Rafindra langsung menyuruh sekretarisnya, Yoga untuk membebaskan keduanya. Karena Rafi yang begitu berpengaruh, tak butuh waktu lama untuk membebaskan keduanya.
"Gadis, Papa dan kakakmu sudah bebas. Aku sudah melakukan janjiku yang pertama. Sekarang aku akan melakukan janjiku yang kedua." Kata Rafi.
"Secepat itu?" Tanya Gadis
"Kamu tidak percaya? Kalau kamu tidak percaya. Telepon Yoga." Kata Rafi.
"Yoga, Gadis mau bicara dengan papanya." Ucap Rafi.
"Papa." Ucap Gadis.
"Gadis. Papa sudah bebas, nak." Ucap pak Purnomo.
Gadis tersenyum dan menangis.
"Ya udah. Papa dimana? Gadis kesana sekarang." Ucap Gadis.
Setelah itu Gadis menutup telepon. Gadis menatap ke arah Rafindra dengan seksama.
"Terima kasih, Om." Kata Gadis.
"Tidak, tidak. Sebentar lagi kita menikah. Jangan panggil aku, Om. Panggil aku mas." Kata Rafi.
"Tapi, Om." Ucap Gadis.
"Panggil mas, atau papa kamu..." Ucap Rafindra terputus.
"Ok, mas." Jawab Gadis seketika.
Rafinda mengulum senyum. Gadis manyun dan menampakkan wajahnya yang kesal.
"Baiklah, karena kamu sudah berlaku manis, aku akan mengantarmu pulang." Kata Rafi.
"Ah, gak usah Om. Eh, maksudnya mas. Temanku nunggu di Lobi bawah." Kata Gadis.
"Ayolah. Ada kejutan untukmu." Kata Rafi.
Gadis lalu mengikuti Rafi dan membuntutinya di belakang.
"Nina." Panggil Gadis
"Gadis." Balas Nina.
"Ayo, kamu juga aku antar. Biar motor kamu Yoga yang bawa." Kata Rafi.
Keduanya kini mengikuti Rafindra keluar dari gedung itu.
Rafindra membukakan pintu mobil untuk Gadis. Awalnya Gadis ingin sekali duduk dibelakang dengan Nina, namun Nina memberi kode agar Gadis duduk di depan dengan calon suaminya. Nina mengembangkan senyumnya.
"Maaf, Dis. Gue bahagia di atas penderitaan Loe karena gue tahu kalau Rafi yang paling tepat buat loe." Kata Nina dalam hati.
Setelah itu keduanya turun. Nina terkejut karena sepeda motornya sudah sampai lebih dulu di depan rumah Gadis.
"Wah, kok bisa begini? Gue percaya sekarang kalau Rafindra benar-benar hebat." Ucap Nina.
Gadis melihat Papa dan kakaknya yang sudah ada di dalam rumah. Gadis segera berlari dan memeluknya.
"Papa..!!" Teriak Gadis sambil menangis.
"Gadis. Kamu baik-baik saja, kan?" Tanya Pak Purnomo.
"Seharusnya Gadis yang tanya begitu. Papa baik-baik aja, kan?" Tanya Gadis balik.
"Dis, loe itu ya? Masak yang di peluk papa doang. Gue enggak." Kata Aris.
Gadis menatap kakaknya dengan tatapan yang sangat tajam.
"Hm..hm.." Suara Rafindra menghentikan perdebatan Gadis dan kakaknya.
"Pak Rafi." Kata Pak Purnomo.
Rafi tersenyum. Walau bagaimanapun kini semuanya itu akan menjadi keluarganya saat Gadis menjadi istrinya nanti.
Kini mereka berlima duduk dengan serius.
"Kedatangan saya disini ingin memastikan kalau anda baik-baik saja." Kata Rafi.
"Sekaligus menyampaikan niat baik saya untuk melamar Gadis. Kalau bapak berkenan izinkan saya menikahi Gadis putri bapak." Kata Rafi.
Pak Purnomo menatap Gadis. Sedangkan Gadis menunduk dengan pasrah.
"Gadis setuju, pa." Jawab Gadis.
Pak Purnomo tersenyum. Kini dia bahagia dengan adanya lamaran yang terjadi. Dia tidak lagi khawatir terhadap Gadis.
"Papa Bahagia." Ucap Pak Purnomo menangis.
Dia tak dapat lagi menahan tangisnya. Dia sungguh terharu karena mendapatkan menantu yang tepat untuk putrinya.
Beberapa saat kemudian, datang para pengawal Rafi dan membawa beberapa hantaran. Yang paling menakjubkan adalah Rafi menyiapkan satu set perhiasan berlian untuk Gadis. Nina yang melihat itu menelan ludah. Ternyata gosip yang beredar benar adanya. Rafi sangat royal terhadap orang yang dia sayangi.
Rafi memasangkan cincin berlian itu di jari manis Gadis. Sedangkan Gadis hanya pasrah dan tidak melihat ke arah Rafi sedikitpun.
Nina juga kebagian hadiah dari Rafi. Dia mendapat satu gaun mewah. Rafi membelikan itu karena dia mau Nina menjadi saksi di acara pernikahannya bersama Gadis, nanti.
Setelah acara penyematan cincin itu, Rafi pergi. Kini tinggallah Gadis dan keluarganya beserta Nina. Gadis kemudian masuk ke dalam kamarnya dan menangis di sana. Nina menyusul Gadis dan mencoba menenangkan Gadis.
"Dis, loe jangan begini. Gue yakin kalau Rafi itu baik dan dia juga cinta sama loe. Loe beruntung jadi wanita yang di pilih sama dia." Kata Nina.
"Beruntung apanya? Om-om kok." Jawaban Gadis membuat Nina tertawa.
"Dia keren, lho. Lagi pula selisihnya cuma 15 tahun." Kata Nina tertawa.
"Resek loe." Kata Gadis melempar bantal ke arah Nina.
"Kenapa sih Rafi milihnya loe? Kalau aja dia milih gue, udah deh, gue langsung mau. Gak usah pake mikir." Kata Nina.
"Ya udah, buat loe aja." Kata Gadis
"Mana bisa gitu. Dia itu sukanya sama loe." Kata Nina.
Gadis kembali menangis di pelukan Nina.
"Dis, dengerin gue. Siapa yang bantu loe saat bokap loe di rumah sakit?" Tanya Nina.
"Rafi." Jawab Gadis ketus.
"Siapa yang bantu loe saat loe mau di perkosa semalam?" Tanya Nina.
"Sama. Rafi lagi." Kata Gadis menjawab.
"Siapa yang bantuin bokap sama abang loe bebas?" Tanya Nina lagi.
"Rafi." Ucap Gadis lirih.
"Yang balikin rumah sama yang lunasin semua hutang keluarga loe siapa?" Tanya Nina tak henti.
"R A F I." Jawab Gadis dengan mengeja.
"Pernah gak pacar loe itu bantuin loe? Ada gak dia saat loe telepon dia dan saat loe butuh bantuan? Tahu gak dia saat bokap loe di tangkap? Zonk. Dia gak pernah ada. Dia malah sibuk main sama perempuan lain." Kata Nina menjelaskan.
Gadis berfikir sejenak. Apa yang dikatakan Nina memang benar adanya. Randy tak pernah ada untuknya. Bahkan dia tega mengkhianati cinta Gadis untuknya.
"Gue yakin kalau Rafi bakal jagain loe. Yah, walaupun dia duda. Tapi keren sih." Kata Nina.
"Apa? Duda. Beneran nih." Kata Gadis terkejut.
"Loe gak tahu, Dis? Gue tadi sambil searching di google dan baru tahu dia duda. Tenang aja. Dia pasti bimbing loe, kok." Ejek Nina.
"Ih, kalau gue tahu gue gak akan mau." Kata Gadis.
"Dia gak punya anak. Bahkan pernikahannya dengan mendiang istrinya cuma setahun aja. Karena kecelakaan yang membuat istrinya jatuh dari lantai sepuluh. Kasihan sih dia. Dan gue gak nyangka kalau pilihannya jatuh ke loe. Harusnya loe bersyukur dia milih loe. Sedangkan di luar sana banyak banget yang ngantri." Kata Nina.
"Yang calon istrinya loe apa gue sih? Kok yang tahu segalanya loe." Kata Gadis cemberut.
"Ciye.. mulai cemburu nih." Ledek Nina.
"Kok loe sekarang ngeselin sih, Nin." Kata Gadis.
"Biarin. Yang penting sahabat gue mau nikah dan dia bakalan hidup bahagia." Kata Nina.
Randy datang ke rumah Gadis berniat untuk meminta maaf. Namun pandangannya tertuju pada beberapa kotak hantaran yang berada di rumah Gadis.
"Randy." Ucap Gadis.
"Dis, dengerin aku. Aku minta maaf." Kata Randy.
"Gak ada yang perlu loe jelasin lagi." Kata Gadis.
"Aku salah. Maafin aku. Aku khilaf, Dis. Aura yang ngegoda aku." Ucap Randy.
"Terserah loe mau bilang apa. Intinya loe gak setia. Dan perlu loe tahu, sebentar lagi gue mau nikah." Kata Gadis.
"Jangan main-main, Dis." Ucap Randy.
"Beneran. Lihat ini." Gadis menunjukkan cincin di jari manisnya.
"Sama siapa, Dis?" Tanya Randy.
"Loe gak perlu tahu. Hubungan kita berakhir semenjak loe khianatin gue. Dan sekarang loe pergi." Kata Gadis Marah.
"Kamu bohong kan? Kamu gak bakalan nikah, kan? Please, aku masih cinta sama kamu " Tanya Randy tak percaya.
"Omong kosong. Kemana kamu waktu aku butuh kamu? Kamu gak pernah ada. Justru kamu asyik selingkuh sama Aura. Gue benci sama loe. Pergi dari rumah Gue." Ucap Gadis.
Randy keluar dari rumah Gadis dengan perasaan sedih. Dia tak menyangka kalau Gadis akan menikah secepat itu.
Gadis menangis di kamarnya. Dia juga tidak menyangka kalau ini terjadi di hidupnya.