Over Time

1140 Kata
Ayu tertawa ketika melihat Kinanti berdiri depan loker saat dia memasukkan tas. Hari ini mereka mendapatkan jadwal pukul 15.00 WIB, dan akan selesai bekerja pukul 00.00 WIB nanti. Dalam seminggu mereka bekerja 5 hari dan libur 2 hari. Namun, libur mereka tidak tentu. "Hei, kamu mau Camping ke gunung mana?" Ayu sengaja mengagetkan Kinanti yang berdiri di depannya. Suara dan gerakan tangan saat menepuk pundak Kinanti, Ayu lakukan secara bersamaan. Ayu yang melihat Kinanti mengenakan pakaian tebal membungkus tubuh benar-benar membuatnya tertawa. "Kenapa pakai baju kayak gini? Di dalam sana enggak ada salju." "Ya Allah. Ngagetin aja kamu, Yu!" Kinanti membalikkan tubuh seraya mengelus d**a beberapa kali. "Di dalem emang enggak ada salju, tapi bisa bikin tubuh kita membeku. AC-nya dingin banget sumpah." "Iya sih, aku lupa bawa jaket. Masih di motor." Ayu menghela napas kecewa. "Yaelah, cuma di motor. Aku kira ketinggalan di rumah." Kinanti sudah memeluk botol minum yang ia bawa dari rumah. "Kita bener-bener pulang jam 12 malam nih?" "Lah, kamu mau pulang jam 12 siang apa gimana. Kalau kuat nggak masalah, sih?" "Ah, kamu becanda terus." Kinanti memukul lembut bahu Ayu. Mereka berdua berjalan sejajar menuju ruang kerja. "Kamu bawa makan apa malam ini, semoga istirahatnya kita barengan ya?" "Iya, aku bawa sayur sop sama lauk tempe goreng aja. Kita harus hemat." Ayu mengangkat kedua bahu sambil tersenyum lebar. "Gajian masih lama, jadi ngirit dulu. Kalau udah gajian kita makan enak mau nggak?" "Mau aja. Itung-itung bahagiain diri sendiri karena udah bekerja keras." "Aku setuju. Nabungnya belakangan, kan?" Ayu menaik-turunkan alis sembari tertawa lepas. "Bisa aja sih, Yu." Kinanti ikut tertawa namun masih dalam batas wajar. *** Ayu dan Kinanti mendapat meja paling belakang. Sedangkan disana tidak ada TL yang berjaga di tepi meja. Hanya ada senior-senior saja dan mereka berdua tidak mengenalinya. Jadwal Ayu dan Kinanti berbeda dengan teman-teman seangkatannya. Mereka ada yang mendapatkan libur atau ada juga yang masuk pagi. Kedua wanita itu sedang mendapatkan kesialan, masuk kerja jam 3 sore. Sesuatu yang ditakutkan oleh para wanita setiap bekerja. Orangtua Kinanti sebenarnya tidak setuju kalau anaknya pulang malam dan meminta Kinanti untuk mengundurkan diri. Sayangnya, Kinanti masih ingin bertahan. Berharap pekerjaan ini mampu membuat Kinanti mendapatkan karir yang bagus. Sehingga dapat membantu meringankan beban orangtua. "Eh, serius disini enggak ada TL?" Tanya Ayu berbisik pada Kinanti. "Kalau kita enggak bisa ngerjainnya gimana? Kita mau tanya siapa coba?" "Tanya aja sama senior." Sahut Kinanti singkat, tanpa menatap Ayu. Dia sibuk menghidupkan laptop. "Aku takut mau tanya. Mana nggak kenal lagi. Wajahnya juga serem-serem." Bisik Ayu saat mendekat ke telinga Kinanti. "Pasti mereka ngamuk kalau ditanyain sama kita." "Iya juga sih. Tanya sama TL aja dimarahin apalagi sama senior." Balas Kinanti dengan berbisik. "Mana anak baru cuma kita berdua aja kan yang jam 3 sore?" Ayu mengangguk. Kepalanya menoleh ke segala arah, mencari teman seangkatan. Sayangnya, mereka duduk lumayan jauh dari keberadaannya sekarang. "Iya, mereka pada jauh duduknya." Sahut Ayu, terdengar pasrah dengan keadaan. "Mas Zain juga enggak ada disini. Sumpah, hari ini males banget kerja. Nggak semangat." "Paling juga libur Mas Zain." "Ya, gimana dong. Dia TL paling baik, eh." Ayu tak bersemangat. "Biarin, jangan berharap sama orang lain. Kita selesaikan pekerjaan kita sendiri." "Iya-iya. Pokoknya kalau nggak tau, asal ngerjain aja ya." Ayu fokus pada layar laptop dengan gerakan malas. Kinanti tertawa dengan menatap Ayu. *** Ayu menggoyangkan lengan Kinanti berulang kali. Saat dia melihat Zain memasuki ruang kerja. Sekarang pukul 22.00 WIB. Dan Zain baru terlihat di dalam sini. "Eh. Mas Zain baru dateng tuh. Asyik?" Ayu bersemangat meskipun suaranya kecil. "Biarin aja kenapa, nggak usah diliatin." Kinanti tidak mau tau. "Ih, kita baru dapet dikit nih, masih kurang banyak. Target masih jauh. Mana ini udah jam 10 malem." Ayu mulai panik. Karena posisi duduk mereka jauh dari TL, mereka sungkan bertanya pada para senior. Sehingga proses pengerjaan target kurang maksimal. "Ya Allah, kayaknya kita bakal lembur nih." "Mending yang kerja tangannya aja deh, jangan mulut. Enggak selesai-selesai nanti." Kinanti tetap fokus pada layar di depannya. "Eh... Eh..." Ucap Ayu, seakan sedang mengalami sesuatu hal. Lantas, Kinanti segera memalingkan wajah ke Ayu dengan raut panik. Kinanti mengira terjadi sesuatu pada Ayu, ternyata wanita itu memasang wajah bahagia. "Mas Zain kesini. Alhamdulillah." Lanjut Ayu. Tangannya sibuk menggoyangkan lengan Kinanti tanpa henti. Ayu tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya itu ketika datang seorang malaikat penolong. "Hai." Sapa Zain, meletakkan laptop di samping Ayu sebelah kiri. "Kalian udah dapet berapa ngerjain emailnya?" "Baru 50, Mas." Sahut Ayu, tidak bersemangat. "Padahal udah jam segini." "Ya berarti nanti lembur. Ngerjainnya harus sesuai target ya." Zain cengengesan seraya menekan tombol di pojok atas laptop. "Kalau enggak nanti atasan marah. Gaji kalian dipotong." "Hah, serius dipotong?" Ayu terkejut. Lalu membekap sendiri mulutnya. "Eh, beneran. Ayo kita ngerjain sekarang, Kinan." "Aku dari tadi nyuruh ngerjain kan. Kamu malah sibuk gosip." Kinanti membela diri. "Eh, TL kalian siapa?" Tanya Zain. Memajukan kepala agar dapat melihat wajah Kinanti. "Udah ada pembagian TL belum?" "Belum, Mas." Jawab Kinanti. Karena Ayu menyikut lengan Kinanti. "Paling besok udah ada pembagian TL. Semoga dapet TL yang enak." Zain terkekeh. "Semua TL pada baik kok. Tenang aja." "Ah, yang bener?" Ayu menyahut dengan nada sinis. "Eh, jangan gitu. Nanti kualat." Ucap Zain. "Pengennya kita dapet TL Mas Zain." Sahut Ayu. "Ya, semoga aja ya kita bisa satu tim. Yaudah buruan di selesein, keburu malem nanti kalian lembur." *** Sudah pukul 00.00 WIB, tandanya Kinanti dan Ayu waktunya pulang. Namun, mereka harus menyelesaikan target pengerjaan email. Kelopak mata Kinanti hampir tertutup rapat karena kantuk sudah menghampirinya beberapa menit yang lalu. Terpaksa Kinanti dan Ayu harus lembur meskipun tidak diberikan uang lembur. Semua karyawan baru diwajibkan menyelesaikan target pengerjaan meskipun harus lewat jam kerja. Tak ada alasan apapun. "Kalian masih banyak nggak emailnya?" Tanya Zain sedikit khawatir melihat Kinanti dan Ayu belum bersiap-siap untuk pulang. Apalagi wajah mereka berdua terlihat tak bersemangat. "Masih banyak banget, Mas." Sahut Ayu. Bicaranya tidak bersemangat lagi. Berbeda dari biasanya. "Masih banyak. Soalnya mau tanya sama senior takut. Dan enggak ada TL yang duduk disini." Ayu berharap Zain dapat meringankan mereka berdua, diizinkan pulang tanpa penyelesaian target. "Mmm.. Kalau kamu Kinan? Masih banyak enggak?" Zain memajukan kepala untuk melihat wajah Kinanti. Kinanti tersenyum. "Iya, Mas. Masih banyak juga." Jawab Kinanti singkat. "Yaudah, kalian selesaikan dulu. Aku mau keluar dulu." Ayu mendengus kesal. Dia mengira akan memberikan keringanan pada Ayu dan Kinanti untuk pulang. Ternyata tidak sama sekali. "Lah, aku kira Mas Zain suka sama kamu, Nan. Kalau dia emang suka, pasti bantuin kita buat pulang sekarang." Ucap Ayu kesal. "Kamu aja yang sok tau." Kinanti mengulum senyum. Sedikit kecewa juga dengan sikap Zain yang tidak mengizinkan mereka pulang, padahal sudah larut malam. "Kalau dia beneran suka, mungkin dia enggak mau mencampur urusan pekerjaan dan perasaan." "Aku yakin dia enggak suka sama aku. Kamu jangan berpikiran kayak gitu deh." Lanjut Kinanti, berharap Ayu tidak berpikiran secara berlebihan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN