Perpustakaan menjadi salah satu tempat tongkrongan Zizi jika jam pelajaran dikelasnya sedang kosong, walaupun terkadang Zizi juga masih sering bergabung dengan teman-temannya untuk curcol dikelas. Ia menjelajahi buku-buku yang tersusun berjajar diraknya masing-masing, hingga ia menemukan satu judul buku yang cukup menarik perhatiannya untuk dibaca. Ia menarik sebuah kursi dan kemudian mendudukinya, namun belum sempat ia membuka buku tersebut, kehadiran Akbar yang secara tiba-tiba dihadapannya membuatnya sedikit terkejut.
"gue bukan hantu Zi." Ucap Akbar.
"lo juga sih munculnya tiba-tiba." Ujar Zizi.
"gak tiba-tiba kali, gue jalan dari pintu sampai kesini lo aja yang gak liat. Lo baca apaan? Seru gak ceritanya?" Tanya Akbar.
"belum sempat baca. tapi kelihatannya bagus." Jawab Zizi.
"lo mau terima tantangan gue?" tawar Akbar.
"tantangan? Apa?" Tanya Zizi.
"gue mau tantang lo baca tuh novel terus lo ceritain kronologi ceritanya sama gue. Gue kasih lo waktu sampai jam pulang sekolah nanti. Gimana? Lo sanggup?" jelas Akbar.
"sampai jam pulang sekolah? Tapi dua jam lagi kan bel pulang sekolah bunyi." Seru Zizi sedikit terkejut dengan tawaran yang diajukan oleh Akbar.
"sanggup atau gak?" Tanya Akbar kembali.
"oke gue sanggup." Jawab Zizi menerima tantangan Akbar.
"kalo gitu sepulangnya dari sekolah nanti gue tunggu cerita dari lo. Gue yakin lo pasti bisa." Seru Akbar. "oh iya ini HP lo Zi? Gue pinjem ya." Ucap Akbar.
"iya pake aja, lo jangan ganggu gue dong kan gue mau baca." seru Zizi.
"oh iya. Oke deh." Jawab Akbar.
Zizi mulai membuka dan membaca halaman demi halaman dari buku yang ia baca tersebut. Seriusnya Zizi membaca juga tidak kalah seriusnya dengan Akbar yang mengotak-atik ponselnya Zizi. Entah apa yang sedang dilakukan oleh Akbar pada ponselnya tersebut Zizi sama sekali tidak perduli, yang ia tahu bahwa Akbar tidak akan berbuat zalim kepada ponselnya tersebut. Konsentrasi membaca Zizi mulai buyar ketika kedatangan Vanya yang mendesaknya untuk menceritakan kejadian yang telah terjadi setelah ia meninggalkan Zizi sendiri bersama Anka.
"gue itu nyariin lo kemana-kemana tau. Ternyata lo ada disini. Eh pokoknya lo harus ceritain sama gue lo kemarin gimana? Dia gak apa-apain lo kan? Terus lo pulang sama siapa?" Tanya Vanya penasaran.
"lo gak liat gue lagi khusyuk membaca, ntar aja deh ceritanya ya abis gue selesain bacaan gue dulu." Jawab Zizi.
"ah bacanya yang ntar aja, lo cerita dulu kalo gak gue gangguin terus lo." Desak Vanya.
"lo maksa banget sih Van. Gue kemarin pulang sama Alka." Jawab Zizi.
"what? Serius lo? Kok bisa? Ya ampun gue gak mimpikan? Cerita dong Zi, kok bisa Alka nganterin lo balik?" ujar Vanya yang semakin penasaran.
"lo bisa kan ngomongnya gak pake speaker, ntar kalo ada yang dengar bisa runyam urusannya." Seru Zizi.
"uppsszz sorry, abisnya gue itu terlalu seneng dengar lo dianterin Alka pulang." Seru Vanya.
"Zi, ini HP lo. Gue masuk kelas duluan ya, takutnya ntar ada guru yang masuk. Oh iya jangan lupa sama perjanjian kita." Seru Akbar sambil beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Zizi dan Vanya.
"oke bar." Ucap Zizi sambil mengacungkan jempol kanannya. "yah itu juga kepaksa kali Van dia anterin gue pulang." Ucap Zizi yang mulai bercerita kepada Vanya dan menutup bukunya.
"kok kepaksa sih?" Tanya Vanya bingung.
"iya lah. Abisnya gue langsung duduk aja dibelakang dia, dan bilang gue ikut pulang bareng lo ya Al. Yah mau gak mau deh dia nganterin gue pulang." Jelas Zizi.
"hahaha... beneran maksa banget tuh Zi, tapi gue gak abis pikir lo berani nebeng sama Alka yang jelas-jelas selama ini udah cuekin lo abis-abisan."
"yah dari pada pulang bareng Anka. Lagian siapa suruh Alka muncul disaat gue butuh bantuan. Tapi Van, lo tau gak kalo gue kemarin itu gak cuma dianterin Alka pulang. Tapi..." Zizi mulai menceritakan hal yang telah ia alami selama bersama Alka kemarin. Vanya yang mendengar semua cerita Zizi tidak dapat berhenti memegangi pipinya karena terkesima dengan apa yang telah dilakukan oleh Alka.
"so sweet banget Zi, Indra pasti senang banget kalo denger berita ini. Itu tandanya ia sudah mulai sedikit memberikan lo lampu kuning." Seru Vanya.
"lampu kuning, emang lo kira rambu-rambu lalu lintas." Ujar Zizi.
Teet..teet..teet..
Bel pulang sekolah berbunyi, ia teringat akan janjinya pada Akbar dan ia sama sekali belum menyelesaikan bacaannya karena waktu untuk ia membaca ia habiskan untuk bercerita dengan Vanya. Lembaran-lembaran yang telah Zizi bacapun ia sama sekali tidak menangkap inti dari cerita tersebut karena tokoh yang dihadirkan terlalu banyak dan jalan cerita yang sulit untuk ia sambungkan dengan cerita pada lembaran sebelumnya yang telah ia baca.
"tuh kan udah bel, ah lo sih Van ganggu gue. Jadinya gue gak bisa nyelesaiin bacaan novel gue." Gerutu Zizi.
"novel apaan non, itu mah kumpulan cerpen." Ujar Vanya.
"serius lo?" Tanya Zizi bingung.
"tuh. Tuh liat tulisan di cover bukunya aja kumpulan cerpen." Jawab Vanya.
"hmm b**o amat sih gue gak liat tuh tulisan. Pantesan aja dari tadi ceritanya kok muter-muter dan sulit gue hubungkan, ternyata cerpen. Udah ah kalo gitu kita balik ke kelas yuk." Ajak Zizi.
mereka pun meninggalkan perpustakaan dan berjalan kembali menuju ke kelas. Ditengah perjalanan, mereka bertemu dengan Alka yang baru saja melewati pintu ruang kelasnya.
"Zi, ada Alka tuh." Seru Vanya.
"terus kenapa kalo ada Alka?" Tanya Zizi.
"yah lo Zi. Charming dikit kenapa, kan kemarin dia udah bersikap baik tuh sama lo berarti udah ada sinyal yang bagus kan." Jawab Vanya.
"ogah ah, charming. Kayak kurang kerjaan aja." Ucap Zizi.
Vanya kesal mendengar jawaban Zizi, hingga akhirnya Vanya menjatuhkan buku yang dipegang oleh Zizi didepan Alka.
"ya ampun Van, buku gue." Seru Zizi sambil memungut bukunya yang jatuh tepat diujung kaki Alka. Alka sama sekali tidak memperdulikan hal tersebut, ia hanya melihatnya sejenak dan kemudian berlalu mendekati Ulfa.
"Ul, ntar kita kerja kelompoknya jam berapa?" Tanya Alka pada Ulfa.
"oh, gimana kalo pulang sekolah ini langsung ke rumah gue aja, gue udah bilang sama mama, dan katanya ia udah masak buat kita semua jadi kita makan siang di rumah gue aja ya." Jelas Ulfa.
"oh gitu. Oke deh kalo gitu." Ujar Alka.
"ee.. Zi, kok lo disitu? Abis ngapain?" Tanya Ulfa.
"oh gue, gak ngapa-ngapain kok tadi buku gue jatuh jadinya gue ambil." Jawab Zizi.
"oh.. buku jatuh memang harus dipungut kembali Zi. Ya udah kalo gitu gue pulang duluan ya. Yuk Al." Seru Ulfa sambil mengajak Alka.
Zizi tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada Ulfa, Alka pun mengikuti langkah kaki Ulfa.
"ih nyebelin banget sih Alka, udah jelas-jelas buku lo jatuh diujung kaki dia terus lo mungut dibawah kaki dia tapi dia sama sekali gak peduliin lo. Diambilin kek, bilang apa kek, negur lo gitu." Seru Vanya kesal.
"lagian lo sih Van pake acara ngejatuhin buku gue segala." Ucap Zizi.
"iya maksud gue kan biar lo sama Alka itu bisa ngobrol, tapi kok dia balik cuekin lo ya Zi?" Tanya Vanya bingung.
"ya mana gue tau. Kan udah gue bilang kali aja dia kemarin itu kepaksa nganterin gue karena udah gak ada pilihan lain." Seru Zizi sambil berlalu meninggalkan Vanya.
Setelah mengambil tasnya yang masih berada dikelas, Zizi langsung mengajak Vanya untuk keluar meninggalkan kelas walaupun masih banyak siswa yang lain yang masih belum meninggalkan ruangan tersebut. Sesampainya digerbang sekolah Zizi melihat Akbar yang masih duduk didepan pos satpam bersama teman-teman yang lain yang masih menunggu jemputan pulang, ada yang masih benar-benar belum ingin pulang karena masih banyak yang menghabiskan waktu mereka untuk berkumpul-kumpul dengan teman-temannya.
"gimana Zi udah dibaca novelnya?" Tanya Akbar yang mulai menghampiri Zizi.
"udah bar, tapi tuh buku bukan novel melainkan kumpulan cerpen. Lo tau gak gue udah muter-muter nginget nama tokoh-tokohnya dan kronologi ceritanya tapi gak bisa dihubungkan. Ternyata cerpen. Pantesan aja setiap dua lembaran ceritanya beda lagi." Jawab Zizi.
"hahaha.. Zizi.Zizi jadi lo gak sadar kalo itu cerpen? Padahal gue pengen banget dengar lo ngedongeng." Seru Akbar sambil tertawa terbahak-bahak meledek kekonyolan yang telah Zizi lakukan.
"yah abisnya gue gak liat tulisan dicover depannya. Jadi gimana dong, masih mau dilanjutin gue harus ceritain?" Tanya Zizi.
"ya nggak lah buk. Itu kan cerpen bukan novel, yang gue minta tadi kan novel. Lagian gue kasian sama lo kalo harus nyeritain kronologi setiap judul tuh cerpen." Ujar Akbar.
Waktu tidak begitu terasa berlalu hingga jam sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB. Sudah hampir satu jam mereka berbincang-bincang di dekat pos satpam. Vanya telah meninggalkannya pulang terlebih dahulu karena katanya ada urusan keluarga yang mendadak.
"emm bar gue balik duluan ya udah siang banget nih." Seru Zizi sambil beranjak dari gundukan batu yang menjadi tempat duduknya. Namun, Zizi gagal pergi karena Akbar yang menahannya dengan menarik tas punggungnya.
"ntar aja Zi pulangnya, bentar lagi ya." Pinta Akbar.
"kenapa lo takut? Ya elah bar, ini kan masih rame banget tuh liat disekeliling kita orang semua lagian lo kan cowok masak iya penakut." Ledek Zizi.
"siapa juga yang takut. Oh iya Zi, kalo gue suka sama lo gimana?" Tanya Akbar.
"lo suka sama gue? Gue juga suka sama lo." Jawab Zizi tanpa ragu dan tentunya hal tersebut tidak dianggap serius oleh Zizi karena Zizi tahu bahwa Akbar adalah kekasih Dona, kakak tingkatnya.
"gue beneran loh Zi suka sama lo. Lo mau kan jadi pacar gue?" Tanya Akbar kembali.
"gue mau jadi pacar lo." Jawab Zizi singkat.
"gue serius ini Zi."
"gue dua rius bar." Jawab Zizi sambil tertawa.
Akbar tersenyum. "itu artinya kita pacaran kan sekarang?"
"iya kita sekarang pacaran.'
"terus gimana tuh sih Anka, kayaknya hubungan kalian udah jauh banget ya sampai dia sms lo aja panggil lo dengan sebutan sayang. Soalnya tadi gue liat pesan masuk di HP lo." Tanya Akbar penasaran.
Zizi berpikir Akbar sedang mengintrogasinya tentang kedekatannya dengan Anka.
"lo buka Inbox gue? Aduh bar, gue sama Anka itu Cuma sebatas sahabat tidak lebih. Kalo sms yang lo baca tadi, itu sms-smsnya Siska dengan Alvino. Mereka sama-sama kehabisan pulsa jadi pinjem HP kita berdua. Lo kan tau Siska satu kelas sama gue, nah Alvino satu kelas sama Anka." Jelas Zizi.
"oo, kirain kalian yang sms-an kayak gitu. Jadi beneran ya lo Cuma sayang sama gue gak ada yang lain?" ujar Akbar yang mulai sedikit menggoda Zizi.
"iya. Jawab Zizi. udah ah gue mau pulang." Lanjutnya.
"kalo gitu gue anterin lo pulang ya, gue kan sekarang pacar lo." Seru Akbar.
"ya ampun bar gaya lo. Gak usah ah makasih ya, gue dianterin Mr.O aja."
"siapa tuh?"
"ojek.." seru Zizi sambil mendekati pangkalan ojek yang ada didepan gerbang sekolah mereka.