Kehilangan seseorang yang amat sangat berarti di hidup kita itu nyatanya memang sakit, apalagi kita kehilangan orangtua sakitnya berkali-kali lipat, pemakaman memang sudah usai bahkan rumah baru Endra pun sudah bertabur dengan bunga sedang Nika dan Luna masih sama-sama memeluk erat batu nisan sang Ayah dengan tangis isak yang meyayat hati.
Rama kali ini bersikap sabar dan menahan diri bahwasananya masih berada diumum, tak mungkin ia memaksa Nika dan Luna untuk beranjak dengan tenaga ekstranya, toh disana juga masih ada keluarga dari Nika, sedang Khandra dan Kirai dengan sabar menemani keduanya yang masih menangis memeluk mengatakan bahwa semuanya sudah selesai sang Ayah mereka tak akna kembali merasakan sakit yang selalu ia keluhkan.
“Paklik titipan Nika ya Nak Rama, kalo perlu paksakan saja tak apa.” ujar salah satu Paklik Nika.
“Iya Om saya ajak dia pulang nanti.” Paklik Nika yang bernama Bram itupun hanya mengangguk pasrah.
Rama kembali berjongkok di belakang Nika, ia masih memberikan beberapa waktu untuk Nika puas memeluk nisan sang Ayah, apalagi cuaca semakin mendung ia yakin pasti setelah ini hujan akan turun.
Menit per menit pun berlalu, Rama menatap sang Mama dan Khandra pun mengerti, mengingat waktu sudah semakin mendung. Rama memang harus tega kan, ia tak ingin antara Nika maupun Luna menangis seperti ini akhirnya Rama melakukan apa yang sejak tadi ingin ia lakukan yaitu menarik paksa Nika dari area makam Endra begitu pun dengan yang dilakukan Kirei dan saudara sepupu NIka menarik paksa Luna.
“Aku mau disiniii..” teriak Nika saat Rama dengan reflek mengangkat tubuh Nika begitupun dengan Luna yang ditarik sama paksa dengan sudara laki-lakinya yang untungnya masih tinggal disana.
“Langsung bawa ke mobil aja.” teriak Rama.
Tak lama mereka sudah berada didalam mobil hujan pun berjatuhan dengan deras, Nika dan Luna pun masih sama-sama meraung dengan tangisan mereka. Mereka tahu hanya saja terasa menyayat hati ketika orang yang mereka sayangi menangis dengan pilu.
“Sabar ya sayang—ikhlasin ayahnya yaa..” Khandra mencoba menghibur Nika dengan memeluknya.
“Mau sama Ayahh..” lirih Nika.
“Ayah udah enak, udah enggak sakit lagi sekarang tugasnya Nika doain ya, nak.”
Sesampainya dirumah baru saja Nika sampai di halaman rumah ia pingsan, tubuhnya lelah namun ia terlalu sedih mengingat kepergian sang Ayah, Rama segera mendekat kearah Nika dan menggendongnya kedalam.
Chalindra yang melihat putrinya tengah tak sadarkan diri kembali ikut panik, ia takut dan ia sedih pasti Nika benar-benar terpukul mengingat Nika ini yang snagat dekat dengan Ayahnya. Chalindra memberikan minyak angina pada Rama dengan telaten Rama mencoba menyadarkan Nika dan ia juga mendatangkan dokter pribadinya.
“Nik kayo bangun, jangan kayak gini..” Kirei ikut membantu menyadarkan Nika.
“Rei, maintain nasi ke tante Chalinda ya, dia kayaknya emang belum makan ditambah kaya gini.” pinta Rama dan Kireipun menurut.
Tidak ada yang ingin diposisi kehilangan salah satu orangtuanya, semua anak pasti menginginkan kesehatan orangtuanya dan ingin selalu bersama dengan kedua orangtuanya, namun bila salah satu dari mereka di ambil Tuhan si Anak bisa apa?
Perlahan mata Nika mulai terbuka bertepatan dokter pribadi Rama datang, segera ia mengambil pemeriksaan pada Nika. Sepenjang pemeriksaan Nika Dokter Famo menjelaskan bahwa Nika terkena maag dan perutnya sangat kosong membuat tubuhnya lemah dan beban pikiran.
“Aku suapin ya makannya—harus makan kalo enggak mau sakit.”
“Biarin aku sakit, Ayah aku pergi aku juga mau ikut pergi..”
Bukk
“Sekali lagi kamu bilang gitu aku enggak segan-segan buat beneran cekik kamu Nika!” Rama sudah habis kesabaran.
Rama lantas meninggalkan Nika, niatnya ia ingin menyuapi Nika karena tahu calon istrinya itu membutuhkan asupan, Rama juga lelah ia tahan, ia emosi dari tadi ia tahan, hingga puncaknya Nika mengatakan ia hendak ikut Ayahnya emosinya semakin meluap, Rama memang bisa baik dan sabar tapi jangan kenapa bila Rama bisa menjadi seorang monster.
♣♣♣
Tepat satu bulan berlalu dari kepergian Endra di dunia ini, Nika juga sudah menjadi lebih tenang meski belum seratus persen namun ia sudah bisa mulai berbaur dengan saudara. Selama Endra tiada para keluarga memang sering menginap dirumah minimalis Nika itu sudah cukup membuat Nika tak begitu terpuruk. Rama? Sesekali ia mampir dan membawakan beberapa makan cemilan begitu dengan Khandra dan juga Ziva yang menengok Nika.
Sore itu kebetulan jadwal Rama tak begitu padat seperti biasa, ia bisa mampir kerumah Nika dengan membawa beberapa buah tangan. Selain ia berkunjung ia juga ingin melihat kabar dari calon istrinya.
Rama menatap Nika dengan sorot mata yang sedikit terasa lega, pasalnya Nika sudha mau juga keluar dari kamar begitupun dengan Luna. Apalagi sekarang Rama tengah menemani Nika yang tengah menyaksikan acara disebuah televisi bahkan ia juga tak masalah hanya duduk lesahan.
“Dia kalo senyum cantik juga ya..” bisik hati Rama yang kemudian menggelengkan kepalanya seperti tengah mengusir sesuatu dalam pikirannya.
“Nak Rama sudah makan belum? Itu Hasan mau beli bakso kalo belum makan Ibu beliin sekalian.”
“Eh saya sudah makan kok Bu, jadi makan nanti saja.”
“Tapi tetep Ibu belikan ya nanti dimakan.”
“Yaudah kalo Ibu maksa saya nurut aja.” Chalinda pun mengangguk kemudian tertawa simpul.
Rama mengambalikan perhatiannya pada Nika yang masih setia menatap layar televisi. “Nik, udah makan belum?”
“Belum, ntar juga makan.” sahut Nika dengna cuek.
“Tadi pagi sama siang makan nggak?” Rama kembali mencoba memberikan perhatian.
“Sudah Mas Rama, Nika sudah makan tadi—Mas Rama enggak ada syuting emangnya kok masih disini?”
“Buat kamu aku kurangin dulu buat syuting.”
“Oke.”
Malam itu Rama menghabiskan waktunya hingga tengah malam, bahkan Rama dan hasan mengajak Nika serta Luna dan beberapa sepupu Nika untuk ikut bermain kartu, alhasil semalam Nika dan Luna bisa kembali tertawa tanpa beban. Rama memang berusaha mengembalikan kecerian Nika dan Luna, Nika yang akan segera menjadi istrinya serta Luna yang akan menjadi adik iparnya.
“Aku pulang dulu, habis ini langsung istirahat jangan nangis lagi ya.” Nika hanya mengangguk, bahkan Nika sudah mau mengantar Rama kedepan.
“Iya nanti langsung istirahat.”
“Bagus, kalo gitu aku pamit—besok aku ada janji sama Donni di studio, aku kabarin lagi nanti.” Nika hanya kembali menggangguk.
Rama sudah berbalik arah tapi Nika mencekal tangan Rama membuat Rama kembali berbalik menghadap Nika. “Terima kasih, terima kasih untuk semuanya Mas Rama..”
Rama menggeleng. “Aku enggak ngelakuin apa-apa, aku cuman melakukan yang terbaik aja—sana masuk.” sekarang malah gantian Rama yang menahan Nika, tanpa aba-aba Rama mencium kening Nika sedikit agak lama sebelum tersadar dengan suara dehaman membuat Rama memisahkan diri sari Nika.
“Aku balik dulu, selamat malam.”
♣♣♣
Donna dan Bi Innah menyambut kedatangan Nika dengan hangat, mereka memeluk Nika memberikan kekuatan dan semangat begitupun dengan Nika yang sudah bisa menerima kepergian sang Ayah dengan hati yang ikhlas, ia sadar tak mungkin terus menerus menangisi kepergian sang Ayah.
Rama turun dari lantai dua dengan handuk yang melingkar tepat dilehernya, melihat Nika sudah kembali bekerja dan tersenyum artinya ia tak sia-sia membuat Nika bangkit.
“Ecieee—nih calon istri lo dah balik kerja nih, Ram.” Donna meledek Rama dan yang malu malah Nika.
“Mbak Donna nih apaan sih, cepuin mulu ih.”
“Syukur deh dia udah mau kerja, gue kerja sebulan enggak pakai asisten soalnya.” ujar Rama tanpa dosa.
“Jangan rese dong bos—masih pagi lho ini.”
“Yang bilang malam juga siapa—sana lo siapin keperluan gue.” usir Rama pada Nika yang kini sudah kembali cemberut.
“Kumat lagi dehh,” bisik Bi Inah yang melihat majikannya dan juga asistennya mulai berdebat.
Namun begitu Rama lega, Nika sudah lebih baik—dibalik sikapnya yang memang acuh tak acuh Rama diam-diam memang merasa senang, meninggalkan rumah dan ia akan mulai acara jogging paginya.
Nika masuk ke ruang wardrobe kembali bekerja membuatnya rindu ia bekerja, ia rindu berdebat dengan Rama karena hanya sebuah baju, belum lagi menyiapkan keperluan Rama yang tak sedikit itu.
Sembari menunggu waktu Nika memang sengaja menata ulang tempat-tempat baju dan sepatu Rama yang berserakan dan tak dikembalikan dalam kotak kardusnya, memang laki-laki itu sekalinya memakai barang jarang sekali mau mengembalikan ditepat semula.
Nika meraih kotak kerdus yang sialnya letak kardusnya terlalu jauh dari jangkauan Nika, ia berusaha untuk mencapai kotak kardus tersebut tapi saat ia berusaha mencapai kardus itu kursi yang ia gunakan untuk ia berpijak oleng keseimbangan Nika oleng.
Aaaaaaa bruukk..
Tampak Nika mengernyit harusnya ia kesakitan kenapa badannya sama sekali tak merasakan dengan perlahan Nika membuka matanya dan didepannya tepat wajah Rama tampak menatapnya dengan kesal.
“Tu—turunin aku..” cicit Nika.
Dasar Rama memang bila tak usil bukan dirinya, bukannya membantu Nika menurunkan dengan benar tapi malah menjatuhkan kebawah. “Awwsss—Mas rama niat nolongin saya nggak sih?!”
“Enggak kan gue kasihan jadi tolongin, terus lo minta turun ya gue turuninlah.”
“Ya enggak gitu juga, udah sana jangan disini bikin emosi mulu heran.” Sungut Nika mengusir Rama. “Niat nolongin kok malah dijatuhin terus tadi ngapain nahan tubuh aku kalo akhirnya dijatuhin juga, bikin kesel.” Nika marah-marah disaat Rama masih berada disana.
Rama yang mendengar omelan Nika hanya tertawa tanpa suara, senang sekali ia mendengarkan Nika marah-marah seperti itu—ia memang usil apalagi bila bukan untuk mendengarkan omelan dan kekesalan Nika.
Rama masih duduk dibelakang Nika dengan Nika yang memasukan sepatu rama di dalam kardus, sepertinya mendengar omelan Nika nanti akan menjadi hobi Rama setelah menikah, tak sabar sekali ia ingin menjahili Nika.
“Udah dibilangin ya kalo nolong orang tuh yang ikhlas bukan udah ditolongin malah dijatuhin, emang bukan manusia sih kayaknya.”
Rama semakin tak kuat menahan tawanya mendengar ocehan Nika, lantas Rama melingkarkan lengannya dipinggang Nikaww memeluk Nika dari belakang sembari menyadarkan dagunya dibahu Nika.
“Ini apaan lagi coba, pakai meluk-meluk lagi bukan muhrim—sana lepas—ishhh—“
Cuupp
Cuuppp
Nahkan begini saja Nika malah tak berkutik, Rama nekat memberikan ciuman pada Nika tepat di ujung bibir Nika—Nika tampak kaku seperti sehabis tersengat listrik.
“Hahahahahaha—oh jadi ini ya obatnya biar calon istriku enggak makin lebih lama marah-marahnya, obatnya cumain dicium ya Nik.” bisik Rama menggoda Nika.
“Nanti kalo udah nikah kamu ngomel-ngomel terus enggak cuman aku cium sih—aku tidurin..”
Seperti tersadar Nika lantas membalikkan badannya dan menyerang Rama bertubi-tubi. “Masss Rrraaammaaaa—“
“Hahahahahahaha—ampunnn Nikkkk—“
♣♣♣
Kirei menemani Nika mala mini, besok—ya besok adalah harinya dimana ia akan menjadi istri dari Rama Wardan Yuda, artis papan atas dan juga pengusaha. Sampai sekarang Nika masih tak menyangka dengan takdir yang membawanya hingga diwaktu saat ini, menikah dengan artis mana pernah jadi angan-angannya, ia bisa menikah saja sudah bersyukur dan menemukan seorang jodoh yang baik tapi malah Tuhan memberikan Nika jodoh yang benar-benar spesial.
Besok pernikahannya digelar disalah satu hotel di Bandung, Rama sengaja memilih Bandung adalah kota yang tepat ia rasa aman dari media apalagi pernikahannya ini dijaga ketat hanya orang-orang yang memang Rama undang bisa masuk. Tadi sore dilakukan acara lamaran sungguh pernikahan yang semua serba mendadak—sebenarnya bukan mendadak karena sudah jauh-jauh hari Rama meminta bantuan dari jasa organizer wedding.
“Cieee-yang besok udah jadi istri Rama, seneng banget nggak neng?” Kirei membuka suara.
“Lebih enggak nyangka gue Rei, kayak mimpi enggak sih ini.”
“Gimana mau mimpi kalo buktinya ngelingker segede gitu.” Kirei menjawab Nika yang menatap cincin dengan permata diatasnya dijari manis kirinya.
“Mas Rama kenapa milih aku ya Rei, kan ceweknya dia banyak.”
“Karena abang gue mau berubah Nik—udah deh jangan ngaco, tidur udah jam dua belas malem nih, besok lo harus bangun pagi buat nikah kan.”
“Gue deg-degan nggak bisa tidur.” keluh Nika.
“Kalo enggak bisa tidur, tidurin aja—udah gue mau tidur.” Kirei menutup perbincangan malam itu dan Nika berusaha memejam mata.
Tidur, aku tahu kamu belum tidur.
Tidur, mejamin mata kalo enggak besok enggak jadi nikah.
Nika tergelak matanya melotot bisa-bisanya Rama mengatakan enggak jadi nikah gampang sekali Rama mengatakan hal itu padahal dirinya sedang dirinya tengah gugup.
Tidur aja sana, aku lagi gugup dasar enggak pengertian!
♣♣♣