Katakan pada nya jika ini hanya kebohongan yang mengikat, lalu aku akan mati, dengan pedang yang merajam jantung.
|
|
|
Nana meremas-remas ujung jemari nya gelisah. Dia tahu kalau apa yang dia lihat tadi siang adalah kenyataan. Orang-orang yang mati di Burlington House itu adalah kenyataan. Tapi apa-apaan ini ....
Sudah sejak tadi Nana menyalakan TV dan mencari berita kriminal tentang pembunuhan sadis di Burlington House tadi siang, Nana sama sekali tidak menemukan satu pun saluran TV berita yang menayang kan liputan tersebut.
Padahal dengan pembunuhan sesadis itu di tempat terkenal seperti Burlington House, siapa pun akan dengan cepat mendapatkan berita nya dan waktu untuk menjadikan berita itu viral pun rasa nya tidak akan terlalu lama. Tapi...,
Berapa kali pun dia mencoba, berapa kali pun dia mencari dan berapa kali pun dia memastikan. Memang tak ada satu pun saluran TV berita yang menayangkan liputan seperti itu di mana-mana. Berita itu seolah tidak ada, semua seperti sudah terkoordinir dan seseorang seperti tak ingin kalau kasus itu sampai tercium awak media. Atau ...,
Bukan tidak mungkin jika media sudah tahu, tapi mereka lebih memilih untuk menjadikan nya sebagai arsip rahasia dan menyimpan berita itu sendirian dari pada harus di publikasi kan untuk umum. Atau juga, ada pihak-pihak terkait yang mengancam awak media untuk tidak melakukan hal itu atau mereka akan melakukan tindakan yang sama kalau sampai berita itu di turunkan?
Entahlah, Nana hanya bisa menebak dengan ketidak mampuan nya mencerna apa yang sedang terjadi di rumah ini. Orang-orang yang mati itu, dan manusia-manusia yang berada dalam tabung-tabung silinder berisi cairan yang entah apa.
Sekali lagi, Nana mencoba sekali lagi menekan tombol-tombol remot TV di tangan nya mencari saluran berita lagi, tapi nihil. Hanya berita kriminal biasa yang dia dapatkan tidak ada hal lain yang membuat nya puas.
“Tidak biasa nya anda menyalakan TV hanya untuk memainkan remot?”
Nana kembali di kejutkan oleh suara Ash, hingga tanpa sengaja dia melihat pria bermata keemasan itu, yang sekarang sudah kembali terlihat rapi dengan setelan khas buttler milik nya. Sambil membawa satu nampan berisi teko teh, cangkir, juga cemilan di sana.
“Anda ingin sesuatu untuk dimakan?” Ash menawari, tentu dengan senyum yang tak pernah dia lepas dari wajah itu.
Sungguh, sebereapa pun ramahnya Ash bersikap, Nana benar-benar takut pada pria yang sekarang ada di hadapan nya.
“Ti—tidak, aku bisa mengambil nya sendiri di dapur.” Jawab Nana tak yakin.
“Wah~ senang sekali rasa nya mendengar anda bicara seperti itu, dan ... terima kasih juga untuk dapur yang sudah bersih.” Ucap Ash sambil tersenyum.
Mendengar setiap tutur kata yang di keluarkan Ash padanya, Nana tidak bisa mengatakan apa pun. dia tidak bisa bilang kalau dia sengaja memberantakan seluruh isi dapur hanya karena dia tidak ingin Ash tahu kalau sejak pria itu ke luar dari rumah, dia mengikuti nya dan melihat hampir semua kejadian tidak menyenangkan hari ini.
Meneguk ludah nya paksa, Nana seolah mencoba mengeluarkan kalimat yang seperti nya sangat susah ke luar dari mulut itu karena rasa takut yang teramat sangat sekarang, karena bagai mana pun, Nana yakin kalau yang membunuh orang-orang itu adalah Ash.
“Baiklah, karena anda sudah berbuat satu kebaikan hari ini, saya akan memberi anda satu hari libur, anda bebas pergi kemana pun, menemui siapa pun selama satu hari ini, tapi ingat ... kalau setelah itu, anda harus kembali ke rumah ini.” ujar Ash seolah mengalihkan pembicaraan mereka, “tapi ingat, jangan pergi terlalu jauh atau tidak, anda akan merasakan bagai mana sakitnya diseret kembali pulang.”
Usai mengatakan itu semua, Ash memilih pergi dari sana, berjalan ke arah dapur untuk membawa nampan berisi teh yang biasa nya dia suguhkan untuk Neo Arguandral. Atau mungkin, isi dari teko teh itu sudah kosong karena menjamu tuan rumah ini sebelum Ash menghampiri nya.
Tidak lagi melihat Ash di sana, buru-buru Nana memompa udara untuk paru-paru nya sendiri. Bernapas di sekitar Ash rasanya sangat tidak nyaman, terlebih mengingat apa pun bisa di lakukan pria itu pada nya.
Semua hal tentang pria dengan sepasang mata keemasan itu benar-benar tidak biasa. Penuh kengerian, dan ada banyak sekali ketakutan yang menyeruak masuk ke dalam hati Nana tiap kali gadis berambut ikal setengkuk ini ketakutan setiap saat. Tapi, berterima kasih lah pada keras kepala nya dia yang bisa menyembunyikan semua ketakutan itu dengan baik.
Nana kembali memainkan remot TV di tangan nya dan mencari apa yang masih belum dia temukan, namun tiba-tiba perhatian nya beralilh pada kalimat terakhir yang di berikan Ash padanya tentang satu hari penuh untuk libur? dan Ash juga mengatakan kalau pria itu juga mengizinkan nya untuk ke luar seharian ini?
Jadi, tanpa berpikir apa pun lagi, gadis berambut ikal setengkuk itu segera meninggalkan TV yang masih menyala untuk berlari masuk ke dalam kamar nya, mengambil sehelai sweater yang dia pakai tadi siang kemudian pergi ke luar kondominium mewah milik Neo Arguandral itu secepat yang dia bisa.
Sementara Nana berlari ke luar dari pintu masuk, Ash yang masih berdiri memegang nampan berisi teko berisi teh itu kembali tersenyum saat melihat melalui kaca jendela, memerhatikan Nana, dan melihat bagai mana gadis berambut ikal sebahu itu pergi meninggalkan rumah ini.
₪ ₪ ₪
Nana yang hanya mampu membayar bus, memilih untuk berjalan setengah berlari saat dia sudah tiba di halte bus di mana apartemen nya beradai, di St. Giles.
langkah nya semakin dia percepat saat dia melihat bangunan apartemen kumuh yang berdiri sejajar dengan bangunan lain nya yang terlihat lebih mewah.
Setelah melewati parkiran dan lobi depan apartemen itu, Nana langsung berlari menuju lift, tapi sial nya lift itu di tutup oleh garis polisi dan tak ada satupun diizinkan untuk melewatinya. Mau tak mau, Nana harus menggunakan tangga darurat untuk naik ke atas menuju apartemen milik kakak nya.
Tapi sial, setelah dia tiba di sana pintu apartemen itu juga di pasangi garis pembatas polisi.
“Apa-apaan ini?!” tanya Nana pada dirinya sendiri dengan napas nyaris putus karena berlari menaiki anak tangga dari lantai satu ke lantai lima, berharap bisa bertemu kakak nya di apartemen itu, tapi yang dia dapatkan adalah hal seperti ini?!
‘Di mana orang-orang? Dan apa yang terjadi dengan apartemen milik kakak nya sampai di pasangi garis pembatas polisi seperti ini?’ pikir Nana, saat dia tak menemukan siapa pun di sana.
Ya, tak ada siapa pun.
Bahkan pintu-pintu apartemen lain yang berada di sebelah apartemen yang di sewa kakak nya pun tertutup sangat rapat seolah tidak ingin siapa pun tahu kalau ada manusia yang masih tinggal di dalam sana.
Nana bergerak menghampiri beberapa orang polisi yang baru saja ke luar dari dalam kamar apartemen milik Hetshin dan menanyai mereka tentang yang sudah terjadi hingga hal seperti ini bisa dipasang di depan pintu kamar apartemen tersebut. Namun kedua nya memberikan respon yang berbeda dari keinginan Nana.
“Kau siapa nya pemilik apartemen ini?’ tanya salah satu petugas seperti merasa kalau Nana ikut terlibat dalam insiden tersebut.
Konyol, tentu saja tidak. Dia tidak mungkin melakukan itu, bahkan ini pertama kali nya dia datang ke tempat ini setelah sudah sangat lama dia tidak pulang.
“Aku ad— “
“Nona Nana ...?” Panggil seorang pria berpakaian serba hitam yang juga ikut ke luar dari dalam kamar apartemen itu bersama seorang polisi lainnya.
Merasa sangat asing dengan orang itu, Nana menaikkan sebelah alis nya tinggi-tinggi. Meski sebenar nya Nana tidak asing dengan pekerjaan kakak nya, tapi untuk orang-orang yang berada dalam satu payung bersama sang kakak, tidaklah sulit untuk Nana mengetahui mereka satu per satu, namun untuk orang ini, Nana sungguh tidak pernah melihat nya sebelum ini.
“Si — siapa kau?” tanya Nana masih mempertahankan ketenangan nya, meski jauh di dasar hati nya, ketakutan sudah merajai tubuh juga otaknya dan terus memaksa Nana untuk pergi dari sana.
“Aku rekan satu tim tuan Hetshin Zoax,”
“Kakak?”
“Aku ingin menanyakan beberapa pertanyaan pada mu, apa kau ada waktu?”
“Pertanyaan seperti apa...?” tanya Nana dengan sangat hati-hati.
“Kami butuh beberapa informasi dari anda, jadi kami ingin anda ikut dengan kami setelah ini.”
Ucap pria itu kemudian seorang polisi memberikan sebuah note book pada nya sambil berbisik sesuatu pada telinga pria tersebut. Nana yang masih mencoba menata udara untuk paru-paru nya, merasa ada kejanggalan di sini.
Patner Hetshin? Bagai mana dia bisa tahu kalau Nana itu adik nya Hetshin tanpa menanyakan apa pun lagi sebelum nya? Karena meski pun kakak nya itu tidak pernah menyembunyikan pekerjaan nya sebagai body guard keluarga Vastar Hendrick Al Rasyid, tapi tetap saja Hetshin tidak mungkin memberitahu anggota ke luarganya sendiri pada orang lain, meski mereka berada dalam satu payung perusahaan.
Lagi pula, kenapa dia ingin menanyainya tentang kejadian yang ada di sini padahal jika memang mereka orang-orang yang bekerja dalam satu institut dengan kakak nya, maka mereka tidak akan menanyai Nana seperti ini secara gamblang.
Batin Nana tiba-tiba menolak kalau orang-orang ini adalah rekan kerja Hetshin — kakak nya, karena di lihat dari segi mana pun tidak akan ada orang yang bertugas dengan Hetshin yang rela berhubungan dengan polisi.
Ya, semua orang yang bekerja dalam payung keluarga Al Rasyid tidak pernah ada yang benar-benar bodoh hanya untuk berhubungan dengan polisi seperti sekarang.
Lagi pula ... kalau memang tempat ini bermasalah, bagai mana bisa tidak ada satupun orang yang melihat? Pergi ke mana semua orang, dan ... kenapa tidak ada hal semacam ini juga di berita yang dia tonton tadi.
Siapa mereka .... tanya Nana sambil bergeser selangkah demi selangkah ke belakang.
Nana benar-benar merasa kalau keputusan nya untuk pulang adalah salah.
Tanpa berpikir apa pun lagi, gadis dengan rambut ikal setengkuk yang tak pernah dia ikat itu segera berbalik dan meninggalkan tempat tersebut dengan langkah lebar yang dia miliki.
Sadar kalau Nana sedang berusaha melarikan diri dari mereka, dan melihat Nana berlari menjauh tiba-tiba, orang berpakaian hitam itu segera meminta polisi yang berada bersama nya untuk mengejar Nana menggunakan HT yang mereka miliki.
Dengan sisa tenaga nya, Nana terus berlari menuju ke tangga darurat lagi. Menuruni nya dengan langkah lebar juga secepat yang dia bisa, dia terus berusaha melarikan diri dari tempat itu, dari orang-oarang mencurigakan itu, karena bagai mana pun Nana yakin kalau orang-orang itu bukan orang-orang baik yang kakak nya kenal, Nana bahkan bisa merasakan kalau niat orang-orang itu tidak semanis ucapan mereka padanya barusan dan menyingkir dari sana, Nana rasa adalah pilihan yang sangat tepat, tapi tentu saja usahanya tidak bisa berlangsung mudah.
Tiba di lantai tiga, Nana melihat ada beberapa orang berseragam polisi sudah menghadang nya dari bawah, dia masih bisa mendengar bagai mana merka masih membangun komunikasi melalui HT yang mereka bawa, sementara dari atas mereka juga masih berusaha mendapatkan Nana.
Dia tidak punya pilihan, dia harus bisa lolos dari mereka karena kalau sampai dia tertangkap, Nana tidak akan tahu apa yang akan orang-orang itu lakukan pada nya nanti.
Ya, kalau sampai Nana tertangkap, entah dia akan langsung di habisi atau tetap dibiarkan hidup untuk terus di siksa tanpa henti untuk alasan yang mengerikan dan sesuatu yang tidak dia pahami hingga sekarang.
Dan dia bersumpah, jika dia bisa lolos dari tempat ini dia akan mencari tahu semua kebenaran nya. Tentang orang-orang ini, tentang Garnet, tentang wanita yang Christina temui di toko roti itu, juga tentang Neo Arguandral yang selalu dilindungi oleh pelayan mengerikan dengan sepasang mata keemasan itu.
Karena merasa terpojok di tengah-tengah, Nana menengok ke arah bawah tangga darurat, dia berniat untuk terjun ke bawah sana tapi dia yakin kalau di sana juga pasti sudah ada lebih banyak orang yang akan menangkap nya.
“Sial ....”
Umpat gadis itu sambil mengepalkan tangan nya. Dia tidak punya pilihan lain. Orang-orang dari atas sana sudah berhasil mengejarnya dan sekarang berusaha menangkap Nana tapi dengan kemampuan bela diri yang dia miliki, dia berhasil menendang salah satu dari orang-orang berseragam itu, kemudian kembali berlari menghampiri kaca jendela.
Dia tidak bisa kabur ke mana pun, tidak ada jalan kabur, baik itu ke atas atau terus turun ke bawah. Karena jika pun dia bisa menghadapi orang-orang ini di tangga darurat, melumpuhkan sebagian dari mereka, sebagian besar lainnya masih ada di lantai bawah. Menunggunya untuk bisa menangkap nya dan menyeret Nana pergi dari sana untuk di bawa ke tempat asing yang tidak dia ketahui.
Jadi, dari pada dia harus mati konyol, tanpa berpikir panjang, Nana menyilang kan kedua tangan nya di wajah sebelum akhir nya dia nekad menerobos kaca jendela itu dengan tubuhnya sampai pecah dan membuat nya melayang, terjun bebas melalui celah yang dia buat ke luar dari gedung tersebut.
Tubuh Nana terguling-guling di atas aspal parkiran bersama pecahan kaca yang ikut bersama nya, beruntung pecahan-pecahan kaca itu tidak ada satu pun yang berhasil membuat nya terluka atau lebih parah menusuk nya hingga berdarah-darah.
Meski tidak berhasil mendarat dengan mulus, tapi Nana masih bisa selamat. Menyisakan beberapa luka lecet dengan sedikit darah yang dia dapat dari goresan antara kulit nya dan aspal di bawah sana. Rasa nya sangat sakit, tapi setidak nya Nana bisa bernapas lega karena berhasil menjauh dari orang-orang itu.
Meski dia berhasil lolos bukan berarti Nana bisa melarikan diri dengan mudah setelah ini. Sebelum kembali berlari, Nana sempat melihat bagai mana orang-orang berseragam itu sedang sibuk menelepon seseorang, dan yang lain juga terlihat sibuk memerintah satu sama lain untuk langsung mengejar Nana, dia sangat yakin kalau sudah seperti itu mereka bisa mengumpulkan lebih banyak orang untuk memburunya.
“Sial!”
Nana kembali memaki diri nya sebelum dia berlari kembali dengan sisa tenaga yang dia miliki. Berlari sejauh yang dia bisa dan menyingkirkan diri dari dunia,
_