Rafindra dan beberapa pengawalnya turun di depan rumah Gadis. Kebetulan sekali di sana juga ada Nina. Karena melihat dua mobil yang ada di sana, Nina berlari memanggil Gadis.
"Gadis, Tunangan Loe datang." Kata Nina.
"a***y, ngapain dia datang se pagi ini?" Ucap Gadis sebal.
"Kangen mungkin." Sindir Nina.
"Najis, tahu." Jawab Gadis.
Gadis segera beranjak berdiri sambil sesekali mengucek matanya.
"Bilang kalau gue masih mandi ya." Ucap Gadis malas.
Di depan pak Purnomo dan Aris yang menemui Rafindra. Di sanalah mereka membicarakan sesuatu. Rafindra menawarkan keduanya untuk mengelola restoran milik Rafindra, dan tentu saja dengan syarat Aris harus berubah. Rafi juga meminta izin untuk membawa Gadis fitting baju pengantin.
"Mas, maaf ya? Gadisnya masih mandi." Kata Nina.
"Kamu sekalian ikut juga, sama bapak sama Abang Aris juga ya?" Ucap Rafi .
Nina mengangguk pasrah dan setuju. Beberapa menit namun Gadis tak kunjung keluar. Dan setelah satu jam mandi, barulah Gadis keluar. Itu juga masih dengan rambut basah dan acak-acakan karena belum di sisir.
"Ternyata benar ya? Cewek kalau mandi lama." Batin Mahendra.
Gadis sengaja melakukannya karena dia pikir kalau menunggu lama, Rafi akan jenuh dan pulang. Nyatanya tidak.
"Ayo, nak. Kata nak Rafi kita akan melakukan fitting baju." Kata pak Purnomo.
Gadis cemberut dan terpaksa menuruti kemauan Papanya.
"Gadis, kamu mau kemana?" Tanya Rafindra saat Gadis hendak masuk ke mobil yang di tempati keluarga dan sahabatnya.
"Mau masuklah, Om. Eh, mas." Ucap Gadis.
Rafi geleng-geleng kepala saat melihat kelakuan Gadis.
"Kamu di mobil ini, denganku." Ucap Rafindra.
Gadis mendengus kesal saat mendengar ucapan Rafindra. Gadis harus satu mobil dengan Rafindra. Saat masuk kedalam mobil, Gadis merasa risih karena mobil itu tertutup dengan tirai di depan dan di samping.
Gadis cukup menjaga jarak dari Rafi. Bahkan kini dia sudah tidak berani menatap Rafi. Dan sebaliknya, Rafi terus menatap Gadis tanpa berkedip. Rafi mengeluarkan sesuatu dari laci mobil dan mendekati Gadis.
Gadis mulai ketakutan saat Rafi dengan sengaja mendekatinya.
"Om, mau ngapain? Jangan macam-macam ya. Walaupun kita mau menikah, tapi om belum boleh ngapain aku. Ingat ya?" Cerocos Gadis.
Rafi menyentil kepala Gadis sampai dia meringis sakit.
"Aww, sakit." Ucap Gadis.
"Makanya, jangan negatif dulu. Aku gak mau ngapa-ngapain kamu, kok. Aku ini termasuk orang yang perfect. Aku gak suka lihat rambut kamu acak-acakan begitu. Pilihannya dua, mau sisir sendiri atau aku sisirin?" Ucap Rafi sambil mengeluarkan sisir yang dia pegang.
Gadis merasa bersalah karena tingkahnya barusan. Dia tak menyangka kalau ternyata Rafi hanya ingin memberikan sisir.
"Aku sisir sendiri." Kata Gadis.
Rafi tersenyum gemas melihat tingkah Gadis. Dia suka melihat Gadis yang penurut seperti saat ini.
"Oh iya? Sudah berapa kali aku bilang, jangan panggil Om lagi." Kata Rafi
"Maaf." Ucap Gadis lirih.
"Bagaimana kalau kita bertaruh." Ajak Rafi.
"Maksudnya, mas?" Tanya Gadis.
"Setiap kali kamu mengucap kata 'Om' kamu harus di hukum." Kata Rafi.
Gadis berfikir sejenak kemudian mengangguk.
"Ah, siapa takut. Aku berani, Om. Eh, mas. Hukumannya kalau bisa tapi jangan kekerasan ya?" Jawab Gadis.
"Baiklah, hukumannya kamu harus cium aku kalau sampai kamu bilang Om." Kata Rafi.
"Ah, mana bisa begitu. Ya enggaklah. Aku gak mau." Kata Gadis.
"Kalau begitu berarti kita ganti dengan tampar. Kamu tampar aku kalau kamu manggil dengan nama, Om." Kata Rafi.
Gadis merasa disindir dengan ucapan Rafindra. Mana mungkin Gadis bisa menampar Rafi.
"Ah, ok. Yang pertama aja deh, Om. Eh, mas." Kata Gadis.
Rafindra tertawa. Dan Gadis malah memelototi dirinya.
"Baik, kita mulai dari sekarang." Ucap Rafi.
Keduanya kini sudah berada di sebuah butik terkenal di Surabaya.
"Sesuai yang saya katakan, pilih baju terbaik buat tunangan saya." Kata Rafi.
Semuanya sibuk dengan pakaian masing-masing termasuk Rafi. Semuanya sudah sesuai dengan pakaiannya dan sekarang tinggal Gadis yang belum keluar. Terdengar Gadis sedang berdebat dengan pegawai butiknya.
"Memang seharusnya begini makainya mbak." Ucap pegawai.
"Tapi aku gak suka. Dadanya agak kebuka." Ucap Gadis.
Kebaya yang Gadis kenakan sangat cantik dan mewah. Terutama dengan batu kristal dan manik-manik mutiara sebagai aksennya.
"Kenapa sih, Dis?" Tanya Nina.
Nina memakai gaun selutut dan Gadis tersenyum saat melihatnya. Nina terlihat sangat cantik. Belum pernah Gadis melihat Nina secantik itu. Sedangkan Nina juga ternganga karena melihat Gadis yang semakin cantik dengan kebaya yang indah itu.
"Loe cantik banget." Ucap keduanya bersamaan kemudian mereka tertawa bersama.
"Agak kebuka, Nin." Ucap Gadis.
"Mana ada? Enggak ah." Jawab Nina.
Nina menarik tangan Gadis agar dia mau keluar. Di sana sudah ada Rafi yang mengenakan tuksedo warna putih senada dengan kebaya Gadis.
"Ah, kalian serasi banget." Ucap Nina.
Gadis akui kalau memang saat ini Rafi terlihat tampan. Bahkan kini tidak terlihat kalau selisih umur mereka jauh.
Rafindra terpana menatap Gadis yang sangat terlihat cantik. Begitu sebaliknya, Gadis tercengang melihat ketampanan Rafi.
"Om, sebenarnya menurutku apa ini gak terlalu terbuka?"
Gadis sontak menutup mulutnya karena dia lupa dengan taruhan mereka berdua.
"Enggak. Menurutku kamu cantik." Kata Rafi.
Setelah itu Nina meninggalkan mereka berdua.
"Satu." Ucap Rafi lalu pergi.
"Sial. Gue lupa." Gumam Gadis.
Setelah merasa cocok dengan apa yang Gadis kenakan, dia kemudian mengepas ukuran. Rafindra sudah menunggu Gadis di mobil. Gadis sedikit takut karena masalah dia yang lupa tadi.
"Masuk, kamu mau membuat mereka menunggu." Ucap Rafi.
Gadis tanpa ragu lagi masuk kedalam mobil. Gadis lega karena Rafi tidak mengungkit apapun. Rafi memberikan kotak yang berisi Ponsel terbaru untuk Gadis.
"Buat apa, om? Eh, mas?" Ucap Gadis.
Gadis kembali mengutuk kebodohannya.
"Aku sudah memasukkan nomerku di sana. Sekarang kamu pakai nomer baru itu." Kata Rafi.
Gadis menerima pemberian Rafi dengan perasaan takut.
"Dua." Kata Rafi.
"Apanya yang dua?" Tanya Gadis.
"Kamu jangan pura-pura tidak tahu. Pilihannya cuma dua. Aku atau kamu yang mencium." Kata Rafi.
Gadis mulai berfikir. Dia tidak akan mudah kalah dengan Rafi.
"Ok. Aku yang cium." Kata Gadis.
Rafi tersenyum mendengarnya. Kemudian Rafi mulai mendekat pada Gadis. Sontak Gadis memundurkan kepalanya.
"Ayo." Ucap Rafi.
Gadis diam sejenak. Sesaat kemudian, Gadis mengambil satu tangan Rafi dan menciumnya dua kali.
"Kan taruhannya cuma cium aja. Gak ada kata harus cium bagian mana. " Ucap Gadis sembari tersenyum.
"Mana bisa begitu?" Ucap Rafi protes.
Namun apa yang di katakan Gadis ada benarnya.
"Mulai besok harus di ganti. Pilihannya dua. Cium pipi atau bibir." Ucap Rafi.
"Om. Kenapa sih sukanya cuma kasih dua pilihan." Kata Gadis kesal.
Dan setelah itu, Rafindra mendekat pada Gadis dengan tiba-tiba dia mencium bibir Gadis.
"Satu." Kata Rafi sambil tersenyum.
Sementara Gadis terpaku dan membeku. Ciuman pertamanya benar-benar telah di renggut.