Ara masih terdiam di tempatnya dengan kening yang mengerut. 'Siapa sebenarnya dia ini? Kenapa dia melakukan semua ini?’ batinnya. “Ra!” tegur Devan ketika mendapati Ara yang hanya berdiam diri di tempatnya setelah memeriksa ponselnya. “Eum?” “Ada apa?” Ara tersenyum lalu kembali menyimpan ponselnya ke dalam tasnya, “Hm, ngga apa-apa kok. Kalau gitu aku keluar dulu ya Kak. Semoga kamu segera sembuh.” Devan hanya mengangguk dengan senyum kecilnya. Ara pun melangkah keluar ruangan dengan wajah gelisahnya. Dua orang yang berada di luar sontak mengalihkan pandangannya ke Ara yang baru saja keluar dari ruang ICU. “Ra, sudah selesai?” Ryan maupun Jenny berdiri, menghampiri Ara. Ara hanya mengangguk sebagai jawaban namun wajahnya masih terus menunjukkan raut gelisahnya hingga membuat dua

