Nice but Emotional (4)

2477 Kata
Datangnya malam adalah waktunya untuk kumpul bersama keluarga tercinta, hal itulah yang selalu dilakukan oleh Zizi dan kedua orang tuanya jika masing-masing mereka sedang tidak memiliki kesibukan. Bercengkrama, bersenda gurau dan berbagi cerita selalu mereka lakukan untuk tetap selalu menjaga keharmonisan dalam keluarga mereka walaupun tidak jarang mereka selalu memiliki kesibukan masing-masing. Sedang asyiknya berkumpul bersama kedua orang tuanya, tiba-tiba terdengar suara ponselnya bedering. Zizi beranjak dari tempat duduknya, melihat siapakah gerangan yang tengah meneleponnya. Indra? Ngapain dia nelpon gue, tumben banget. Kalo mau bahas masalah program kerja biasanya kan di sekolah. Apa dia lagi berantem sama Vanya? Tanya Zizi pada dirinya sendiri. "Assalammualaikum, ada apa Ndra?" Tanya Zizi. "walaikumsalam, lo lagi sibuk gak Zi? Soalnya ada yang mau gue sampein sama lo, penting banget." Seru Indra. "gue gak lagi sibuk kok, emang lo mau ngomong apa Ndra?" Tanya Zizi. "lo pacaran sama Anka Zi?" Tanya Indra tiba-tiba. "gue gak pacaran kok sama Anka, lo denger berita darimana? Dan kok tumben banget lo nanyain ini ke gue?" Tanya Zizi bingung. "gue cuma butuh kejujuran lo Zi, gue Tanya sekali lagi lo beneran pacaran sama Anka?" ulang Indra. Bener-bener ya Anka, ngapain juga dia bilang-bilang sama orang kalo tadi pagi gue terima dia. Ini lagi Indra ngapain lagi kepo banget sama privasi gue. Gerutu Zizi dihati. "oke. Gue emang pacaran sama Anka, terus kenapa Ndra? Ada masalah?" Tanya Zizi. "maaf ya Zi sebelumnya tapi lo janji jangan marah dan emosi ya...." Indra pun menjelaskan kejadian yang sebenarnya, karena pada saat Redo dan teman-teman yang lain melakukan hal tersebut, saat itu Indra juga ada ditempat kejadian. Bagaimana tidak, Indra kan juga merupakan bagian dari mereka yang sama-sama tergabung dalam Purna Paskibraka Indonesia tahun sebelumnya. Indra mengetahui semuanya bahkan sampai saat ini pun Anka masih mencintai mantan kekasihnya, bagi Indra jika Anka tidak bisa menjelaskannya pada Zizi, maka ia sendirilah yang akan membongkar semuanya. Mendengar semua penjelasan dari Indra membuat darah Zizi benar-benar mendidih. "lo gak bohong kan Ndra?" Tanya Zizi tidak percaya. "buat apa gue bohong sama lo Zi, gak ada untungnya. Lo sahabat gue, gue gak rela liat lo dijadiin kayak boneka mainan mereka gini." Jelas Indra kesal. "makasih ya Ndra lo udah kasih tau gue. Bener-bener dah tuh orang ya, gue udah pusing tujuh keliling mikirin gue mesti jawab apa, sampai akhirnya gue korbanin perasaan gue sendiri demi gak bikin dia kecewa. Eh ternyata gue dibohongin abis-abisan kayak gini, mana gue denger kebenarannya dari orang lain lagi bukan dari mulut dia sendiri." Ucap Zizi kesal. "iya sama-sama Zi. Gue ngerti lo emosi banget tapi janji ya Zi jangan ngelakuin hal-hal yang bodoh ya." Pinta Indra. "tenang aja Ndra, gue gak bakalan bunuh diri kali. Masih banyak hal yang jauh lebih penting daripada urusan beginian." Jawab Zizi. "syukur deh kalo gitu, ya udah Zi gue tutup dulu ya telponnya soalnya gue ada kerjaan nih." Seru Indra. "oh iya Ndra gak apa-apa kok, sekali lagi makasih banyak ya." Seru Zizi. "oke Zi." Jawab Indra kemudian menutup panggilannya. Emosi Zizi sudah hampir meledak bersamaan dengan berita yang baru saja ia dengar. Emosinya kian bertambah ketika ia melihat diponselnya ada satu pesan masuk yang bertuliskan hai sayang, kok sepi sih? Lagi sibuk ya? Dengan segera ia menggerakkan jemarinya untuk membalas pesan dari Anka. Ngapain lo ngehubungin gue, denger ya gue paling gk suka dibohongin sekecil apapun. Dan satu lg apa yg terjadi tadi pagi, lupain aja. Anggap semua itu gk pernah terjadi, karna gue gk bakal pernah anggap semua itu, kita gk ada hubungan apa2. Delivered to : xxxx77966780 Kok marah2? Ada apa sayang? Aku bohong apa sayang? Sender : xxxx77966780 Zizi sama sekali tidak menghiraukan sms yang masuk ke ponselnya. Ia benar-benar kecewa kepada Anka yang selama ini ia anggap orang yang selalu mengerti keadaannya dan rasanya mustahil jika ia akan mengecewakan Zizi seperti ini. Namun, itulah kenyataan yang Zizi hadapi. Zizi merasa bahwa ia sudah benar-benar telah dipermainkan oleh Anka. Aku tau kamu marahnya karna apa. Aku bs jelasin semuanya. Tp tolong angkat telpon aku sayang. Sender : xxxx77966780 Zizi tetap pada pendiriannya, tidak memperdulikan semua pesan-pesan yang dikirim Anka dan semua telepon-teleponnya. *** Bel pulang sekolah berbunyi, semua siswa mulai membereskan semua barang-barangnya dan bergegas pulang ke rumah. Begitupun halnya dengan Zizi dan Vanya. Perjalanan dari ruang kelas sampai ke pos satpam sekolah mereka rasanya kurang panjang untuk waktu bercerita dengan Vanya. Zizi menceritakan apa yang tengah ia alami saat ini, ingin ia memutar waktu agar semua itu tidak terjadi. Vanya yang kepribadiaannya memang mudah naik darah ketika mendengar atau melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan jalan pikirannya, mengepalkan semua genggamannya yang seakan sudah siap untuk melayangkan kepalan tangannya tersebut pada Anka. "bener-bener ya tuh orang." Ucap Vanya kesal. Emosi Vanya yang tengah meledak-ledak semakin bertambah ketika Anka menghampiri mereka dan mencoba untuk mengajak Zizi bicara. Bukan suatu kebetulan, Anka memang telah menunggu Zizi didepan pintu gerbang sejak bel pulang sekolah berbunyi. "Zi, maafin gue Zi. Gue tau gue salah, tapi plis maafin gue. Gue bisa jelasin semuanya." Seru Anka. Zizi sama sekali tidak memperdulikan perkataan Anka, hanya senyum sinis yang ia torehkan pada Anka. Berharap Zizi yang akan memberinya kesempatan untuk menjelaskan semuanya, namun yang menanggapi seruan Anka adalah Vanya dengan amarahnya yang sudah tidak dapat terbendungkan lagi. "masih berani ya lo nongolin muka lo didepan Zizi? gue heran, lo itu cowok tapi kok gak ada tegas-tegasnya dikit. Seharusnya lo bisa ngatasin semua ini agar tidak terjadi, gue tau lo juga masih cinta kan sebenarnya sama si Debi. Emang lo pikir Zizi tempat penampungan apa? Zizi bukan tempat pelarian." Ujar Vanya. "oke gue memang salah, tapi apa gak ada kesempatan buat gue jelasin semuanya. Zi, gue Cuma minta waktu lo bentar aja buat dengerin penjelasan gue." Pinta Anka. "oke gue kasih lo kesempatan buat ngejelasinnya. Udah buruan ngomong lo mau jelasin apa?" desak Zizi. "tapi gue maunya kita bicara empat mata aja Zi." Pinta Anka kembali. "eh lo itu bener-bener ya. Udah dikasih hati minta jantung." Gerutu Vanya kesal. "udah Van gak apa-apa kok." Ucap Zizi. "beneran Zi lo gak apa-apa nih kalo gue tinggal?" Tanya Vanya. Zizi pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "yah udah deh kalo gitu gue pulang duluan ya Zi." Ujar Vanya sambil melambaikan tangannya. "awas lo kalo sampai terjadi apa-apa sama Zizi, gue gantung lo." Ancam Vanya pada Anka. Anka pun mulai menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi, ia mengaku salah karena ketidaktegasannya pada teman-temannya sehingga membiarkan mereka melakukan semua itu pada Zizi. "gue ngerti posisi lo. Tapi yang bikin gue kecewa bukan karena kita batal jadian tapi karena kenapa gue harus mengetahui semua ini dari mulut orang lain, kenapa gak dari lo langsung ka? Trus apa maksud lo minta gue jadi pacar lo sedangkan lo sendiri masih belum bisa ngelupain mantan pacar lo? Gue bukan tempat pelarian ka." Jelas Zizi. "oke, gue ngaku gue salah. Gue plin plan trehadap perasaan gue sendiri, tapi gue juga gak bisa memungkiri bahwa kalian berdua itu adalah orang yang sangat gue sayangi. Gue gak mau kehilangan lo berdua." Ujar Anka. "oohh.. gitu? Egois banget berarti lo ya? Sekarang gue tanya, lo pilih gue atau Debi?" Tanya Zizi. "gue pilih lo Zi." Jawab Anka singkat. "iya lo pilih gue tapi perasaan lo masih buat Debi. Lagian gue gak mau nerima lo." Ucap Zizi ketus. "Zi, kita bisa perbaiki semuanya. Sekarang lo lagi emosi, pikiran lo belum stabil. Semua orang sudah tau bahwa kita pacaran, masak iya kita putus Zi?" seru Anka. "emang kita pernah jadian? Denger ya ka, yang kemarin itu gak sah dan gue gak pernah nganggap itu terjadi." Jelas Zizi. "Zi, tiada salahnya kan jika kita coba jalani kembali. Kita mulai semuanya dari awal." Ujar Anka. "cara kita jadian aja udah gak sehat, gimana mau ngejalani. Dan asal lo tau ka, demi gak ngecewain lo gue muter otak gue mikirin jawaban apa yang mesti gue kasih sama lo karena ini tuh udah yang kedua kalinya lo nembak gue. Lo kan tau hati gue, gue cintanya sama siapa. Tapi demi mikirin perasaan lo gue korbanin perasaan gue. Lo gak pernah pikirin semua itu kan?" jelas Zizi. "maafin gue Zi, gue bener-bener udah nyakitin lo. Seharusnya gue sadari hal itu dari dulu." Sesal Anka. "gue udah maafin lo ka." Jawab Zizi singkat. "tapi gue tetap jadi sahabat lo kan?" Tanya Anka. "sampai kapanpun gue tetap bakal jadi sahabat lo." Ujar Zizi sambil tersenyum. "kalo gitu gue anterin lo pulang ya." Ajak Anka. "gak perlu ka, makasih." Ucap Zizi yang kemudian berlalu menghadang Alka yang sudah siap menancap gas kendaraannya. "Al, gue ikut pulang bareng lo ya." Belum sempat memberikan jawaban apa-apa Zizi sudah naik menunggangi motor yang dikemudikan Alka, sehingga tidak ada alasan untuk menolak lagi. "tapi Zi..' ujar Anka yang mencoba menahan Zizi. "gue lagi gak pengen lo ganggu dulu ka, gue balik duluan ya. Yuk Al jalan." Pinta Zizi tanpa mengingat siapa yang sedang ia mintai tumpangan untuk membawanya pergi dari tempat tersebut. Selama diperjalanan pulang Zizi hanya diam, biasanya selalu membuat telinga orang yang mendengarkan pegal sendiri dengan kicauan suaranya. Tanpa ia sadari air mata kembali mengalir membasahi pipinya yang manis, ia merasa terlalu bodoh karena sudah tertipu dengan semua yang telah terjadi. Karena menyadari bahwa Zizi yang duduk dibelakangnya sedang menangis, Alka pun memutar arahnya. "Al, kita mau kemana? Ini kan bukan jalan pulang ke rumah?" Tanya Zizi bingung ketika menyadari jalan yang tempuh Alka adalah jalan yang berbeda dengan arah rumahnya. Alka tidak menghiraukan pertanyaan Zizi, bahkan ia terus menambah kecepatannya. "Al, lo mau bawa gue kemana? Jangan ngebut gini gue takut Al." Seru Zizi ketakutan.  "Al, gue tau gue salah nebeng sama lo dengan cara kayak tadi. Tapi lo jangan balas dendam gini dong, lo jangan bunuh gue, gue masih mau hidup Al." Lanjutnya. Beberapa saat kemudian Alka menghentikan motor yang dikendarainya didepan sebuah pohon yang tumbuh sendirian ditengah rerumputan yang ada ditempat tersebut. "kita dimana ini Al?" Tanya Zizi bingung. "masih dibumi." Jawab Alka singkat. "sekarang lo mau nangis silahkan, menangislah sepuas mungkin. jika mau teriak, teriaklah sekeras mungkin gak bakal ada yang dengar juga selain gue. Gue gak mau bawa lo pulang dalam keadaan nangis kayak gini, ntar dikirain gue ngapa-ngapain lo." Lanjutnya. "gue kira lo mau bunuh gue." Ujar Zizi. "otak lo kriminal banget, kebanyakan nonton sinetron tuh." Seru Alka sambil duduk menyandarkan tubuhnya, beristirahat dibawah pohon tersebut. "sampai kapan lo mau berdiri panas-panasan disitu?" "Al, gue boleh curhat sama lo?" Tanya Zizi sambil duduk disamping Alka. "lo mau curhat apa? Boleh-boleh aja sih. Tapi gue gak bakal kasih pundak gue buat lo nangis." Jawab Alka dengan mata yang sudah mulai terpejam. "lagian siapa juga yang butuh pundak lo." Ujar Zizi sewot. "udah cepetan lo mau cerita apa?" desak Alka. Zizi pun mulai menceritakan semua yang telah terjadi padanya. Alka menjadi pendengar yang baik, selama Zizi bercerita Alka sama sekali tidak memotong ceritanya dengan komentar apapun. Zizi pun kembali meneteskan airmatanya. "lo nangis lagi Zi?" Tanya Alka bingung. "Zi, dunia itu gak sesempit yang lo kira. Dunia ini luas banget. Dalam kehidupan manusia itu selalu dihadapkan pada dua pilihan, yang baik dan yang buruk. Nah, tergantung kitanya mau pilih yang mana? pilih yang baik atau sebaliknya." Jelas Alka. "udah deh, sekarang lo hapus air mata lo itu kemudian lo senyum. Percaya deh, disetiap kesulitan itu selalu ada kemudahan. Yang penting Innamaamalubinniat." Lanjutnya dengan senyumnya. "gue salah Al, gue yang salah pilih jalan. Kalo gak, gue gak bakalan ngalamin hal kayak gini." Sesal Zizi. "berbuat salah itu adalah hal yang wajar, kita ini hanya manusia biasa yang tak lepas dari khilaf. Emang lo beneran cinta banget sama orang yang lo maksud dalam cerita lo tadi? Sampai akhirnya lo nolak Anka." Tanya Alka. Jantung Zizi seperti ingin terlepas ketika mendengar Alka melontarinya dengan pertanyaan tersebut. Zizi tidak menjawabnya dengan kalimat, ia hanya menganggukkan kepalanya. Alka pun mengikutinya menganggukkan kepalanya seperti mengerti akan hal yang dimaksud Zizi. "sekarang masih sedih?" Tanya Alka. Zizi menggelengkan kepalanya yang kemudian disusul dengan senyumnya. bagus deh kalo gitu. "Kita pulang sekarang yuk, ntar dicariin lagi." Ajak Alka. "yuk." Jawab Zizi. "oh iya Al, kok lo ngajakin gue kesini sih?" Tanyanya lanjut. "kan tadi udah gue bilang kalo gue gak mau bawa lo pulang dalam keadaan nangis kayak tadi." Jelas Alka. "bukan itu tau, maksud gue kenapa lo sampai ajak gue ketempat yang terbilang sepi kayak gini?" Tanya Zizi kembali. "iya kalo gue ajak lo ketempat yang rame, lo gak bakalan bisa meluahkan semua kesedihan lo. Ini tuh tempat pelarian gue, jadi kalo gue lagi sedih gue bakalan kesini." Jelas Alka sambil menunggangi motornya. "oh, berarti lo pernah sedih ya? Gue kirain gak pernah." Ucap Zizi yang sudah duduk dibelakang Alka kembali. Alka hanya tersenyum menanggapi pernyataan Zizi tersebut dan mulai menjalankan kembali motornya. *** Satu bulan telah berlalu dari pengiriman berkas-berkas untuk kompetisi PIK-remaja terbaik dan pemantauan kelapangan secara langsung juga telah dilaksanakan oleh tim pemantau pusat. Tibalah hari untuk mendengar hasil pengumuman, walaupun tidak mengetahui apakah PIK-Remaja sekolah mereka akan memenangkan kompetisi tersebut atau tidaknya tetapi mereka tetap tidak putus harapan dan masih tetap optimis akan usaha yang sudah mereka lakukan. Hasilnya diumumkan melalui Faximail sekolah. Pagi-pagi sekali Zizi sudah berada di sekolah menunggu kehadiran ibu Naya dan sudah begitu tidak sabar lagi untuk melihat hasil pengumuman yang telah keluar. Tentu saja, untuk tahun ini PIK-Remaja Tunas Bangsa lah yang menjadi pemenangnya. Bagaimana tidak, semua pertanyaan yang diajukan oleh tim pemantau dijawab oleh sang ketua dengan lancar dan benar. Dihadapkan dengan sebuah kasuspun Zizi juga dapat menuntaskannya. "kita menang bu." Seru Zizi riang sambil memeluk ibu Anisa. "iya Zi, Alhamdulillah berarti usaha kita gak sia-sia." Seru ibu Anisa. "hadiahnya besar banget Zi." Lanjutnya. "iya bu, itu mah lebih dari modal yang kita keluarkan bu. Masih banyak banget malah lebihnya." Seru Zizi ketika melihat tulisan hadiah yang mereka terima berupa satu buah piala, sertifikat penghargaan dan uang tunai senilai 15 juta rupiah. "kalo Zizi boleh kasih saran uangnya kita pakai sedikit buat traktir temen-temen anggota organisasi kita bu sebagai tanda terima kasih kita mereka udah menyumbangkan tenaga dan pikiran mereka. Kita menang kan juga berkat bantuan dan dukungan dari mereka. Nah, sisanya kita jadiin uang kas kita bu, jadi jika ada keperluan untuk PIK kita terus misalnya ada kompetisi yang harus kita ikuti dan membutuhkan biaya yang cukup besar, kita gak perlu ngerepotin sekolah lagi bu soalnya kita udah punya simpanan." Usul Zizi. "saran kamu bagus juga. Oke deh nanti kita bicarakan kembali yang penting sekarang kita berhasil membawa harum nama sekolah kita." Jawab ibu Anisa. "iya bu, Zizi seneng banget rasanya capek yang kemarin itu terbayar sudah dengan keberhasilan yang kita dapatkan." Ucap Zizi senang. Kemenangan PIK-Remaja Tunas Bangsa telah terdengar ditelinga semua sekolah, terutama seluruh siswa SMA Perwira. Pada saat apel pagi berlangsung, Bapak kepala sekolah mereka mengumumkan kemenangan tersebut memanggil semua pejabat teras yang tergabung dalam organisasi tersebut untuk maju kedepan dan menerima hadiah. Sorakan tepuk tanganpun terdengar ramai sekali ditelinga mereka, raut wajah Zizi tidak lepas dari senyumnya yang lebar dan manis.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN