Gemericik hujan menyapa lirih balkon apartemen lantai 11 yang kini kutempati. Apartemen pemberian orang tua Radit untuk kutinggali. Untuk kami tinggali sebenarnya. Tapi sejak akad nikah kala itu, aku sama sekali belum pernah bertemu Raditya. Dia tidak pernah pulang ke sini, juga tidak pernah mengabari.
Setelah membereskan jemuran pakaianku. Terdengar bel unitku berbunyi. Aku segera berlari keluar membuka pintu.
"Mbak..."
"Loh, kok banyak Al? Ini untuk mbak semua? Kamu gak pakai? "
Aku menyapa adikku sambil membantunya membawa masuk beberapa kardus berisi peralatan pertukangan. Alat-alat tukang milik Bapakku. Bengkel kayu Bapak sudah resmi gulung tikar. Ali dan Ibuk sekarang fokus untuk menyelamatkan nafas hidup toko kami.
"Ah, buat apa mbak. Mbak Laras saja, kan dari dulu mbak Laras yang lebih sering bantu Bapak. Aku gak ngerti cara pakainya." Dia tersenyum lebar.
Kulitnya lebih cokelat dari terakhir kami bertemu. Badannya terlihat lebih tegap, lebih tebal. Namun senyumnya tetap sama, semangatnya. Adikku itu, stok senyumnya seolah tak pernah habis. Tak pernah terlihat marah. Tak pernah berprasangka. Hidupnya dialirkan cukup dikata syukur dan bahagia, apapun ujiannya. Mirip sekali dengan Ibuk.
Aku tersenyum.
"Bapak Ibuk gimana Al? Sehat? Di toko bagaimana?"
"Alhamdulillah. Ibuk Bapak titip salam buat mbak Laras dan mas Radit."
"Wa'alaikumsalam warrahmatullah, " Jawabku tanpa kulihat tatapan adikku. Bagaimanapun aku tak ingin membuatnya khawatir dengan kondisi rumah tanggaku. Pun dengan kabar suamiku yang entah bagaimana, entah ada di mana, entah sedang melakukan apa.
"Mas Radit gimana mbak? "
Deg!
"Kok aku gak pernah ketemu tiap mampir kesini?"
"Minum dulu. Baru balik. Kamu sudah makan? " Jawabku sambil membuka pintu kulkas. Mencari-cari makanan apa yang bisa kutawarkan. Dan, tentu. Mencoba untuk tak harus menjawab pertanyaan apapun tentangnya.
"Ga usah mbak. Mau balik toko. Kasihan ibuk sendirian."
Ali tetap menatapku menunggu jawaban saat kuantarkan ke arah pintu untuk pulang. Kugaruk tengkukku asal untuk mengurai rasa enggan. Enggan membahas segala sesuatu tentang seseorang bernama Raditya.
"Mbak... "
"Ya... "
"Mbak selalu bisa pulang ke rumah. Kalau kangen, pulang aja." Dia memberiku satu lagi senyuman lebarnya sebelum berbalik dan mengucap salam. Kulihat punggung tegapnya meninggalkanku, hingga menghilang di ujung lorong. Air mataku tumpah setelahnya. Aku rindu keluargaku.
**
Aku membaca daftar nama pengumuman penerimaan SBMPTN 2010 di koran kota yang kubeli pagi-pagi sekali. Ingin melihat dari situs resmi namun apa daya, aku tak punya kuota internet, pun tak ada warnet di daerah sekitar apartemen elite ini.
Kurunut satu demi satu secara perlahan barisan nomor ujian dan nama-nama itu, takut asal terlewatkan. Dan setelah beberapa lama, kurasakan jantungku hampir copot saking bahagianya.
312009320071. Larasati Dhaneswari. UIB. Arsitektur.
"Allahu Akbar! " Pekikku. Tangisku tumpah dalam sujud.
Segera setelahnya aku menelepon rumah. Betapa derai bahagia suara Ibuk dan Ali di ujung sana membuatku semakin yakin melangkah mantap. Membulatkan tekad menyusuri jalan mimpi dan cita-cita. Aku akan keluar dari perangkap ini sebagai pemenang, bukan pencundang!
"Bapak. Laras jadi mahasiswi arsitektur, Pak! Seperti mimpi Bapak."
Aku tersenyum lebar. Aku habiskan jatah pulsa seminggu untuk telepon hari ini saja. Ini perayaan! Pekikku dalam hati. Lupa kalau setelah ini masih ada daftar ulangulang. Lupa kalau tanggungan pendidikanku bukan lagi urusan Bapak Ibuk, tapi tanggungan seseorang. Seseorang yang mengambilku dari rumah dan membuangku di tempat asing ini.
Asing. Dan sendiri. Semua teman SMA-ku pergi menjauh. Kami hampir tak pernah berbalas kabar, mungkin kami semua ingin melupakan hari itu, ingin menganggapnya tak pernah ada. Termasuk Ita. Dia tak lagi membalas pesanku, atau mengangkat teleponku. Dan aku sangat memahaminya. Persahabatan kami berakhir dalam diam. Aku tak menyalahkannya, mungkin hidupnya menjadi lebih berat dariku karena masalah ini. Kami berdua terpaksa dipisahkan dari orang tua yang kami sayangi. Mungkin lebih baik begini. Kata Ibuk, rencana Allah adalah yang terbaik. Dan aku sedang berusaha meyakini itu. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya.
Kutatap gerimis hujan itu dari balik pintu kaca balkon. Aku tahu aku harus menyusun rencana masa depanku dengan seksama. Aku tak ingin terjebak dalam pernikahan palsu ini selamanya. Aku tak akan menangis lagi.
Kuraih buku catatan harianku, aku menulis satu persatu rencanaku untuk bisa lulus tepat waktu, memanfaatkan waktuku se-efisien mungkin, mencari pekerjaan yang mudah, menghitung gajinya, menghitung pengeluarannya, menulis berapa lama waktu kubutuhkan untuk meraih semua itu.
Ini adalah peperangan. Ini adalah hidupku.
***