Pangeran Tanpa Kuda

1012 Kata
*** Satu jam kemudian. Kedua tangan Kinanti masih berkutat di atas papan ketik. Bola matanya berfokus pada setiap kalimat keluhan pelanggan yang dikirimkan ke dia. Masih sekitar 20 target lagi yang harus ia selesaikan. Mungkin itu membutuhkan waktu 2 jam lagi, bagi Kinanti yang berstatus karyawan baru memang membutuhkan waktu lama. Jujur saja, Kinanti sudah tidak tahan untuk membuka mata. Tapi masih ada sedikit semangat yang membara untuk menyelesaikan target. Kinanti sesekali memikirkan Zain. Apa benar yang dikatakan Ayu kalau Zain suka dengan dirinya? Tapi, dia tidak terlalu menunjukkan perhatian lebih pada Kinanti. Sudahlah. Kinanti juga belum terlalu peduli dengan Zain. Apalagi memiliki rasa tertarik. "Hei, Kinan!" Teriak Ayu, Sudah beberapa kali Ayu memanggil Kinanti, akhirnya dia memfokuskan pikirannya kembali. Kinanti bingung melihat Zain sudah ada di hadapannya. Dia membawa dua botol kopi instan, mengulurkannya kepada Kinanti. "Ini kopi biar tambah semangat ngerjain target." Zain tersenyum tipis. Setelah Kinanti mengambil pemberian Zain, pria itu kembali ke tempat duduknya. "Aku tau kamu nggak suka kopi, tapi kamu harus minum kopi biar bisa nyelesaikan target." Kinanti membasahi bibir. Zain tenyata memperhatikan hal itu. Dia tidak lupa kalau Kinanti tidak suka kopi. "Habiskan kopinya ya, Kinan." Bisik Ayu, nada menggoda. "Nanti Mas Zsin ngambek kalau kopinya dibuang sia-sia." Kinanti mencubit halus lengan Ayu, membuat temannya itu menjerit sambil meringis kesakitan. "Terima kasih ya, Mas kopinya." Kata Kinanti, sedikit memajukan kepala. Zain hanya menganggukkan kepala dengan senyum lebar. "Mas... Ini beneran harus ngerjain 100 email? Kayaknya selesainya jam 3 pagi deh," Protes Ayu setelah menegak kopi botol. "Mana dari tadi dapet pertanyaan dari pelanggan yang susah-susah lagi. Aku cuma ngarang bebas jawabnya." "Kalau aku yang punya perusahaan ini, aku udah ngizinin kalian pulang dari tadi." Zain tidak menatap Ayu. "Kalau ngerjaian jangan ngawur. Harus hati-hati biar nggak nyesel belakangan." "Maksudnya biar nggak nyesel gimana, Mas?" Tanya Kinanti penasaran. Dia sejak awal masuk tadi, pengerjaannya tidak teliti dan asal menjawab pertanyaan dari pelanggan. "Ya intinya jangan ngawur aja kalau jawab. Kalau enggak bisa ya tanya. Jangan malu tanya sama siapa aja. Jangan takut, itu yang utama." Zain terdengar serius. Berharap kalimatnya barusan membuat Kinanti dan Ayu bekerja sungguh-sungguh. "Wah, tumben serius kamu, Mas." Goda Ayu dengan menaikkan sudut bibir. Sedikit tidak percaya kalau Zain bisa serius. "Aku ini sebenernya bisa serius," "Tapi apa?" "Udah buruan dirampungin." Zain kembali serius. *** Sudah jam 3 pagi namun Kinanti dan Ayu belum menyelesaikan target. Sedangkan Zain merasa kasihan pada mereka. "Kalian belum selesai beneran?" Tanya Zain, berdiri dibelakang Kinanti dan Ayu. Mengawasi layar laptop mereka secara bergantian. Kinanti dan Ayu tidak menjawab dengan suara. Hanya gerakan kepala yang menggeleng ke kanan-kiri. "Yaudah sana pulang. Biar aku yang tanggungjawab soal ini." "Beneran, Mas kita boleh pulang?" Kinanti tidak percaya dengan keputusan Zain. Keputusan itu pasti berat baginya. Namun, Kinanti tidak bisa menolak. Dia harus pulang kerumah sekarang. Orangtuanya pasti menunggu dengan cemas. "Iya, sana pulang. Ini pertama dan terakhir kali ya kalian begini. Jangan diulang lagi. Kalau nggak bisa ya tanya, jangan takut. Biar ngerjainnya cepet dan bener." Sekali lagi Zain mengingatkan mereka berdua. Karena Zain yakin Kinanti dan Ayu takut untuk bertanya. Apalagi Kinanti pasti memiliki trauma untuk bertanya. "Iya, Mas. Kita janji." Kinanti yang terus menjawab karena Ayu sudah setengah sadar. Tenaganya mulai habis karena belum terbiasa begadang malam sambil bekerja. "Yaudah, kalian hati-hati di jalan." "Siap, Mas. Kita hati-hati di jalan." Ayu menyahut akhirnya. "Iya Mas. Kita hati-hati." *** Kinanti mendapatkan sebuah pesan singkat dari seorang TL bernama Shinta. Dia mengatakan kalau mulai hari ini dia akan menjadi TL Kinanti. Sebenarnya Kinanti ingin Mas Zain menjadi TL-nya. Tapi karena sudah terlanjur dan kita tidak bisa memilih siapa TL kita, Kinanti hanya bisa pasrah. *** Kinanti sedikit khawatir. Shinta sudah mengirimkan sebuah pesan pada Kinanti untuk menemuinya saat bekerja nanti. Pesan itu begitu singkat dan membuat Kinanti berpikir berlebihan. Harapan wanita itu, semoga Shinta merupakan orang baik. *** Kinanti menoleh ke seluruh ruangan. Dia berusaha mencari seseorang yang belum ia ketahui wajahnya, yaitu Shinta. Setelah bertanya pada salah satu TL yang ada di dekatnya berdiri, Kinanti akhirnya menemukan Shinta duduk di meja paling belakang. Jantungnya berdebar kencang. Wajah Shinta membuat ritme jantungnya tidak beraturan. Setelah berdiri di dekat Shinta, Kinanti menyapa pelan-pelan. "Permisi, ini Mbak Shinta, ya? Perkenalkan saya Kinanti Mbak." Kinanti berusaha tersenyum lebar, dengan mengulurkan sebelah tangan untuk bersalaman dengan Shinta. Sebuah suara yang memanggilnya berhasil membuat Shinta mengalihkan fokus dari depan laptop ke arah pemilik suara. Shinta hanya menyunggingkan senyum sekilas. Lalu, menganggukkan kepala. Tak lama kemudian, dia membalas uluran tangan Kinanti. "Silakan duduk," Perintah Shinta, melipat kedua tangan di depan d**a. Kepalanya bergerak mengarah ke kursi kosong sebelahnya. Tanpa menunggu lama, Kinanti langsung berpindah tempat seperti keinginan Shinta. "Jadi kamu yang namanya Kinanti?" Shinta menaikkan sebelah alis setelah memutar kursi, menghadap ke Kinanti. Tangannya tidak bergerak sama sekali, masih terlipat. "Kenapa kamu langsung pulang padahal target masih kurang? Kamu karyawan baru, tapi kenapa sudah nekat?" "Sadar nggak, karena kesalahanmu ini, aku sebagai TL-mu kena omel sama SPV." Shinta tidak memberikan kesempatan Kinanti memberikan alasan. Bahkan untuk bernapas saja sepertinya tidak diizinkan oleh Shinta. "Maaf, Mbak." Kalimat itu berhasil keluar dari mulut Kinanti setelah menyiapkannya beberapa menit yang lalu. Seharusnya hari pertama bertemu dengan TL baru berkenalan, saling mengobrol. Sialnya, Kinanti malah dimarahi. Dan masalah ini membuat beberapa karyawan di sekitar Kinanti dan Shinta menjadi berpusat padanya. Jujur, Kinanti sangat malu diperlakukan seperti ini lagi. Menjadi bahan tontonan, atau mungkin dia akan menjadi perbincangan lagi diantara teman-teman seangkatannya. "Apa bener yang nyuruh pulang kalian Mas Zain?" Kinanti hanya mampu menganggukkan kepala sekali. "Terus kenapa kamu nurut sama dia? Jangan-jangan kamu yang ngemis ke dia biar dibolehin pulang, kan?" Apa? Kinanti sedikit mempertajam pengelihatan. Dia terkejut pada kalimat terakhir yang Shinta ucapkan. Semurah itukah Kinanti menjadi seorang wanita? Kinanti dan Ayu memang memohon pada Zain untuk membiarkannya pulang, tapi tidak sampai mengemis. "Aku udah bilang SPV, dah ditegur langsung. Nggak usah diperpanjang lagi masalah itu." Kinanti mendongakkan kepala, mencari sumber suara. Itu adalah seorang pangeran tanpa kuda, datang menyelamatkan Kinanti. Shinta menghela napas panjang. "Dia itu anakku, aku berhak ngasih tau. Mas Zain nggak perlu ikut campur."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN