Bab 22

1388 Kata
Katakan pada ku kalau bumi itu sempit, hingga aku akhir nya tidak perlu lagi mencarimu. | | | Meninggalkan Neo dan Ash yang masuk ke dalam obrolan mereka, di tempat lain Nana yang masih terus berlari sama sekali tidak berusaha kembali ke tempat di mana pertama kali datang, yaitu rumah Neo Arguandral. Nana yakin kalau semua yang dia alami dalam satu hari ini ada sangkut pautnya dengan pria beriris zamrud tersebut, juga pelayannya yang bernama Ash. Bukan hanya itu, Nana juga yakin kalau yang menyembunyikan Hetshin adalah Ash yang juga sudah membunuh orang-orang di Burlington House itu secara sadis. Sungguh, kalau saja dia tahu dari awal bahwa Neo Arguandral adalah manusia demikian, tidak akan pernah dia menandatangani perjanjian hutang dengan nya waktu itu. Lagi pula, untuk semua yang terjadi, semua kejadian beruntun itu berawal sejak Nana terjebak dengan kedua orang dari rumah di atas South Bank Tower itu. Seandainya dia tahu kalau berurusan dengan orang-orang yang berada dengan kakak nya, akan seberbahaya ini, Nana tidak akan pernah ingin mencicipi bagai mana menikmati hidup seperti mereka kemarin. Karena sekarang, nyawa nya benar-benar diambang pertaruhan antara malaikat maut dan dewa. “Sekarang aku harus pergi ke mana?” Tanya Nana pada dirinya sendiri. Dengan kaki yang belum berhenti berlari, sekarang dia sudah benar-benar mirip seperti buronan. Lihat peluhnya yang sudah bercucuran tak karuan, bahkan rambut ikal-nya pun sudah basah, sama seperti pakaiannya yang sudah tidak berbentuk, kotor dan ada beberapa robekan di sana karena pecahan kaca juga gesekan antara tubuhnya dengan aspal. Meski merasa kalau dia sudah pergi sangat jauh dari apatemennya di St. Giles, tapi tak membuat Nana sedikit pun melonggarkan kewaspadaannya. Matanya terus menatap tajam pada orang-orang yang berada di sekitarnya dan terus berharap agar tidak ada siappun di sana yang mungkin salah satu dari orang-orang itu. Brugh! Bahu Nana bertabrakan dengan seorang pria, hingga membuat pria itu seprti tidak senang karena setelah mereka bertabrakan, ponsel yang sejak tadi dia pegang jatuh karenanya. “Maafkan aku.”  Ujar Nana sambil meraih ponsel itu dari tanah. “Dasar wanita sialan. Makanya kalau jalan itu matamu pakai!” Hardiknya. Padahal seharusnya pria itu berterima kasih, karena bukan hanya Nana sudah mengambilkan ponselnya yang terjatuh dan bukan malah kebalikan nya, memaki Nana dan mengatainya seperti ini. Karena tidak terima dengan yang dikatakan pria itu, Nana akhir nya kembali mendorong bahu pria tadi hingga dia sedikit terhuyung ke belakang. “Bicara apa kau barusan?” “Apa?  Benar, kan? Kau itu buta! Makanya jalanmu tidak benar sampai menabrak orang seprti ini!” “Jaga bicaramu, ya! Aku sudah minta maaf dan tidak sepantasnya pria sepertimu berkelakuan begini pada wanita!” “Wanita? Huh, hei, b***h! Mana ada wanita baik-baik berada di luar dengan penampilan seperti ini?” tunjuknya pada Nana. Memang benar, sekarang penampilan Nana tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Dia benar-benar kacau, kalau orang yang tidak paham apa yang terjadi dengan nya mungkin mereka akan mengira kalau dia baru saja bertengkar dengan pacarnya, berkelahi dan kabur dari rumah dengan penampilan terakhir yang dia dapatkan dari hasil pertengkaran itu. Tapi bukan berarti orang ini bisa begitu saja mengejeknya dan membuat masalah baru untuk Nana. Karena membalas dengan kata-kata tidak akan berhasil atau malah membuat masalah mereka tidak akan pernah selesai, akhir nya Nana memilih melemparkan kembali ponsel yang dia ambil ke atas tanah kemudian menginjaknya hingga hancur. Sontak saja hal itu membuat pria tadi histeris, namun hal itu tidak membuat Nana menyesal. Dengan langkah congkak, gadis itu berjalan meninggalkan raungan si pria yang meratapi nasib ponselnya yang sudah tamat di bawah telapak kaki Nana. “Dasar wanita jalang! Kau harus ganti ponselku! Hei, kurnag ajar jangan kabur!” Seolah tuli. Nana terus berjalan menjauh, dia benar-benar mengabaikan apa yang sudah dia lakukan pada pria itu, padahal jika itu harus dihitung ke dalam hukum juga pasal-pasal dalam kepolisian, maka perbuatan Nana adalah salah satu tindak kriminal. Hanya saja, Nana tidak punya waktu untuk memikirkan masalah seperti itu sekarang. Karena bagai mana pun, sekarang hanya lah nyawa nya yang jadi prioritas. Tapi harus pergi ke mana dia sekarang? Kenalan, bahkan saudara pun dia tidak punya. Sementara saudara satu-satunya yang dia miliki entah di mana keberadaannya sekarang. Baru saja Nana berpikir kalau dia sudah lolos dari orang-orang itu, matanya kembali menangkap orang-orang yang saling berkomunikasi menggunakan earphone yang mereka pasang di sebelah telinga mereka. Mungkin wajah orang-orang itu terlihat sangat asing untuk Nana, namun semua gerak-gerik orang-orang yang bekerja sebagai mata-mata, sudah sangat Nana hafal. Jadi, saat dia sadar kalau dia masih dibuntuti, Nana segera masuk ke sebuah jalan kecil yang berada sekitar seratus meter dari tempat nya berdiri. Dia masuk ke dalam sana dan berakhir di area pertokoan. Karena merasa terus dibuntuti dan orang-orang itu pun sudah melihat bagai mana Nana berlari, akhir nya gadis berambut ikal setengkuk itu memutuskan untuk masuk ke sebuah toko pakaian. Awalnya Nana mendapat sapaan hangat dari karyawan toko itu, namun saat karyawan itu menawarkan diri untuk membantu Nana menemukan pakaian yang tepat untuk nya, gadis ini menolak dan memilih mencari apa yang dia perlukan sendiri. Awalnya, dengan penampilan Nana yang seprti itu, karyawan toko itu merasa khawatir, hingga akhir nya dia memilih untuk mengikuti Nana yang mulai berjalan, berputar di dalam toko sambil memilih pakaian yang mungkin dia inginkan. Awalnya, karyawan itu pikir kalau Nana akan memilih pakaian mahal dan meewah, namun ternyata, Nana hanya mengambil yang berada dari jarak jangkaunya, kemudian masuk ke dalam ruang ganti sendirian. Sementara di luar sana karyawan tadi berusaha memanggil security dan kepala toko, di dalam ruang ganti itu, Nana mulai melepas semua pakaiannya dan mengganti dengan pakaian yang dia ambil. Dari toko itu, Nana hanya mengambil sebuah celana jeans berwarna agak gelap, sebuah kaos dan jaket kulit sintetis yang beruntungnya, semua pakaian itu sangat pas di tubuhnya. Setelah mengikat rambutnya yang basah oleh keringat dengan sebuah tali karet yang dia dapat cuma-cuma di ruang ganti itu, Nana pun ke luar tanpa membawa pakaian lamanya. Dia meninggalkan pakaian itu di dalam ruang ganti, sementara dia terus berjalan ke luar. “Nona, anda bel—“ “Tenang saja, aku masih ingin mencari beberapa barang.” Ujar Nana seolah sadar kalau karyawan tadi mencurigainya. Jujur, Nana memang tidak membawa uang sepeser pun untuk membayar apa yang sudah dia ambil dan dia pakai sekarang, tapi bukan berarti Nana kehabisan akal untuk itu. Dengan keahliannya, gadis berambut ikal setengkuk itu kembali berjalan memutari toko, memilih benda-benda yang terlihat menarik, bahkan dia mengambil sebuah topi berwarna senada dengan pakaiannya, juga sebuah kacamata hitam yang tergantung di bagian belakang toko. Sadar masih tetap diawasi, Nana mulai berbaur dengan orang-orang yang sedang memilih pakaian dan berpura menjatuhkan topi yang dia ambil ke lantai, di mana rak-rak pakaian tergantung seperti jemuran. Setelah Nana berpura menjatuhkan sebuah benda, dia pun berjongkok hingga tubuhnya tidak terlihat karena tertutup oleh gantungan pakaian yang cukup banyak. Di tempat yang sama, Nana membuka jaket yang awalnya dia pakai lalu menggantinya dengan sweater tipis yang ada di sana, memakainya cepat, kemudian melepas kacamata serta mengatungi topi yang ia jatuhkan sebelum akhir nya dia kembali berdiri dan berjalan menjauh. Karena merasa curiga dengan apa yang dilakuakan Nana, bahkan setelah beberapa menit pun, Nana tidak juga berdiri, karyawan tadi mulai panik dan memanggil security dengan suara keras untuk mencari Nana di dalam toko, namun sial, Nana sudah berjalan ke luar dari toko saat semua orang meributkan soal pencuri. Beruntung bagi Nana yang pernah diajarkan cara melarikan diri dari bahaya oleh kakak nya—Hetshin—dulu, dan ajaran itu benar-benar bisa dia praktekan sekarang. Dengan pakaian yang dia curi, bersama topi juga sebuah kacamata, dengan mudah Nana bisa melarikan diri. Meski pun nanti wajah nya akan terpasang di koran pagi London, atau jadi buronan polisi dengan bekal rekaman ulang dari CCTV, dia tidak peduli. Setidak nya sekarang, Nana bisa melarikan diri. Benar saja. Baru beberapa langkah Nana meninggalkan toko,orang-orang yang mengejarnya lewat di depan hidung nya sendiri, namun karena pakaian Nana yang sudah berbeda, orang-orang itu hanya membiarkan Nana melewati mereka begitu saja, tanpa kecurigaan sedikit pun. Begitu juga dengan Nana yang terus menutupi wajah nya dengan topi juga kacamata hitam yang dia curi, Nana terus berjalan cepat dengan langkah lebar yang dia buat-buat. Setelah berhasil melewati mereka semua, Nana kemudian kembali berbelok ke sisi gang yang berada tak jauh dari toko pakaian tadi, memeriksa sekeliling sebelum akhir nya kembali berlari menjauh dari tempat itu sejauh yang dia bisa. _
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN