja sebagai assisten artis namun bersamaan itu ia seperti seorang istri namun tanpa dinikahi.
Berbeda dengan Rama yang menunggu Nika keluar dari kamar mandi namun lama ia menunggu Nika juga tak kunjung keluar dari kamar mandi, Rama beranjak dari ia rebahannya dan menuju pintu kamar mandi berharap pintu kamar mandi tak dikunci, suara Klek membuka pintu kamar mandi dan netra Rama melihat Nika yang tengah asik berendam di bak mandi.
“Enak banget dia, gue yang nungguin dia malah santai sialan.”
Rama seperti memiliki rencana licik, sepertinya bermain-main sebentar dengan Nika taka da salahnya apalagi manusianya juga tengah memejamkan mata. Lantas Rama mendekati Nika yang masih memejamkan mata, meski Nika memejamkan matanya kepekaannya jangan pernah diadu.
Rama melepas celana bahannya dan ia hanya menyisakan celaba boxer ketatnya kemudian ia ikut masuk kedalam bak mandi, ia ingin di duduk diantara paha Nika namun sepertinya gerakan Nika membuat Rama kehilangan keseimbangannya.
Byuuurrrr
“Mas Ramaaaa—“
♣♣♣
Nika masih menatap tajam dan kesal dengan bosnya itu, kelihatannya dia artis yang penuh dihormati tapi kenapa kelakuannya benar-benar seperti maling. Nika mengunyah makanannya dengan setengah hati dan ia masih benar-benar dendam dengan rama, bisa-bisanya laki-laki tampan itu mengganggu acara berendamnya dan berada didepan Nika sama-sama keadaan telanjang.
“Apa? Mata lo lama-lama gue colok juga nih.”
“Makanya jangan mulai duluan, Mas Rama memang bos saya sebagaimana saya harus menghormati Mas Rama, tapi tolong juga hormati saya dong Mas jangan seenaknya aja, jangan setarain saya dengan wanita-wanita Mas Rama dong.” Nika mengatakan demikian agar Rama ini tak seenaknya lagi dengannya.
“Ceramah mulu lo, habisin abis ini ikut gue pergi.”
“Nggak mau, pergi aja sendiri—saya mau tidur lagi.” ngambek Nika masih enggan menatap Rama.
“Bodo amat, lo mau nggak mau mesti ikut, gue ada kunjungan nanti.”
“Hhhmmm—“ balas Nika yang berdeham.
Selesai makan Nika beranjak dari duduknya di balkon dan kembali ke kamar dimana ia akan bersiap lagi untuk naik ke ranjang tapi tarikan Rama membuat Nika terhuyung ia menatap kesal pada Rama, bosnya ini lama-lama biadabnya melebihi setan.
“Ganti baju, ikut gue.” titah Rama dengan aura menekan.
“Enggak.mau.saya.mau.tidur.” Nika juga tak kalah berani.
“Sialan kamu Nika…”
Rama tak bisa lagi menghadapi Nika dengan suara dan tekanan, ia harus menggunakan triknya. Rama mendorong Nika ke tengah ranjang menguncing kedua tangan Nika keatas dan sekarang posisinya lebih unggul dari Nika. Nika sudah siap dengan jurusnya sayang sekali tenaga Rama sepertinya lebih kuat darinya.
“Kamu mau nolak kemauan saya apalagi?!” ujar Rama dengan suara berat namun mengancam.
Nika mencoba melepaskan tangannya namun semakin erat Rama mengunci tangan Nika, ia sudah benar-benar berada dipuncak amarahnya ia ingin memberitahukan pada Nika bahwa ia sekali dua kali masih bisa sabar karena Nika selalu menolak namun untuk kali Ini Rama yang akan memegang kendali Nika.
“Ma—Mass lepasin s-saya,” Nika ketakutan tentu saja, kobaran dimata Rama memberikan sinyal bahwa laki-laki didepannya ini bukanlah Rama yang biasanya.
Lama Rama menghujam mata Nika dalam Nika pun sama menatap keatah mata Rama yang penuh dengan emosi dan kobaran aneh lainnya yang Nika tak paham. Rama menghembuskan nafasnya, ia mengalahkan nafsunya meski ia b******k setidaknya ia masih bisa menahan keinginannya, Rama menjatuhkan kepalanya dibahu Nika dan merenggangkan tangannya yang tadi sempat ia tahan dengan erat.
