Selamat Membaca "Tidak tidak saya mau makan di warteg saja." Suara Naya terdengar antusias meski malu malu. Zio memelankan laju mobilnya. "Warteg? Aku belum pernah makan di warteg." Zio sedikit keberatan sebenarnya membayangkan makan di pinggir jalan. Gak level pikirnya, dia terbiasa makan di restoran berbintang. "Tapi saya ingin." Suara Naya memelan. Teringat Naya yang sedang hamil, akhirnya Zio setuju. Demi anak yang ada dalam rahim Naya pikir nya. Zio mencari warteg terdekat, untungnya cukup banyak warteg berjejer di jalan yang dilewati nya. Setelah memutuskan warteg yang mana yang akan disinggahi, Zio menepikan mobilnya. Kini mereka sudah duduk di bangku panjang yang ada di warteg tersebut. Zio terlihat kurang nyaman, apalagi harus duduk berjajar dengan beberapa oran

