Bab 25

1478 Kata
                  Selama ini Neo berpikir kalau tidak ada orang yang akan menyukainya. Karena semua orang yang pernah dia temui, hanya akan memarahainya, menuduhnya sebagai pencuri dan memukulinya seperti samsak hidup.             Tidak pernah ada orang yang akan bisa menerimanya yang seorang gelandangan, siapa pun mereka, orang-orang itu akan selalu mengusirnya, melemparinya dengan batu, bahkan tak jarang mereka membentak Neo karena lewat di halaman rumah mereka karena takut Neo mencuri benda-benda berharga milik mereka.             Tapi semua itu seolah tidak berlaku di hadapan wanita tua ini.             Bahkan, setelah membawa Neo yang berpenampilan lusuh, bau dan kotor, wanita itu tidak segan untuk mempersilakan Neo untuk duduk di sofa milik nya.             “Duduklah, kenapa kau masih berdiri di situ?”             “A—aku sangat kotor dan sangat bau, kalau aku duduk di sofamu, pasti akan membekas dan akan sulit dicuci.” Jawab Neo takut sambil meremat ujung jaket yang masih setia membungkus tubuhnya.             “Tidak usah mengkhawatirkan masalah seperti itu, duduklah dan aku akan membuatkan teh untuk menghangatkan tubuhmu.”             “Tapi—“             “Baiklah, baiklah, aku menyerah.” Wanita itu mengangkat kedua tangan nya sebelum berjalan ke arah dapur dan mengambil sebuah bangku dari kayu dan memberikannya pada Neo. “Duduklah di situ, kau tidak perlu takut kalau kau akan bisa mengotorinya karena itu hanya kursi kayu, kan?” Ujar wanita itu kemudian berjalan ke arah dapur.             “Te—terima kasih.” Ucap Neo setengah bergumam, karena dia yakin, kalau wanita itu tentu tidak akan bisa mendengarnya. Mata Neo melihat takjub pada rumah sederhana dengan satu lantai itu. Meski hanya terbuat dari kayu, tapi rumah itu terasa sangat hangat. Lantai rumah itu juga dari kayu, waktu mereka masuk, Neo berniat membuka sepatu yang dia pakai, namun urung karena wanita itu melarangnya dan meminta Neo untuk terus memakai sepatunya ke dalam rumah. Padahal, saat satu kaki nya menyntuh lantai, menjiplak pola sol yang cukup jelas di sana, meski begitu, wanita tua yang mengundangnya masuk ke sana tidak mempermasalahkan hal tersebut dan terus meminta Neo untuk tidak sungkan berada di sana.             “Hei bocah, kau suka keripik?” Teriak wanita itu, namun Neo hanya mengangguk sambil terus meremat ujung jaketnya.             Karena tak mendapat jawaban apa pun dari Neo, wanita tua itu segera ke luar dari dapur, membawa sebuah nampan berisi satu teko teh, dua gelas dan beberapa toples makanan ringan.             Tidak hanya itu, setelah menaruh nampan tersebut di sebuah meja, kemudian kembali masuk ke dapur dan ke luar lagi dengan nampan berbeda berisi cemilan lain.             Setelah selesai menaruh mengeluarkan makanan itu dari nampan ke atas meja, Neo yang sudah sangat kelaparan berhasil menelan beberapa teguk ludah karena tergiur dengan makanan yang ada di hadapan nya.             “Ambillah apa yang kau suka.” Ujar wanita tua itu setelah menuangkan teh dari dalam teko ke dala sebuah cangkir yang kemudian diserahkan pada Neo.             Meski perutnya memang sangat lapar, tapi dia tahu siapa pun tidak akan menyukai ketidaksopanan. Maka dari itu, setelah menelan seteguk ludah lain dengan sepasang mata yang menatap lapar pada makanan-makanan di depan nya, tangan Neo bergetar saat mengambil cangkir teh panas yang disuguhkan wanita itu.             Namun, saat lidah Neo menyesap teh itu, aroma asing menyeruak, membuat Neo menyingkirkan sedikit cangkir itu darinya dan menatap isi cangkir di tangan nya sejenak.             “Kau suka?” Tanya wanita itu sambil tersenyum.             Neo tidak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan itu, karena sekarang, di lidah nya ada rasa yang tidak biasa terkecap.             Rasa itu seperti campuran rasa teh, namun ada campuran kayu manis, gula merah dan beberapa rasa yang tidak dia tahu itu apa. “Ra—rasanya unik...”             “Haha, kau tidak usah takut mengatakan kalau tidak suka.”             “Ma—maafkan aku, aku tidak bermaksud—“             “Ini namanya Floral Tea. Terbuat dari campuran green tea, dried lavender, dried rose dan butiran biji pala kering yang ditumbuk kasar lalu ditambah sedikit kayu manis. Rasanya memang sedikit unik, tapi jika kau terbiasa, kau akan menyukainya.”             Setelah mendengar penjelasan tentang rasa aneh dari teh yang dia minum, Neo kembali menyesap teh dalam cangkir milik nya dan setelah berkali-kali, dia akhir nya bisa menemukan rasa yang disebut kenikmatan. Ada rasa hangat dari kayu manis, dan butiran biji pala, meski belum terbiasa dengan rasanya, namun Neo mendapatkan kalau aroma dari teh itu benar-benar bisa menenangkan.             “Aku Joane Arguandral.” Ujar wanita itu tanpa diminta, sambil mengambil sebuah piring kecil yang tersedia, kemudian memasukan beberapa jenis kue-kue kering yang ada dalam toples-toples kecil di hadapan mereka sebelum kemudian memberikannya pada Neo.             “Kau boleh memanggilku Jo, jika kau mau.”             “Jo?” Ulang Neo dan wanita itu pun mengangguk.             “Suamiku sudah meninggal tiga tahun lalu, dan aku tidak memiliki satu orang anak pun, jadi ... aku hanya tinggal sendirian di rumah ini.”             “Ma—maafkan aku,” Ujar Neo merasa enak saat mendengar itu. Tapi, bukankah dia juga sama saja? Dia juga sebatang kara sekarang, tidak ada ke luarga, bahkan orang yang dia kenal pun menghkhianati nya.             “Makanlah, aku akan masak makan malam.”             Jo berjalan meninggalkan Neo yang masih menatap hampa pada piring makanan di tangan nya. Sementara Neo yang tetap dirundung kesedihan tidak bisa berbuat banyak. Bahkan, menangis pun rasanya percuma.             Neo menaruh piring makanan di tangan nya, dia memang merasa sangat lapar, tapi ini rumah orang asing bagi nya. Rumah itu benar-benar sangat sederhana. Bahkan pajangan yang ada di sana pun tidak banyak, hanya ada beberapa foto yang terlihat dalam sebuah bingkai dan ditaruh di atas meja-meja pajangan. Seperti katanya, Jo memang tidak punya anak, karena dari lima foto yang ada, hanya ada gambar dirinya juga seorang pria kurus yang hobi mengenakan vest dan topi khas orang-orang yang lebih sering menghabis kan waktu mereka untuk memancing. Bahkan dalam salah satu bingkai foto itu juga Neo menemukan sebuah foto yang memperlihatkan suaminya itu berhasil menangkap sebuah ikan yang cukup besar, berpose di atas perahu di sebuah danau dan wajah nya terlihat sangat bahagia. “Itu suamiku. Namanya Arguandral.” Ujar Jo. Wanita itu ke luar dari dapur dengan mengenakan celemek dan sebuah baskom berukuran sedang entah berisi apa dan isi dalam baskom tersebut terus dia aduk menggunakan sendok yang terbuat dari kayu. “Suamimu, suka memancing?” Tanya Neo penasaran saat matanya juga menangkap ada cukup banyak peralatan pancing juga berbagai macam jenis umpan yang terpajang di dinding. “Ya. Dia sering menangkap ikan-ikan besar setiap kompetisi diadakan di danau, kemudian setelah difoto, dia akan memaksa tetangga untuk memakan ikan tangkapannya ramai-ramai, lalu kami akan berpesta semalaman hingga besoknya kami tidak punya tenaga untuk pergi bekerja.” Jelas Jo sangat bahagia saat dia menceritakan tentang suaminya. “Kau pasti sangat mencintainya.” “Tentu, tapi dia meninggalkanku lebih dulu, padahal kami sudah berjanji untuk hidup bersama dan mati kemudian dikubur dalam satu lubang yang sama, tapi dia meinggalkanku lebih cepat dan aku tidak bisa mengejarnya cepat-cepat. Aku tidak bisa mengejarnya.” Kalimat Jo terdengar sedih di akhir. Ucapan wanita tua itu mengingatkannya pada Dere, Raya, Ben, Allan, Winna dan Dere, ke luarganya, kekasihnya, yang dikhianati oleh saudara nya sendiri hingga sekarang dia sendirian. Persis seperti yang Jo katakan, kalau mereka tidak bisa menyusul orang-orang yang sudah meninggalkan mereka cepat. “Hei, apa kau mau membersihkan tubuhmu sambil menunggu makan malam selesai?” Jo menawari. Neo memandangi dirinya sendiri. Tubuhnya sangat kumal, pakaian yang dia kenakan pun sangat kotor, juga sepatunya yang penuh dengan lumpur kering dan sudah rusak di mana-mana, bahkan mungkin bau badannya terasa tidak enak dihidung wanita tua itu. Namun, Neo tidak bisa mengatakan apa pun untuk semua itu, karena bagai mana pun, dia akan tetap memakai pakaian yang sama bahkan setelah dia mandi. Tapi tidak dengan Jo. Wanita tua itu menaruh baskom di tangan nya dan bergerak mendekati Neo. Menyentuh pundak pemuda itu kemudian menggiringnya ke arah kamar mandi yang berada di belakang rumah. “Masuklah, akan kuambilkan handuk.” Ujar Jo setelah meninggalkan Neo di depan pintu kamar mandi. Meski awalnya tidak yakin, namun Neo memngikuti apa yang diinginkan wanita itu padanya. Karena bagai mana pun, wanita itu juga yang sudah berbaik hati membawanya masuk ke dalam rumah senyaman ini, dan dia tidak mungkin membuat Jo terus merasa tidak nyaman dengan penampilannya. Jadi, Neo memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya di sana, Setelah membuka semua pakaian kotornya, Neo benar-benar baru bisa mencium bagai mana pakaian yang sepanjang hari selama lebih dari satu minggu itu melekat di tubuhnya tercium sangat tidak sedap. Ada bau keringat dan basah yang menyengat menjadi asam dan sangat menusuk. Dok. Dok. Suara ketukan pintu terdengar dan membuat Neo mengalihkan perhatiannya ke arah suara tersebut. “Neo, kutaruh handuk dan pakaian bersih untukmu di luar ya? Segarkan dirimu, dan masuklah lagi ke dalam, kita harus makan malam.” Suara Jo terdengar sangat ramah di luar. Hingga Neo tidak bisa untuk tidak berterima kasih pada wanita tua tersebut. “J—Jo!” “Ya?” “Terima kasih.” “Kembali~”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN