Sejak peristiwa itu Anka dan Zizi tidak pernah berkomunikasi lagi, Anka memberikan waktu pada Zizi untuk memikirkan semuanya dengan baik-baik oleh sebab itulah ia memutuskan untuk tidak mengganggu Zizi dulu. Namun, bagi Anka Zizi terlalu lama mengulur waktu karena sudah hampir satu minggu Anka tak kunjung juga diberikan jawaban. Sampai akhirnya Anka memutuskan untuk menemui Zizi.
"Zi, gue mau bicara sama lo." Seru Anka yang tiba-tiba muncul dihadapan Zizi dan Vanya yang ingin pulang ke rumah.
"oh ya udah Zi kalo gitu gue pulang duluan ya. Sampai ketemu besok ya. Ka, gue cabut ya." Seru Vanya sambil melambaikan tangannya pada mereka.
"lo mau ngomong apa?" Tanya Zizi.
"lo udah pikirin pertanyaan gue kemarin? Lo udah punya jawabannya?" Tanya Anka. Zizi terdiam mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Anka, karena ia sama sekali belum memiliki jawaban apapun atas pertanyaan Anka tersebut.
"ini udah berlalu seminggu Zi. Masak iya lo masih belum punya jawaban juga." Lanjut Anka.
"gue.. sebenarnya gue..." kalimat Zizi terputus ketika Alka mendadak melewati mereka berdua dan berlalu tanpa menghiraukan mereka. Lo gak peduli lagi Al sama gue, noleh aja nggak. Gumam Zizi.
"gak usah dijawab Zi, gue udah tau kok jawabannya." Potong Anka.
"gue kan belum jawab apa-apa kok udah tau?" Tanya Zizi bingung.
"kayaknya memang lebih baik kita jadi sahabat aja ya, kita bebas mau ngapain. Lagian gue sadar diri kok, gue itu gak pantes buat lo. Lo itu kan cewek yang popular lah disekolah kita, lo cantik, lo pinter, lo baik, disenangi banyak orang. Kalo lo nerima gue jadi pacar lo, ntar lo malu sama temen-temen yang lain. Gue kan gak setenar lo."
"loh kok.. Anka gue itu gak pernah beda-bedain temen gue. Apa lagi liat dari status sosial dan kedudukannya, gak pernah ka. Gue seneng temenan sama lo, gue juga sayang kok sama lo tapi rasa sayang gue ke lo itu adalah rasa sayang seorang sahabat." Jelas Zizi.
"iya gue tau itu kok, lo emang orang yang bukan pemilih dalam bergaul tapi pemikiran orang yang menilai kalo gue itu gak pantes buat lo. Mungkin lo bener, kita memang lebih baik sahabatan aja. Maafin gue ya Zi, udah sempat bikin lo pusing gara-gara pertanyaan-pertanyaan gue yang gak penting." Ucap Anka.
"gak apa apa kok ka, syukurlah kalo lo ngerti maksud gue. Sahabatan itu jauh lebih indah ka." Jawab Zizi sambil tersenyum.
"oke deh, gue antar lo pulang ya. Gue kan udah misahin lo sama Vanya jadi gue harus tanggung jawab dong." Seru Anka.
"selagi masih gratis gue mau kok." Ledek Zizi.
"dasarr..." seru Anka.
Zizi merasa sangat lega karena Anka tidak begitu mempermasalahkan lagi tentang pertanyaannya yang sempat terlontar untuk Zizi. walaupun Zizi hampir sedikit jantungan karena Anka tiba-tiba berubah pikiran, ia mengira bahwa Anka merubah pikirannya karena Alka yang baru saja melintas dihadapan mereka. Ternyata Zizi salah, karena alasan yang lainlah yang membuat Anka berubah pikiran. Bagus deh kalo gitu. Itu artinya gue gak perlu pusing mikirin jawaban lagi dan tentunya gak bakalan ada hati yang tersakiti. Yah walaupun sebenarnya dia salah paham, gue belum kasih dia jawaban bukan karena seperti hal yang telah dipikirkannya namun karena hal yang lain. Karena hatiku yang sudah diisi oleh orang lain terlebih dahulu. Ucap Zizi dalam hatinya.
***
"Anka nembak lo Zi?" Tanya Vanya dengan nada yang terkejut.
"lo denger gosip darimana sih neng, lo kan tau kalo gue sama Anka itu just friendship." Jawab Zizi.
"semua orang udah heboh tau, gosip lo sama Alka mendadak pudar dan berganti dengan Anka. Kok lo gak cerita sama gue sih Zi?" seru Vanya kesal.
"what? Gue digosipin sama Anka. Udah kayak seleb aja yah gue? Dikit-dikit dapet berita hangat." Gerutu Zizi.
"sekarang lo jujur sama gue apa yang sebenarnya terjadi?" desak Vanya.
Zizi menceritakan semua yang telah terjadi antara ia dan Anka, dan gosip yang tengah menyebar sekarang itu tidak benar karena pada kenyataannya Zizi dan Anka masih dalam status bersahabat. Tetapi walaupun berita tentang Zizi dan Alka tidak sehangat dulu sebelum menculnya kehadiran Anka dalam hidup Zizi, Alka dan Zizi tidak jarang masih mendapatkan ledekan dari teman-temannya ketika mereka bertatap muka. Berita tentang Alka dan Zizi tidak mudah untuk dipudarkan dengan berita kedekatan Zizi dengan laki-laki lain, benar-benar sudah seperti infotainment sungguhan. Namun, Zizi menanggapi semuanya dengan penuh ketenangan. Ia tidak perduli dengan berita apapun yang sedang beredar tentang dirinya.
"tenang Zi, gue bakalan bantuin lo buat klarifikasi semua ini." Seru Vanya.
"udah ah biarin aja mereka mau bilang apa, gak usah pake acara pengklarifikasian segala, gue bukan seleb yang di-TV tau." Jelas Zizi.
"iya non, gak usah sewot gitu. Pokonya kalo ada yang nanya bakal gue jelasin semuanya." Seru Vanya kembali.
"nah kalo itu baru bener." Jawab Zizi setuju. "oh iya gue hampir lupa, hari ini kan Alka ulang tahun Van. Ucapin gak ya?" lanjutnya.
"ucapin aja Zi, siapa tau dapet respon yang baik." Usul Vanya.
Zizi tersenyum dan kemudian menuruti saran yang diberikan oleh Vanya. Zizi menggerogoh ponselnya didalam tas dan kemudian mengirim sebuah pesan pada Alka untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun. Ulang tahun Alka yang ke-17 tahun.
Happy Birthday Al, semoga yang lo semogakan tersemogakan. Keep elegant yah (
Delivered to : xxxx53677008
Namun, seperti yang telah Zizi duga sebelumnya bahwa tidak akan ada pesan balasan yang akan dikirimkan Alka padanya. Pandangannya tidak sedikitpun lepas dari ponselnya, menunggu kalau saja ada pesan yang masuk dari Alka. Hingga malam menjemputpun masih seperti hal yang sama.
***
Upacara pengukuhan untuk Pasukan Pengibar Bendera Pusaka akan segera dimulai dalam waktu kurang dari satu jam lagi, Anka sebagai Purna Paskibraka tahun sebelumnya juga ikut menghadiri acara pengukuhan tersebut bersama teman-teman satu angkatannya tahun sebelumnya. Sejak awal menduduki tempat duduknya Anka tidak lepas dari ponsel yang digenggamnya karena saat itu ia sedang sms-an dengan Zizi. Hal tersebut ternyata menjadi perhatian teman-temannya yang juga tergabung menjadi anggota Paskibraka yang juga turut menghadiri acara tersebut.
"hayo lagi sms-an sama Zizi ya?" Tanya Redo yang tiba-tiba duduk mendekatinya bersamaan dengan Hamdan dan Roli. "lo berdua pacaran beneran gak sih ka?" lanjutnya.
"kepo banget sih. Gue itu cuma sahabatan aja sama Zizi." jelas Anka.
"mana ada seorang laki-laki dan seorang perempuan itu bisa bersahabat, yang ada ujung-ujunngnya bakalan jadi cinta juga. Bener gak bro?" seru Roli yang mulai meyakinkan teman-temannya.
"udah dari pada hubungan lo sama Zizi gak jelas kayak gini, mending HP lo biar gue yang pegang dan gue bakalan bantuin lo biar lo bisa jadian sama Zizi." seru Redo sambil merebut ponsel ditangan Anka.
"eh lo mau ngapain, balikin Hp gue sini." Pinta Anka.
"udah ka, lo terima beres aja. Lagian Zizi juga gak bakalan nolak kok kalo lo nembak dia lagi karena yah untuk apa juga dia ngarepin Alka yang gak pasti kayak gitu." Jelas Hamdan.
"udah dong, gak enak tau sama Zizi nya, lagian Alka mau dikemanain. Gue lebih gak enak lagi sama Alka." Jawab Anka.
"gue kenal sama Alka, dia itu gak mau pacaran jadi dia gak bakalan ngerusak hubungan lo sama Zizi. dia bakalan fine-fine aja. Lo tinggal duduk yang manis biar Zizi jadi urusan kita oke." Ucap Hamdan.
Anka sama sekali tidak mengetahui hal apa yang disampaikan Redo melalui pesan tersebut pada Zizi, karena sudah 15 menit ponsel Anka belum juga dikembalikan oleh Redo. Anka hanya bisa diam saja melihat apa yang dilakukan oleh mereka karena tempat tersebut terlalu ramai jika mereka membuat keributan.
"do, balikin Hp gue. Udah lima belas menit lo pake buat sms Zizi terus." Pinta Anka kembali.
"lima belas menit lagi ya ka, lagi proses. Gue yakin kali ini Zizi bakalan terima lo jadi pacarnya." Ucap Redo meyakinkan Anka.
Sementara itu Zizi kembali dipusingkan dengan pertanyaan Anka yang ingin menjadi pacarnya. Zizi bingung alasan apa lagi yang harus ia pakai untuk menolaknya. Disisi lain, Zizi juga tidak tega jika harus menyakiti perasaan Anka karena hal itu adalah untuk kedua kalinya Anka menanyakan hal tersebut. Zizi memutuskan untuk mencari solusi dengan bertukar pikiran dengan Alka.
Al, lo lg gk sibuk kan? Gue butuh bantuan lo.
Delivered to : xxxx53677008
Al, bales dong sms gue, gue mau cerita sm lo.
Delivered to : xxxx53677008
Al, please bales sms gue ini, gue bener2 butuh lo sekarang.
Delivered to : xxxx53677008
Namun, hal yang sama kembali terjadi. Alka tidak merespon satupun pesan dari Zizi. dengan perasaan kecewa dan tidak ingin membuat Anka merasa tersakiti, ia memutuskan untuk menerima Anka sebagai pacarnya tanpa memikirkan sedikitpun perasaannya yang masih sangat mencintai Alka.
Mungkin, ini takdir yang harus aku jalani. Alka tidak menjawab satu pesanpun dariku, sudah cukup menjelaskan bahwa sekarang aku memang harus bisa menerima orang yang mencintaiku dibandingkan mempertahankan perasaanku yang belum ada kejelasan ini.
Kemarin kan kita udah sepakat buat sahabatan. Kenapa skrg lo tanya lg prtanyaan itu?
Delivered to : xxxx77966780
Gue tau Zi, tp kita jg gk bs terus2an ada hubungan tanpa status gini.
Sender : xxxx77966780
Status kita jelas, kita sahabatan. Status yg bagaimana lg?
Delivered to : xxxx77966780
Gue mau kita lebih dr itu Zi, apa salahnya kita coba jalani dulu. Gue beneran sayang sm lo Zi. Lo mau ya terima gue?
Sender : xxxx77966780
Oke, jika itu mau lo. Kita coba jalani.
Delivered to : xxxx77966780
Jadi gue diterima Zi?
Sender : xxxx77966780
Iy
Delivered to : xxxx77966780
Berarti sekarang kita pacaran kan. Makasih banyak ya sayang, I love you sayang.
Sender : xxxx77966780
Zizi tidak membalas pesan terakhir yang dikirim oleh Anka alias Redo. Semoga keputusan yang gue ambil ini benar. Pikir Zizi.
Karena sudah merasa berhasil membuat Zizi menerima cintanya Anka, Redo pun mengembalikan ponsel Anka yang telah direbutnya 50 menit yang lalu. Mereka semua menunggu jawaban yang diberikan Redo, dan mereka pun tertawa secara spontan serta kemudian menjabat tangan Anka sebagai ucapan selamat ketika mereka mendengar hal yang dikatakan oleh Redo.
"beres ka, sekarang lo resmi jadi pacarnya Zizi. Zizi terima lo." Seru Redo sambil mengembalikan ponselnya dan menepuk-nepuk pundak Anka.
Anka hanya pasrah dengan apa yang telah terjadi. Ia juga tidak berusaha menjelaskan pada Zizi bahwa sebenarnya semua itu adalah manipulasi dari Redo dan teman-temannya. Anka hanya menjalaninya seperti air yang mengalir.