bc

Bukan Pemeran Utama

book_age18+
38
IKUTI
1K
BACA
billionaire
contract marriage
family
love after marriage
fated
tomboy
drama
sweet
straight
campus
like
intro-logo
Uraian

Raditya terpaksa menikahi Laras karena skandalnya sendiri saat SMA. Berpikir gadis itu telah menghancurkan kisah cintanya, dia memupuk rasa benci tanpa dasar pada Larasati. Namun ketika cinta datang mengetuk di saat yang tak terduga, tiba-tiba banyak rahasia yang terbuka, bayangan trauma masa lalu mereka yang menghantui, serta kondisi keluarga yang bagai langit dan bumi. Akankah cinta itu bertahan atau justru meninggalkannya lagi. Menjauhi putaran takdir dan karma yang tak pernah salah menagih, membuatnya merasakan manis getirnya cinta, dan kepedihan dalam sebuah penantian panjang, untuk mahalnya sebuah kata maaf.

Bisakah mereka berdua memilih menjadi bukan pemeran utama? Kembali menjadi bukan siapa-siapa?

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog : Takdir
"Apa besok aku bolos saja ya buk? " Tanyaku pada ibuku yang sedang sibuk mengadon kue. "Lah kenapa? Wong kamu ga salah kok kamu yang gak masuk toh nduk?" Tanyanya balik sambil menoleh ke arahku yang sibuk menggosok piring di sink dapur rumah kami. Ibuku meletakkan baskom tepungnya, berdiri lalu mendekatiku sambil meletakkan satu tangannya di pundakku. "Masuk saja. Kalau ada yang tanya, jawab saja apa adanya. Tidak perlu ditambahi tidak perlu dikurangi. Harus berani. Masuk besok, lusa, atau minggu depan apa ada bedanya? Pasti tetap ditanya-tanyai toh? Harus berani. " Tutur beliau lembut sambil sesekali mengusap pundakku. Seolah tahu, bahwa putrinya ini sedang ingin lari. Sedang tak ingin jadi berani. Tak pernah ingin jadi berani. Hhh. Kutarik nafas panjang. Tanganku berhenti menggosok piring terakhir, berpikir sejenak. "Kalau nanti aku diculik dihilangkan saat pulang sekolah bagaimana buk?" Ratapku. "HUSH!! Onok-onok ae kamu ini." Usapan itu berubah jadi tepukan keras di punggungku. "Sakit buk! " "Gak usah kejauhan mikir. Wes. Percaya sama Allah, kalau kamu ga salah ga usah takut. Besok masuk sekolah. Pulangnya mampir belikan obat buat Bapakmu." Ibuku kembali menuju ke baskom tepungnya. Memecahkan beberapa telor, menguleninya. Pikiranku masih meliar ke mana-mana. Piring terakhir itu masih kugenggam. Belum kugosok. Belum kubilas. "Berprasangka itu yang baik-baik, " celetuk ibuku. Hhh. Kutarik nafas lagi lebih panjang. Kugosok piring ku, kubilas, kusisihkan. Kutinggalkan ibuku di dapur bersama pikiran positifnya tanpa bicara. Kurebahkan tubuhku di atas kasur kamarku. Kulihat langit-langitnya, sambil terus mengulang-ulang kejadian kemarin siang di perpustakaan sekolah. Seandainya aku tak begadang di bengkel Bapak sampai pagi. Seandainya aku tak ketiduran di perpustakaan saat jam pelajaran bu Yanti. Seandainya Ita ga menelepon mencariku. Seandainya besok dan seterusnya aku ga perlu masuk sekolah. Ah. Seandainya saja. Mataku memberat. Dan aku pun terlelap. Entah besok seperti apa. Aku hanya ingin tidur. Lelah. *** Aku melangkahkan kakiku dengan gamang. Ini adalah tahun ketigaku di SMA, sedikit lagi aku akan meninggalkan seragam abu-abu lalu memakai jas almamater mahasiswa. Namun hari-hari di tiga bulan terakhirku sekolah di sini, sama sekali tak terbayangkan akan kujalani dengan seperti ini. Sedari tadi setiap tatap pasang mata yang kulalui selalu melihatku dengan berbisik-bisik. Kejadian kemarin memang sudah tersebar ke mana-mana, bahkan sampai ke akun gosip lambe-lambean. Maklum, jalinan sosial keluarga Stephanie dan Raditya termasuk dalam lingkungan showbiz artis-artis papan atas lengkap dengan dunia kegemerlapan dan ghibahnya yang menghasilkan cuan. Meskipun hanya beberapa saat sebelum tim IT dan tim hukum beraksi memutus rantai pemberitaan, dan juga penyebaran. Aku masuk kelas. Semua teman sekelasku menatapku serentak. Cuap-cuap yang tadi terdengar, terbabat habis berganti keheningan. Aku mengedarkan pandangan. Bangku Stephanie kosong, begitu juga bangku Ita, teman sebangkuku sejak kelas satu. Ah, mungkin dia belum datang. Pak Imam datang dengan mengucap salam, seketika memecah keheningan canggung kelas ini. Semua serentak menjawab salam beliau. Kompak. Padahal biasanya harus diulang beberapa kali baru mereka menjawab kompak dan lantang seperti ini. Ita tak kunjung datang. Mungkin dia tidak masuk hari ini. "Ras.. Lo gak buka grup chat kelas?" Desi membisikiku dari belakang. "Gak. Gue kemarin seharian di tahan di ruang guru. HP gue disita." "Astagaaaa..! Jadi lo belum tahu? Ita dipaksa pindah dari sekolah?" "APA??!" Aku sontak berdiri. Mukaku merah, kaget bukan kepalang. Pak Imam mendehem, melihatku dengan kesal. "Ada apa Larasati? Mau menggantikan Bapak di depan sini?" "Nggak pak. Maaf.. " Aku duduk kembali. Mengatur ruwetnya otakku. "Kenapa dipaksa pindah? Bukankah Raditya dan Stephanie yang harusnya pindah sekolah?" Aku berbisik kembali ke arah Desi. "Lo tau gak.. Tadi malam ada tim pengacara sama orang-orang kekar dateng ke rumah gue. Lo pasti taulah mereka siapa dan kenapa. Dan gak cuma gue, satu kelas ini semua juga di datengin Ras. Mereka memburu orang yang ngrekam video call Ita sama lo!" "Tapi Ita kan gak salah juga Des.. Yang salah itu Stephanie dan Radit. Ya Allah..." Aku mulai putus asa. "Trus Ita sekarang dimana?" Lanjutku. "Kabarnya dia mau dipindahin ke Surabaya, tinggal sama neneknya di sana. Orangtuanya di sini udah keder, diancam-ancam kali Ras. Secara lo tau kondisi keluarga Ita kayak gimana, adeknya banyak, bapaknya juga barusan kena phk." Kepalaku pening. Apalagi ini ya Allah.. Pikiranku menuju pada sahabat sebangkuku itu. Bagaimana perasaannya saat ini, bagaimana kondisinya saat ini ketika dia mendapat hukuman yang salah tempat. Apa Ita akan membenciku karena ini? Jika Ita harus dipindah bersama neneknya, apa aku juga harus pindah bersama nenekku? Kakek nenekku semuanya sudah meninggal dunia. Lalu apa mereka akan memindahkan aku bersekolah ke pemakaman? Kupegang dadaku yang naik turun. Aku harus tetap waras. Aku harus bertahan. "Oh iya Ras, mm.. Kami.. Kami semua di minta untuk gak berhubungan sama kamu. Demi kebaikan bersama, supaya masalah gak semakin panjang. Ibuknya Radit yang minta. Kemaren beliau sempat ke sini sebentar sebelum ke ruang guru. Maaf ya Ras.. Aku mewakili anak-anak.." Suara Desi bergetar mengucapkan kalimat terakhir itu. Balon api di pikiranku pecah seketika. Ku kepalkan tanganku sangat erat di atas paha. Air mataku sudah jatuh. Tak ada dayaku lagi tuk menahannya. Sebegitu berkuasanya kah orang kaya? Hingga hidup kami yang remeh ini di bolak balik semudah jerami. "Gapapa Des. Bukan kamu yang harusnya minta maaf. Tapi mereka." Aku mengatakannya dengan susah payah, dengan menahan gejolak tak menentu di hatiku. Ini tidak adil! Aku menangis di sepanjang pelajaran Pak Imam. Dan akan sering kali berlanjut menangis sepanjang akhir tahun ajaran hingga kelulusan. Tak ada lagi teman yang berani menyapaku setelah itu, takut mereka juga tersingkirkan seperti Ita dan aku. Kurasakan bagaimana jerat racun yang disebarkan oleh Raditya, membuat kehidupanku terasingkan dan hatiku dipenuhi oleh kerikil dendam. Namun ini tidaklah seberapa, sebelum satu minggu kemudian. Datanglah hukuman untukku yang sebenarnya. Hukuman yang sama sekali di luar nalar dan logika. Raditya Bayu Suseno. Kamu akan membayarnya!

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

MANTAN TERINDAH

read
10.1K
bc

The Perfect You

read
297.8K
bc

I Love You, Sir!

read
270.4K
bc

Symphony

read
184.8K
bc

Love Match

read
180.3K
bc

DIA UNTUK KAMU

read
40.0K
bc

DOKTER VS LAWYER

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook