Bab 23

4234 Kata
Saat aku berkaca pada dunia, tak ada wajah kebaikan yang kutemukan. Hanya getir dan rasa sakit yang menyelimuti. | | | Tahun 1988 London — Ingris 23:49                                                                                         Kaki kecil Neo melangkah gontai di tengah deras nya hujan. Tanah yang awalnya kering, kini basah dan berubah menjadi lumpur perlahan. Sekop yang dapatkan dari gudang bawah tanah rumah yang selalu menjadi tempat nya pulang, dia ambil dan dia gunakan untuk menguburkan tubuh-tubuh yang sudah berbau sangat anyir. Sepatu kebesaran yang selalu dia pakai sudah di mana, kini kaki nya sudah penuh dengan lumpur dan sedikit darah yang ke luar karena lecet, usai menggali lubang-lubang di halaman depan rumah mereka untuk peristirahatan terakhir saudara-saudara nya. Sekarang, makam-makam dengan ukuran yang nyaris sama itu berjejer sangat rapi, tergunduk tanah tinggi hasil kerja keras seorang bocah yang hatinya sudah hancur berkeping-keping. Air matanya bahkan sudah habis hanya untuk menangisi semua saudara nya yang di bunuh dengan kejam oleh Hetshin, orang yang sudah dia anggap saudara nya sendiri. Di tengah guyuran air hujan, Neo kecil membuang sembarang sekop yang sudah selesai dia gunakan, kemudian pergi meninggalkan gundukan tanah itu. Dia tidak tahu harus melangkah ke mana, jalanan kah? Panti asuhan kah? Karena setelah semua ini, tidak ada lagi yang bisa Neo percayai kecuali dirinya sendiri. Dalam hatinya, dia ingin sekali membalas, ingin membunuh orang yang sudah membunuh seluruh keluarga nya, namun dia tidak punya kekuatan apa pun. Dia hanya anak kecil yang bahkan tenaganya saja tidak cukup untuk mengangkut satu karung penuh berisi gandum ke atas truk pengangkut, lalu, bagai mana caranya dia membalaskan dendam yang dia miliki? Malam telah berganti pagi setelah Neo berhasil menggali semua lubang untuk memakamkan seluruh saudara nya, termasuk raya yang dia sayangi, meski begitu, hujan belum juga berhenti. Langit seolah sedang menertawakan nya karena ketidak mampuan nya menjaga mereka. Jika saja, ya ... jika saja Neo tidak menerima perintah Uncle Bob untuk membersihkan kandang babi malam tadi, mungkin dia tidak akan seperti ini, mungkin keluarga nya masih hidup, jika pun mati, dia mungkin ikut mati juga dengan mereka di sana. Tapi lihat dia sekarang. Dia masih hidup dengan semua beban yang tidak bisa dia tampung dalam tubuh kecil nya. Ladang gandum siap panen yang mengelilingi rumah bobrok nya bergoyang layu karena berat menampung air hujan, terlihat sangat mengerikan karena langit sama sekali tidak memperlihatkan bagai mana indah nya pagi yang biasa nya dia lihat. Semua nya gelap, dan basah. Ke mana dia harus pergi? Ke mana dia harus mencari? Sedang ujung dunia adalah tempat di mana dia berdiri? Masih di tengah guyuran hujan, Neo kecil terus berjalan meninggalkan perkebunan itu dan terus menuju ke kota. Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan di sana jika dia tiba, tapi setidak nya, dia bisa mendapat sedikit titik terang jika dia mendengar sesuatu tentang pria bernama Hetshin Zoax, juga Garnet dan alasan kenapa pria kecil itu membunuh semua keluarga nya. Saat sedang berjalan sendirian di tengah hujan, sebuah mobil box melintas dengan cahaya lampunya yang menyilaukan, hingga tanpa sengaja, Neo terjatuh karena tersandung kerikil yang tergenang oleh air hujan. Membuat mobil itu berhenti dan penumpang di dalam nya turun untuk menghampiri Neo yang terjatuh. “Hei, nak? Kau tidak apa-apa?” tanya pria itu penasaran sambil mencoba membantu Neo untuk bangun, Dengan lemah, Neo menggelengkan kepala, meski air matanya tidak terlihat karena tersamar kan oleh air hujan, namun wajah penuh kesedihan itu benar-benar tidak bisa di sembunyikan dari apa pun. “Kau kau ke mana?” Wajah Neo terangkat, dia mungkin tidak mengenal orang itu, tapi dengan baiknya, orang itu menanyainya dengan lembut. Hingga akhir nya, lidah Neo yang terasa kelu terbata mengeluarkan satu kata,  “Kota ....” “Aku juga akan ke kota. Kau bisa duduk di belakang, kan?” Wajah Neo berpaling, melihat mobil box yang mungkin akan membawa nya ke kota lebih cepat dari pada dia harus berjalan kaki yang mungkin butuh waktu belasan jam. Meski awal nya ragu, akhir nya Neo menerima tawaran orang tersebut dan naik ke dalam box mobil tersebut. Di dalam box itu berisi daging dengan bau anyir yang mengganggu. Bau yang mengingatkannya pada keluarga nya yang baru saja dia kuburkan, membuat nya sangat ingin muntah, namun dia tahan mati-matian.  Dan ternyata mobil itu membawa nya ke kota, Neo diturunkan tepat di pintu belakang sebuah toko daging. Saat kaki Neo berhasil menyentuh tanah, dia langsung memuntahkan isi perut nya yang dia tahan sejak tadi. “Kau tidak apa-apa, bocah?” Tanya orang itu panik saat mendapati Neo sedang memuntahkan isi perut nya sesaat setelah mereka tiba. Namun Neo hanya menjawab pertanyaan itu dengan sebuah gelengan kepala. “Maaf, aku hanya bisa mengantar mu sampai di sini.” Ujar orang itu masih dengan nada nya yang ramah. Sekali lagi, Neo menggeleng kan kepala nya sebelum menjawab, “Tidak, terima kasih karena sudah memberi ku tumpangan.” Ujar Neo lantas berjalan menjauh dari sana. Baru beberapa langkah dia meninggal kan orang yang mengendarai mobil box itu, seorang pria tinggi besar dengan tampang mengerikan khas tukang jagal ke luar dari balik pintu toko daging tersebut. Saat Neo berusaha tidak peduli, telinga nya mendengar beberapa percakapan yang mengatakan kalau daging rusak yang dipesan pemilik toko itu hanya bisa di sediakan nya beberapa puluh kilogram saja, sisa nya adalah daging segar dengan kualitas terbaik seperti pesanan si pemilik toko. Neo tidak paham pembicaraan mereka dan memilih untuk terus berjalan. Mencari apa yang dia tidak tahu namun tetap terus dia usahakan. Berhari-hari Neo berjalan, tanpa makanan dan minuman. Setiba nya dia di kota pun dia hanya di anggap gelandangan tak berguna. Entah berjalan ke mana, datang ke tempat apa, dia selalu di usir, bahkan tak jarang orang-orang menyiram nya dengan air bekas cucian piring agar pergi dari sana. Karena tidak makan dan minum selama berhari-hari, Neo sama sekali tidak memiliki tenaga. Jangan kan untuk melawan, untuk berjalan pun kadang dia terseok di antara orang-orang hingga akhir nya terjatuh dan terluka. Tak ada pertolongan, hanya makian dan umpat sebal dari mereka yang bahkan sengaja menabrak Neo kecil hingga tersungkur. “Bocah sialan! Kau lihat bajuku? Hari ini aku ada wawancara kerja!” Tunjuk seorang pria muda pada Neo yang tidak sengaja sudah menyenggol nya dan sedikit mengotori kemeja putih yang di kenakan pria tersebut. “Ma —maafkan aku ...,” “Maaf kau bilang?!” Geram pria itu kemudian menjambak rambut Neo yang sudah berubah gimbal karena terkena panas dan air hujan, juga udara lembab selama berhari-hari. Ya, jangankan untuk memikirkan penampilan nya, dalam kepala Neo saat ini hanya bagai mana cara nya dia mencari tahu tentang Garnet juga keberadaan tentang Hetshin. Wajar saja jika pria itu marah pada nya dan melampiaskan kekesalan nya karena pakaian bersih yang dia pakai sudah terkotori oleh nya walau hanya sedikit. PLAK! Wajah Neo di tampar sangat keras hingga meninggal kan bekas kemerahan yang mungkin akan berubah jadi biru hanya dalam hitungan jam. “Menjijikan!” Hardik nya setelah melemparkan tubuh ringkik Neo ke atas aspal berlumpur, hingga tanpa sengaja cipratan nya lagi-lagi mengenai pakaian pria itu, dan membuat nya kembali murka hingga menendang tubuh Neo sangat keras. Menjerit. Harusnya itu yang dilakukan Neo, namun apa yang bisa dia lakukan saat tenaganya sudah habis. Bahkan suaranya pun sudah tidak bisa lagi ke luar meski itu hanya sedikit mengaduh karena rasa sakit yang dia terima. Setelah puas melampiaskan kekesalannya pada tubuh ringkik Neo, pria itu pun pergi sambil mengibas-ngibas pakaian nya yang mungkin saja masih tersisa kotoran dari bocah kumal yang barusan dia hajar hingga kini terdiam di tanah tanpa bisa berbuat apa pun. Ketika malam datang, Neo akan meringkuk kedinginan di gang-gang sempit dan bocor, tempat tinggal tikus got dan kucing jalanan selalu berkumpul, bahkan tak jarang dia mendapat lolongan anjing liar yang sudah menandai wilayahnya duluan, namun ditempati oleh Neo. Suara gongongan anjing terdengar sangat nyaring di telinga Neo. Namun, dia tidak dapat berbuat apa pun kecuali mendengarkan dan melihat bagai mana beberapa anjing lain mulai berdatangan karena tertarik denan keributan yang dibuat anjing pertama. Mereka ikut-ikutan menggonggong dan meminta Neo untuk menyingkir dari sana, tapi yang bisa di lakukan bocah itu, sementara dia sudah tidak memiliki tenaga untuk melawan. “Pergi dari sini, aku tidak punya urusan dengan kalian!” ujar Neo dengan suaranya yang terdengar berbisik. Jika saja dia masih punya cadangan tenaga, mungkin suaranya akan terdengar sangat lantang hingga membuat anjing-anjing itu ketakutan lalu lari tunggang-langgang. Namun tidak, Neo tidak bisa melakukan itu. Dia hanya mampu menulik kan pendengaran nya, menutup mata nya rapat sambil memeluk lutut nya, dan menenggelam kan wajah lelah nya di dalam lutut, mengabaikan anjing-anjing yang mungkin saja menerkam nya, sambil terus menggumam kan satu nama ..., “Dere ....”                                                                    ₪ ₪ ₪                                                                          Langkah kecil Neo kembali terseok di antara aspal dan kerikil yang menusuk telapak kaki nya tanpa ampun. Setelah berhari-hari berjalan, mendengar kan dan mencari tanpa henti, kaki kecil itu mulai terasa lemas. Tak ada sedikit pun makanan yang masuk ke dalam mulut nya, air pun hanya tetesan dari sambungan pipa yang sedikit bocor, yang mampu menghilangkan haus nya meski hanya sedikit. Dia seperti manusia yang mungkin sebentar lagi mati. Tapi jika dia mati sekarang, siapa yang akan menyelamat kan Dere? Siapa yang akan membalas kan dendamnya pada Hetshin? Sementara tak ada lagi manusia yang bisa dia percaya di dunia ini. BRUGH! Tubuh kecil Neo kembali tersungkur saat seseorang menabrak nya dari belakang. Dia hanya merasakan sakit, namun saat dia mencoba melihat orang yang membuat nya terjatuh seperti itu, orang itu sama sekali tidak berniat meminta maaf atau mennolong nya untuk sekedar bangun. Orang itu hanya melihat nya dengan wajah takut, sementara kedua tangan nya tertelungkup di d**a seolah membawa sesuatu di sana. Mata mereka bertemu, detik selanujut nya orang yang mungkin usianya bertaut lima atau enam tahun di atas Neo melempar kan sebuah bungkusan ke arah nya, tepat mengenai d**a Neo, setelah itu dia kembali berlari. Karena penasaran dengan apa yang di lemparkan remaja itu, Neo akhir nya mencoba bangkit, dan meraih bungkusan tersebut. Betapa terkejut nya dia saat melihat kalau itu bungkusan berisi daging mentah yang cukup tebal. Neo bisa melihat bagai mana tangan kotornya dengan ujung kuku yang mulai berubah kehitaman memegang bungkusan daging mentah yang terlihat masih segar itu di sana. Namun, saat dia mencoba berdiri untuk mengembalikan benda itu pada remaja tadi, tiba-tiba kerah jaket nya ditarik seseorang dari belakang hingga dia langsung berdiri dan setengah berjinjit karenanya. “Akhir nya tertangkap juga kau pencuri tengik!” geram pria paruh baya dengan tubuh tinggi besar dan janggut tebal nya yang terlihat mengerikan di mata Neo. Di lihat dari segi apa pun, Neo yakin kalau orang itu adalah seorang penjual daging, terlihat jelas dari tubuhnya yang berbau sangat anyir juga apron yang terbuat dari bahan parasut juga terlihat basah dan beberapa noda darah di sana. Mendengar bagai mana dia dituduh pencuri, Neo yakin kalau remaja tadi memang sengaja melempar kan bungkusan daging nya pada Neo agar mereka tidak lagi dikejar oleh pria ini. Tapi sekarang, Neo harus sendirian menghadapi kemurkaan nya dan di tuduh sebagai pencuri tengik. “Aku —bukan pen —curi.” Neo mencoba membela diri dengan suara parau. Seolah tidak mendengarkan pembelaan Neo, pria besar itu menarik bungkusan daging di tangan Neo paksa, bahkan tanpa sadar, tangan besar itu sudah sekaligus meremas tangan mungil Neo, hingga pria kecil itu mengerang kesakitan. Usai mengantongi bungkusan daging tadi ke dalam saku celemek yang dia pakai, pria itu lantas menampar wajah Neo. “Berani sekali kau mencuri di tempatku, hah?! Di mana temanmu yang tadi?” tanya nya dengan tangan yang terus menampar wajah Neo. “Katakan!” Apa? Apa yang harus Neo katakan? Sementara dia memang tidak mengenal remaja tadi. Karena mendengar keributan dan merasa ada tontonan gratis, orang-orang yang awal nya hanya berjalan dan berusaha tidak peduli, akhir nya mulai berkerumun, melihat bagai mana seorang pria tinggi besar sedang ‘memberi pelajaran’ pada seorang bocah ‘nakal’ yang dia tangkap. Tanpa henti, tangan besar pria itu terus memukul dan menampar wajah Neo, bahkan sesekali rambutnya yang sudah berubah gimbal pun di jambak dan tercabut dari akarnya, menyisakan rintihan dan kesakitan di wajah bocah itu. Tapi tetap saja Neo tidak bisa melawan, tubuhnya sudah tidak bertenaga. Bahkan jika malaikat maut ingin mencabut nyawa nya sekali pun, dia akan dengan senang hati mati, membawa dendam yang akan ikut bersama nya. Ya, dendam .... Sepasang iris zamrud Neo berkelat tajam menatap wajah pria besar yang masih menggantung tubuh nya seperti potongan daging segar yang siap di kuliti kapan saja. “Aku —bukan —pen —curi!” Lagi-lagi kalimat yang sama yang di keluarkan Neo. Tentu saja hal itu menyulut kemarahan besar pria besar itu hingga akhir nya, tangan nya kembali terangkat untuk sekali lagi menampar wajah Neo, namun saat tangan itu mulai melayang, tangan lain menghentikannya tiba-tiba. “Ha?! Siapa kau?!” tanyanya dengan nada sangat tinggi. Sementara pria itu, hanya tersenyum. Wajah tampannya sangat indah dipandang, mulai dari ujung kepala hingga kaki, penampilan pria itu mirip seperti para bangsawan yang sering Neo lihat di kota. Menggunakan setelan hitam, dengan coat panjang dan bagus. Hanya saja, sepasang iris pria itu terlihat tidak biasa. Sepasang matanya berwarna keemasan, seperti sepasang mata binatang buas, dengan senyum manis yang membungkus kengerian di dalam nya. “Anda tidak bisa menghajar dan menganiaya seorang anak kecil seperti ini, tuan.” Ujarnya tanpa melepaskan senyum yang merekah di wajah tampan itu. “Tentu saja aku bisa! Dia sudah mencuri daging-daaging di tokoku!” “Apa anda punya bukti kalau dia yang mencurinya?” “Tentu saja!” pria besar itu mengeluarkan sebungkus daging segar dari dalam celemek yang dia pakai. Semua orang tertegun dan menyeruakan kalimat yang terdengar samar dan terkesan berbisik di telinga Neo, namun dia yakin, dengan bukti yang sedang dipegang pria tinggi besar itu, tidak mungkin jika mereka tidak akan menuduh Neo sebagai orang baik di sini. “Sudah puas?! Jadi tidak salah, bukan jika aku membunuh anak ini?” “Membunuh?” “Ya! Apa masalahmu? Dia ini pencuri! Paling tidak, aku berhak memotong satu tangan atau kaki nya hingga dia cacat dan mati kelaparan di jalanan!” Pria itu tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil beberapa kali memejamkan matanya, seolah dia ingin tertawa namun suaranya masih terus dia tahan. “Apa yang kau tertawakan?!” Bentak pria itu lantas mengeratkan cengekramannya pada kelapa Neo dan sekali lagi membuat bocah itu meringis kesakitan. “Tidak ada, aku hanya lucu melihat manusia sepertimu.” “Apa kau bilang?!” “Kau menuduh anak ini pencuri sementara kau sendiri apa?” “Apa maksudmu?! Katakan dengan jelas!” Pria itu merogoh saku jas yang dia pakai. Mengeluarkan beberapa lembar foto yang kemudian dia memperlihatkan pada publik. Dalam lembar-lembar foto itu, terpampang jelas bagai mana pria bertubuh tinggi besar tersebut berbicara dengan seseorang di sebelah sebuah mobil box yang berisi karung-karung entah apa, dan di foto lainnya, ada dua jenis karung berbeda, satu berwarna lebih terang dengan warna darah yang lebih telihat cerah dan lain lebih gelap seperti terkena lumpur dan darah yang terlihat sudah kering, ditumpuk terpisah sesuai karung-karung dan warna mereka, sementara di foto lain, memperlihatkan bagai mana pria itu membuka karung yang berwarna agak gelap ke dalam tadi dan menumpahkan isinya ke dalam sebuah tong besar yang di bawahnya adalah sebuah tungku. Isi karung itu adalah daging. Namun, setelah dia memasukkan daging dari karung yang kotor tadi ke dalam tong, dia juga menuangkan satu jerigen cairan entah apa ke dalam nya juga. Foto-foto terangkai menjadi satu seperti sebuah rekaman film yang terkesan hidup. “Tuan Carl Elioster. Anda adalah pemilik rumah jagal babi di kawasan Foster Street, dan sudah beroprasi sejak spuluh tahun terakhir. Pendiri awalnya adalah ayah anda, Elioster Rohand, namun karena meninggal di usia enam puluh tujuh tahun karena serangan jantung, anda sebagai anak laki-laki satu-satunyalah yang berhak meneruskan usaha tersebut. Tapi, sayang sekali, kejujuran ayah anda tidak anda manfaatkan dengan baik sampai berlaku curang dengan membeli hewan yang sakit dan daging busuk untuk anda olah kemudian anda jual murah di restoran yang milik istri anda, Nyonya Anna Elioster.” Jelas pria itu gamblang tanpa keraguan sedikit pun. Mendengar penjelasan itu, sontak saja semua orang yang berkumpul sangat histeris, mereka ketakutan, saling berbisik dan mulai memprotes kebenaran tersebut. “O—omong kosong macam apa ini?! Istriku memang punya restoran, tapi daging yang kukirim ke sana adalah daging segar semua nya!” “Benarkah? Lalu bagai mana dengan daging ini?” Pria itu melempar sekantung daging dari dalam saku jas yang sama tepat ke kaki pria tinggi besar tersebut. “Itu adalah daging yang saya beli dari anda siang ini, dan ini, adalah hasil laboratorium yang saya dapatkan dari dinas kesehatan kota. Kalau anda tidak percaya, silakan anda ambil daging itu dan cek di sana.” “Bohong! Pria ini sedang berbohong!” Dia masih berdalih. “Bisa saja dia membeli daging dari toko lain dan me—“ “Di kota ini, hanya toko anda, kan yang memberikan struk belanja dengan nama dan logo toko pada pelanggan? Dan ini juga saya dapatkan dari sana, sebagai tanda bukti. Di situ tertulis jelas, jam, jenis daging dan harga yang anda berikan pada saya.” Ujar pria itu kemudian melempar selembar kertas ke arah yang sama. Wajah pria tinggi bernama Carl Elioster itu berubah merah karena marah, dia menggeram, mencengkeram rambut Neo yang sama sekali belum dia lepaskan sejak tadi, kemudian mehempaskan bocah itu sekuat tenaga, namun dengan cepat, pria dengan sepasang mata berwarna keemasan itu segera menangkap tubuh kecil Neo ke dalam pelukannya. “Aku tidak terima ini! Ka—“ Pria besar itu ternganga. Angin di sekitar mereka tiba-tiba berhenti, bahkan suara orang-orang yang terdengar sangat berisik sejak tadi pun berhenti. Tubuh-tubuh bernyawa itu seperti tersihir dan berubah menjai patung dalam sekejap. ‘Ada apa ini?’ pikir Neo, apa dia mati? “Anda baik-baik saja?” Sepasang mata Neo mengerjap. Saat semua orang berubah membeku seperti manekin, pria yang masih membawa Neo dalam gendongannya itu malah bertanya seolah semua hal baik-baik saja. Dan dia juga masih hidup. Karena ketakutan, Neo bisa merasakan napas nya memburu sangat hebat. Jantungnya berdegup sangat kencang dan sekujur tubuhnya bergetar karena hal tersebut. “Anda tidak perlu takut pada saya.” Ujarnya lagi. “Si—siapa kau?” “Anda yang sudah memanggil saya.” “A—aku?” “Kebencian anda, yang sudah menarik saya dari dasar neraka.” “A—aku tidak mengerti.” Neo sedikit menggelengkan kepala nya. “Nah, nanti anda akan mengerti, sekarang ... beritahu saya permintaan pertama anda dan untuk harga yang harus anda bayar, tentu cukup mahal, tapi untuk setiap permintaan adalah harga yang pantas saya dapatkan.” “Masudmu apa?” sekali lagi Neo menggeleng, “Aku sama sekali tidak paham?” Lagi-lagi Neo bertanya, namun hanya di jawab senyuman oleh pria itu. “Saya hanya ingin mendengar permintaan anda.” Ulang pria itu, “Apa orang ini harus mati? Atau hidup?” Tunjuknya pada pria yang sama sekali tidak bergerak di hadapan Neo. Namun, bukan orang-orang itu yang tidak bergerak, tapi waktu yang tidak bergerak. Waktu di antara mereka diam di tmpat dan seolah membuat semua nya mati dalam sekejap. Bahkan Neo bisa melihat dedaun yang jatuh dari atas pohon pun berhenti, semut di bawah kaki nya juga sama, semua nya berhenti, tapi tidak dengan nya dan pria yang sekarang sedang menolongnya. Tapi pria yang menolongnya itu tidak seperti yang dia kira. Dia ingin membuat Neo jadi seorang pembunuh. “Kau ingin membunuh nya?” Ulang pria itu tanpa melepaskan senyum di wajah nya. Tapi Neo tentu saja tidak ingin melakukan hal seperti itu, karena jika dia melakukannya, maka dia tidak halnya Hetshin yang sudah membantai seluruh ke luarganya di rumah mereka. “Dia sudah menyakiti anda, apa tidak boleh kulukai dia walau seujung rambut pun?” Pria itu mengulanginya lagi. Neo hanya diam, matanya tak berhenti menelisik wajah pria yang sekarang sedang berbaik hati menolongnya. Wajah pria itu memang sangat tampan, tulang hidung nya tidak terlalu tinggi dengan garis wajah oval yang lembut. Bahkan senyum yang mengembang di sana pun tak pernah dia lepaskan, meski Neo merasa kalau ada banyak sekali kengerian di sana. Ya, wajah itu tersenyum, tapi sepasang mata berwarna keemasan milik nya sama sekali tidak tersenyum. Sangat mengerikan, seperti ekspresi pembunuh seorang berdarah dingin. Susah payah Neo menelan seteguk ludah sebelum akhir nya dia mulai bicara setelah mengumpulkan semua keberanian yang tersisa. “Tidak, turunkan aku dan pergilah.” “Anda yakin?” “Aku tidak mengenalmu, dan aku tidak pernah merasa memanggilmu untuk datang kemari.” “Anda yakin tidak ingin membunuh orang yang sudah menyakiti anda?” Ulangnya. Neo tahu kalau pria tinggi besar itu sudah menghajar dan menuduhnya sebagai pencuri, hanya karena seorang remaja yang sebenarnya mencuri di toko pria itu melemparkan sekantung daging pada Neo yang tidak sengaja dia tabrak. Tapi bukan berarti Neo bisa begitu saja membalas kelakuan tidak bermoral seperti itu dengan tindakan tidak bermoral lain yang tidak termaafkan. “Aku tidak pernah bertemu dengan mu, bagai mana aku bisa memanggilmu.” Jawab Neo memutuskan. Pria itu tersenyum. Mengangguk sejenak sebelum akhir nya sepasang mata berwarna keemasan itu berubah semerah darah. “Baiklah, kita abaikan manusia tidak berguna itu.” Pria tampan itu menurunkan Neo ke tanah, namun saat kaki kecil bocah itu benar-benar menyentuh tanah, dia tidak di tempat itu lagi. Dia di tempat lain, tempat di mana dia menjadi penonton untuk orang-orang yang mengelilingi pria tinggi besar penjual daging itu. “Tapi, anda harus tahu, bahwa manusia adalah makluk yang tidak lebih baik dari binatang. Jika saja anda meminta pada tuhan untuk dilahirkan, anda pasti akan memilih dilahirkan menjadi seekor kecoak. Diinjak, dipukul bahkan dimusnahkan pun anda memang pantas mendapatkannya karena anda memang menjijikan di mata siapa pun.” Ujarnya tanpa menanggalkan sedikit pun senyuman itu. “Tapi lihat anda sekarang, anda hanya seorang anak kecil, yang harusnya mendapat kehangatan ke luarga, mendapat pelukan saudara, tapi malah terlunta di jalanan, dihina, disiram, bahkan dipermalukan di depan umum.” Wajah Neo tertunduk. Semua ... semua yang pria itu latakan memang benar, tak ada satu pun yang salah dari semua hal yang disebutkan olehnya. “Anda ini terlalu lemah, karena anda lemah, anda kehilangan seluruh anggota ke luarga yang anda sayangi.” Sepasang iris zamrud Neo terbelalak saat dia mendengar ucapan pria di hadapan nya ini. Neo tidak mengenal siapa pun, juga tidak mengatakan apa pun pada siapa pun tentang dia dan ke luarganya yang mati. Tapi kenapa pria ini malah dengan begitu mudah mengatakan seolah dia mengetahui semua hal tentang Neo. “K—“ “Anda tidak perlu heran.” Sepasang alis neo tertaut. Dia ingin bertanya, tapi rasanyha semua isi hatinya dengan mudah sudah dibaca oleh pria ini. Tangan pria itu tertujuk ke arah Carl Elioster yang masih membeku seperti patung, di tengah kerumunan. “Orang itu akan kubuat selalu melihat anda, dia akan memaki anda, menendang tubuh anda, tapi kenyataannya dia hanya akan dianggap gila oleh semua orang. Bahkan oleh istrinya sendiri.” “Ke—kenapa seprti itu?”                     “Karena anda lemah.” Sekali lagi, kepala Neo tertunduk,  gerahamnya bergemeretak bahkan tangan nya mengepal kuat. “Anda terlalu lemah untuk membalaskan dendam anda, anda bahkan tidak punya cukup keberanian untuk mati, bukan? Jadi untuk apa anda tetap melanjutkan perjalan ini?” “Aku ingin menemukan Hetshin dan membawa kembali Dere.” Jawab Neo dengan suara rendah. “Kalau begitu ikutlah dengan saya, dan jadilah kuat.” Dia mengulurkan tangan nya ke arah Neo. Berharap sambutan hangat dari pria kecil di hadapan nya. Namun, keinginannya harus berakhir angin lalu. Neo kecil menggeleng dan memilih memalingkan pandangannya dari pria bermata keemasan itu. Kecewa? Tentu saja itu dirasakan oleh pria ini, namun tidak segera menghilangkan senyuman di wajah pria itu. “Saya akan meninggalkan anda di sini. Tapi, jangan ragu untuk memanggil saya jika anda sudah tidak bisa mengendalikan hidupmu sendiri. Jika anda sudah lelah, saya akan melayani anda.” Pria itu masih tersenyum. Namun, sesaat sebelum dia meninggalkan Neo, dia meraih tangan kecil Neo, menaruh selembar kertas di telapak tangan pria kecil itu sebelum akhir nya berjalan pergi, menghilang di tengah kerumunan orang. Satu langkah, ketika pria itu menjauh, semua hal di sekitarnya kembali seperti semula. Semua hal yang ada di sana kembali bergerak. Bahkan suara bising kendaraan dan langkah kaki manusia pun kembali terdengar. Juga kerumunan orang yang masih di tempat nya mengelilingi Carl Elioster pun masih di sana. Karena penasaran, Neo kembali melirik kerumunan itu, di mana Carl Elioster masih marah-arah dengan posisi tangan masih seperti saat dia mencengkeram rambut Neo, juga tangan nya yang lain, yang terlihat melayang, seolah sedang memukul. Namun, tak ada siapa pun di sana. Hanya udara, hanya angin. “Apa-apaan orang itu?” Satu satu orang dari keurumunan manusia itu mulai bertanya penasaran, karena aneh melihat pria tinggi besar dengan tubuh berbau anyir dari daging yang dia jual. “Panggil polisi! Biar anak ini dijebloskan dan membusuk di penjara!” Teriak pria tinggi besar itu sangat keras, namun bukannya mendapat respon positif, tapi malah dapat cibiran dari semua orang di sana. Bahkan tak sedikit orang yang mengatai pria tinggi besar itu sebagai orang gila karena bicara hal yang tidak jelas. Orang-orang di sana pun berangsur menghilang. Sementara Carl Elioster masih terus memaki, bahkan Neo melihat pria tinggi besar itu seperti membanting sesuatu ke tanah kemudian menendangnya. Neo benar-benar dibuat takjub dengan apa yang dia lihat. Tentu saja, ucapan pria tadi benar-benar terjadi. Carl Elioster terus memaki dan mengutuk, menghajar dan menendang, namun bukan padanya, tapi pada udara. Pada angin. Pada sesuatu yang tidak ada. _
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN