Penyerangan

1114 Kata
Sepulang bekerja, Kinanti berjalan sendiri menuju parkiran. Kemana Ayu? Dia sudah pulang satu jam yang lalu. Dikarenakan Kinanti tidak fokus bekerja, dia harus menambah waktu satu jam untuk menyelesaikan target pengerjaan. Ya, dia lembur tapi tidak dibayar. Kinanti bingung, sedikit lupa meletakkan motornya dimana saat dia sudah berada di tempat parkir. Betapa kagetnya Kinanti, melihat Haris muncul begitu saja. "Ayo pulang bareng mau nggak, Kinan?" Ajak Haris penuh semangat. Raut wajah Kinanti berbanding terbalik dengan Haris. Dia tiba-tiba merasa takut, apalagi hanya ada dia dan Haris di tempat ini. Tidak disangka, Zain yang sudah selesai bekerja dan seharusnya berada di luar kantor, malah balik lagi ke kantor. Kinanti dan Haris menatap seseorang dari balik helm Full Face dan mengenakan jaket kulit berwarna hitam pekat. Beberapa detik kemudian, orang itu turun dari motor Ninja hijau dan membuka kaca gelap helm. Kinanti ternganga melihat Zain muncul secara tiba-tiba. Kinanti senang, tapi melihat pertemuan terakhir mereka tadi sangat suram, membuat Kinanti tidak penuh harap pada Zain. Sebenarnya dia berharap Zain akan membantunya untuk menghindar dari Haris. Tapi... Kinanti memutuskan menyelesaikannya sendiri. Haris merengut. Rencananya sepertinya tidak berhasil melihat kedatangan Zain secara mendadak. Padahal beberapa jam lalu, Haris melihat Zain sudah meninggalkan kantor. Oh, sial sekali. Pendekatannya dengan Kinanti selalu saja dihalangi oleh Zain tanpa disengaja. Zain hanya tersenyum melihat keberadaan Kinanti dan Haris. Sedangkan mereka berdua, membalas senyuman Zain. Haris ingin menyapa, namun TL itu sudah pergi meninggalkan mereka berdua. Kinanti menahan napas. Ternyata dia memang harus berjuang sendiri untuk menghadapi Haris. Beberapa detik menahan napas, Kinanti menghembuskan secara kasar. "Gimana, Kinan?" Haris sedikit tersenyum. Rencananya ternyata tidak digagalkan oleh kehadiran Zain. "Mau enggak, pergi sama aku? Ayo kita makan, aku lapar dan pengen makan sama kamu." "Hmm. Aku nggak lapar, Ris. Maaf ya? Aku harus pulang kerumah, takut dicariin Ibu." Kinanti meminta Haris untuk sedikit mengerti. Kenyataannya, Haris malah marah. "Bilang aja kamu nolak aku, kan? Enggak usah sok kecantikan deh," Protes Haris, membanting helm yang ada di genggaman tangan secara kasar. Sengaja, Haris melemparkan di dekat Kinanti agar wanita itu ketakutan dan luluh dengan keinginanya. Jantung Kinanti berhenti mendadak beberapa detik mendapati sikap Haris padanya. Kinanti benar-benar trauma. Dia tidak menyangka Haris akan bersikap berlebihan terhadapnya. Untung saja Kinanti berhasil memberanikan diri untuk melawan Haris, meskipun mentalnya goyah. "Kasar banget, sih jadi cowok!" Sahut Kinanti, sedikit menaikkan nada bicara. Tidak juga dia menunjukkan wajah ketakutan. "Awas kamu berani macam-macam sama aku." Sedikit mengancam. "Kamu pasti nyuruh Ayu buat nyingkirin aku, kan?" Haris menaikkan sebelah alis. Pertanyaan barusan malah membuat Kinanti berpikir sejenak. "Setiap kali aku deketin kamu, Ayu pasti ngusir aku. Itu kamu yang nyuruh, kan?" Haris berteriak meluapkan kekesalannya saat itu juga. Dia tidak peduli kalau Kinanti mulai takut dan khawatir. Kepercayaan diri Kinanti hilang begitu saja saat mendengat suara Haris yang menggelegar. "Aku sengaja nunggu kamu sejam disini. Dan aku tau kalau Ayu udah pergi. Apa kamu berani hadepin aku sendiri?" Tantang Haris, memajukan langkah mendekati Kinanti. Di belakang Kinanti ada tembok. Tubuhnya tersudutkan, sedangkan Haris semakin mendekatinya. "Cukup, Haris!" Teriak Kinanti. Sayangnya, tidak ada orang lain selain mereka berdua. "Aku pikir kamu peka dengan sikapku yang acuh denganmu. Kenapa kamu semakin mengejar aku?" "Aku tertarik sama kamu, dan pengen kamu jadi milikku." "Hentikan, Haris. Aku enggak suka sama kamu. Jangan memaksakan diri, aku mohon kamu cepetan sadar." Kinanti memelas. "Enggak mau." Sahut Haris. "Ada apa ini?" Tanya Zain dengan lantang. Haris menendang kasar botol bekas di dekatnya ke arah lain karena kesal dengan kemunculan Zain. "Ah, Mas. Tolong aku." Kinanti berlari ke arah Zain, berlindung di belakangnya. Tidak sadar, air mata Kinanti sudah mengalir deras membasahi wajah. Zain mengamati itu dan sekarang bergantian menatap Haris. "Apa yang kamu lakukan ke Kinanti?" Zain mendekati Haris. "Nggak ada urusannya sama kamu." Haris pergi begitu saja, meninggalkan mereka berdua. "Apa yang udah dia lakukan ke kamu?" Zain memutar tubuh, menghadap ke Kinanti. Kinanti tertunduk, tubuhnya gemetar. Semula dia memegang kedua tangan Zain saat berlindung dari Haris. Namun, sekarang dia sudah melepaskannya. Zain mengangkat wajah Kinanti dengan lembut. "Ayo, cerita. Apa dia macem-macem sama kamu?" Zain penasaran. "Aku mau laporin sikap kasar dia ke atasan biar dapet surat peringatan, bener-bener enggak sopan sama sekali." "Enggak usah. Aku takut dia nekad." Kinanti penuh harap. "Dia maksa aku buat jadi pacarnya. Aku nolak baik-baik tapi dia emosi dan ngelempar helm di deket aku." "Aku harus ngelaporin. Biar dia berubah." "Gimana kalau dia tambah dendam sama aku, hm?" Kinanti berhasil membuat Zain berpikir ulang untuk melaporkan Haris ke atasan. "Aku takut dia tambah benci dan nekad. Enggak usah aja, Mas." "Oke... Oke." Zain menganggukkan kepala, pertanda dia setuju. Lalu, Zain menoleh ke segala arah. "Gimana kalau aku nganterin kamu pulang?" "Mmm... Enggak usah, Mas. Aku nggak mau ngerepotin. " Kinanti tersenyum lebar. Zain mulai perhatian lagi dengannya. "Kenapa mas balik lagi ke kantor?" "Kok kamu perhatian sih, tau kapan aku pulang?" Nada Zain menggoda. "Kan tadi pagi udah tanya. Yaudah, aku pulang dulu, Mas." "Beneran enggak mau dianterin?" Sekali lagi Zain menawarkan diri, sedikit berharap Kinanti berubah pikiran. Nyatanya dia tetap pada pendirian. Menolak tawaran Zain. "Beneran enggak usah. Mas nggak dendam kan sama aku karena udah aku tolak?" Kinanti khawatir kalau Zain akan bersikap sama seperti Haris. "Tentu aja enggak lah. Aku ini cukup dewasa dijadikan suami." "Kok enggak nyambung ya?" Jawab Kinanti polos dan sulit diajak becanda. "Yaudah. Sampai ketemu besok Mas." "Aku besok libur, enggak tau ketemu kamu kapan, huft." Zain seolah-olah tidak mengizinkan Kinanti pergi begitu saja. "Ya Allah, Mas. aku mau pulang ah, jangan ditahan terus. Assalamualaikum warrahmatulahi wabarakatuh." "Eh..." Zain menggaruk kepala karena salah tingkah. "Waalaikumsalam...." Zain tidak meneruskan karena melihat Kinanti langsung pergi begitu saja. Sebenarnya Zain kasihan melihat Kinanti. Hari pertama bekerja sudah banyak halangan. Semoga saja dia betah dan Zain dapat melihat Kinanti setiap saat. *** Ayu melirik Haris beberapa detik saat berjalan di depannya. Ayu mengira Haris akan duduk berhadapan dengannya dan Kinanti. Ternyata Ayu salah besar. Bahkan, menatap Kinanti saja Haris tidak melakukannya. Ayu penasaran. "Eh," Bisik Ayu, sebelah tangan diayunkannya ke pinggang Kinanti. Wanita yang duduk di sebelahnya itu hanya menjawab dengan dehaman saja. "Tumben Haris cuek. Apa karena ribut kemarin sama aku ya?" Kinanti melemparkan senyum singkat pada Ayu. Lalu, fokus kembali ke laptop di depannya. "Nanti aku ceritain deh, kemarin dia ribut sama aku pas Maghrib." "Ah, serius?" Semula Ayu hanya berbisik, tapi karena terkejut mendengar jawaban Kinanti, dia hampir menjerit. Kinanti sudah tahu respon apa yang Ayu berikan. Dengan sigap, Kinanti membekap mulut Ayu. "Berisik, tauk!" Bisik Kinanti. "Huft." Ayu mengatur napas. Seraya menoleh ke segala arah. Tidak ada yang memperhatikan karena pada fokus di depan layar."Eh, Minggu depan kita masuk jam 3 sore." "Aku tau. Terus kenapa?" "Enggak sih. Siapa tau kamu lupa."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN