New Everything (1)

1836 Kata
Semua siswa kelas X yang telah dilantik secara resmi sebagai anggota pramuka yang baru berkumpul dilapangan sekolah, weekend yang biasanya mereka pergunakan untuk santai di rumah tanpa harus bertemu dengan pelajaran-pelajaran seperti sedang berada didalam ruang kelas, namun weekend kali ini mereka pergunakan untuk berpetualang didalam hutan. Karena pada hari itu mereka akan mengikuti kegiatan hiking di hutan yang jaraknya tidak jauh dari sekolah mereka. Setelah mengikuti serangkaian kegiatan, mulai dari upacara pelantikan secara resmi, mengikuti seminar dan kegiatan yang lainnya, akhirnya mereka akan melakukan hiking, kegiatan yang disukai oleh semua siswa. Yang menjadi panitia dalam kegiatan tersebut adalah para siswa kelas XI yang sebelumnya juga pernah melakukan kegiatan-kegiatan tersebut pada tahun sebelumnya. Hari itu Alka sudah mulai beraktivitas kembali, ia juga tidak ingin melewatkan kegiatan tersebut sama seperti dengan teman-temannya yang lain. Jam telah menunjukkan pukul 08.00 WIB, hiking pun dimulai. Sebagai seorang ketua PMR yang baik Zizi pun ikut berkeliling mengikuti hiking bersama adik-adik tingkatnya ditemani dengan satu kotak P3K, agar jika ada yang terluka Zizi sudah siap untuk mengatasinya. Mereka menyiapkan 8 pos dalam rute perjalanan hiking mereka, masing-masing pos telah dijaga oleh para panitia dari kelas XI. Zizi seperti ikut berpetualang namun tidak mendapatkan hasil apa-apa, yang ia dapat hanyalah rasa lelah karena harus berjalan bolak-balik dari pos yang satu ke pos yang lainnya untuk memastikan keadaan adik-adik tingkatnya, karena itu sudah merupakan tanggung jawabnya untuk menanganinya. Ketika Zizi sedang berada di pos pertama, Zizi memetik setangkai bunga Alamanda catartica, warnanya yang kuning segar menambah keindahan bunga tersebut. Entah apa yang sedang Zizi pikirkan, sehingga ia mendekati salah satu dari adik tingkatnya. "nama kamu siapa?" Tanya Zizi. "Tia kak." Jawab Tia adik tingkatnya. "baik Tia, kakak boleh kan minta tolong sama kamu?" Seru Zizi "boleh kak, kak Zizi mau minta tolong apa?" Tanya Tia. "kakak titip bunga ini ya, tolong berikan bunga ini pada kak Alka yang ada di pos lima. Tapi inget, jangan bilang kalo bunga ini dari kakak, jika ditanya dari siapa, jawablah dari kakak yang ada di pos satu kak." Jelas Zizi. You really crazy Zizi masak cewek yang ngasih bunga ke cowok. Hmm... "baik kak." Jawab Tia dengan raut wajah yang cukup meyakinkan Zizi bahwa ia tidak akan mengatakan hal yang sebenarnya. Setelah memberikan bunga tersebut pada Tia, Zizi langsung pergi berpindah menuju ke pos 8. Tanpa melewati pos-pos yang terurut setelah pos 1 Zizi langsung mengambil jalan pintas untuk menuju ke pos terakhir. Sesampainya di pos 8, Zizi tidak terlalu lama berada di pos tersebut karena ia memutuskan untuk pergi menuju ke pos 7. Perjalanan Zizi menuju ke pos 7 tidak semudah ia berhasil menempuh pos-pos yang lainnya yang masih bisa ditempuh dengan jalur darat, dan Zizi harus menempuh jalur air. Namun, ia tidak begitu khawatir tidak dapat menyeberang danau tersebut karena sudah tersedia perahu karet dan teman laki-laki yang siap menyeberangkannya tanpa harus membasahi pakaiannya. Sesampainya ia di pos 7 ia langsung dikejutkan dengan teriakan-teriakan histeris Vanya. "Zizi.. lo itu darimana aja sih? Kok baru kesininya sekarang." Seru Vanya. "Van, bisa kan gak usah pake teriakan lo yang histeris kayak gitu. Inget, ini tuh dihutan bukan kayak disekolah tau." Seru Zizi. "upsszz, sory. Oh iya lo tadi dicariin Alka tau. Dia butuh lo, tangannya terluka. Dia nyariin lo sampe kesini tapi lo nya gak ada." Jelas Vanya. "serius lo Van? Kapan?" Tanya Zizi penasaran. "nggak gue bohong. Serius lah non, baru sepuluh menit yang lalu." Jawab Vanya sambil mengangkat kesepuluh jarinya menunjukkan jumlah menit yang ia sebutkan. "terus sekarang dia dimana?" Tanya Zizi. "udah balik ke posnya lagi. Abisnya lo gak ada." Jawab vanya kembali. "oh iya udah kalo gitu mungkin gak butuh lagi." Jawab Zizi kemudian langsung duduk disamping teman-temannya yang lain. "aduh Zi, kok lo masih disini. Kalo boleh saran mending lo susulin dia kesana, tangannya tadi belum diobatin loh Zi." Saran Tata. Disusul dengan sorakan teman-teman yang lain. "iya Zi, kasian loh." "oke.oke. gue bakalan kesana." Jawab Zizi yang mulai beranjak dari tempat duduknya dan kemudian melangkahkan kaki berjalan menuju ke pos 5. "hati-hati ya non." Seru Vanya. Ketika hilang dari pandangan Vanya dan teman-temannya, Zizi mulai berlari kecil menuju ke pos 5. Jarak antara pos 7 dengan pos 6 cukup jauh, kurang lebih 300 meter. Untuk sampai ke pos 6, Zizi harus menaiki bukit kecil dan tentunya dipenuhi dengan rumput yang cukup terbilang tajam. Tanpa menghiraukan kakinya yang sudah mulai luka karena terkena sabetan rumput-rumput tersebut dan saat itu ia juga sedang berjalan sendirian didalam hutan yang sepi tanpa ada satu orang pun yang menemani ketika ia berusaha menuju ke pos 6. Sesampainya di pos 6 ia tidak begitu menghiraukan teman-temannya, yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana caranya agar ia cepat sampai ke posnya Alka. Zizi benar-benar mengkhawatirkan keadaan Alka meskipun ia sama sekali tidak mengetahui sebesar dan separah apakah luka yang tengah diderita oleh Alka. "hai Zi. Lo kesini sendirian?" Tanya Alvino. "hai vin, iya vin. oh iya disini gak ada yang sedang sakit kan?" Tanya Zizi. "oh gak ada kok Zi." Jawab Alvino. "syukurlah kalo gitu. Gue ke pos sebelah ya." Seru Zizi. Alvino hanya menganggukkan kepalanya yang kemudian disusul dengan senyumnya. Dengan segera Zizi pun kembali melanjutkan perjalanannya. Napasnya sedikit terengah-engah ketika ia sampai di pos 5, namun karena tidak ingin terlalu kelihatan bahwa ia sangat mengkhawatirkan Alka, Zizi pun berpura-pura menanyakan adakah yang sakit disana. "ada yang sakit gak?" Tanya Zizi dengan napas yang masih terengah-engah. "oh ada Zi, nih adik kita si Tiara tadi jarinya terkena kayu yang ada disana tadi." Jawab Nia salah satu teman Zizi yang juga menjaga di pos 5 tersebut. "oh iya." Zizi langsung mengobati luka dijari Tiara. "ada lagi gak?" Tanya Zizi kembali. Namun, tidak ada jawaban. Kenapa Alka gak minta obat sama gue ya? Padahal tadi Vanya bilang tangannya terluka, apa mereka ngerjain gue ya? Pikir Zizi. "udah Zi, mending lo istirahat disini aja dulu. Lo juga pasti capek banget kan dari tadi keliling terus gak ada hentinya. Napas lo aja masih ngos-ngosan kayak gitu. Lo lari ya dari pos 6 kesini?" Seru Nia. "iya Nia, gue memang mau numpang istirahat bentar disini. Iya, gue tadi emang lari tapi dari pos 7 sampai kesini." Jawab Zizi. "what? Lo lari dari pos 7 kesini Zi? Niat amat lo lari, kan jauh." Seru Nia kembali. "iya soalnya kali aja ada yang butuh pertolongan gue cepet-cepet. Ternyata bener kan." Jelas Zizi. Zizi pun duduk berteduh dibawah pohon bersama Nia dan teman-temannya yang lain serta sesekali melihat dan membersihkan kakinya yang sedikit terluka, namun tidak dengan Alka. Alka tetap memilih berdiri didekat pohon yang ada diseberang pohon tempat Zizi duduk. Tidak berapa lama kemudian Zizi melihat Tia yang sedang berjalan menuju ke arah Alka. Tia baru nyampe sekarang? Mati deh gue, kalo ketauan gimana? Batin Zizi. "kak, ada titipan bunga." Seru Tia sambil memberikan bunga yang ada ditangannya kepada Alka. "dari siapa?" Tanya Alka tanpa menerima bunga yang diberikan oleh Tia. "dari kakak yang ada di pos satu kak." Jawab Tia. "yaudah kakak gak mau terima bunga itu karena kakak tidak tahu bunga itu dari siapa. Buat kamu aja ya." Seru Alka yang kemudian meninggalkan Tia yang masih diam mematung didepannya. "cie.. Alka dapet bunga. Dari siapa tuh? Zizi ya." Ledek Willy. "sembarangan aja lo ngomong. Dia kan bilang dari kakak yang ada di pos satu, nah pos gue jaga dimana? Pos 7 kan?" jelas Zizi mengelak. "udah gak usah ribut." Seru Alka. Alka gak mau terima karena ia tidak mengetahui siapa pengirim bunga itu. Jadi semakin kagum dengan Alka, itu artinya ia tidak mudah menerima sesuatu yang tidak ia kenal. Gue sekarang bener-bener udah gila, ngapain juga gue nitip bunga segala. Malu-maluin aja. Gumam Zizi kesal pada dirinya sendiri. *** Perayaan ulang tahun sekolah adalah event terbesar yang diadakan setiap tahunnya, dan tentunya membuat semua siswa yang tergabung dalam kepanitiaan, terutama anggota OSIS menjadi sibuk dalam mempersiapkan segala sesuatunya untuk mensukseskan acara tersebut. Begitupun halnya dengan Zizi, ia tidak hanya disibukkan dengan tanggung jawabnya dalam OSIS, namun ia juga masih mempunyai tugas untuk memberi pengarahan dan melatih siswa yang akan mengikuti kompetisi siswa berprestasi pada periode tahun ini, disamping itu ia pun juga harus tetap latihan tentang materi dan penjelasan Undang-Undang Dasar, karena ia akan diikut sertakan dalam perlombaan Cerdas Cermat 4 Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara mewakili Kota mereka. Zizi benar-benar kualahan dalam membagi waktunya, namun hal itu tidak mematahkan semangatnya. Ia kerjakan satu persatu-satu tugas yang tengah diembankan padanya. Hari itu setelah rapat OSIS dinyatakan selesai, ia langsung mengajak Akbar untuk menemaninya dalam memberikan arahan pada calon peserta yang akan mengikuti kompetisi siswa berprestasi periode tahun ini. Walaupun sebenarnya Zizi dan Akbar sama sekali belum mengetahui siapa peserta yang telah ditunjuk oleh pak Andi periode ini. Namun, Zizi tidak ingin ambil pusing. Ia mengumumkan di toa sekolah agar semua siswa yang terpilih untuk mengikuti kompetisi tersebut diharapkan agar dapat berkumpul di aula sekolah. "baik, sudah berkumpul semua kan?" Tanya Zizi pada semua siswa yang telah ditunjuk oleh pak Andi untuk mewakili sekolah mereka dalam mengikuti kompetisi tersebut. "belum Zi, masih ada satu lagi. Soalnya kita kan berempat." Jawab Mila. Ternyata mereka yang telah ditunjuk oleh pak Andi semuanya dari kelas XI, teman satu angkatan Zizi dan Akbar. Yang lebih membuat Zizi terkejut lagi ketika ia mendapati sosok Alka yang tengah berjalan memasuki ruangan tersebut dan kemudian langsung mengambil posisi tempat duduk tepat berhadapan dengan Zizi. tidak ingin merusak suasana karena kesalah tingkahan mereka berdua dan pastinya pasti akan mulai mengundang perhatian semua teman-teman mereka, Zizi dan Alka pun sama-sama menunduk. Untuk menghilangkan rasa kacau dalam pikiran Zizi, Zizi pun memulai pengarahannya. "wah gak kerasa ya udah hampir setahun? Perasaan baru kemarin ya bar kita ada diposisi mereka." Seru Zizi. "iya Zi, bener banget. Mereka mah enak, sebelum semesteran udah dikasih tau, gak kayak kita dadakan waktu liburan." Seru Akbar sambil tertawa. "setuju deh sama kamu. Oke, kita mulai aja ya...." ucap Zizi dan kemudian mulai menjelaskan prosedur-prosedurnya dan menceritakan pengalamannya tahun lalu. "jika masih ada yang belum jelas, kalian boleh tanya kok." Lanjut Zizi. satu persatu dari mereka mulai bertanya, Akbar dan Zizi pun menjawabnya secara bergantian. "oke, sepertinya semuanya udah jelas. Kalo gitu.." belum sempat melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba Alka mengacungkan tangan seraya berkata. "gue kan belum nanya. Emm, pas kita wawancara biasanya pertanyaan yang diajukan oleh dewan juri seputaran apa ya?" Tanya Alka. "emm, kayaknya kalo pertanyaan itu gue serahin sama Akbar aja ya. Soalnya gue buru-buru nih, gue udah ditungguin dari tadi mau latihan LCC. Sory ya guys, gue duluan." Seru Zizi sambil membereskan semua barangnya dan kemudian berlalu meninggalkan mereka. "gini loh, biasanya pertanyaan dewan juri itu simple, namun sulit ditebak. Bisa seputaran kehidupan sosial, siswa berprestasi itu yang bagaimana, emansipasi, resolusi, pengrealisasian dan lain-lain. Jelasin aja sepengetahuan kalian." Jelas Akbar. Selama berjalan menuju keruang latihan lomba cerdas cermat, Zizi masih memikirkan tentang keikut sertaannya Alka dalam kompetisi siswa berprestasi periode tahun ini. Ia masih tidak menyangka bahwa Alka akan menerima tawaran dari pak Andi. Sampai sebegitunya ya dia menghindari gue. Dulu ketika ditawarin buat ikut bareng gue, ia menolak dengan berbagai alasan. sekarang gue gak ikut, ia menerima.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN