Aku Kembali

2654 Kata
Bandung, Oktober 2016. Gedubrakkk! “Aduhhhhhh!. Sakit banget. Kenapa pagi pagi aku sudah sial begini sih!” Jerit pria yang tertabrak itu. Namun tiba tiba dia terkejut melihat orang yang menabraknya itu. “Kamu ?! Kamu kenapa bisa ada disini? Bukannya seharusnya kamu ada di...Jangan bilang.....?” Sergah pria itu. “Kamu!. Maaf -maaf aku ga sengaja. Aku tadi lagi buru buru, aku mau ke...... eh itu ga penting. Kamu apa kabar? Udah setahun kita ga ketemu. Akhirnya aku bisa ketemu kamu lagi ” Seru wanita yang menabrak pria itu, yang tak lain adalah diriku sendiri. Tangan pria itu sibuk membereskan buku -buku kami yang berjatuhan karena tabrakan di lapangan sekolah itu. Lapangan SMA Bakti Nusa. Tangannya menepis dengan kasar tanganku yang menyentuhnya. Ia pun bergegas berdiri dan menatapku dengan tatapan yang sangat dingin, dengan wajah yang masih tampak terkejut. “Aku ga pernah tau kenapa kamu bisa ada disini. Aku ga tau rencana apa yang lagi kamu susun. Yang pasti, aku harap kamu ga usah ganggu aku. Kalau bisa, anggap kita ga pernah kenal. Dan jauh jauh dari hidup aku” Tukas pria yang menabrakku itu. Pria itu langsung melangkah pergi meninggalkanku begitu saja. Ya, dia adalah Bastian. Hari ini, adalah hari pertamaku pindah ke sekolah ini. Setelah dua tahun pindah ke Korea, aku tidak bisa menjalani hari hariku dengan bahagia. Aku selalu saja memikirkan pria dingin ini. “Sedang apakah dia, apakah dia baik baik saja? . Apa dia masih galak kepada semua orang?” Banyak pertanyaan bermunculan di otakku selama dua tahun belakangan ini. Hingga akhirnya akupun memutuskan untuk kembali ke Indonesia, ke Bandung. Mama dan papa tidak ikut denganku. Mama dan papa tetap di Ittaewon. Dan itu artinya, aku hanya tinggal sendirian di rumah Bandung ini. Sebenarnya tidak sendirian, ada bi Inah dan mang Dadang yang menemani dan menjagaku di rumah ini. Dan juga, aku tau Bastian akan selalu ada di sisiku, walaupun dia sudah menjadi dingin dan pemarah seperti tadi. “Ngapain sih dia balik lagi ke sini? Harusnya biarin aja dia di Korea terus. Kalau niat pergi, kenapa harus balik lagi. Kalau emang ga bisa ninggalin Bandung, harusnya gausah sok sok an pergi ninggalin Bandung, ninggalin aku” Umpat Bastian saat berjalan meninggalkanku. “Harusnya dia jauh jauh dari aku. Gimana kalau tiba-tiba Tuhan ambil dia juga dari aku? Harusnya dia sadar” “Aku juga bodoh, harusnya aku ga bilang aku merindukannya kepada Tuhan. Sekarang Tuhan malah mengembalikannya kepadaku” Umpat Bastian kepada dirinya sendiri. Dia tak tau haruskah dia senang, atau sedih. Haruskah dia menjauhiku, atau menyambut kepulanganku dengan bahagia. Hatinya mulai gelisah dengan kehadiranku di Bandung ini. Namun, aku tak peduli. Toh nanti dia akan baik lagi kepadaku. Dan aku akan terus berusaha untuk mendekati dan mendapatkan hatinya. *** Sementara itu, suasana di kelas 12 IPA1 yang sedang ribut, tiba tiba menjadi hening dengan keadiran Pak Bambang, yang merupakan guru di kelas itu. “ Selamat pagi semuanya. Hari ini Bapak bawa kabar gembira untuk kalian semua. Hari ini, kelas kita yang hanya mempunyai tiga orang murid perempuan, sekarang akan bertambah menjadi empat orang murid perempuan. Karena hari ini, ada murid baru yang sangat cantik yang akan menjadi teman kalian sampai kalian lulus nanti.” Jelas Pak Bambang kepada penghuni kelas itu. Seisi kelas berubah menjadi gaduh lagi. Ya, namanya memang kelas IPA 1, namun isinya bukanlah anak anak nomor satu. Di sekolah ini, pemilihan kelas dilakukan secara acak dengan mengambil kertas yang bertuliskan kelas mereka. Maka dari itu, tidak heran jika dari 21 orang di kelas itu, hanya ada tiga orang murid perempuan, dan sisanya di isi dengan murid laki-laki. Dan orang pintar di kelas itu, hanyalah Bastian dan juga Siti. Saat itu Bastian mulai gusar. Kalaupun itu Satu sekolah mungkin dia masih bisa memakluminya. Tapi kalau mereka harus satu kelas lagi, yang ada bisa rusak kehidupannya. Ya, dari TK, SD, hingga SMP, Bastian dan aku selalu berada di kelas yang sama, dan bahkan beberapa kali satu bangku. “Silahkan masuk” Panggil Pak Bambang kepada murid baru yang masih berada di luar kelas. Murid baru itu masuk ke kelas. Namun, saat dia masuk, Bastian dan juga Pak Bambang malah terkejut. “Loh, kamu siapa? kok malah kamu yang masuk? “ Tanya Pak Bambang kepada gadis itu. Pak Bambang heran karena gadis lainlah yang masuk ke kelas itu. Bukan aku. Sementara Bastian malah terkejut dan tersenyum, berharap supaya gadis itulah yang masuk ke kelasnya itu. “Aduh, sepertinya kamu salah mengikuti guru. Harusnya kamu mengikuti Pak Andy. Ini Pasti si Yo Ra juga udah salah guru nih . Sudah kamu ikut bapak ayo, kita cari pak Andy dan Yo ra” Tukas Pak Bambang kepada murid baru yang ternyata salah masuk kelas itu. Kata Yo Ra dari bibir pak Bambang membuat Bastian lemas seketika. Ternyata memang benar bahwa ia akan sekelas lagi dengaku sampai ia lulus nanti. Ia benar-benar frustasi membayangkan hal-hal gila yang akan di lakukan olehku sampai kami lulus nanti. Apalagi, bangku yang kosong itu tepat berada di belakang bangkunya. Dan di tambah lagi, setiap sebulan sekali, kelas mereka mengadakan pertukaran tempat duduk. Bastian tak bisa berhenti membayangkan betapa tersiksanya dia sampai dia lulus dari sekolah itu nanti. *** Sementara itu, suasana di kelas 12 IPA3. “Loh kamu siapa? Kok kamu yang masuk ke sini? Intan mana?” Tanya Pak Andy saat melihatku masuk ke kelasnya itu. “Wah kayanya kamu sama Intan salah ngikutin guru ini. Kamu tunggu disini aja dulu, bapak akan mencari Intan dan Pak Bambang.” Jelas Pak Andy kepadaku yang masih saja terheran dengan kejadian itu. Aku benar benar tidak tau apa yang sedang terjadi. Aku hanya bisa mengangguk dan berdiri di depan kelas itu, membiarkan Pak Andy meninggalkanku sendirian di ruangan kelas itu. Matakku berkeliling menatap satu persatu wajah di kelas itu, yang semuanya sedang menatap heran ke arahku. Mungkin karena aku anak baru, atau karena aku keturunan campuran Korea. Aku tak menemukan wajah yang sedang ku cari cari selama satu tahun ini, wajah tetanggaku yang tadi pagi bertabrakan denganku di lapangan sekolah. Ya, wajah siapa lagi kalau bukan wajah Bastian. Tiba-tiba mataku saling bertatapan dengan sepasang mata lelaki di pojokan kelas. Mata itu tengah menatapku, dengan senyuman yang tiba tiba saja terbentuk di bibirnya, dan diarahkan kepadaku. Aku benar benar terkejut, dan yang membuatku makin terkejut adalah saat tiba-tiba ada kalimat yang terucap dari bibirmya. “Aldian Riski. Panggil Kiki juga ga papa biar lebih simple” Sapanya kepadaku. Cukup keras dan membuat satu kelas itu mendadak mengalihkan pandangan mereka yang tadinya ke arahku, menjadi ke arah pria itu. “Biasa, perkenalan diri. Ada yang aneh?” Terang pria bernama Riski itu kepada seisi kelas itu. Seisi kelas itu hanya menanggapi pria itu dengan gelak tawa dan geleng geleng kepala. Aku tak tahu hal apa yang lucu saat itu. Namun semua mata di kelas itu tiba-tiba berpaling ke arahku. Aku seolah tau apa yang di maskud dengan isi kelas itu. “Namaku Kim Yo Ra. Aku pindahan dari Korea, tapi dari dulu udah tinggal di Bandung kok” Jelasku kepada penghuni kelas itu. Seketika kelas itu makin heboh dengan jawabanku. Aku tak tau kenapa, dan juga tak mau tau kenapa mereka menjadi heboh. Karena aku hanya sedang mencari dimana Bastian sekarang. Tiba tiba Pak Bambang datang dan mengajakku untuk ikut dengannya, ke kelas yang seharusnya. Akupun menundukan badanku, memberi salam kepada isi kelas itu, seperti hal yang biasanya dilakukan oleh orang Korea. Dan saat aku mengangkat badanku, tiba tiba mataku kembali bertatapan dengan mata pria bernama Riski itu. Dan lagi, ada seutas senyuman yang diberikan kepadaku. Sangat manis. *** Aku mengikuti pak Bambang menuju kelas baruku. Dan saat memasuki kelas itu, tak perlu mencari, aku langsung menemukan wajah yang aku rindukan itu, yaitu wajah Bastian. Mata Bastian kala itu tengah menatap mataku juga. Namun dengan tatapan yang sangat dingin. Aku hanya membalasnya dengan senyumanku. Dan saat memperkenalkan diri di kelas itu, aku mendapatkan sambutan yang hangat dari anak anak di kelas itu. Pak Bambang menyuruhku untuk duduk di bangku kosong, yang terletak tepat di belakang Bastian, di samping seorang murid perempuan. Benar benar luar biasa hadiah yang Tuhan berikan kepadaku. “ Namaku Yo Ra” Sapaku kepada seorang gadis yang duduk semeja denganku itu. “Aku Siti. Duduk duduk, semoga jadi teman baik ya kedepannya” Jawab perempuan itu kepadaku. Aku benar benar bahagia. Aku menyentuh bangku yang diduduki oleh Bastian. Tiba tiba aku terkejut karena mendadak Bastian berbalik badan dan menatapku dengan sangat dingin. “Awas ya kalau kamu berulah lagi. Aku ga segan segan lempar kamu ke Planet Mars sekalian, biar ga usah balik lagi” Ancam Bastian kepadaku, dengan langsung kembali menghadap ke depan. “ Oh kamu udah kenal toh sama Bastian? Tanya Siti kepadaku. “Iya , kami itu...” “Tetangga” Potong Bastian tanpa menoleh ke belakang. Seolah tak puas dengan penjelasan Bastian, aku malah berniat mengerjainya dengan mengatakan siapa kami sebenarnya. “ Kami juga teman sekelas di TK, SD, SMP, dan sekarang di SMA.” Terangku dengan cepat kepada Siti. Siti hanya tersenyum seolah paham ada apa antara aku dan Bastian. Bastian hanya menghembuskan nafas panjang dan mengucak rambutnya, tanda ia sudah mulai frustasi untuk saat itu. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya. Aku mengobrol banyak dengan Siti. Ternyata Siti adalah anak yang asik dan juga ramah. Padahal dia anaknya sangat tomboy. Hal itu bisa aku lihat dari penampilan dan gaya bicaranya. Namun tak apa, menurutku dia bisa jadi sahabat yang baik untukku kedepannya. *** Bel istirahat berbunyi. Aku melihat Bastian pergi meninggalkan kelas. Sepertinya itu karena ada yang menelfonnya. Saat hendak menyusulnya, tiba-tiba saja mejaku di penuhi dengan anak-anak kelas yang mengajukan berbagai pertanyaaan kepadaku. Awalnya aku merespon semuanya dengan baik. Namun, makin lama aku malah kewalahan menjawab pertanyaan yang sangat banyak itu. Apalagi dari seorang pria bernama Alex di kelas itu. Aku hanya bisa menatap Siti dengan penuh harap. Berharap Siti paham dengan maksud tatapanku itu. Seolah mengetahui apa yang aku fikirkan, Sitipun membantuku untuk keluar dari kerumunan itu. Tiba tiba saja meja itu di gebrak oleh Siti yang tomboy itu dan membuat aku beserta beberapa anak di kelas menjadi terkejut. Aku tak menyangka ternyata Siti bukan hanya tomboy di penampilannya saja, tetapi juga di kelakuannya. “Aku lapar. Mau ke kantin. Bisa kasih jalan?” Tegas Siti kepada orang-orang yang mengerumuni kami itu. Siti segera menggandengku untuk keluar dari kerumunan itu. Namun tiba-tiba aku di kejutkan dengan adanya tangan yang menggandeng tanganku dari belakang. Tangan alex,yang dari tadi sibuk bertanya kepadaku. Di tambah lagi, Siti mengatakan padaku bahwa Alex adalah salah satu playboy kelas kakap di kelas itu, bahkan juga di sekolah itu. “Kalau mau ke kantin ya boleh-boleh aja, tapi Yo Ra nya ga usah di ajak segala bisa kan. Banyak yang mau kami tau dari anak baru yang cantik ini. Iya kan Yo Ra?” Tukas Alex kepadaku dan juga Siti. Aku benar benar takut dan tidak tau harus berbuat apa. Saat itu Siti tiba-tiba melepaskan tanganku, dan berjalan mendekati Alex. Ku kira ia akan memberi pelajaran kepada Alex. Namun sebelum hal itu terjadi, tiba-tiba ada satu tangan lagi yang menggandeng tanganku. Aku kira siapa, ternyata itu tangan Bastian. Aku sangat lega kala itu. Karena Bastian pasti akan membelaku. “Dia emang anak baru. Tapi dia ga akan bisa jadi mangsa kamu. Karna aku bakalan buat dia tau semua kebusukan dari seorang Alex” Tegas Bastian dengan tatapan dinginnya kepada Alex. Beberapa sisa anak di kelas menjadi tegang. Bastian langsung menarikku keluar dari kelas itu dan membawaku ke salah satu bangku di taman sekolah itu. Kami duduk bersampingan di bangku itu. “Tadi mama kamu nelfon aku. Dia bilang kamu yang minta buat balik ke Bandung sendirian. Dan mama kamu minta aku buat jagain kamu selama kamu di Bandung.” Bastian membuka perbincangan kami. Dia tidak menatapku, yang di lihatnya adalah lapangan basket yang berada di depan kami. Tatapannya begitu dingin dan tidak sedap untuk di pandang. “Iya, aku yang minta buat balik ke Bandung. Aku seneng banget loh bisa balik ke Bandung. Selama dua tahun aku di Korea, aku ga bahagia. Aku ga tenang. Hidup aku ga menarik. Jadi aku....” “Kenapa? Karna aku? Aku ga pernah tau ya kenapa kamu suka banget ganggu hidup aku. Kenapa kamu terus aja dekatin aku. Harusnya kamu itu sadar, kalau aku jahat dan dingin sama kamu, tandanya aku ga mau dekat sama kamu lagi. Aku benci sama kamu. Kamu itu sadar ga sih?” Potong Bastian dengan nada kesal kepadaku. Bastian masih tidak menatapku, nadanya juga tidak terlihat marah, malah lebih terlihat seperti orang putus asa. Namun kata-kata itu membuat suasana menjadi lumayan serius. Aku hanya bisa tersenyum kepadanya. “ Harusnya kamu sadar. Kamu buang buang waktu suka sama aku dan berusaha dekat lagi sama aku selama 11 tahun ini. Aku ga akan buka hati aku ke kamu, Jadi mending kamu nyerah aja. Dan jangan buat hal-hal gila lagi selama kamu di SMA ini. Memangnya kamu ga malu apa di bilangin bucin dari SD sampai kita SMA ini? Harusnya kamu itu malu.” “ Kamu nyerah dan berhenti aja. Aku ga mau dekat dekat sama kamu lagi. Dan aku harap kamu juga berfikir gitu ke aku” Tegas Bastian kepadaku. Kalimat itu benar benar terucap dari mulut Bastian. Dia pun berdiri dan melangkah untuk pergi meninggalkanku. Namun, langkahnya terhenti dan berbalik menatapku. “Oh iya, jangan dekat dekat sama Alex, dia playboy yang suka buat cewe sakit hati. Udah banyak cewe yang nangis dibuatnya. Aku janji sama mama kamu bakalan jagain kamu, jadi kamu gausah khawatir. Aku bakalan jagain kamu, tapi aku harap kamu ga berharap lagi ke aku” Ujar Bastian kepadaku. Aku hanya tersenyum dan langsung berdiri. Aku berjalan mendekatinya dan berhenti tepat di depannya. Bastian bingung, apa yang akan ku lakukan padanya. Dia fikir aku akan sakit hati dan menamparnya. Namun, melihat kegilaanku, kalian semua juga pasti tau kalau aku tak akan pernah memukulnya dan tak akan sakit hati karenanya. “Kamu aneh ya, b**o juga ternyata” Ujarku kepada Bastian. Kata-kataku membuat Bastian terkejut. Dia melangkah mendekatiku. Benar benar mendekatiku, hingga sekarang kami benar -benar sangat dekat, dan saling bertatapan. “Aneh? b**o? Maksudnya apa?” Ketus Bastian. Aku tersenyum kepadanya. Untung saja aku tulus menyukainya, jika tidak sudah ku jambak pria berhati dingin ini. “Kamu ga sadar ya kalau kamu juga sama kaya Alex? Kamu juga suka buat cewe nangis, kamu juga suka buat cewe patah hati. Dari dulu Ada banyak cewe yang patah hati dan nangis karena kamu tolak. Termasuk aku. Dasar bodoh” Sindirku kepada Bastian. Aku mengatakan itu sambil mendorong dahinya dengan jari telunjukku. Aku benar benar terlihat kesal saat itu. Aku melangkahkan kaki menjauh darinya dan perlahan melangkah meninggalkannya yang masih terdiam karena kalimatku. Aku menghentikan langkahku dan berbalik menatapnya dengan senyumku. “Satu lagi Bas, kamu ga usah ingatin aku. Ya ga mungkinlah aku dekat sama Alex, apalagi suka sama dia. Kamu sendiri kan tau banget, siapa cowo yang aku suka dari umur 5 tahun, bahkan sampe buat aku jadi gila kaya gini” Ujarku padanya. Senyumku menutup perbincangan kami. Aku meninggalkan Bastian yang masih berdiri terpaku menatap kepergianku. “Harusnya kamu peka Ra, kenapa aku mau kamu jauh dari aku, dan kenapa aku jadi berubah ke kamu. Harusnya kamu tau kalau aku lakuin itu karena sayang banget sama kamu“ Bisik Bastian. Pelan tapi benar benar dari hatinya. Bastian mengucak ucak rambutnya, hari pertama saja dia sudah kubuat frustasi. Dan ditambah lagi, ternyata tanpa kami sadari sejak tadi Siti berada di balik pohon di belakang kami dan mendengarkan semua pembicaraan kami, dari awal hingga akhir. Ah, untung saja ia tak ember. Bandung, Oktober 2016 Aku kembali Bas, aku harap ini adalah keputusan yang tepat untukku. Dan kuharap, perjuangan besarku ini akan memberikan jawaban yang akan membuatku bahagia pada akhirnya. Maaf sudah meninggalkanmu dua tahun lamanya. Aku pastikan akan menepati janjiku untuk selalu ada di sisi kamu. Dan aku janji akan mengembalikan sisi ceria dan hangat dari diri kamu, seperti dulu lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN