Kaki mungil Neo berjalan masuk, ke dalam rumah Jo setelah mandi, dengan pakaian baru yang di berikan Jo padanya, Neo terlihat lebih bersih, rambutnya gelap dan agak gimbal kini terlihat basah oleh air.
Wanita tua itu pun tersenyum saat melihat bagai mana rapinya penampilan Neo sekarang, dengan pakaian bekas almarhum suaminya, meski sedikit kebesaran di tubuh mungil Neo, tapi setidak nya pakaian itu bisa dia gunakan untuk mengganti pakaian lamanya yang terlihat sangat kotor sementara wajah di balik penampilan kumal itu ternyata sangat tampan.
Tapi, penampilan baru Neo terlihat sedikit mencolok saat Jo masih melihat bocah itu memeluk pakaian lamanya.
“Kau mau menyimpan itu?” Tanya Jo sambil menunjuk pakaian lama Neo yang entah sengaja atau tidak, dia bawa masuk juga ke dalam rumah.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Neo tidak tahu apa yang harus dia lakukan, karena jika pun dia ingin membuang pakaian itu, Neo tidak tahu harus membuang nya ke mana.
“Kalau kau ingin menyimpan itu, akan kucucikan untukmu.”
“Ti—tidak!” Neo menarik baju dalam pelukannya semakin dalam, seolah tidak ingin pakaian itu disentuh oleh siapa pun.
“Baiklah, simpan pakaian itu, tapi kau harus menaruh nya karena kita akan makan.” Ajak Jo penuh senyum, seolah tak terganggu sama sekali dengan tingkah Neo yang terkesan menyebalkan.
Neo yang awalnya tidak tahu harus menaruh pakaian kotor milik nya di mana, akhir nya memilih menaruh pakaian itu di atas lantai tepat di belakang sebuah lemari yang berada tepat di sebelah meja makan. Kemudian dia berjalan mendekati Jo yang sedang membawa makanan-makanan yang sudah dia masak ke atas meja makan.
“Duduklah.” Perintah Jo dan tak ditolak sama sekali oleh bocah itu.
Meski kursinya sedikit lebih tinggi dari tubuhnya, namun Neo sama sekali tidak menyerah, dia terus merangkak untuk memanjat kursi meja makan itu dan ketika dia berhasil, dia melihat bagai mana Jo menatapnya sambil menggelengkan kepala. Membuat Neo terperanjat, kemudian menundukkan kepala nya karena malu dan takut dimarahi wanita tua itu karena sudah bertingkah tidak sopan.
“Besok aku akan meminta Douglas untuk membuat tangga kecil untukmu.” Ujar Jo lalu menaruh piring terakhir yang dia ambil dari dapur.
“Kau suka daging domba?” Tanya Jo pada Neo sesaat setelah menaruh piring terakhir yang dia bawa tepat di hadapan bocah itu.
Isi piring itu adalah irisan besar daging yang diguyur saus berwarna cokelat pekat, lengkap dengan asparagus dan kacang polong sebagai garis. Melihat bagai mana nikmatnya makanan itu, tanpa sadar Neo kembali menelan seteguk ludahnya paksa.
Selain steak daging domba, di atas meja juga ada satu keranjang berisi roti-roti dan piring lain di sebelah Neo ada sebuah mangkuk kecil berisi krim sup kental yang masih mengepul karena panas, dan itu sungguh menggugah Neo untuk segera memakan semua yang disuguhkan oleh Jo padanya.
“Makanlah, makan sepuasmu dan aku akan membawakan makanan lain untukmu jika kau masih ingin makan.” Ujar Jo terdengar sangat ramah.
Mengikuti apa yang dilakukan wanita tua itu, Neo mulai mengangkat pisau dan garpu yang ada di sisi kanan dan kiri piringnya, menggenggam benda itu kuat-kuat sementara matanya terus melihat ke arah Jo, seolah sedang mempelajari apa yang harus dia lakukan dengan benda itu di meja makan. Karena setahunya, selama ini dia hanya makan menggunakan tangan, meski sesekali Uncle Bob memberinya sup, dia juga hanya menggunakan sebuah sendok, dan bukan pisau atau pun garpu.
Sambil melihat Jo makan, Neo mencoba mempraktikkan apa yang dia lihat. Dia mencoba mengiris potongan tebal daging domba itu hingga putus, kemudian memotongnya lagi menjadi bagian yang lebih kecil seperti yang dilakukan oleh Jo, agar lebih mudah untuk dimakan.
Neo masih terus mnecoba meniru apa yang dilakukan oleh Jo, memotong, dan mengunyah. Meski sesekali wanita tua itu tersenyum, namun Neo tidak langsung membalas senyum itu dan memilih menunduk sambil mengunyah makanan nya perlahan.
Saat Neo kembali memasukkan sepotong daging ke dalam mulut nya, dia terus melihat roti gandum yang berada dalam keranjang. Tahu akan hal tersebut, Jo kemudian mengambil sepotong besar roti gandum di dalam keranjang itu dan memberikannya pada Neo, menaruh roti tersebut di atas piring pria kecil itu. “Itu akan terasa enak jika dimakan dengan sup hangat, cobalah.”
“Te—terima kasih ....”
Jo melihat Neo yang terus bersikap canggung hanya bisa tersenyum untuk keberanian bocah itu menerima sepotong roti darinya, lalu dengan mulut yang sedikit gemetar, Neo mulai mengigit roti itu sambil sesekali mencelupkan roti itu pada sup kental di mangkuk yang berada tepat di sebelah piringnya dan Jo kembali tersenyum saat melihat Neo benar-benar menurut padanya.
Neo dan Jo terus memakan makan malam mereka hingga habis tak tersisa, meski masih ada satu potong roti lagi yang tersisa, tapi Neo menolak untuk menghabis kannya.
“Kau mau segelas s**u hangat dan beberapa potong biskuit?” Jo menawari, namun Neo menggeleng. Perutnya sudah terlalu kenyang sekarang.
Sungguh, dulu ... berapa pun potong roti yang dia dapatkan dari Uncle Bob, dia akan selalu membagi nya dengan saudara nya yang lain dan akan memakan nya sedikit hingga bisa dibagikan dan cukup dengan yang lain meski sebenarnya perutnya masih terasa lapar setelah itu, tapi tetap saja dia berpura kalau apa yang dia masukan ke dalam perutnya sudah sangat membuat nya kenyang.
Dan sekarang, di rumah orang yang sama sekali tidak dia kenal, Neo mendapatkan apa yang tidak pernah dia bayangkan sebelum nya. Makan di atas meja, di rumah yang hangat, dan berbagai macam makanan yang membuat perutnya seperti mau meledak karena kenyang.
Karena Neo menolak tawaran Jo, bocah ini memilih membantu wanita tua itu membawa piring-piring bekas makan malam mereka ke dapur, menaruh nya di atas bak cuci piring, namun saat Neo mencoba membantu wanita itu untuk membersihkan piring-piring tersebut, Jo melarangnya dan meminta Neo untuk menunggu di ruang tengah, sementara dia menyelesaikan cucian piringnya.
Di ruangan berisi sofa itu, Neo kembali melihat bagaikan bingkai-bingkai foto itu menjadi saksi bisu kemesraan Jo dan almarhum suaminya.
Neo tidak tahu, siapa orang-orang ini, tapi untuk Jo yang sudah berkenan memberinya pakaian, makanan dan perlakuan yang ramah, Neo tidak akan segan untuk melakukan apa pun untuk menebus semua budi baik wanita tua itu padanya.
“Sepertinya kau sangat suka melihat foto suamiku?” Lagi, Jo menyapa Neo saat pria kecil itu sedang asik melihat-lihat.
“Jo, aku—aku berterima kasih karena sudah diberi makanan dan, pakaian.” Ujar Neo terbatas dengan iris zamrudnya yang bergerak gelisah.
“Oh, itu pakaian anakku.”
“kau punya anak?”
Jo mengangguk, sebelum duduk di atas salah satu sofa. “Punya, tapi anakku tidak pernah pulang ke rumah ini sejak dia bertemu seorang anak pria, menikah dengan nya dan pergi dari rumah ini.”
“Pergi?”
Jo kembali mengangguk. “Dia marah pada kami, karena aku melarangnya menikahi pria b******k itu dan enggan untuk kembali pulang.”
“Apa dia tahu kalau ... kalau suamimu sudah—“
“Dia tahu, tapi aku melarangnya untuk datang ke pemakaman suamiku dan membiarkan nya tetap jadi anak durhaka.”
“Bagai mana kau bersikap seperti itu, padahal kau sangat mencintainya.”
“Aku? Mencintai anak kurang ajar itu.”
Kali ini giliran Neo mengangguk.
“Kenapa aku harus mencintai anak kurang ajar itu? Yang bahkan sudah membuat suamiku meninggal?”
“Aku melihat kau sangat mencintai anakmu.”
“Dari mana kau bisa menyimpulkan itu? Aku bahkan membuang semua fotonya dan mengosongkan kamar yang dulu dia pakai!”
“Tapi kau masih menyimpan pakaian milik nya yang kau berikan pada ku.”
Mendengar ucapan Neo, Jo tidak bisa bertahan untuk tidak mengusap wajah nya. Kemudian menghela napas nya hingga terdengar sangat berat.
“Neo,” panggil Jo, “kau percaya pada tuhan?”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak percaya.”
Neo tak merespon apa pun, dia hanya diam. Meski dia tidak pernah diajarkan tentang agama oleh siapa pun, tapi Neo tahu kalau sosok itu memang ada, dan sosok itu pula lah yang sudah menjaganya selama bertahun-tahun hidup bersama ke luarga yang dia bangun bersama anak-anak gelandangan lainnya. Di rumah itu. Tapi ... sejak ke luarganya mati, dia lupa bagai mana caranya bersyukur, dia lupa caranya berdoa dan dia lupa berterima kasih pada sosok tuhan yang sudah memberikannya kehidupan hingga detik ini.
“Saat putriku memutuskan untuk meniggalkan rumah dan pergi dengan pria yang dia cintai, suamiku berubah...,” Jo memulai, “ suamiku yang tadinya selalu terlihat bahagia, dia berubah murung. Suamiku yang tadinya terlihat sangat sehat, selalu sakit-sakitan. Bahkan aku tidak pernah melihat dia memegang pancingan lagi selama bertahun-tahun. Dan hobinya yang selalu membuat kami bahagia, berubah.”
“Suamiku selalu tidak bisa mengendalikan dirinya. Dia seperti orang gila yang selalu masuk ke dalam ruang bawah tanah kami dan aku tidak tahu apa yang dia lakukan.”
Neo melihat Jo mengusap wajah nya penuh keputus asaan, sepasang alisnya melangkung menahan emosi yang mungkin sudah dia rasakan bertengger di atas Bun-ubunnya tak terbuang hingga sekarang. Jadi, Neo tidak merespon apa pun dan memutuskan untuk tetap mendengarkan cerita wanita tua yang sudah berbaik hati memberikannya pakaian dan makanan.
“Ar—Ar, bukanlah pria yang pemurung.” Lanjut Jo.
“Dia pria penuh tawa, bahkan sebelum kami menikah, aku sudah tahu bagai mana sifat dan keseharian Ar, tapi ... setelah anak kami pergi meninggalkan rumah, semua nya berbeda. Ar seolah jadi orang asing untuk ku.”
“Dia selalu pergi ke pasar, membeli ayam hidup lalu dia bawa ke ruangan bawah tanah, tak jarang aku sering memergokinya tak membawa ke luar lagi ayam-ayam itu, kupikir Ar memeliharanya di bawah sana, tapi ternyata tidak. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali, hingga akhir nya aku mencium bau busuk entah dari mana.”
“Setiap kutanya, ‘Sayang, kau sedang apa?’ Ar hanya mengatakan kalau itu tidak harus jadi urusanku. Selama bertahun-tahun, selama bertahun-tahun aku melihat suamiku seperti itu, sampai satu hari,aku tidak melihat nya ke luar dari dalam ruangan bawah tanah itu. Karena penasaran dengan apa yang dia lakukan, juga khawatir terjadi sesuatu padanya di bawah sana, aku memutuskan melanggar perintah yang dia berikan.”
“Perintah?” Neo tidak tahan untuk tidak berkomentar. Dan di jawab anggukan oleh Jo.
“Suamiku memerintahkanku untuk tidak mendekati, atau pun masuk ke dalam ruangan itu. Tapi, hari itu, hari di mana aku melanggar perintah suamiku, aku melihat suamiku terkapar di lantai, bersimbah darah bersama diagram aneh yang dia buat.”
“Diagram itu ... apa?” Tanya Neo penasaran. Karena seumur hidup nya, baru kali itu dia mendengar kata yang tidak dia pahami.
“Suamiku seperti sedang melakukan ritual untuk memanggil sesuatu dari dunia lain.”
Tubuh Neo seketika kejang, saat kata ‘sesuatu’ yang dikatakan oleh Jo terdengar seperti menakutkan di telinga nya.
Meski mentalnya sudah tercabik oleh kematian orang-orang yang dia sayangi, tapi dia tetap saja anak kecil yang jika diberitahu tentang makhluk astaral bernama hantu, dia akan tetap ketakutan.
Mungkin dia tidak akan lari atau bersembunyi seperti anak-anak seusianya, tapi tetap saja, Neo merasa kalau itu tetap saja terdengar mengerikan.
Jo yang melihat perubahan sikap Neo pun tersadar kalau apa yang sedang dia katakan bukanlah porsi untuk anak-anak. Jadi, wanita ini memutuskan untuk kembali mengusap wajah nya dan mengalihkan topik percakapan mereka.
“Maaf, maafkan aku karena sudah membuatmu takut, aku tidak seharusnya mengatakan hal seperti ini padamu.” Ujar Jo sambil meregangkan tangan nya dan mendekat ke arah Neo kemudian memeluk pria kecil itu sebelum mengelus punggung kokohnya penuh kelembutan.
“Jo...,”
“Ya?”
“Kalau kau ingin menangis, menangis saja, tidak akan ada yang menertawakanmu karena kau menangis.”
Mendengar kalimat yang tidak biasa dari bocah tidak biasa, benar-benar membuat Jo ingin sekali menangis, namun tidak dia lakukan. Wanita tua itu hanya menundukkan kepala nya dan mengigit bibir bawahnya kuat-kuat sambil mencoba untuk tersenyum kemudian.
Jo seperti sedang berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri. Seperti sedang menahan dirinya untuk tidak melewati batas tak terlihat yang dia bangun susah payah.
“Kau mau tinggal di sini dan menemaniku?”
“A—aku?” ulang Neo tidak percaya.
“Kau mau?”
“Ke—kenapa? Aku hanya gelandangan, aku bahkan tidak tahu seberapa baunya tubuhku dan—dan, kau juga tidak mengenalku? Aku—bisa saja aku mencuri di rumahmu saat kau tidur, atau aku merampok? Atau aku membawa gelandangan lain yang tak kalah kotornya denganku setelah ini.”
“Lakukan.”
“Ha?!”
“Jika itu bisa membuatmu tinggal di rumah ini denganku, maka lakukan.”
Neo tidak tahu apakah wanita ini sedang berbohong atau tidak, tapi yang jelas, jika memang itu alasan kenapa dia berjalan hingga sejauh ini, dia akan sangat berterima kasih pada tuhan, karena dipertemukan dengan orang sebaik Jo.
“Aku punya dua kamar kosong di sini, kau mau pakai kamar yang mana? Di atas ata—“
“A—aku bisa tidur di lantai.”
“Kau? Tidur di lantai? Kenapa?”
“Aku, bukan siapa-siapa, jadi kau tidak perlu memperlakukanku seperti itu.”
Mendengar Neo bicara seperti itu, Jo hanya tersenyum sambil mengelus kepala pria kecil itu lembut.
“Ayo ke lantai atas, di sana pemandangannya sangat indah, kau pasti akan suka jika kau bangun besok pagi.”
Jo menggandeng tangan Neo, agar bocah itu mau mengikuti nya naik ke lantai dua. Di mana ada sebuah kamar yang berisi satu tempat tidur, sebuah bangku, dua buah akas dan kamar itu punya sebuah balkon yang menghadap langsung pada pegunungan gelap.
“Kau suka?” Neo mengangguk ragu, “maaf, lampunya tidak bisa kunyalakan. Mungkin tikus mengigiti kabel di atasnya, besok aku akan meminta Eduward untuk membereskan kekacauan ini, tapi kau masih bisa bertahan dengan sebatang lili, tidak masalah kan?” Pertanyaan lain di berikan padanya, dan Neo hanya bisa kembali mengangguk canggung.
Kamar itu tidak terlalu besar, tapi telihat sangat nyaman dengan sebuah dua bantal dan selimut tebal juga seprei yang kelihatannya sangat lembut. Sebagai penerangan, kamar itu tidak menggunakan lampu listrik, tapi hanya sebatang lilin yang sudah dinyalakan oleh Jo sebelum nya.
“Tidurlah, aku tahu kau pasti sangat lelah setelah berjalan sepanjang hari untuk tiba di kota ini.” Ujar Jo sangat lembut. Neo tidak tahu apakah dia harus senang diperlakukan oleh wanita tua itu atau tidak, karena bagai mana pun, dia hanya orang asing di rumah ini.
“Kalau kau butuh sesuatu, jangan ragu untuk mengatakannya pada ku.” Ujar Jo, menepuk pundak Neo sejenak sebelum berjalan menjauh dari pria kecil itu untuk membiarkan nya sendirian dan mengistirahatkan tubuh kecilnya yang mungkin sudah sangat lelah.
“J—Jo?!” panggil Neo berusaha menghentikan Jo yang hendak menutup pintu kamar itu lagi.
“Ya?”
“Te—terima kasih, karena sudah sangat baik pada ku.”
Mendengar ucapan Neo, wanita tua itu hanya tersenyum sebelum benar-benar menutup pintu kamar itu rapat-rapat.
Setelah Jo meninggalkan nya sendirian di kamar yang di berikan wanita itu tanpa alasan, Neo memutuskan untuk menyimpan pertanyaan itu untuk besok dan memberikan pertanyaan yang sama terus menerus sampai wanita tua itu menjawabnya dengan jujur. Karena bagai mana pun Neo hanya lah seorang gelandangan, bukan saudara atau bahkan orang yang pernah dia kenal sebelum ini.
Tapi Neo harus tetap bersyukur, karena malam ini, dia tidak lagi harus tidur di halte bus, atau di bawah pohon, atau di gang-gang sempit, kehujanan, kedinginan dan selalu harus berbagi dengan anjing liar, kecoak, tikus, dan hewan melata lainnya.
Setelah berterima kasih pada tuhan karena sudah memberinya jutaan kebahagiaan di tengah kesedihannya karena kehilangan ke luarga yang dia sayangi dan sekarang, tuhan telah membawanya pada ke luarga lain yang menerimanya.
Lilin kamar itu bergoyang temainkan angin dari luar, terasa sedikit dingin, tapi tentu tidak akan terasa sangat dingin seperti saat dia berada di luar sana.
Neo tidak mematikan lilin yang Jo pasang di kamar itu, membiarkan nya tetap menyala sementara dia mulai berjalan naik ke atas ranjang dan menutupi dirinya dengan selimut hingga menutupi dandan dan lehernya.
Sungguh, kenyamanan yang tidak pernah Neo pikirkan sebelum nya akan dia dapatkan, bahkan saat dirinya tidak pernah meminta.
Kamar itu menghadap langsung ke jendela yang memberinya pemandangan gelap gunung kelamnya langit berawan. Meski ada beberapa lampu dari beberapa rumah, tapi cahaya itu tetap termakan oleh gelap. Sungguh, jika dia bisa melihat pemandangan indah yang dikatakan Jo besok pagi melalui jendela itu, maka tidak akan berpikir kalau apa yang dia lalui hari ini bukanlah sebuah mimpi.
Sama seperti ke luarganya yang pergi meninggalkan nya tanpa pamit.
Tanpa Neo sadar, bayangan ke luarganya kembali menari. Dia ingat kalau di jam-jam seperti ini, setelah mereka makan roti yang dia dapat setelah bekerja seharian pada Uncle Bob, mereka akan berkumpul di ruangan besar, saling berbagi cerita, tertawa berama dan terkadang mereka akan melihat bagai mana Raya merengek membawa lelucon lain yang memberikan kesenagan baru pada mereka.
Tapi sekarang lihat dia?
Dia tidak memiliki apa pun lagi selain dirinya sendiri. Selain tubuh yang dia bawa hingga kematian menjemput yang entah kapan.
Meski sebenarnya Neo sangat ingin menyusul ke luarganya yang mati dan mungkin sudah mulai digerogoti binatang melata di dalam tanah, tapi dia kembali diingatkan kalau masih ada satu tubuh yang tidak dia kuburkan bersama yang lainnya.
Dere. Dan itu adalah prioritas Neo sekarang.
Jika dia tidak bisa mati, maka dia harus menemukan Dere dan membunuh Hetshin. Baru setelah itu, dia tidak akan pernah menangis bahkan jika dewa kematian mencabut nyawa nya dengan cara yang sangat menyakitkan sekali pun.
Pikiran-pikiran itu terus menari di ingatan Neo, hingga tanpa sadar, air matanya kembali jatuh, membasahi satu sisi bantal yang sekarang menyangga kepala nya.
Jo mungkin meminta Neo untuk beristirahat, tapi dia tidak bisa melakukan itu. Tidur di kasur nyaman dan hangat, sementara Dere-nya dia tidak tahu apakah dia juga merasakan hal yang sama dengan yang dia rasakan saat ini atau tidak?