Edward dan Mae saling berpandangan dengan pandangan tidak percaya. Hal ini tentu saja membuat keduanya kikuk. Secepat kilat Mae memalingkan wajahnya dan berdeham. Mencoba untuk menenangkan hati dan pikirannya. Saat ini dia tidak boleh terbawa suasana. "Apa maksud Ibu? Fred dan Mae?" decak Edward kesal. "Demi Tuhan! Saat ini dia masih istriku!" Berbeda dengan Edward yang mulai jengkel dengan permainan Ibunya, Hera tampak tenang menyesap teh miliknya. Setelah selesai dia meletakkan cangkir putih polos itu dengan hati-hati lalu memandang putra semata wayangnya. "Jika dia masih istrimu? Mengapa kamu sebagai suami selama ini tidak ada di sisinya? Malahan di sisi perempuan lain?" Edward tidak menjawab. Ia tahu jika dirinya tidak pantas disebut sebagai suami. Ibunya benar. Ia tidak melakukan

