Sepanjang perjalanan Rama selalu memeluk Nika, ditengah perjalanan pulang Kirei kembali menghubungi Nika dan mengkabarkan bahwa Ayahnya semakin kritis dan sekarang berada di ruang ICU, sungguh Nika tak pernah mengira bahwa Ayahnya kembali colleps seperti ini. Sepanjang jalan Nika hanya bisa menangis dan berdoa memohon pertolongan Tuhan agar untuk kali ini Ayahnya harus sehat kembali.
Mobil mewah itu memasuki pelataran Bandara, Rama melepaskan jasnya dan memakaikan pada Nika, setelahnya membawa Nika keluar dari mobil disana sudah ada Minka dan juga Gusti orang-orangnya.
“Pesawat sudah siap Pak dan juga barang-barang Pak Rama dan juga Mbak Nika sudah masuk bagasi, semoga sampai tujuan dengan selamat.” ujar Minka dengan suara tenang.
“Terima kasih, kabarkan kalo ada apa-apa lagi.” Minka dan Gusti mengangguk paham. “Sandi, terima kasih.”
“Terima kasih kembali, Pak.”
Rama membawa Nika kedalam Bandara, karena Rama membawa Nika dengan pesawat pribadi ia bisa dengan leluasa membawa Nika masuk dalma pesawat, terasa Nika mengeratkan genggaman tangannya pada lengan Rama.
“Jangan takut, semua akan baik-baik saja.” Rama meyakinkan Nika.
Duduk dipesawat manalagi penerbangan dijam malam, Nika tak berani menatap keindahan diluar sana, ia menggenggam erat tangannya sedang Rama tengah memejamkan matanya disisi kursi tempat Nika duduk.
“Bu Nika ingin minum?” seorang Pramugari menawari Nika untuk minum mungkin si Pramugari tersebut melihat Nika dalam keadaan wajah pucat.
“Terima kasih, saya tidak haus.”
“Mau saya temani?” Nika menggeleng lagi. “Kita dalam penerbangan aman Bu Nika, kita akan sampai di Jakarta dengan baik jangan cemas.” Si Pramugari tersebut sepertinya mengerti kerisauan Nika kemudian memberikan minuman air hangat yang ia bawa. “minumlah, membuatmu akan tenang.”
“Terima kasih Mbak.”
Rama melirik sisi samping kanannya, Nika terlelap sepertinya panik membuat Nika kelelahan sudah pasti itu, tepat Rama bangun pesawat juga sudah akan menuruni bandara. Pesawat mendarat tepat di Bandara Soekarno Hatta dengan baik dan selamat, Rama melepas sabuk pengamannya dan melangkah sedikit pada Nika.
“Nika, bangun—sudah sampai.” Tampak mata kecil itu terbangun dan tergagap. “Santai, kumpulkan nyawa dulu baru kita turun dari pesawat oke.” Nika hanya mengangguk.
Tengah malam sekali Nika sampai di rumah sakit, tadi sebelum mereka ke rumah sakit Rama meminta Pak Ismail untuk mengantarkan mereka pulang dulu untuk mengganti pakaian rasanya kurang bagus bila mereka masih menggunakan pakaian formal masuk ke rumah sakit.
Nika melihat Kirei, Ibunya, adikknya Dalia dan juga pacar Kirei ada disana, jantungnya berasa kembali berpacu kuat. “Ibuuu—“ isak Nika. “Maafin Nika—maafin Nika waktu Ayah colleps Nika enggak ada dirumah.”
“Kamu kerja Nika, enggak apa-apa untung ada Kirei sama Angga main kerumah.”
Nika menatap Kirei dan Angga bergantian. “Thanks banget udah mau mampir ke rumah, gue utang budi banget.”
“Norak! Apaan sih lo, gue juga anaknya Ibu lo tahu.” Kesal Kirei yang kemudian ikut menangis.
“Selamat malam, tante. Saya Rama—saya bosnya Nika, maaf sudah membawa putri Ibu.”
Chalinda maklum, putrinya bekerja bukan ingin bersenang-senang. “Enggak apa-apa, nak Rama ada Kirei yang membantu.”
Saat itu mereka semua menunggu didepan ruang ICU mereka harap-harap cemas, di sela mereka sedang berharap dan berdoa seorang perawat menghampiri Nika.
“Keluarga Bapak Endra Madaharsa?”
“Kami sus—ada apa ya?”
“Adminitrasi Bapak Endra mohon di urus ya Bu, ini rincian adminitrasinya.” Nika mengambil kertas yang disondorkan si perawat tersebut.
Nika membaca semua rincian tersebut dan langsung mengangga betapa fantastisnya adminitrasi Ayahnya, darimana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu, sedang tabungannya tak mencapai biaya adminitrasi Ayahnya.
“Innalilahhi, Nika—kenapa jadi sebanyak ini.” Kaget Chalinda kaget.
Ia mendudukkan tubuhnya stress memikirkan darimana ia bisa mendapatkan uang sebanyak ini, sedang tak segera ia membayar adminitrasi alat-alat yang menompang kehidupan Endra akan dicabut.
“Ya Tuhan..”
Rama gantian yang merebut kertas berisi adminitrasi tersebut dari tangan Nika, Rama menatap Nika dengan senyum simpul inilah saatnya dirinya beraksi, berkedok menolong namun ada udang dibalik batu.
♣♣♣
Keesokan harinya Nika masih menatap kertas putih dengan berisikan sejumlah adminitrasi ayahnya dengan tatapan nanar, dimana lagi ia bisa mendapatkan uang sebanyak ini, sedang tabungannya tak sampai minimal yang tertera. Chalinda menghampiri putrinya yang tengah bengong itu pasti putrinya itu juga sama bingungnya dengan dirinya.
“Nika, jangan melamun.” tegur Chalinda.
“Ibu, kok kesini? Kan Nika yang mau beliin sarapan.”
“Enggak apa-apa, Nika Ibu mau bilang—“ Chalida diam sesaat kembali berpikir ulang apakah ia akan tetap mengatakan idenya ini. Nika menatap Ibunya, mengalihkan eksistensinya pada kertas putih itu.
“kenapa, Bu?”
“Kalo kamu enggak sanggup jangan diterusin ya, kita bawa pulang Ayah aja ya Nak.”
“Ibu—ibu kok gitu? Pasti ada jalan Bu—Nika akan usahain Ayah masih bisa mendapatkan pertolongan.” Nika mesih tetap gigih.
“Darimana kita mendapatkan uang sebanyak itu Nika, dimana? Sedang kemarin dokter mengatakan bahwa Ayah secepatnya harus di operasi, Jantungnya bermasalah Nika.” Chalinda masih tetap membujuk Nika, ia tak kuat melihat Nika yang berjuang dan pusing sedang ia sudah pasrah.
“Nggak Bu, Ayah tetep harus sembuh dan dioperasi—Nika yang akan usahain semuanya.” Kekeuh Nika tetap dengan pendiriannya. “udah ya, Ibu tenang aja—pasti ada jalan, Nika yang akan bilang sama pihak adminitrasinya nanti.”
“Hhhhh—kamu memang sangat keras kepala Nika.”
“Kan Nika anaknya Ibu Chalinda—ya sama-sama keras kepalanya dong.” Chalinda lantas meliriknya kesal namun yang dilirik tajam hanya tertawa.
Di sisi lain, Rama tengah menikmati wajah bingungnya sedang ia menunggun permintaan dari Nika, semua hanya perlu dan butuh waktu hingga sang mangsa masuk dalam perangkapnya.
“Lo kok senyum-senyum cenggenges-cenggenges gitu sih Ram, obat lo habis?” celetuk Donna saat tahu artisnya terlihat aneh.
“Iya gue kayaknya beneran gila deh Donn.” Enggan menanggapi tingkah bosnya, Donna memilih meninggalkan Rama yang masih menekuni kegiatannya.
Baru saja ia meneguk wine dalam gelasnya ponselnya sudah bergetar dan dugaan Rama benar-benar tepat sasaran, nama Nika tertera dilayar ponsel mahalnya, ia memang ingin sedikit bermain-main sebentar dengan Nika sebelum ia puas mempermainkan Nika dan kemudian ia akan menerima panggilan telepon tersebut.
“Bikin brisik banget sih hp lo, angkat napa Ram siapa tahu penting.” Donna yang kembali dari dapur dan berniat ingin kembali ke kamarnya.
“hhhmm..”
Hingga dering ketiga Rama baru mengangkatnya, suara helaan Nika terdengar ditelinganya, ia yakin pasti Nika amat sangat menanti panggilannya segera diangkat.
“Hallo..”
“Mas Rama, maaf menganggu waktunya—apa Mas Rama ada waktu? Saya mau ketemu.”
“Hhmmm—dirumah, datang aja ke rumah.”
“Oke, lima belas menit lagi saya sampai Mas.”
“Hhmm oke..”
Sebentar lagi Nika benar-benar akan digenggamannya, semua pasti menerka-nerka ada apa Rama ingin memiliki Nika, pasti ada satu dan lain hal yang di sembunyikan oleh Rama dan itu jelas pasti, hanya Nika yang akan Rama pilih tidak yang lain.
♣♣♣
Rama mengamati Nika dengan wajah kaku serta bingung, Rama masih menunggu Nika mengutarakan apa yang akan ia katakan. Berhubung di rumah masih ada Donna ia akan dijadikan saksi oleh Rama dan soal pengacara ia sudah lebih dulu menghubungi pengacaranya serta surat kontraknya.
“Mau sampai kapan lo diam kaya patung? Habis ini gue masih ada jadwal ke studio nih.” Rama memecah keheningan ruang tamu tersebut.
Nika kembali menatap Rama sembari menyakinkan diri bahwa yang ia ambil ini sudah baik. “Bagini Mas Rama, maaf saya mengganggu—saya mau mita tolong sama Mas Rama, ini pun kalo Mas Rama mau membantu saya.”
Benak Rama tertawa keras, hal yang ditunggu-tunggu sudah mengatakan sendiri tanpa Rama mengajukan bantuan sendiri. Rama mengangguk-anggukan kepalanya menunggu kelanjutan yang akan Nika katakana.
“Mas Rama tahukan kalo adminitrasi Ayah saya benar-benar luar biasa mecekik saya dan waktunya sampai hari ini, tolong Mas Rama bantu saya untuk melunasi adminitrasi Ayah saya, nanti apapun resikonya akan saya tanggung.”
Rama kembali menganggukkan kepalaa, betapa Rama terpesona dengan aksi Nika untuk Ayahnya, hingga mau-maunya mengorbankan dirinya hanya sejumlah uang yang bagi Rama tak seberapa itu.
“Baik, gue akan bantu tapi dengan syarat—lo pasti juga paham kan, seperti cara meminjam uang ke Bank juga memerlukan syarat bukan.” Nika mengangguk membenarkan. “Nah kalo Bank membutuhkan syarat dengan fotocopy ktp, kartu keluarga dan lainnya, saya cuman butuh dua hal tanda tangan lo buat tanda tangan juga diatas kertas dan juga menikah dengan saya.”
Nika masih diam mencerta apa yang dikatakan Rama. “Maksud Mas Rama—kontrak surat?” tebak Nika.
“Benar, lo setuju? Kalo tidak juga enggak apa-apa semua terserah lo, keputusan ada ditangan lo.”
Sesaat Nika terdiam, ia kembali menatap Rama setelahnya Nika mengangguk. “Saya setuju Mas, apapun itu asal Ayah saya selamat dan kembali sehat saya mau menyanggupi syarat dari Mas Rama.”
“Bagus—tunggu pengacaraku dan Gue panggilkan Donna dulu—jangan coba-coba membatalkan keinginanmu.” Nika pasrah saja.
Disinilah sekarang Nika duduk berjejer disamping Rama, di depannya sudah ada dua kertas dengan isi yang sama yaitu janji sebuah kontrak. Didepan Nika dan Rama ada Pengacara Rama Handi Atmaja serta Donna yang duduk disebelah kanan Nika.
“Sebelum kalian tanda tangan boleh dibaca kembali.”
