Soal pernikahan yang sedang Rama rancang begitu mulus tanpa ketahuan media, rama masih seperti biasa menjadi artis dan bos Nika begitupun dengan Nika sabagai assisten yang masih mengikuti Rama kerja kesana-kesini. Karena pernikahan ini acara private Rama memang diam-diam saja hanya beberapa temannya saja ia beritahu.
“Mas Rama mau minum enggak?” Nika menawarkan minuman pada Rama setelah melalui pengambilan take 1 dalam sebuah acara.
“Ada air es nggak, gue mau air putih dingin.”
“Bentar aku maintain dulu ya.” Rama hanya mengangguk.
Nika sekarang sudah lebih luwes menjalankan tugas sebagai asisten Rama, bahkan Nika juga sudah akrab dengan para kru dan orang-orang dibelakang layar. Nika mengambil air mineral dingin seperti keinginan Rama.
“Bang Yoyo Nika minta air mineral dinginnya ya.” ijin Nika
“Okeyy—ambil aja Nik.”
“Makasih Bang Yoyo.”
Nika membawa air mineral dinginnya pada Rama, saat Nika dengan wajah riang serta tak lupa menyapa orang-orang yang berlalu lalang ia kembali masuk ke ruang wardrobe disalah satu ruangan disebuah gedung televisi trsebut.
Nika melihat Rama sedang tertawa puas tanpa beban dengan seorang wanita, hatinya tersentil. Tidakkah salah Nika mengalami hal seperti itu padahal Rama akan menjadi miliknya, inilah resiko memiliki suami dengan pekerjaan aktor apalagi Rama ini memang memiliki wajah yang tampan, senyum yang manis, serta laki-laki yang friendly.
Teringat dengan air mineral pesanan Rama, tak menghiraukan Rama yang masih bersanda tawa dengan artis wanita Nika tetap harus menjadi Asisten professional bukan.
“Mas Rama ini air dinginnya.” Nika menyondorkan air mineral yang sudah ia buka dan ia beri pipet minum.
“Thanks.” Nika hanya mengangguk “Mas Rama butuh apalagi?”
“Nggak ada, ntar gue bilang kalo mau apa-apa.”
“Oke, saya ijin mau makan dulu Mas.” Rama hanya mengangguk dan Nika pun putar balik dengan mood yang anjlok.
“Sialan—gue seumur hidup bakal kejebak sama cowok kaya gitu, ya Tuhaann..”
Nika baru saja menyuap tiga sendok nasi sedang ponselnya sudah kembali bergetar lagi. Seharian ini Nika belum istirahat sama sekali apalagi bila tak mengurusi soal pernikahannya dan juga pekerjaannya bersama dengan Rama tentunya babu pribadi Rama.
Disana tertera nama Tante Khandra calling segera Nika mengangkat dan melupakan nasinya yang baru ia suap sedikit. Ia tak mungkin membiarkan panggilan dari calon ibu mertuanya menunggu.
“Hallo, iya tante kenapa?”
“Nika lagi dimana Nak? Kok tante dirumah Rama enggak ada? Masih syuting?”
“Eh iya Tante, masih di studio tv Mas Rama masih ada syuting off air.”
“Ya sudah, kamu sudah makan Nik?”
“Sedang makan Tante.” Terang Nika jujur.
“Ya sudah lanjut dulu makannya,”
“Iya Tante..” panggilan pun terputus.
Selesai panggilan dari Khandra Nika kembali melanjutkan makannya, perutnya sudah meraung-raung mengingat tadi pagi ia hanya memakan dua tangkup roti dan juga jajan pasar dua biji s**u satu gelas, siangnya ia melupakan makan siangnya, kalo sampai makan malam saja ia lalaikan apa kabar dengan lambungnya.
Lelah sudah pasti malah menjadi teman setia Nika sejak dulu karena sering tak ia hiraukan jadi sudah biasa saja, tepat pukul delapan malam syuting off air Rama usai sekarang Rama dan Nika sudah meninggalkan studio televisi.
“Pak Mail, ke studio sebentar ya saya ada perlu disana.”
“Baik Mas Rama.”
Nika memilih menunggu di mobil lumayan ia bisa sebentar memejamkan mata dengan ditemani Pak Ismail dimobil, ia juga tak ingin tahu ada urusan apa Rama kantor studio juga bukan ranah Nika bertanya.
Baru saja ia ijin memejam sebentar pada Pak Ismail ponselnya kembali bergetar dengan matanya yang sudah sangat berat ia buka ia langsung menerima panggilan telepon.
“Hallooo,”
“Mbak Nika dimana sekarang, Mbak balik ke rumah sakit Mbak—Ayah-“
“Ayah kenapa Lun?” Nika langsung membuka mata dan menegakkan badannya.
“Mbak Ayah kritiss—“ isak Luna setelah mengatakan keadaan sang Ayah.
Kebetulan rama juga baru saja kembali ke mobilnya menatap keadaan Nika yang tampak panik. “Kenapa?”
“Ayah aku kritiss..” lemas Nika.
“Pak ke rumah sakit sekarang.”
♣♣♣
Mobil belum siap berparkir Nika dengan nekat membuka pintu mobil Rama untung saja Nika tak jatuh ia bisa menyeimbangkan tubuhnya, Rama yang menatap juga kesal kenapa Nika menjadi manusia ceroboh. Segera Rama ikut menyusul Nika yang berlari menuju kearah lift.
“Jangan jadi manusia ceroboh sama g****k bisa nggak!” Rama memarahi Nika.
“Tolong jangan marah-marah dulu, aku panik.” Nika menatap Rama dengan memohon.
“Untung tadi kamu enggak kenapa-kenapa lain kali jadi smart people.” Rama menoyor kepala Nika.
“Ck—iya-iya Mas Rama, iya..”
Suara lift berdenting menghentikan disebuah bangsal dimana ruang ICU berada. Hampir saja Nika tersandung bak sampah yang keberadaan memang sedikit menghalangi jalan, untung saja reflek Rama bagus jadi Rama langsung menarik hoodie yang dipakai Nika.
“Pelan-pelan Nika, aku tahu kamu buru-buru.” peringat Rama kemudian Rama memilih untuk menggandeng Nika.
Didepan ruang ICU sudah ada adiknya saja yang menunggu disana. “Luna, gimana Ayah?”
Luna menggeleng sendu, sepertinya keadaan keadaan endra memang parah adanya. Tepat dikedatangan Nika dan Rama Chalindra keluar dari ruangan ICU, menghela nafasnya lega bahwa putri yang ia tunggu telah datang.
“Nika, kamu masuk dulu ya Ayah nanyain kamu ajak Nak Rama masuk juga ya.”
“Ayah enggak apa-apa kan Bu?” Chalinda menggeleng menampilkan wajah tak akan terjadi apa-apa pada Endra.
“Kita masuk saja dulu.” Rama menengahi.
Mereka masuk sesuai aturan rumah sakit, karena Endra meminta bertemu dengan keduanya dokterpun terpaksa memperbolehkan. Mereka menggunakan baju steril yang diberikan perawat. Nika lebih dulu masuk menuju dimana sang Ayah berbaring. Ia semakin menangis alat-alat penyongkong hidup Ayahnya begitu banyak.
“Ayah..Assalamu’alaikum..” sapa Nika dengan menahan isak.
“Sha-Shanika—sini Nak—Ayah kangen sekali.” ujar Endra dengan suara patah-patah.
“Nika juga kangen Ayah, Ayah ayo sembuh dong—Nika mau nikah, Ayah mesti ada disaat Nika nikah nanti ya.”
“InsyaAllah—Mana Ra-Rama?”
“Saya disini Om—apa kabar Om? Semoga segera pulih agar Om juga bisa menemani Nika saat saya mengucap akad nanti.”
Endra hanya tersenyum kecil. “Rama apa sa-saya boleh pesan sesuatu pada kamu?”
“Boleh Om—“
“Tolong jaga Nika, bahagiakan Nika, jangan pernah buat putri saya sengsara hidupnya sedari kecil sudah susah, saya minta kamu bahagiakan dia Rama.”
“Ayahhh—“
“Saya Ayah yang gagal, saya Ayah yang penyakitan harusnya saya yang membahagia Nika sedari kecil, jadi saya minta kamu untuk membahagia dan menyenangkan putri sulung kesayangan saya ya Rama, bisakah?”
“Saya tidak bisa berjanji Om, tapi saya berusaha akan membuat Nika bahagia, saya akan mengusaha kan hidup Nika tak lagi sensara,”
Endra mengangguk dengan senang dan terkesan puas. “Terima kasih ya, Rama.” Bahwasanya Rama pun tak yakin bisa melakukan itu tapi ia akan berusaha. “Nika temanin Ayah baca syahadat ya Nak, mata Ayah kok jadi ngantuk banget ya.”
“Ayah ja—jangan gini, Ayah jangan ninggalin Nika—kan Ayah sudah janji.”
“Ayoo bareng sama Rama ya bacanya Ayah mau dengar..” lirih Endra.
Rama menggenggam tangan Nika memberikan kekuatan. “Ayshaduu—“ Rama mendahului.
“Ayshadu..” ulang Endra
“An-la ilaha illallah..”
“An-la—ilahaa illallah..” suara endra semakin memelan.
“Wa Ayshadu Anna..”
“Wa Asyhadu Anna…”
“Muhammada Rasulullah..” Rama dan Nika masih menuntun Endra membaca syahadat.
“Muhammada Rasullallahhh—“ suara endra melirih dan setenang air ia menutup mata serta mengembuskan nafas terakhirnya.
“Ayaaaaahhhhh—“ raung Nika ketika melihat Ayahnya sudah tak bernafas lagi. “Ayahhh—jangan gini..Nika mohonnn..”
“Innalillahi wa innaa ilahi raaji’uunn..”
♣♣♣
Rama menjadi sosok yang mengurusi segala hal, mengurusi jenazah Endra juga Rama serta dibantu oleh Pak Ismail—ia mengalah pada ego, ia juga manusia apalagi yang menghadapi ini seorang wanita semua jadi lebih baik dialah yang turun tangan. Jenazah Endra sudah dimandikan sekalian dan akan dibawa pulang.
Sedang Nika, ia sudah tak bisa berkata apa-apa lagi ia lemas dan mati rasa begitu dengan Luna yang juga menangis tersedu hanya Chalinda berusaha bertahan untuk kedua anaknya, ia menangis sama, ia hancur pasti, ia kehilangan sudah jelas, semua rasa sedih bercampur jadi satu.
“Kita pulang dulu, Jenazah Ayahmu akan diantar dengan ambulan Pak Ismail udah nunggu di lobi.” Nika hanya mengangguk Rama membantu ketiga perempuan itu.
Didepan mobil Rama mobil ambulan bergerak membawa jenazah Endra, tangis masih ia dengar rasanya ingin berkata berhenti menangis juga tak sampai hati. Sesampainya di rumah Nika keluarga Nika sudah berada disana rumah pun sudah rapi sementara jenazah endra juga sudah diturunkan dari ambulan.
Rama mengantar Nika, Ibu Chalinda dan juga Luna disambut tangis sedih dari semua keluarga Rama hanya diam membisu sedang Pak Ismail membantu Rama menurunkan barang-barang serta menyerahkan pada keluarga Nika.
“Selamat malam Om, saya Rama.”
“Selamat Malam Mas Rama—Maaf Mas Rama ini siapanya Nika?”
“Saya calon suami Nika Om—“
“Oh iya saya mengerti, nanti saja. Masuk dulu saja Mas Rama.” Paklik Nika.
Rama merasakan atmosfir kesedihan yang menyayat lara, Nika dan Luna setia memeluk sang Ayah, ia melihat seorang putri yang begitu menyayangi sang Ayhanya tanpa pamrih. Kemudian Rama mendekati Nika dan Luna membawa keduanya untuk tak terlalu meratapi keadaan.
“Sudah—Ayah sudah tenang dan juga udah enggak sakit—kalian harus ikhlas.” Rama seperti membisikkan mantra.
“Ayah ak—aku kenapa—di am-ambil Mas Ramaa..” isak Luna dalam pelukan Rama.
“Karena Tuhan sudah memberikan obat paling baik untuk Ayah biar nggak sakit lagi.”
“Kenapa secepat ini..” giliran Nika yang mengeluh.
“Ini sudah waktunya—sudah jangan menangis, nanti Ayah semakin sedih.”
Malam itu jenazah Endra dimalamkan dirumah sebelum besok dimakamkan, mengingat hari sudah sangat larut sudah tak pantas melanjutkan pemakaman. Sedang Rama masih berada disana tentu dengan Pak Ismail yang setia menemani bosnya.
“Maafin Rama Om karena tadi tak berani untuk berkata janji tapi sekarang saya berani untuk berjanji didepan Om bahwa saya akan sekuat tenaga membahagiakan putri Om Endra, saya janji bila saya lalai saya akan menghukum saya sendiri..”
Rama memang laki-laki b***t tapi ia juga bisa menjadi manusia yang sebnaarnya manusia ia memiliki sisi kuatnya sebagai manusia. Semoga nanti ia benar bisa menjadi laki-laki yang membuat Nika bahagia meski dari awal niatnya menikahi Nika hanya sebuha siasat untuk sekarang ia akan melindungi Nika dari hal apapun, ia juga akan membahagiakan Nika, membuat hidup Nika lebih baik lagi yeah janjia seorang laki-laki.
♣♣♣
Paginya Nika seperti manusia tanpa tulang dunianya runtuh, padahal semalam ia berharap bahwa semalam itu hanyalah mimpi buruk tapi ternyata tidak didepannya tubuh sang Ayah sudah kaku serta wajahnya yang pucat. Nika kembali mengelus wajah sang Ayah dan memberikan kecupan terakhir untuk Endra sebelum peti matinya ditutup dan dipaku.
Pagi tadi Khandra juga hadir hingga siang ini tentu ditemani oleh Kirei dan juga datang bersama kedua orangtuanya, mereka ikut mengantar kepergian Endra diperistirahatan terakhirnya.
“Selamat jalan Ayah—semoga dengan-Nya Ayah sudah bahagia enggak lagi ngerasa sakit, Ayah enggak usah khawatir lagi ya Nika, Luna, sama Ibu pasti akan baik-baik aja.” bisik Nika sebelum ditarik oleh salah satu tantenya.
Sedih itu sudah pasti, sakit jangan ditanya, tak rela itu sudah seharusnya namun namanya manusia memang ada takdir yang sudah disiapkan jadi rela tak rela, ikhlas tak ikhlas tetap harus membiarkan pergi bukan.
“Mau antar Ayah ke makam..” lirih Nika.
“Iya nanti kita kesana, Nika jangn nangis lagi tapi ya.”
Peti itupun akan segera diberangkatkan dengan langkah berat Nika digandeng oleh Khandra, serta Luna digandeng oleh Kirei, Chalinda memilih tinggal dirumah ia tak kuasa melihat rumah peristirahatan suaminya.
“Mama, Rama titip Nika sama Luna ya—Rama yang ikut ke ambulannya.” Khandra hanya mengangguk mengikuti arahan sang putra.
Isakan tak bisa Nika elakkan lagi, setelah Ayahnya sudah benar-benar berada didalam tanah. Rama berada dibelakang Nika yang memeluk batu nisan Endra sedang Rama menabur bunga.
“Istirahat dengan tenang dan damai Om Endra, selamat jalan..”
♣♣♣