“Tolong, buat kali ini nurut sama saya.” kata Rama dingin.
Rama masih menunggu jawaban Nika, ia masih bisa mendengar suara nafas Nika yang memburu dan detak jantungnya yang berpacu cepat. Dengan gerakan spontan Rama sedikit menurunkan sisi tubuhnya dan sekarang kepala Rama sudah berada di antara d**a Nika, ia meletakkan telinganya disana ia merasakan detak jantung Nika yang bertalu-talu.
“Mashh Ramaa—“ lirih Nika ketika Rama dengan berani mengecup detak jantung Nika yang bertalu.
♣♣♣
Kaca panjang itu menampilkan Nika dalam balutan gaun hitam dengan riasan natural dibantu oleh Minka, sekarang Nika sedang memasang sebuah tali yang akan ia talikan dilehernya, sedikit kesusahan kemudian sebuah tangan mengambil alih tangan Nika dibelakang Nika ada Rama yang sudah berpakaian lengkap kemeja slim fit dengan dasi yang belum diikatkan.
“Jangan gugup..” bisik Rama sembari memberikan kecupan ringan dibahu terbuka Nika.
“Ap—apa ini enggak berlebihan Mas?”
“Enggak, nanti gue jelasin harus apa nanti lo didalam pesta.” Nika hanya mengangguk saja, bingung dengan rencana Rama itu apalagi Nika semakin bingung dengan sikap Rama yang kadang menempatkan dirinya dengan panggilan saya, kemudian lagi Rama menempatkan dirinya dengan memanggil Gue.
“Sexy..”
“Mesummm.” Lirik Nika yang kesal pada celetukan Nika.
Suara ketukan pintu membuat adegan Rama menggoda Nika harus terhenti apalagi Rama benar-benar terpana dari Nika yang seperti itik buruk rupa menjadi seperti Cinderella cantik. Rama membuka pintu kamar dan disana sudah ada Sandi siap mengantarkan Rama dan juga Nika.
“Nika, ayo..”
Rama memang manusia ternekat, Rama juga sengaja tak menceritakan pada Nika bahwa pesta yang mereka hadiri ini adalah pertunangannya dengan Calista, seperti yang kalian tahu, bila satu perusahan mengadakan kerjasama dengan perusahaan lain pasti aka nada perjodohan yang dirancang dan sekarang pesta pertunangan Rama dengan Calista.
Kilatan blitz membuat Nika menutupi wajahnya begitupun dengan Rama yang menutupi wajah Nika serta para bodyguard yang juga membantu Rama dan Nika masuk dalam ruangan ballroom.
“Acara apa ini Mas Rama?” tanya Nika kesekian kali.
“Pesta pertunanganku.” sahut Rama tanpa beban dan membuat Nika sukses melongo. “Lo cukup berada disisi gue semua yang mengatur gue, cukup lo mengatur diri lo untuk tampil menawan dan menantang, paham.” Nika hanya mengangguk saja.
Dipojok lain tampak kedua orangtua Rama Satya Wardana Yuda dan juga Khandra Felicia, Rama menggenggam tangan Nika untuk menuju kea rah orangtuanya yang tengha berbincang asik dengan orangtua calon tunangannya. Nika yang tak mengerti suasana seperti ini mengapa jantungnya ikut berdebar.
Satya tampak menatap Rama dengan pandangan menusuk dan kesal, pasalnya putra keduanya ini benar-benar nekad membawa perempuan lain. Ia tak mungkin memarahi Rama ditengah keramaian acara apalagi didepan calon besannya bisa-bisa nama baiknya tercoreng dengan Rama membawa perempuan lain saja sudah mencoreng wajahnya.
“Selamat malam semua..” sapa Rama tanpa dosa dan ia tak menghiraukan wajah Satya yang semakin menggelap.
“Rama, akhirnya kamu datang juga..” Khandra menyambut putranya dengan heboh.
Khandra memeluk Rama dengan tangan Rama yang tak jauh dari genggaman tangan Nika. “Apa kabar Ma? Seharusnya memang kabar baik melihat penampilan Mama yang sangat anggun dan cantik ini.”
“Aihhh—kamu bisa aja sih gombalannya—ehh ini pasti Nika ya..” sambut Khandra membuat Satya melotot bahwasanya mengenal nama perempuan itu.
“Selamat malam tante, om.” Nika menyapa lingkaran orangtua itu.
“Rama, lebih baik kamu segera naik ke panggung disana Calista sudah menunggu kamu, Papa tak ingin acara ini gagal dengan sia-sia.” bisik Satya dengan suara menekan.
“Gimana kalo Papa aja yang naik ke atas sana?” Rama meminta Satya untuk naik keatas panggung.
“Jangan jadi anak sialan, Rama. Ingat Papa yang mengendalikan semuanya.”
“Papa memang yang mengendalikan semua hal, tapi tidak akan bisa mengendalikan Rama sesuka hati papa.” Rama kembali kesisi Nika dan memeluk pinggang Nika tak lupa ia memberikan kecupan dipelipis Nika.
Satya menatap marah pada Rama, ia harus tetap memaksa Rama bertunangan dengan Calista apapun itu resiko dan Satya tak ambil pusing soal Rama yang sudah mengandeng perempuan lain.
♣♣♣
Khandra menghampiri Rama dan Nika yang tengahh berbincang dengan salah satu rekan bisnis mereka, sebenarnya Khandra juga tak rela bahwa putra kesayangannya kembali dijual demi bisnis, dulu Rendra juga dijual demi bisnis Satya. Khandra menepuk bahu kokoh Rama membuat laki-laki tampan dengan rambut diikat rapi itu menoleh, Rama tersenyum pada ibunya.
“Kenapa Ma?”
“Naik ke panggung dulu, ini cuman pertunangan Ram—nanti Mama bantu gimana-gimananya.”
“Mama yakin?” Khandra mengangguk. “Mama harus cerita ke Rama secepatnya.” Rama sepertinya mengerti sesuatu yang dirahasiakan Khandra darinya.
“Pasti, yukk—Nika mau ikut kesana apa disini?”
“Saya disini saja tante.” Putus Nika.
“Ya sudah.”
“Tunggu disini, jangan kemana-mana.” Nika hanya mengangguk saja enggan membuat waktu terbuang semakin banyak.
Suara pembawa acara mengisi ruangan ballroom, memberikan aba-aba pada kedua calon pengantin yang sebentar lagi akan menyematkan cincin dijari manis mereka masing-masing. Nika menatap dengan perasaan aneh, ada rasa lain yang menyelusup tanpa permisi, rasa tak rela ketika Rama menempatkan symbol tanda mengikat satu sama lain, Nika berusaha menepis perasaan aneh itu, seharusnya rasa tak suka itu tak pernah hadir ini hak Rama tapi hatinya menjerit tak suka dan dirinya cemburu.
Tepat setelah Rama dan si wanita menyematkan dua cincin, ponsel Nika bergetar ia langsung mengambil ponselnya dalam pouch kecilnya dan tertera nama sahabatnya Kirei, lantas Nika meninggalkan kursi yang ia duduki untuk keluar sementara dari ruangan tersebut.
“hallo, Kirei?”
“Nika lo dimana? Buruan balik deh—ini Ayah lo masuk ke rumah sakit, Ayah lo colleps.”
“Jangan bercanda Kirei, gue titip Ayah gue dulu, gue otw pulang.”
“Kalo bisa sekarang Nika, ayah lo—kritis, tenang gue bakal jagain ayah sama Ibu lo, hati-hati pulangnya.”
“Thanks Rei..” ujar Nika yang sudah panik.
Ia bingung, ia harus segera pulang tapi ia tak mengerti kota Surabaya sedang Rama masih sibuk dengan acaranya, Nika linglung dan bingung kemudian Nika menuju lift bagaimana carapun harus bisa ia lakukan. Pintu lift terbuka dan menampilkan Sandi supir Rama dan beberapa laki-laki dengan badan kekar.
“Kamu mau kemana?”
“Mau pulang, bisa bantu saja pulang ke Jakarta, tolong.” Nika sudah menangis, Sandi mengangguk.
Hampir saja pintu lift tertutup namun batal disana berdiri Rama dengan panik, ia sudah berkata dengan Nika untuk menunggu namun perempuan itu malah sudah menghilang dan ia menemukan Nika dengan Sandi.
“Kamu mau kemana?”
“Pulannggg..” isak Nika tersedu. “Ay—ayahhku kritiss, tolong aku mau pulang.” Rama mengerti dan masuk kedalam lift memeluk Nika yang mukin terpukul.
“Tenang, kita pulang ke Jakarta sekarang.”
♣♣♣