SURAT PERJANJIAN NIKAH Rama Wardana Yuda Dan Shanika Vanda Zinnai
Pada hari ini, Sabtu, tanggal satu bulan delapan tahun dua ribu satu (01-08-2021), di kota Jakarta, telah dibuat perjanjian perkawinan oleh dan antara:
Nama : Rama Wardana Yuda
Jabatan : Artis dan Pengusaha
Alamat : Jl. Ajisaka B.011, Pondok Indah, Jakarta Selatan
No KTP : 667196572340001
Bertindak untuk dan atas nama Rama Wardana Yuda dan beralamat di Jl. Ajisaka B.011, Pondok Indah, Jakarta selatan slanjutnya disebut sebagai Pihak Pertama.
Nama : Shanika Vanda Zinnai
Jabatan : Assisten Artis
Alamat : Perumahan Larasati, B.16 Jakarta Selatan
No KTP : 667432891740008
Dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Shanika Vanda Zinnai, selanjutnya disebut sebagai Pihak kedua.
Kedua belah pihak, berdasarkan itikad baik, sepakat untuk mengikatkan diri dalam sebuah perkawinan resmi dan untuk itu bersepakat mengikatkan diri dan tunduk pada perjanjian ini yang disepakati dengan ketentuan sebagai berikut:
PASAL 1
Lama pernikahan akan disepakati yaitu seumur hidup. Pihak pertama dan pihak kedua disepakati untuk tidak mengingkari janji pernikahan.
PASAL 2
Selama Pihak kedua menjadi istri pihak pertama, pihak pertama akan menjamin kebutuhan hidup pihak kedua beserta seluruh keluarganya.
PASAL 3
- Pihak kedua harus mau dan ikhlas serta rela hati untuk melayani semua kebutuhan pihak pertama termasuk melayani dalam bentuk kontak fisik.
- Pihak kedua tetap bekerja sebagai Assisten pihak pertama.
- Pihak kedua dilarang memiliki pasangan lain selain pihak pertama.
- Pihak pertama tidak mencampuri urusan pihak pertama.
PASAL 4
Pihak pertama akan membiayai seluruh pembayaran adminitrasi rumah sakit dari pihak kedua dan hutang pihak kedua dinyatakan lunas.
Pasal 5
Semua hal dalam pengaturan pihak pertama dan ketika pihak kedua sudah setuju menandatangani surat perjanjian tidak boleh dibatalkan atau membayar denda.
Pihak Pertama
Rama Wardana Yudha
Pihak Kedua
Shanika Vanda Zinnai
♣♣♣
Rama membayar lunas biaya rumah sakit Ayah Nika, Rama memberikan data bukti pembayaran hingga nanti Ayah Nika dinyatakan sembuh dan kembali pulang, Nika menatap Rama dengan rasa terima kasih penuh. Sehabis ia menandatangani surat kontrak tadi malamnya Rama mengikuti Nika ke rumah sakit.
“Semuanya udah gue bayar lunas, gue harap lo enggak ingkar janji—lo tahukan konsekuensinya kan?” Nika mengangguk seketika. “Bagus.” Rama meninggalkan Nika yang masih diam duduk di salah satu kursi.
Sebagai orang yang sudah berbuat baik dan agar dipandang baik juga oleh orangtua Nika, rama akan hadir ditengah keluarga Assistennya yang sudah ia bantu, Rama harus cari muka bukan, memang dasar artis. Nika mengikuti kepergian Rama yang menuju ruang ICU dimana Ayahnya masih berada disana.
“selamat malam tante..” sapa Rama dengan sopan.
“Selamat malam, Nak Rama ya?” Rama mengangguk kemudian ia mengulurkan tangannya untuk bersaliman dengan Chalinda.
“Bagaimana dengan keadaan Om, tante? Sudah ada kabar lagi?” Chalinda menggeleng.
“Belum, semoga secepatnya Ayahnya Nika segera sadar, Nak Rama.” ujar Chalinda penuh harap. “Nak Rama, saya juga ingin mengucapkan banyak terima kasih sebesar-besarnya sudah mau membantu keluarga saya, saya banyak hutang budi dengan Nak Rama.”
“Sama-sama tante, sebisa saya—saya akan bantu apalagi Nika juga bekerja dengan saya.”
“pokoknya saya terima kasih sekali.”
Rama senang bukan main, rencananya memang sukses berjalan sesuai dengan keinginannya—apalagi Tuhan sedang berada dipihaknya—ia tak banyak licik ia hanya menjalankan keinginnya tanpa harus ia pusing-pusing.
♣♣♣