Bab 27

1095 Kata
                Bunyi berisik di luar jendela mengusik bocah beriris zamrud itu hingga dia bangun dari tidurnya.             Ternyata suara berisik itu dari hujan lebat di luar sana. Terdengar sangat berisik karena guyuran air mata langit itu langsung mengenai jendela kaca yang menjadi penyekat kamar Neo dengan dunia luar.             Dia tidak tahu ini jam berapa, tapi yang jelas, meski langit masih terlihat gelap karena mendung, tapi terangnya seperti tidak mengatakan kalau itu masih malam, bahkan lilin yang dipasang Jo pun sudah habis terbakar entah sejak kapan.             Setelah membuka selimut yang menutupi tubuhnya, Neo turun dari ranjang dan memandang hujan di luar jendela kaca itu diam.             Ini memang sudah di penghujung musim gugur dan hujan seperti ini harusnya tidak asing lagi bagi Neo. Tapi, melihat hujan sederas itu di luar sana, setidak nya Neo kembali bisa bersyukur karena dia tidak berada di luar sana, kedinginan dan kebasahan.             “Tunggu, jaketku?”             Neo tiba-tiba teringat jaket yang semalam dia buka setelah mandi dan menapatkan pakaian ganti dari Jo, setelah itu, dia meninggalkan pakaian lusuhnya begitu saja di dekat lemari di lantai bawah dekat ruang makan.             Dengan cepat Neo turun dari lantai dua ke lantai satu, mencoba secepat yang dia bisa dan berharap kalau dia masih bisa menemukan pakaian lusuhnya di tempat yang sama dan belum dibuang oleh Jo. Karena dia masih ingat jelas, kalau semalam Jo ingin membuang pakaian itu.             Betapa terkejutnya dia saat dia tidak menemukan apa yang dia cari di tempat di mana dia meninggalkan nya.             “Di mana...?”             “Selamat pagi,” sapa suara yang Neo kenal. Saat suara itu terdengar lebih keras dari suara hujan di luar sana, Neo langsung berbalik dan memastikan kalau itu adalah Jo.             Dan benar saja, itu Jo, sedang berdiri dekat meja makan, dengan celemek dan pakaian yang sama yang dia pakai semalam. Membawa sebuah piring berisi sepotong roti dan telur goreng juga beberapa lembar Bacon.             Buru-buru Neo menghampiri wanita yang memang sudah tidak lagi muda itu.             “J—Jo?!” Panggil Neo panik. Meski begitu, Jo tetap tenang, melihat wajah tampan dengan iris zamrud menawan itu penuh pertanyaan, namun belum bisa dia katakan bagai mana herannya dia dengan ekspresi bocah yang dia bawa masuk ke rumah nya kemarin malam, dan lebih memilih untuk mendengarkan lebih dulu, apa yang mungkin ingin dikatakan bocah itu.             “J—Jo? Apa k—kau, melihat pakaianku?”             Jo hanya terkekeh mendengar pertanyaan anak di dapannya sekarang. Oh, ayolah, lihat bagai mana takutnya dia saat menanyakan hal itu padanya? Padahal itu hanya pakaian usang yang bahkan sudah berlubang di mana-mana.             Namun, dengan santai, Jo malah meminta Neo mengikuti nya pergi ke belakang dapur, tepat ke tempat di mana ada kamar mandi. Namun mereka tidak benar-benar ke luar dari dapur.                       Dari  sana, Jo memperlihatkan sebuah ember besar berisi air dan  sabun , namun dia tidak tahu apa yang sedang direndam oleh Jo di dalam sana.             “Pakaianmu tidak kubuang tentu saja, karena aku  pikir, itu sangat berharga untukmu, jadi saat kau pergi tidur, aku coba mencucinya, hanya saja ... karena sangat kotor, aku tidak bisa membuat pakaian itu bersih hanya sekali cuci, jadi aku merendamnya lagi dalam air sabun untuk kucuci nanti. Tapi, hari ini hujan juga cukup lebat, aku tidak bisa mencucinya sekarang.”             Sebenarnya Neo tidak suka saat Jo mengatakan kalau dia harus mencuci pakaian itu beberapa kali, karena dia tahu hanya dengan mencuci pakaian itu satu kali saja, rasanya sudah sangat melelahkan, apa lagi dengan melakukannya berkali-kali.             “Jadi, mari kita biarkan itu di sana, setidak nya sampai hujannya sedikit reda, aku akan mencucinya lagi.”             Sekali lagi, Jo menyentuh punggung Neo, berusaha membawa pria kecil itu menjauh dari pintu belakang, untuk kembali ke meja makan.             Tapi, sebelum mereka benar-benar berjalan, Neo menahan langkahnya sendiri dan kembali membuat wanita tua itu penasaran.             “Kenapa?”             “Jo,” panggil Neo, “kenapa kau baik sekali pada ku?”             “Tidak boleh?”             “B—bukan tidak boleh! Tapi, aku ini—aku ini bukan siapa-siapa, aku hanya gelandangan yang bahkan sudah dibuang sejak kecil oleh orang tuaku. Aku tidak kenal mereka, wajah mereka, bahkan nama mereka pun aku tidak tahu...,             Semua orang memusuhiku. Saat aku tinggal di jalanan, semua orang yang melihatku lewat di depan mereka selalu melempariku dengan apa pun yang mereka pegang, tak jarang aku disiram air oleh mereka. Aku juga sering dituuduh sebagai pencuri, padahal aku sama sekali tidak pernah melakukan itu.”             Awalnya Jo tidak merespon apa pun untuk kalimat-kalimat yang dike luarkan Neo, namun saat kalimat terakhir pria itu ke luarkan, Jo sedikit tertarik, hingga akhir nya dia memutuskan untuk bertanya.             “Jika kau tidak mencuri, bagai mana caranya kau bertahan hidup?”             “Aku berani bersumpah untuk soda-saudaraku kalau aku tidak pernah mencuri! Aku—aku bekerja!” jawab Neo benar-beanr takut, kalau Jo yang sudah berbaik hati memberikannya pakaian, makanan dan tempat untuk berteguh, akan mengiranya sebagai pencuri, sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang sering dia temui di jalanan.             “Bekerja di mana?”             “U—Uncle Bob ....”             “Siapa itu Uncle Bob?”                        “Dia, pria buntal pemilik ladang gandum dan jagung di tepi kota Chocketerbuergh. Dia memang tidak mau memperkerjarkanku awalnya, tapi, aku selalu datang dan datang lagi ke ladang jagung dan gandum milik nya untuk membantu. Tak jarang, aku membantunya membersihkan kandang babi dan sapi hanya untuk mendapat uang.”             “Dia membayarmu dengan uang?” Neo mengangguk lemah, “berapa?”             “Sepuluh dolar sehari. Tapi! Tapi aku menolak ....”             “Kau tolak? Apa karena uang itu terlalu kecil untukmu?”             Neo menggeleng kuat! Dia benar-benar menolak asumsi itu. “Aku—aku menerima uang itu untuk beberapa minggu pertama bekerja, lalu ... lalu aku pergi ke pasar untuk membeli makanan dan pakaian untuk Raya, tapi ... tapi mereka menuduhku pencuri dan aku hampir mati keroyok warga.”             “Anak sekecil kamu dikeroyok warga?” Jo tidak percaya dengan apa yang dia dengar, dan sialnya, Neo mengangguk.             “Setelah itu...,” Neo melanjutkan kalimatnya, “aku hanya meminta Uncle Bob membayarku dan saudara-saudaraku dengan beberapa potong roti hangat dan pakaian bekas jika dia punya.”             Bulu kuduk Jo serasa berdiri semua nya, dia tidak bisa membayangkan mengerikannya kehidupan yang dilalui oleh bocah sekecil ini.             Dengan tubuh gemetar, Jo mengulurkan tangan nya, mencoba memeluk tubuh mungil itu dan membenamkan wajah Neo dalam kehangatan.             “Karena itu, tolong—tolong jangan anggap aku pencuri. Aku—aku bukan pencuri, aku tidak pernah mencuri ....”             “Tidak, sayang, tidak akan ada yang akan menganggapmu seperti itu lagi, karena mulai sekarang ... kau tidak akan lagi hidup seperti itu ... kau akan tinggal di sini, bersamaku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN