Jealous

1622 Kata
Bastian yang tadinya tersenyum kepadaku, perlahan menjadi dingin kembali, dan pergi meninggalkan gedung pertunjukan itu. Saat Riski melepaskan pelukannya dariku, aku melihat Bastian sudah tidak ada lagi di tempatnya tersenyum padaku. Kemana perginya Bastian? aku mencarinya dari atas panggung, namun dia benar benar sudah menghilang dari dalam gedung itu. Aku berlari keluar dari gedung itu. Mencoba untuk mencari Bastian ke tempat lain. Dan mataku terhenti saat melihat Bastian di atas motor, tengah bersiap untuk pulang. Aku berlari ke arahnya dan mencoba untuk memberhentikannya. “Bas Bas Bas. Tunggu dulu. Kamu mau kemana Bas?” Nafasku terengah-engah karena harus berlari ke arahnya. “Ya mau pulanglah. Minggir udah sana aku mau pulang" Cetus Bastian. Bastian tidak mematikan motornya yang sudah siap berjalan itu. Dia menatapku dengan dingin lagi dan menyuruhku untuk menyingkir. Tentu saja aku menjadi bingung.. “Loh, kok ga nunggu aku? Kan kamu udah janji kita pulangnya barengan” Ujarku heran. “ Udah, Masuk lagi sana. Bukannya kamu mau ngumpul dulu sama anak-anak band kamu itu? Kalian kan harus nyerayain kemenangan kalian kan" Ujar Bastian dingin. “Bas, kami ngerayainnya nanti malam kok. Dan aku udah bilang sama anak-anak band aku mau ikut asal aku perginya bareng sama kamu” Jawabku tenang. Sekarang Bastian malah tampak mulai kesal kepadaku. Dia mematikan motornya dan membuka helmnya. Dia mengela nafasnya dengan panjang. “ Hhh,. Kamu pikir aku siapa? Ojek kamu yang kemana kamu pergi harus sama aku? Emangnya kamu udah tanya aku apa aku mau pergi sama kamu?” Tegasnya padaku. Aku terkejut mendengar jawaban Bastian itu. “ Bas kok kamu jadi marah-marah sih sama aku?” Tanyaku padanya “ Aku ga marah, aku capek mau pulang. Udah kamu minggir sana aku mau pulang” Ketusnya. “Yaudah kalau kamu mau pulang sekarang, aku ambil gitar sama tas aku dulu ya. Kita pulang bareng” Ujarku. “ Lama ra lama!! Aku mau pulang sekarang. Udah kamu pulang sama Riski aja sana! Keras kepala banget sih dibilangin!” Bentak Bastian. Aku terkejut melihat Bastian yang kelihatannya sudah marah kepadaku. Mataku memerah kala itu. Ada apa dengan Bastian? Apakah dia sedang ada masalah? atau dia marah karena aku pelukan dengan Riski? “ Bas, kamu marah sama aku?” Tanyaku pelan. “ Engga Ra. Aku engga marah. Aku cape. Kamu ngerti ga sih?” Ketusnya lagi. “ Bas kamu marah karena aku pelukan sama Riski tadi kan? Kamu tadi aja masih senyum sama aku sebelum aku pelukan sama Riski. Kamu marah karena itu kan?” Tanyaku padanya. Aku memberanikan diri untuk memastikan apakah Bastian marah denganku karena itu. Bastian malah turun dari motornya dan berjalan mendekat ke arahku. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan menatapku dengan dingin. Dia berbicara dengan pelan dan dingin kepadaku. Pelan tapi menyakitkan untukku. “ Kamu kira, aku suka sama kamu gitu? Aku ga peduli kamu suka sama Riski atau siapapun itu. Aku ga peduli kamu mau pacaran sama Riski atau siapapun itu.” Bisiknya tegas. Bastian mengangkat wajahnya yang tadinya dekat denganku menjadi sedikit jauh dari wajahku. “Aku ga peduli Ra. Harusnya kamu sadar kalau setiap aku bilang aku ga suka sama kamu, artinya aku ga pernah dan ga akan pernah suka sama kamu Ra!”. Bastian melanjutkan kalimatnya itu dengan setengah berteriak kepadaku. Dengan nada membentak dia memarahiku. Aku benar-benar terkejut saat itu. “ Tapi aku suka sama kamu Bas. Harusnya kamu juga sadar kalau aku beneran suka sama kamu” Lirihku sambil menatapnya. “Aku, sekalipun aku ga pernah minta kamu suka sama aku. Ga pernah aku minta kamu buat suka sama aku, buat ngejar ngejar aku, buat peduli sama aku, ga pernah” Tegas Bastian. “ Harusnya kamu ga kasar kaya gitu sama perempuan. Apalagi perempuan yang tulus suka sama kamu. Kamu keterlaluan Bas” Tiba tiba saja suara itu mengejutkan aku dan Bastian. Ya, tiba-tiba saja entah dari mana dan sejak kapan, Riski muncul di dekat kami yang tengah berdebat itu. Bastian yang melihat Riski datang itupun langsung berjalan mendekati Riski. Aku benar-benar takut kala itu. Apakah dia mau ngehajar Riski dan mengeluarkan jurus karatenya itu? “ Bukan urusan lo kalau gua mau kasar sama siapapun itu.” Tegas Bastian pada Riski. Dia berjalan menjauh dari Riski dan menaiki motornya. Dia menghidupkan motornya dan memakai helmnya, lalu menatap dingin ke arahku “ Mendingan kamu pulang sama Riski aja sana. Gausah nangis, lebay tau ga” gertak Bastian. Kalimat itu ditujuakn Bastian ke arahku, dan lekas pergi meninggalkanku dan Riski yang mematung mlihatku yang perlahan menangis. “ Udah Ra, jangan nangis ya. Ini kan hari kemenangan kamu. Kamu aku antar pulang aja ya sekarang.” Ujar Riski. Riski mendekatiku dan mengelus pundakku. Mecoba untuk menenangkanku. “ Engga ussah ki. Makasih. Aku pulang sama mang Ujang aja. Aku minta maaf ya ki, nanti malam aku gabisa ikutan acara makan sama anak-anak band. Sampein salam aku buat anak band lainnya ya. Aku mau pulang dulu” Ujarku pelan. Aku mengambil tas dan gitarku yang daritadi di pegang oleh Riski. Aku berjalan meninggalkannya menuju gerbang sekolah. Aku menelfon Mang Ujang dan memintanya untuk menjemputku. Mendengar suaraku yang menangis di telfon, Mang Ujang pun sampai dengan cepat di sekolah. Dia membukakan pintu mobil untukku dan segera menjalankan mobilnya. Mang Ujang tidak membawaku pulang kerumah. Dia membawaku pergi ke sebuah toko ice cream kesukaanku. Mang Ujang sudah mengenalku sejak aku lahir, dia tau betul bahwa saat aku menangis, berarti aku sedang ada masalah. Dia tau bahwa aku tak ingin di tanyai alasan aku menangis, sebelum aku memakan banyak ice cream di toko kesukaanku itu. Dan setelah menghabiskan banyak ice cream, barulah aku akan menceritakan semuanya kepada Mang Ujang. Untung saja ada Mang Ujang, kalau tidak mungkin aku sudah menggantungkan diriku di pohon mangga di belakang rumahku. *** Sementara di sisi lain, yang kufikirkan berbeda dengan apa yang di rasakan Bastian. Sepanjang jalan, Bastian terus merasa gelisah. Dia memberhentikan motornya di pinggir jalan dan membuka helmnya. Dia menghembuskan nafasnya dan memukul motornya dengan keras. Dia tampak marah dan kesal kala itu. “Ahhh!!!. Kenapa aku malah jadi kaya gini sih?. Emangnya kenapa kalau Yo Ra dekat sama Riski. Selama ini juga aku ga pernah peduli sama itu semua. Kenapa sih Bas. Kamu kenapa!!” Seru Bastian kesal. “Ah, Yo Ra pasti sedih banget karena aku marah-marah kaya tadi. Mana aku kasar banget sama dia tadi. Apa habis ini dia bakal jauhin aku ya?”. “ Kenapa kamu sedih Bas? Bukannya bagus kalau Yo Ra jauhin kamu? Kan selama ini kamu mau buat Yo Ra jauh dari kamu. Terus sekarang kenapa kamu malah takut Yo Ra jauhin kamu sih? Gila kamu Bas!!” Bentaknya pada dirinya sendiri. Bastian mengeluarkan banyak pertanyaan dan kekesalan dalam hatinya. Dia menendang kaleng bekas yang ada di dekatnya saat itu. Dan tanpa sengaja kaleng itu mengenai muka salah satu pereman yang sedang lewat. Pereman pereman itu mendatangi Bastian dan memarahi Bastian. Tentu saja Bastian yang dingin dan sedang marah itu menjadi kesal. Bukannya minta maaf dia malah memarahi balik pereman-pereman itu. Hingga akhirnya terjadilah perkelahian di antara mereka. Tentu saja kalian tau hasilnya, satu anak SMA melawan dua pereman bertubuh besar. Ya sudah pastilah Bastian yang menang. Dia kan adalah atlit bela diri yang sudah bertanding sampai keluar negeri. Ditambah lagi saat itu dia sedang dalam keadan marah dan kesal. Dua pereman itu bukanlah tandingannya. Pereman itu kabur karena kesakitan melawan Bastian. Namun, meskipun dia menang, tetap saja ada luka bekas tonjokan di bibir dan wajah Bastian. “Udahlah, pukulan yang aku dapetin ini ga seberapa sakit di bandingkan apa yang Yo Ra rasain tadi” jelasnya. *** Setibanya di rumah, aku membaringkan tubuhku di kasurku. Air mata ini masih menetes ke pipiku. Tiba tiba Bi Inah masuk ke kamarku, dia memberikanku kamera yang katanya baru saja di antar oleh Bastian ke rumah. Aku mengambil kamera itu. Aku mencoba menghentikan tangisanku dan menengangkan hatiku. Aku mengihdupkan kamera dan ingin melihat apakah Bastian tadi merekamku dengan baik. Saat membuka vidio aku terkejut karena ada vidio yang isinya wajah Bastian. Akupun memutar vidio itu, dan di dalamnya ada Bastian yang sedang merekam dirinya sendiri di kursi penonton tadi. Aku sangat terkejut. “ Ra, Karena aku udah datang hari ini jadi kamu harus menang. Kamu tau kan ada banyak hal yang jauh lebih penting buat aku lakuin dibanding nonton kamu nyanyi disini. Kalau kamu menang aku bakalan ajakin kamu nonton bioskop bareng, tapi kalau kamu kalah, kamu berangkat bareng Mang Ujang aja ke sekolah” Vidio berdurasi pendek itu benar-benar membuatku terkejut. Apa Bastian sedang sakit keras dan mencoba membuatkanku vidio perpisahan? Makanya tadi dia marah-marah dan ingin cepat pulang karena sakitnya kambuh? Atau jangan jangan Bastian sudah gila sepertiku?. Ah ada apa dengan Bastian?. Aku menggeser vidio itu dan membuka vidio selanjutnya. Namun, isinya hanya vidio penampilanku tadi. Tapi tiba tiba aku kembali di kejutkan, karena di pertengahan lagu, ku dengar suara Bastian. “Aku juga pengen jadi teman hidup kamu Ra. Aku juga pengen jadiin kamu teman hidup aku. Tapi, aku ga bisa Ra. Aku harap kamu bakalan tetap di sisi aku Ra, sampai kita dewasa, sampai kita tua” bisiki Bastian. Aku tersenyum melihat vidio yang berisi Bastian itu. tiba tiba saja aku lupa bahwa tadi aku baru saja berdebad besar dengan dia. Aku lupa bahwa dia habis memarahiku dan membentakku tadi. “Aku janji Bas. Aku bakalan tetap ada di sisi kamu, sampai kita dewasa, sampai kita tua. Aku janji” lirihku. Bandung, Desember 2016. Memang benar, aku yang salah. Bukan kamu. Aku yang salah sudah menyukaimu. Aku yang salah sudah jatuh hati dan menaruh harapan padamu. Kamu ga salah. Aku tau risih bagimu melihatku yang terus saja mengagumimu. Namun, kamu harus tau, kamu tak punya hak untuk membuatku berhenti menyukaimu. Ini hatiku, perasaanku, hakku. Kamu tak berhak membunuh perasaan yang ada di dalam hatiku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN