Chapter 16: Back on the Road

1038 Kata
Rama terbangun dengan tubuh yang segar bugar, bagaimana tidak terasa ringan kalo rencananya saja berjalan sesuai keinginan, kemarin ia belum sempat menjelaskan kepada Donna bahwa dirinya baru saja membuat sebuah kesepakatan hitam diatas putih dengan Nika, begitupun dengan Kirei adik sepupunya yang memang amat bawel dan juga kepo itu mencerca dirinya untuk menjelaskan ada gerangan apa rama melakukan hal seperti itu. Rama bangun dari tidurnya, karena ia bangun dipukul enam pagi ia akan melakukan jogging paginya, ia masuk kekamar mandi, melakukan aktivitas paginya, setelah itu Rama menarik kaosnya serta celana pendek untuk menemaninya berkeliling komplek, Rama turun dari tangga dengan siulan nyaring menandakan bahwa mood rama memang sedang bagus-bagusnya. Langkah Rama berhenti ketika ia melewati dapurnya yang tengah riuh dengan suara wanita, jelas dapur adalah tempat perempuan dirumah ini bergosip. Sepertinya memang sudah menjadi penyakit para wanita bila tak menggibah tidak afdol rasanya. “Heeeyyy—pagi-pagi itu olahraga, bukannya pada gossip masih pagi juga.” Rama membuat suara riuh tadi hening. “Nahhh ini-nih artisnya yang abis bikin drama—sini Bang, Rei mau nanya mumpung Nika disini juga gue mua sidang klean bedua, duduk!” “Nggak dulu, gue mau jongging—lo lanjutin ghibah lagi aja.” tolak Rama mentah-mentah. “Ram, mending lo kesini dulu deh biar kita tuh enggak salah sangka—lagian Nika dari tadi gue tanyain juga enggak ada bilang dia.” Donna menunjuk Nika yang masih sibuk didepan kompor. “Iyalah enggak mau cerita dia, udah gue larang cerita—gue mau jogging dulu.” pamit Rama. “Eh Donn—cariin WO dong dari sekarang.” “HHAAAAHH!!” Rama tertawa puas, pagi-pagi sudah membuat orang-orang sport jantung. Beginilah Rama selain memiliki sifat nyebelin dan suka menyuruh-nyuruh, dictator, dan kandang bisa berubah menjadi monster, serta jiwa usilnya yang tersimpan disisi hidupnya. Nika tetap melanjutkan masakannya, tangannya terasa ditarik Nika mringis didepan Donna dan juga Kirei. “Please..tunggu Mas Rama yang bilang ya.” Nika meminta keringanan. “Kenapa nunggu nanti kalo sekarangpun bisa.” Kirei melototi Nika. “Yaaaaa—soalnya yang berwewenang dan yang memiliki rencanakan Mas Rama.” Donna dan Kirei hanya mendengus kesal kembali menuju meja makan. Bi Inah yang sedari tadi hanya menjadi pengamat menghampiri Donna dan Kirei. “Bersyukur dong kalian seharusnya kalo Mas Rama udah bilang suruh nyariin orang-orang buat ngurus pernikahannya, berarti dia punya pikiran baut berubah.” “Hhhh—semoga aja ya Bi, aku soalnya enggak mau bikin Nika susah karena kelakuan abang yang Bi Inah tahu sendiri kan.” Bi Inah mengangguk. “Nik, kalo ini beneran gue amat sangat bersyukur deh biar Rama juga sembuh enggak ada lagi mainin cewek ini itu, semoga dipernikahan lo sama doi ntar lancar deh.” Donna ikut mengimbuhi. “Amiinn—makasih ya..” Nika, Donna, serta Kirei sudah berada di balkon lantai dua—Nika tengah makan pagi, Kirei menikmati kopi panasnya sedang Donna menikmati paginya dengan merokok. Sekarang Nika sudah bisa lebih berbaur dan tak kaget melihat Donna sedang melakukan kegiatan merokoknya atau tengah menikmati minuman berakoholnya. Nika bisa datang ke rumah Rama dengan tenang karena semalam Ayahnya sudah melewati masa kritisnya dan ia bisa meninggalkan rumah sakit mengingat dirumah sakit sedang dibatasi pengunjung maklum si covid belum enggan berlalu sehingga protocol kesehatan amat-sangat ditertibkan. Nika mengamati Rama yang tengah berjalan menuju gerbang rumahnya, ia bisa menatap dengan jelas bahwa laki-laki yang sebentar lagi menjadi suaminya itu ternyata memang tampan. Sadar dengan pikirannya Nika segera mengenyahkan pikirannya dari sana, siapa dia memangnya dia hanya akan menjadi istri disebuah kesepakatan. “Nik, siapa tuh sana samperin..” celetuk Kirei dengan lirikan nakalnya. “Ogahh—lo aja sana, kan dia abang lo.” “Kan lo calon istrinya, ya nggak Kak Donn?” Kirei mencari sekutu. “Bener, sana deketin tawarin mau minum apa—belajar jadi istri yang baik.” “Mbaaakkkk—jangan gituu..” Nika tersipu malu. ♣♣♣ Malam ini kebetulan Khandra berada di Jakarta dan kesempatan Rama juga bisa bertemu dengan sang Ibu untuk membicarakan rencananya. Tentunya dengan membawa Nika bertemu dengan khandra lagi, kenapa Rama berani mengambil rencana ini karena ia masih memiliki Ibu yang mau membela dan mendukungnya untuk keluar dari jalur keinginan sang Papa. Rama memakai kemeja hitamnya dan celana jeansnya, penampulan simple namun bisa membuat hati wanita manapun kecantol dengannya. Mudah saja bagi rama memikat hati wanita cukup ia memberikan senyumannya tak usah menunggu lama wanita-wanita itu akan mendekat sendirinya. “Nanti kalo di depan Mama gue, jangan panggil saya-saya panggil aku-kamu, paham?” “Paham Mas Rama, Mas Rama tuh udah ngomong begitu 20 kali ada loh.” Rama menatap Nika dengan pandangan malas menanggapi. Nika duduk dengan baik disamping Rama, ia paling suka duduk dekat candela karena ia bisa menatap gedung-gedung menjulang tinggi apalagi bila ia menatap langit Jakarta ketika malam. Tanpa ia sadari disepanjang perjalanan didalam mobil mewah Rama itu sama sekali tak ada suara antara Nika maupun rama hanya suara music yang terputar. “Pertemuan ini ada papanya Mas Rama dong?” akhirnya Nika memilih membuka percakapan. “Nggak, dia enggak ikut—Mama khusus datang sendiri.” Nika hanya mengangguk. “Oh y ague juga mau bilang mulai sekarang kita harus ngebiasain panggil lo-gue, paham?” “Paham, Mas Rama saya paham.” Rama melemparkan kunci mobilnya pada petugas valet, Nika keluar dengan susah payah ia bukan tak bisa menggunakan sepatu berhak hanya saja ia jarang memakai sepatu tinggi seperti itu membuat keseimbangannya hampir merosot. “Hati-hati, t***l!” “Iya Maaf, mas.” Cicit Nika kemudian Rama melepaskan rangkulannya pada tubuh Nika. Rama menarik pergelangan tangan Nika untuk masuk kedalam lift yang akan membawa mereka menuju lantai atas restoran mewah itu. Rama yang tadi menggenggam tangan Nika berubah menjadi menggandi tangan Nika agar terkesan sebagai pasangan romantic. Tak susah mencari sosok Ibunya, disebelah dekat cendela Khandra duduk disana sendiri sembari menikmati tehnya. Rama membawa Nika untuk menuju kearah meja. “Mama.” “Rama, akhirnya kalian datang juga ya.” Sapa Khandra. “hallo, Shanika—masih ingat saya?” Nika tampak tersenyum simpul dan manis. “Masih ingat tante, selamat malam tante.” Sapa balik Nika. “Baik dong, ayo duduk kita—makan malam dulu ya kita.” ajak Khandra. “oh ya rama nanti Rendra dan juga Zeva mau ikut bergabung kebetulan kakakmu sedang ada di Jakarta.” Rama mengangguk saja. Nika semakin mengeratkan genggaman tangan pada Rama, jantungnya bertalu pasti—ini baru pertama kali bertemu dengan orang penting apalagi sekaya Rama. Sebenarnya Rama memang belum menceritakan secara detail tentang keluarganya pada Nika hanya saja Nika berpikir bahwa keluarga Rama ini memang orang kaya. “Bisa enggak ya aku nanti berbaur dengan keluarga konglomerat ini.” ♣♣♣ Setelah pertemuan semalam Khandra meminta Rama untuk mengantarkan Nika ke sebuah butik dimana Nika akan fetting gaun pengantin, sebenarnya Nika masih dalam kebingungan yang melanda. Pasalnya beberapa hari lalu dirinya melihat Rama bertunangan dengan wanita lain tapi hari ini ia diminta Khandra untuk fetting gaun pengantin ingin meminta penjelasan pada Rama rasanya masih canggung. Kirei yang melihat sahabatnya tengah melamun menghampiri Nika. “Ngapain bengong kerasukan tahu rasa deh lo!” “Apasihhhh—bisa nggak kalo nyamper tuh nggak usah pake ngagetin.” “Kan kebiasaan lo begitu, bengong, bengong, bengong, kerasukan lo.” Kirei mengingatkan kebiasan Nika. “Ada masalah apaan? Sini ceritain ke gue siapa tahu gue bisa bantu.” “Rei, lo tahu enggak sih silsilah keluarga Rama kan lo sodaranya di, gue masih kayak bingung aja.” “Bagian mana yang lo bingungin?” Nika membenahkan posisi duduknya menghadap kea rah Kirei, ia akan mengorek tentang keluarga Rama, nekat memang namun rasanya seperti aneh. Ia tak ingin menikahi pria yang tak ia tahu tentang asal-usul keluarganya apalagi Nika golongan orang tak begitu terpandang. “Semuanya—gue kayak asing aja diantara keluarga Rama.” Kirei menghela nafas, sepertinya hal yang akan ia ceritakan ini sepertinya amat berat. “Gue ini sodara dari pihak keluarganya bang Rama yang dari tante Khandra, Nik.” Kirei mengawali ceritanya. “Lo tahukan keluarga dari gue ini enggak kaya-kaya amat, Tante khandra menikah sama om Satya yang memang om Satya ini keturunan orang berada, nah di sisi lain ini Tante Khandra tuh orangnya sederhana banget enggak licik kaya suaminya, gue cuman bisa ceritain lo garis besarnya aja ya, selainnya ntar lo nanya aja deh sama bang Rama.” Nika hanya mengangguk saja, secara garis pun ia sudah bersyukur. “Terus?” “Intinya tante Khandra tuh baik—baiiiikkk banget, cuman aku enggak suka sama om Satya sombong banget orangnya kayak bang Rama, cuman kalo Bang Rama masih ada baik-baiknya dan sopannya, Mas Rendra tuh yang orangnya halus, cuek terus dia tuh sayangnya manutan jadi dinikahin karena perjodohan dia mau-mau aja tapi untungnya Mbak Ziva tuh baiiikk banget.” “Terus ya Rei, aku bingung adalah kemarin itu aku diajak ke Surabaya dan aku lihat Rama tuh tunangan sama cewek tahu tapi kenapa jadi ngajak nikah gue?” “Seriusan lo?!” pekik Kirei dan Nika pun mengangguk. “Anjir—kok dia enggak cerita sih.” “Nah siapa lo dia mau cerita ke lo?” ejek Nika dengan kekehannya. “Tapi aneh juha ya, dia ada tunangan malah ngajak lo nikah—keknya memang ada sesuatu sih Nik.” Keduanya larut dalam lamunannya hingga mereka tak sadar bahwa Rama berada diantara bahkan Rama juga mendengar apa yang dikatakan Kirei di cerita sebelum suasana hening. Rama memang beda dari Abangnya, Rendra—dari dulu Rama memang anak yang paling menentang keputusan Satya. Mengingat Kakaknya hanya dijadikan kelinci percobaan oleh sang Papa Rama menjadi anak yang berani menentang asal. “Udah puas ngomongin gue? Kok pada diam?” sindir Rama dengan menatap kedepan dimana ia bisa melihat atap-atap rumah mewah lainnya. “Lahhhilahhh Abang kapan disitu kek hantu aja nonggol—eh gue sama Nika enggak ngomongin lo yak kok jadi lo yang PD banget, gue sama Nika tuh lagi ghibahin lo Mbak soalnya ada yang kepo juga.” sahut Kirei tidak mau kalah. “Eh apaan sih, kok malah guee.” “Daripada lo cuman ngomongin gue—ikut gue sekarang, gue antar ke butik abis itu lo nememenin gue syuting off air.” pinta Rama dengan menunjuk kearah Nika. “Iya, ini saya juga mau bangkit.” Nika menatap punggung lebar itu, apakah nanti ia bisa bersanding dengan Rama secara perbedaan dengan Rama amat sangatlah jelas, ia hanya seorang wanita biasa dan  bersanding dengan seorang pangeran. “Jangan suka mikir yang enggak-enggak Nika!” Rama menoyor Nika. ♣♣♣ Nika terperangah menatap gaun-gaun indah nan mewah didepannya ini—sore itu Rama memang mengantarkan Nika ke butik dimana sang Mama meminta Rama untuk mengantar ke butik langganannya. Didampingi Khandra dan juga Ziva, Nika masih saya bingung harus memilih kebaya apa. Nika juga sudah tahu bahwa pernikahannya ini, pernikahan tertutup hanya ada beberapa kerabat dari keluarga Ibu Rama dan juga keluarga Nika saja, Rama memang meminta untuk menjadi pernikahan yang private sebenarnya Khandra meminta Rama untuk tak membuat pernikahannya hanya saja Rama memiliki feelling yang kuat, Papanya pasti akan menghancurkan pernikahan antara dia dan Nika. “Mau yang mana Nik—ini aja bagus ungu pastel.” “Yang putih aja sih Ma kan putih itu udah jadi kebaya wajib pas akad.” Ziva menengahi pilihan Khandra. “Biar beda Ziva, akad itu enggak mesti pakai kebaya putih.” “Kan yang penting akadnya.” celetuk Rama dengan mata yang fokus ke layar ponsel. Lemparan bantal mengenai kepala Rama, jelas Khandra kesal sudah ia dukung malah anaknya ini semaunya. Apalagi ini pernikahan seumur hidup, Rama yang meminta kenapa dirinya yang kesal. “Mamaaa! Apa-apaan sih.” “Kamu tuh serius sedikit kenapa sih—sana fetting jasnya.” “Ck, sebentar lagi.” “Ramaa!” Nika akhirnya memilih kebaya dengan warna ungu grape begitupun dengan jas yang akan Rama pakai. Rama dan Nika keluar dari kamar pas secara berbarengan, Khandra dan Ziva yang menatap keduanya terperangah. “Luar biasa perfect!” ♣♣♣
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN