Aku dan Dia

2302 Kata
Bandung, 2020. “Ra,.. Ra bangun Ra." " Ra kamu ga boleh ninggalin aku Ra, kamu janji kamu ga bakalan ninggalin aku Ra." " Kamu harus bangun Ra!!” Suaranya terdengar sendu saat itu. Tenaganya sudah terkuras terlalu banyak. Bastian memegangi tangankku dengan begitu erat. Air matanya terus mengalir ke pipinya. Tidak sebanyak air mata yang dia keluarkan waktu dia menemukan tubuhku di tengah jalan. Sekarang, matanya sudah terlalu bengkak untuk menangis lebih banyak lagi. Dia hanya terus terisak dan dan menggenggam erat tanganku yang belum juga sadarkan diri itu. Bastian mencium keningku. Dia mengelus rambutku dan menatapku dengan penuh harap. “Seandainya Ra, seandainya aku bisa putar waktu kembali, aku pasti bakal terus jadi pria dingin yang benci sama kamu." " Aku rasa dengan begitu Tuhan akan tepatin janjinya buat ga ngambil kamu buat pulang ke rumahnya. Kaya papa, mama, kaya nenek Ava." " Kalau kamu jauh dari aku, Tuhan pasti ga bakal buat kamu kaya gini Ra.” Bastian terus saja menangis. Tangannya begitu erat menggenggam tanganku. Bi Inah dan Mang Ujang hanya bisa menunggu di luar ruangan karena tak ingin mengganggu Bastian yang sedang bersedih kala itu. “Aku janji Ra, aku janji. Saat kamu bangun nanti, aku bakal pergi jauh dari kamu. Aku bakal pergi ke tempat dimana kamu ga bakal nemuin aku Ra, supaya kamu ga ada di dekat aku, supaya Tuhan ga ambil kamu dari kehidupan ini. Aku janji Ra. Kamu harus bangun ya Ra..” Bisik Bastian. *** Beberapa jam yang lalu, sebelum kejadian ini terjadi, aku bertengkar dengan Bastian. Kesalahpahaman membuat Bastian pergi meninggalkanku yang sebentar lagi harus menjalankan tugasku bersama teman-teman band ku. Dan saat itu, nasib malang menimpaku melalui mobil yang menabrakku saat aku berlari hendak mengejar Bastian. Bastian yang sedang berada tak jauh dariku saat itu, menemukan tubuhku yang tergeletak di tengah jalan dengan berlumuran banyak darah. Hal itu membuat Bastian terpukul, karena ternyata kutukan itu benar. Bahwa semua orang yang dia sayang, jika berada di sisinya, semuanya akan di panggil pulang oleh Tuhan. Termasuk papanya, nenekku, dan juga mamanya. Dan sekarang, aku tidak tau apakah Tuhan akan benar benar mengambilku dari sisi Bastian untuk selamanya?. Aku harap, Tuhan mengizinkanku untuk membuktikan kepada Bastian, bahwa kutukan itu tidak pernah ada, dan tidak berlaku untuk Bastian dan juga diriku. “ Bas, aku janji aku bakal berusaha bangun dari keadaan koma ku ini, dan aku akan nepatin janji aku untuk ga bakalan pernah ninggalin kamu . Aku janji, Bastian” Hanya itu yang bisa ku ucapkan dalam alam bawah sadarku. Dan aku harap, Tuhan mengizinkanku untuk menjalankan janjiku itu. *** Bandung, 2015. Sekarang tahun 2015. 15 tahun lamanya sebelum kecelakaan itu menimpaku. Semua kisah itu berawal di tahun ini. Kisah yang menceritakan tentang kisah cintaku dengan pria yang bernama Bastian tadi. Kisahku menyukai seorang pria berhati dingin sejak aku kecil, dan berlangsung selama belasan tahun lamanya. Ada banyak hal yang membuatku bertahan untuk menyukainya. Meskipun dia adalah seorang pria dingin yang terus menolak cintaku, aku tetap saja menyukainya. Dia bahkan tidak berniat untuk berteman denganku hanya karena dia percaya dengan kutukan itu. Namun semakin lama, ada banyak hal yang pada akhirnya membuatku sadar bahwa aku harus berhenti menyukainya dan aku boleh benci terhadapnya. Entah kenapa aku hanya merasa sudah berada di titik lelahku. *** Namaku adalah Kim Yo Ra. Jika kalian berfikir bahwa itu adalah nama Korea, maka kalian benar. Aku adalah keturunan campuran Indonesia-Korea Selatan. Mamaku, Anna Kim, adalah perempuan berdarah Indonesia, sedangkan papaku Kim Ji Yon adalah pria berdarah Korea Selatan. Aku lahir di Ittaewon, Korea Selatan. Namun, sejak umur 5 tahun, keluargaku memutuskan untuk tinggal di Bandung, Indonesia. Ya, papa mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan di Bandung. Selain itu, kami pindah ke Bandung karena nenek yang sudah tua dan mulai sakit sakitan. Mama yang merupakan anak satu-satunya, memilih untuk berada di sisi nenek di masa masa tua nenek. *** Sejak hari pertamaku tinggal di Bandung, aku mengira bahwa akan sulit untukku bisa mendapatkan teman karena aku berpenampilan layaknya orang asing. Namun ternyata, aku bisa lega karena aku mendapatkan seorang teman untukku. Ada tetangga tepat di samping rumahku yang penghuninya memiliki seorang anak laki-laki yang ternyata juga seumuran denganku. Terlebih lagi, kamarnya dan kamarku saling berhadap hadapan. Aku rasa, ini adalah hal yang menyenangkan karena nantinya aku akan menjadi sahabat dekat dengannya. Dia adalah anak yang baik dan juga ramah. Sejak hari pertama kehadiranku sebagai tetangganya, dia sudah menyambutku dengan baik dan hangat. “Bastian” Uluran tangan dan seutas senyuman yang hangat menyambutku. “ Kim Yo Ra” Jawabku dengan menjabat tangannya disertai dengan senyuman malu dariku. “ Kamu pindahan dari mana?” Tanya Bastian seraya mengajakku untuk duduk disampingnya, di bawah pohon yang rindang. “ Aku pindahan dari Ittaewon” Jawabku. “ Ittaewon itu di mana ya? Aku belum pernah dengar. Apa itu kota di dekat Jakarta? ” Tanya Bastian kepadaku. “Aku juga gatau. Yang pasti jauh banget. Aku harus naik pesawat dulu lama banget, harus naik mobil juga lama banget. Jauh deh pokoknya” Terangku kepadanya. “Ohhh gitu. Yaudah ,yang penting sekarang kan kamu udah di Bandung , sekarang kamu udah jadi tetangga aku, jadi sekarang kita harus jadi sahabat ya” Ujar Bastian sambil tersenyum kepadaku. Senyum manisnya kembali hadir dari bibir kecilnya, membuatku benar-benar nyaman dan senang kala itu. Aku tak tau kenapa, aku benar-benar menyukainya sejak saat itu. Dia selalu menjadi sahabat yang baik untukku. Selalu ada di sisiku, entah aku sedang menangis, atau sedang bahagia. Bastian juga selalu menghiburku dengan candaannya yang luar biasa. Dia juga selalu memberikan kisah-kisah istimewa di setiap waktuku . Hingga akhirnya suatu hari, satu insiden membuat Bastian perlahan menjadi berubah. Bastian perlahan menghilangkan sisi baiknya kepadaku dan semua orang. Sisi manis dan pedulinya, sisi ceria dan kehangatannya pun mulai hilang dari dirinya. Semua berawal sejak hari itu. Kala itu aku dan Bastian sudah berumur 7 tahun, dan sudah dua tahun lamanya kami menjadi sahabat yang baik. “Papa!!!!!!!!!” “Papa kenapa diam aja ma? Kenapa papa ga jawab Bastian? Papa kenapa ma?!!! ” “ Ma, jawab Bastian ma!!!. Papa !!!!!” Ya, hari itu, adalah hari yang benar benar membuat Bastian terpukul dan benar-benar menghancurkan hidup Bastian. Papa Bastian pergi berpulang karena mengidap penyakit kanker. Papanya meninggal tepat di hari ulang tahunnya. Bastian bingung kenapa orang yang sangat di sayanginya harus meninggalkannya di hari bahagianya. Dan karena kejadian itu, sepanjang waktu aku selalu berada di sisi Bastian. Aku menemani dan menghiburnya. Aku menangis bersamanya selama berhari-hari. Namun ternyata, kejadian itu tak bisa membuat Bastian kembali ceria dan hangat seperti dulu lagi. Belum lagi, setelah setahun kepergian papanya, mamanya menikah dengan pria lain dan memutuskan untuk tinggal dengan kekasih barunya di kota Jakarta. Sebenarnya, mama Bastian mengajak Bastian untuk ikut ke Jakarta dan tinggal bersamanya, tapi tentu saja Bastian menolak hal itu. Bastian benar benar kecewa kepada mamanya. Bagaimana bisa melupakan papanya dan menikah dengan pria lain, padahal baru setahun papanya meninggalkan mereka. Di tambah lagi, mamanya rela meninggalkan rumah yang berisi kenangan mereka dengan papa itu. Bastian pun mengajakku untuk lari dari rumah pada saat hari kepindahannya ke Jakarta. Ia mengajakku ke taman rahasia kami di belakang rumah kami. Ia menangis dan memelukku di taman itu. “ Kamu mau pergi ninggalin aku? Kamu mau pergi kemana?” Bisikku kepada Bastian. Padahal seharusnya aku mengajaknya pulang karena orangtuanya pasti sedang mencarinya. Tapi aku benar-benar berharap dia tak akan pergi meninggalkanku. “Aku ga akan pergi ke Jakarta. Aku ga akan ninggalin papa sendirian di rumah itu. Dan mulai sekarang, aku ga punya lagi mama dan papa. Aku ga akan nganggap dia mamaku, apalagi laki laki barunya itu. Mulai sekarang aku gak punya orang tua lagi” Tegas Bastian kepadaku. Kata kata itu keluar dari bibir Bastian, dengan wajah yang muram dan air mata yang terus saja keluar dari matanya. Aku hanya bisa memeluknya dan menenangkannya kala itu. Aku selalu berusaha untuk menghibur Bastian, walaupun setelah setahun kepergian papanya, aku dan Bastian sudah jarang bermain bersama lagi. Walaupun kami masih berada di kelas yang sama di sekolah, namun kejadian papa Bastian itu menjauhkan kami selama satu tahun ini. Maka dari itu, hari ini aku memberanikan diri untuk menanyakan apakah dia benar-benar akan meninggalakanku. “ Aku ga bakal pergi ninggalin kamu. Aku mau janji aku ga bakalan pernah ninggalin kamu" Bisik Bastian saat memelukku. Kata kata itu membuatku tersenyum bahagia saat itu. Pelukan erat darinya membuatku sadar betapa berat beban yang menimpanya. Detik itu juga aku berjanji untuk selalu ada di sisi Bastian, dan tidak akan pernah meninggalkan Bastian sampai kapanpun itu. *** Saat aku dan Bastian kembali, ternyata Mama dan Papa baru Bastian sudah pergi ke Jakarta. Namun tak apa, masih ada Bibi Lila dan Mang Ujang yang tinggal di rumah itu. Mereka adalah pembantu rumah tangga dan supir keluarga Bastian. Ternyata rumah itu tidak di jual oleh Mama Bastian, karena ternyata almarhum papanya membuat rumah itu atas nama Bastian. Sejak hari itupun, Bastian tinggal di rumah itu hanya dengan Bi Lila dan Mang Ujang. Kukira, Bastian akan kembali menjadi ceria dan hangat seperti saat dulu lagi. Namun ternyata, Bastian malah berubah menjadi anak yang dingin dan pemarah. Dia mulai menjauhiku dan selalu bersikap dingin kepadaku. Namun, aku sudah berjanji akan selalu ada untuknya. Sampai kapanpun itu. Dan sejak itu, aku selalu berusaha untuk mendekati Bastian lagi. Sampai akhirnya, gosip mengatakan aku menyukai Bastian. Menurutku tak apa, aku tak peduli gosip. Bahkan kalau aku tak suka, aku bisa mengubah gosip itu menjadi kenyataan. Aku pun mulai menyukai Bastian. Aku terus mengejarnya, mengganggunya di setiap waktu, dan selalu membuatnya marah kepadaku karena aku selalu mengikutinya. Namun, tetap saja aku mendekatinya seperti orang gila. *** Waktu berlalu begitu cepat. Sudah 5 tahun lamanya Bastian menjadi pria berhati dingin dan ketus. Dan tentu saja aku masih saja terus mengejarnya. Bertahan menghadapi sikap dinginnya itu dengan senyuman hangatku yang hampir saja membakarku karena terus menerus ku keluarkan untuknya. Hingga akhirnya, saat aku baru saja lulus dari SMP, keluargaku di landa bencana. Nenek yang dari dulu sakit-sakitan sekarang berpulang kepada Tuhan. Mama sangat terpukul kala itu. Aku juga benar-benar sedih. Bagaimanapun aku dan nenek sudah tinggal bersama sejak aku pindah ke Bandung. Nenek sering mendongeng untukku. Nenek juga banyak mengajarkanku hal hal yang bermanfaat. Nenek sering bermain bersamaku dan juga bersama Bastian. Tidak hanya denganku, nenek juga sangat dekat dengan Bastian. Namun, pada hari kepulangan nenek ke rumah Tuhan, aku benar-benar kecewa. Aku tak melihat ada sosok Bastian di rumahku, di sisiku. Padahal waktu papanya berpulang, akulah yang selalu ada di sisinya dan memeluknya, aku menangis bersama dengannya. Namun, Bastian tidak ada di sisiku kala nenek berpulang. Aku benar- benar kecewa padanya. Hingga suatu hari, mama dan papa mengatakan kepadaku bahwa kami akan kembali ke Korea, ke Ittaewon. Hal itu karena mama tak bisa berhenti bersedih jika masih berada di rumah Bandung itu. Awalnya aku tak mau untuk meninggalkan kota Bandung ini. Namun, aku juga tak bisa jika harus terus menerus melihat mama bersedih sampai jatuh sakit. Sebenarnya, rumah di Bandung ini tidak di jual karena berisi kenangan dengan nenek. Jadi, Bi Inah dan Mang Dadang yang ditugaskan untuk menjaga rumah ini. Hal ini memungkinkan untukku tidak pindah ke Korea dan tetap tinggal di Bandung meskipun tanpa Mama dan Papa. Toh ada Bastian yang akan menemaniku. Bastian juga pasti akan mengajariku bagaimana caranya bertahan hidup dan tetap bahagia walaupun tidak bersama orang tua. Namun, aku sudah kecewa dengan Bastian. Dia tak ada saat aku bersedih. Dia juga sudah tak dekat lagi denganku. Dia sudah membenciku. Jadi menurutku, tak ada alasan lagi untukku tinggal di rumah ini. Bahkan, di hari kepindahanku, Bastian tak ada untuk mengantarkan kepergianku. Aku bahkan menerobos masuk ke rumahnya dan menggedor pintu kamarnya. Aku sadar, Bastian tidak ada di rumahnya. Aku yakin, pasti Bastian sedang berada di taman rahasia kami. Aku hendak menghampirinya, namun saat hendak menghampirinya, Mama dan Papa tiba-tiba memanggilku karena kami harus segera pergi sebelum pesawat berangkat. Aku benar-benar sedih, aku juga marah kala itu. Aku benar-benar kecewa. Bagaimana bisa dia tidak mau melihatku untuk terakhir kalinya. Walaupun selama lima tahun ini dia sudah menjauhiku dan kasar kepadaku, tetap saja aku ini sahabatnya dan tetangganya. Apakah dia benar-benar membenciku? Apa dia sudah melupakan janjinya padaku?. Yang pasti, aku benar benar kecewa padanya. *** Sementara itu, ternyata di taman rahasia, Bastian memikirkan hal yang jauh berbeda dengan yang aku pikirkan saat itu. Dia sama sekali tidak membenciku. Alasan yang membuat dia berubah selama lima tahun ini, adalah karena dia tak mau kehilanganku. Dia sangat menyayangi papanya, mamanya, dan juga nenekku. Dan semua orang itu, di ambil oleh Tuhan dari hidupnya. Semuanya pada akhirnya pergi meninggalkannya untuk selamanya. “ Ketika Tuhan mengambil papa, mama, dan nenek Ava dari sisiku, ketika mereka semua pada akhirnya tak pernah kembali lagi kepadaku, aku menjadi takut bahwa suatu saat nanti Tuhan juga akan mengambilmu dariku” “ Karena itu, aku menjauhi mu. Karena itu, aku menjadi dingin dan kasar kepadamu. Aku berharap kamu bisa membenciku dan menjauhiku. Karena semua orang yang dekat denganku, akan tiada pada akhirnya. Aku harap kamu mengerti iu, Yo Ra.” Kalimat itu keluar dari bibir Bastian yang sedang menangis di pohon tua itu. Dunianya benar-benar hancur kala itu. Dia benar-benar kesepian dan terluka. Di tambah lagi, aku juga pergi meninggalkannya. “ Sekarang, kamu juga udah pergi ninggalin aku . Tapi aku bahagia, karena kamu pergi untuk berada lebih jauh dariku. Kamu pergi untuk memulai kebahagiaan baru di sana, di Ittaewon.” “ Semoga, aku bisa menjalani hidupku dengan bahagia, tanpa kamu, Yo Ra. Dan aku berharap, semoga kamu tak akan pernah kembali ke sisiku, karna aku tak mau jika Tuhan juga mengambil kamu dariku untuk selamanya .” Bisik Bastian. Bandung, 2 july 2015. Selamat tinggal Bandung, selamat tingal rumahku, selamat tinggal nenek. Aku akan rindu dengan kalian semua. Selamat tinggl juga Bastian, aku berharap kamu merasa kehilangan dengan kepergianku, dan berdoa agar aku kembali ke sisimu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN