"berkat doa dan dukungan kalian semua, Alhamdulillah kita berhasil mendapatkan sumbangan dana yang kita butuhkan." Seru Zizi pada semua anggotanya.
"Alhamdulillah..." seru semua anggotanya serempak dan membuat mereka semakin optimis untuk memenangkan kompetisi tersebut.
"em, saya dan bu Nisa juga telah mendatangkan tukang cat dan pelukis yang akan menyulap ruangan ini menjadi ruangan yang benar-benar bernuansa remaja. Oh iya semua tugas yang telah saya tugaskan pada kalian telah dilaksanakan semua?" Tanya Zizi.
"udah kak, Insya Allah semuanya besok udah bisa kami serahin sama kakak." Jawab Sarah adik tingkatnya.
"bagus. Besok kalian semua kumpulkan foto kalian masing-masing, kumpulkan dalam satu flashdisk kemudian berikan sama saya. Karena itu untuk data struktur kepengurusan dan anggota." Perintah Zizi, mereka semua menganggukkan kepala memberi isyarat bahwa mereka semua mengerti dengan apa yang diperintahkan oleh Zizi.
"oh iya untuk pembuatan film gimana?" Tanya Zizi lanjut.
"nah itu dia Zi, kalo ide ceritanya sih kita udah dapet. Tapi yang akan memainkan perannya nih yang bikin pusing." Jawab Neta sebagai sekretaris dalam organisasi tersebut.
"kok bingung, tinggal cari yang pas aja. Terus syuting apa susahnya?" jawab Zizi.
"kalo pemeran yang lainnya udah dapet semua, nah tinggal pemeran utamanya yang belom. Soalnya gak ada yang cocok Zi." Seru Neta kembali.
"gimana kalo lo aja Zi? Kayaknya menarik tuh." Usul Vinka.
"yap. Bener banget, dari pada pusing-pusing nyari yang cocok mending Zizi aja. Kok kita tadi gak kepikiran ya." Timbal Fari.
"kok jadi gue sih? Emang ceritanya tentang apaan sih?" Tanya Zizi bingung.
"gini loh Zi, ceritanya ada seorang anak yang broken home, gak cuma itu aja dia juga cupunya gak ketolongan. Trus dia ketemu sama temennya yang cuma mau manfaatin dia aja untuk kepentingan pribadi mereka, trus tuh cewek disulap jadi cantik dan mulai terpengaruh sampai akhirnya terjerumus kedalam pergaulan bebas. Nah trus tuh cewek mereka jual sama temen mereka, awalnya jadi pacar tapi ujung-ujungnya tuh cowok bernafsu juga dan cewek itu hampir saja diperkosa sama cowok yang baru dikenalin sama temen-temennya tadi tapi gak berhasil soalnya tuh cewek menolak dan kemudian kabur. Trus pingsan didepan rumah ibu-ibu dan cewek itu ditolongin. Karena anak dari ibu-ibu yang nolongnya itu adalah salah satu anggota PIK kita, nah cewek itu dirujuk untuk konsul ke PIK kita sampai akhirnya ia sadar dan mau bertobat. Orang tuanya juga sadar, cowok yang mau perkosa dia tadi ditangkap polisi dan temen-temennya meninggal karena OD." Jelas Neta.
"ceritanya bagus, tapiii... kok jadi gue sih? Yang lain aja yah. Lagian gue masih banyak kerjaan yang harus gue selesaikan. Setelah besok mereka semua ngumpulin tugas yang udah gue bagi, gue masih harus edit dan isi semua data-datanya dan kemudian print out, belum lagi ngedata semua client konseling kita, surat-menyurat dan membuat data untuk profil PIK kita dalam bentuk DVD, waktu kita tinggal empat hari lagi. Masak kalian gak kasian sih sama gue." Jelas Zizi.
"tapi Zi, udah gak ada pilihan lain, cuma lo yang bisa melakoni peran ini. Kita bakalan bantuin lo sampai semuanya beres, kita gak bakalan biarin lo nyelesaiinnya sendirian. Ayolah Zi, mau ya demi kesuksesan kita bersama." Bujuk Vinka.
"iya Zi, Vinka bener. Lo percaya deh kalo kita bakalan bisa menyelesaikan semuanya tepat pada waktunya." Timbal Neta.
"kalo peran itu bisa gue yang gantiin, gue siap kok Zi." Seru Fari.
"tapi sayangnya bukan buat lo Fari.." seru Vinka dan Neta serempak.
"iya maka dari itu." Jawab Fari.
"oke gue mau, tapi ini demi kalian dan PIK kita. Tapi gue mau Tanya yang jadi cowok yang bakal jadi pacar gue trus mau perkosa gue itu nanti siapa?" Tanya Zizi.
"Anka." Jawab mereka bertiga kompak.
"Anka? Gak salah lo semua, emang dia keliatan muka kayak orang b***t apa. Wah.wah. kalian ini." Seru Zizi.
"ada lah sedikit-sedikit hehe.." seru Neta.
Akhirnya Zizi melakoni peran tersebut dan seperti yang telah diprediksikan oleh teman-temannya bahwa Zizi akan berhasil dalam memainkan peran tersebut, dan sejak saat itu pula Zizi dan Anka menjadi semakin dekat. Pembuatan film pendek pun selesai, kini tinggal Zizi melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda selama syuting berlangsung. Setiap hari dalam satu minggu tersebut ia selalu pulang sore ke rumahnya, dan ketika pulang pun ia masih kembali melanjutkan pekerjaanya yang masih belum terselesaikan selama berada di sekolah. Jika boleh mengeluh, ingin sekali rasanya ia mengeluh. Namun, baginya mengeluhpun tidak akan membuat semua tanggung jawabnya menjadi lepas.
***
Pagi-pagi sekali Zizi sudah berangkat ke sekolah, hari itu adalah hari deadline terakhirnya dalam menyelesaikan semua tugas yang telah diberikan padanya. Dengan membawa setumpuk berkas-berkas yang telah ia selesaikan semua data-datanya, satu modul profil PIK-Remaja mereka yang telah di print out, dan tentunya dengan satu DVD yang telah berisikan profil PIK-Remaja mereka dan film pendek yang telah mereka buat yang dimuat dalam bentuk satu video. PIK-Remaja tersebut mereka beri nama PIK-Remaja Tunas Bangsa. Dengan hati yang gembira ia membuka ruangan PIK-Remaja mereka yang baru selesai direhab dengan warna dinding dan kreasi seni yang bernuansa remaja dan tanpa mengurangi ciri khas dari sebuah PIK-Remaja yang bersahabat dan bebas dari n*****a serta yang telah dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang mendukung, seperti satu unit TV beserta lemarinya, dua buah AC, satu layar LCD dan proyektornya, ruangan konseling kelompok yang telah dilengkapi dengan satu meja bundar, ruang konseling individu dengan fasilitas satu meja dan kursinya beserta satu unit Laptop yang melengkapinya, satu unit komputer dan ponsel khusus PIK-Remaja tersebut yang dipergunakan untuk melayani siapa pun yang ingin konsultasi dan identitasnya dijamin kerahasiaannya.
"sejuknya ruangan ini, semoga akan membawa hasil yang baik." Ucap Zizi.
"ibu memang sudah yakin kalau kalian bisa melaksanakannya dengan baik." Seru ibu Nisa yang datang tiba-tiba.
"eh ibu, iya bu semua ini juga berkat bantuan dan dukungan dari ibu dan teman-teman yang lain juga. Semoga kita berhasil ya bu." Jawab Zizi.
"Amin. Tapi menang atau kalahnya itu tidak begitu menjadi masalah yang terpenting kita telah melakukan hal yang terbaik." Jelas ibu Nisa.
"oh iya bu tim pemantaunya kira-kira datangnya jam berapa?" Tanya Zizi.
"ibu kurang tau juga sih Zi, mungkin jam delapan nanti. Yang pasti kamu ikut belajar dikelas dulu, ntar kalo mereka udah nyampe ibu bakalan panggil kamu." Jawab ibu Nisa.
"oh iya Udah siapkan buat presentasinya, terus menyapu bersih semua pertanyaan mereka nanti?" Tanya ibu Nisa.
"siap dong bu. Oke deh kalo gitu bu, Zizi masuk ke kelas dulu ya bu." Seru Zizi sambil berlalu meninggalkan ibu Nisa. Ia sangat senang karena ia dapat belajar kembali dengan tenang tanpa ada pikiran yang menjanggal dihatinya.
***
"Hai Zi." Sapa Anka.
"eh Anka. Hai." Jawab Zizi singkat karena ia sibuk dengan kertas-kertasnya yang masih berserakan diatas meja.
"ikut gue yuk." Ajak Anka sambil menarik tangan Zizi.
"eh, lo mau ajak gue kemana? Ini kertas-kertas gue gimana?" Tanya Zizi.
"pokoknya ikut gue bentar aja Zi." Jawab Anka.
"oke ka, tapi tolong lepasin tangan gue. Gak usah ditarik-tarik gini." Pinta Zizi.
Anka pun menuruti permintaan Zizi. walaupun Zizi sama sekali tidak mengetahui apa sebenarnya yang diinginkan oleh Anka, namun ia tidak ingin ambil pusing ia pun berjalan mengikuti langkah kaki Anka. Zizi benar-benar tidak menyangka bahwa ia akan diajak oleh Anka kebawah pohon mangga yang terletak dibelakang perpustakaan sekolah.
"ayo Zi duduk." Ajak Anka. Zizi hanya terdiam dan memandang Anka dengan lekat, kemudian mengikutinya untuk duduk dibawah pohon tersebut.
"kok lo diam Zi?" Tanya Anka. "lo gak suka ya tempat ini?" lanjutnya.
"ee.. gak kok. Gue suka ka, tapi jujur aja dengan lo bawa gue ketempat ini ngingetin gue sama Alka." Jelas Zizi.
"oh, sory.sory Zi, gue gak bermaksud. Ya udah kalo gitu kita pindah aja ya." Ajak Anka kembali.
"eh gak usah ka, kita disini aja. Emang ada apaan sih lo ngajakin gue kesini?" Tanya Zizi.
"gue tau Zi perasaan lo. Tapi udah dong jangan sedih-sedih, sekarang gue mau liat lo senyum. Ayo dong." Pinta Anka.
Zizi pun tersenyum seperti yang diinginkan oleh Anka. "iya ka gue gak sedih lagi kok, lagian ngapain juga gue mikirin orang yang belum tentu mikirin gue sama sekali." Ucap Zizi.
"nah gitu dong. Oh iya Zi, kenapa gue ngajak lo kesini karena gue.. sebenarnya.. gue mau bilang sama lo kalo gue..."
"he em, lo... lo kenapa ka?" Tanya Zizi bingung.
"lo tenang ya, sekarang lo cerita sama gue lo kenapa? Kalo lo lagi punya masalah cerita dong ka, biar kita selesain bareng-bareng."
"gue emang lagi punya masalah Zi. Masalah hati gue." Jawab Anka.
"hmm, udah gue duga. Hati lo kenapa lagi sih ka? Mau lo keluarin terus lo goreng?" Ledek Zizi.
"iya tapi lo yang makan ya." Ledek Anka balik.
"ogah ah gue makannya. Udah deh serius sekarang, lo mau cerita apa?" Tanya Zizi kembali.
"lo mau gak jadi pacar gue Zi?" Tanya Anka tanpa basa-basi lagi.
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Anka membuat Zizi bingung dan dengan spontan membuatnya tertawa terbahak-bahak.
"haha... ya ampun Anka, dibilangin seriusan masih aja ngajak becanda."
"gue serius Zi, gue gak becanda." Jawab Anka.
"hah? Lo serius? Bentar-bentar, lo gak lagi sakit kan?" Tanya Zizi sambil memeriksa keningnya Anka. "terus Debi mau lo kemanain? Lo jadikan ikan asin?" ledek Zizi.
"gue sehat Zi, gue serius gue sayang sama lo. Gue udah putus kok sama Debi tiga bulan yang lalu." Jelas Anka
"kok lo putus gak cerita sama gue? Lo putus kenapa?" Tanya Zizi.
"iya buat apa Zi mempertahankan hubungan kalo dianya gak pernah bisa ngertiin gue sama sekali. Dikit-dikit berantem, pacaran itu gak kayak gitu. Masak iya tiap hari berantem terus kapan baikannya?"
"tapi gue tau lo kan sayang banget sama dia. Jadi gak mungkin secepat itu lo bisa move on ka. Udah ah gue mau ke kelas, kayaknya lo butuh waktu buat sendiri." Seru Zizi sambil beranjak dari tempat duduknya, namun kemudian gagal pergi karena tertahan oleh kalimat Anka.
"bisa aja. Gue sayang lo Zi, gue tau lo cintanya sama Alka tapi cobalah sedikit buka mata hati lo. Alka itu gak pantes buat lo, dia udah nyia-nyiain cewek setulus lo. Gue gak mau liat lo disakitin terus kayak gini." Seru Anka.
"kenapa lo sayang sama gue?" Tanya Zizi singkat.
"gue.. gue.. gue gak tau apa alasan gue sayang sama lo, yang gue tau gue selalu pengen ada buat lo." Jawab Anka.
"gue.. sory gue gak bisa jawab lo sekarang ka, kasih gue waktu buat mikirin semua ini." Jelas Zizi dan kemudian berlalu meninggalkan Anka yang masih diam mematung melihatnya berlalu pergi. Selama berjalan kembali menuju ke kelasnya ia memikirkan semua perkataan Anka, ia benar-benar bingung jawaban apa yang harus ia berikan pada Anka.