14: Bogor

1638 Kata
"Kita langsung pulang ke Bogor ya." Flora yang ingin membuka pintu mobil langsung memutar tubuhnya dan menatap Stephen dengan bingung. Sore ini Flora menjemput Stephen ke Bandara setelah hampir dua minggu pria itu meninggalkan Jakarta. "Bogor?" tanya Flora. Stephen langsung mengangguk, pria itu kemudian memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. "Mama ulang tahun hari ini." Flora semakin menatap Stephen tidak percaya. Gadis itu benar-benar tidak jadi membuka pintu mobil. Dia justru menatap Stephen dengan sangat lekat. "Kenapa nggak bilang dari jauh-jauh hari?" "Aku juga baru di ingatkan Flo. Aku lupa kalau hari ini tuh ulang tahun mama," ucap Stephen sembari mengacak rambutnya sendiri. Kalau kakak perempuannya tidak mengingatkannya soal ini, Stephen yakin dia benar-benar melupakan ulang tahun sang mama. Flora terlihat menatap Stephen dengan gemas. Bisa-bisanya pria itu melupakan ulang tahun mamanya sendiri. "Kerja aja terus kerja, lo bahkan melupakan ulang tahun orang paling penting dalam hidup lo. Sekarang gimana? Apa yang harus gue bawa buat kado mama? Terus lo yakin kita ke ulang tahun dengan pakaian seperti sekarang? Celana gue bahkan nggak nutupin seluruh paha gue Stephen Huarliman!" seru Flora, gadis itu benar-benar terlihat gregetan sendiri. Stephen menatap Flora dari atas sampai bawah. Benar juga, Flora menggunakan celana pendek setengah paha dan atasan baju tanpa lengan. "Kita mampir nanti di salah satu butik atau apa yang menyediakan dress untuk kamu. Di mobil ada heels kamu nggak?" tanya Stephen. Flora mengangguk. "Oke kita berangkat ke Bogor sekarang. Untuk hadiah nanti kita beli buket bunga juga di jalan. Hadiah lain akan aku kirim menyusul untuk mama, nanti aku yang bicara ke dia. Kamu nggak usah khawatir ya. Yang terpenting bagi mama tuh kita hadir di sana," ucap Stephen. Flora pada akhirnya mengangguk walau gadis itu tidak terlihat terlalu yakin dengan saran Stephen. "Lo tidur yang cukup nggak waktu di New York?" tanya Flora sembari mengamati raut wajah Stephen. "Nggak usah di jawab deh, gue yang nyetir, ekspresi wajah lo eh sorry maksudnya kamu sangat menjelaskan bahwa kamu kurang tidur," ucap Flora, gadis itu langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi. Stephen ingin menyerukan protesnya namun pada akhirnya pria itu mengalah ketika melihat Flora menatapnya dengan tegas. "Flo, aku masih kuat kalau buat nyetir ke Bogor." Stephen duduk di samping kemudi. Flora mengangguk-anggukkan kepalanya. "Percaya sih tapi aku yang nyetir," ucap Flora. Gadis itu mulai melajukan mobilnya meninggalkan Bandara, menuju Kemang, Bogor. Dimana kediaman kedua orang tua Stephen berada. Flora pernah datang ke rumah mewah keluarga Huarliman itu sebanyak dua kali bersama sahabat mereka yang lain karena waktu itu mereka memiliki pekerjaan di Bogor, Stephen menawarkan pada mereka untuk menginap di rumah pria itu saja. "Gimana keadaan kamu dua minggu terakhir?" tanya Stephen, dia menatap Flora. "Baik," jawab Flora seadanya, fokus gadis itu tetap pada jalan yang ada di hadapannya. Stephen terlihat menganggukkan kepala beberapa kali. "Flo, maaf ya, aku nggak balas pesan kamu tapi aku baca kok dan senang banget bisa dapat pesan seperti itu dari kamu. " "Nggak usah di ingatin lagi!" seru Flora mendadak ngegas sendiri. Mengirimi Stephen pesan beruntun seperti orang sedang menulis diary adalah hal yang paling Flora sesali dalam hidupnya. Itu benar-benar di luar yang seharusnya. Stephen mendadak tersenyum geli mendengar Flora mengatakan itu apalagi melihat raut wajah gadis itu yang terlihat cukup kesal. "Oke, sorry, Istri," ucap Stephen, dia mengangguk-anggukkan kepalanya. Tatapan mata Stephen kemudian mulai awas pada sekitarnya. "Flo, butik langganan mama ada sekitar satu jam lagi dari sini. Nanti kita beli dress buat kamu di sana aja," ucap Stephen. Flora menganggukkan kepalanya. Dia tidak protes lagi karena Flora tahu kali ini dia benar-benar harus mengganti pakaiannya. "Step, ulang tahun mama tuh di rayakan seperti apa?" tanya Flora. Setidaknya Flora harus memiliki gambaran acara di sana supaya Flora bisa mempersiapkan diri untuk bersikap seperti apa. "Kata mbak Agni acaranya di hadiri keluarga besar seperti yang sudah-sudah. Tapi keluarga besarku itu nggak terlampau banyak. Mama cuma dua bersaudara sedangkan papa tiga bersaudara. Udah paling yang datang itu terus nanti ada mbak Agni sama suaminya," ucap Stephen. Flora menganggukkan kepalanya. "Keluarga papamu bergerak di bidang pendidikan semua ya?" tanya Flora. "Benar sedangkan mama berasal dari keluarga pengusaha. Jadi seperti itu. Kamu nggak perlu menghawatirkan apapun ya. Nikmati saja acaranya, apa yang kamu takutkan nggak akan terjadi di sana," ucap Stephen. Tentu saja tidak akan ada satupun dari anggota keluarga Stephen yang akan menghakimi Flora atau menatap Flora dengan tatapan tidak suka karena Stephen sudah mengingatkan pada mereka semua supaya tidak mengusik ketenangan istrinya. Apakah mereka semua setuju? Jawabannya tentu saja iya, tidak ada seorangpun di keluarganya yang tidak memenuhi permintaan Stephen. Pria itu sangat di cintai oleh anggota keluarganya. *** Flora menarik napasnya sejenak ketika mobil yang kini di kendarai oleh Stephen setelah mereka mampir di butik memasuki rumah kediaman keluarga Huarliman. Flora memang sudah pernah datang kesini namun kali ini rasanya sangat berbeda karena kali ini Flora datang sebagai istri Stephen bukan lagi sebagai rekan kerja atau sahabat pria itu. "Sayang, ayo turun," ucap Stephen, pria itu tiba-tiba saja sudah membukakan pintu mobil untuk Flora. Flora tidak menyadari bahwa Stephen sudah turun dari mobil. Menarik napas sejenak, pada akhirnya Flora turun dari mobil dengan menyambut uluran tangan Stephen. "Releks oke, ini hanya acara ulang tahun mama yang akan dihadiri oleh keluarga saja dan mereka tidak akan mengatakan hal buruk tentang kamu," ucap Stephen. Flora menarik napasnya kemudian mengangguk. Stephen membuka pintu belakang mobil Flora kemudian mengambil satu buket bunga mawar cantik yang sempat dia beli bersama dengan Flora tadi. Untung saja di samping butik tempat Flora membeli dress ada florist. Pasangan yang resmi menikah tanpa rencana itu melangkah masuk ke dalam kediaman kedua orang tua Stephen. Tangan Flora melingkar dengan sangat sempurna di lengan Stephen sedangkan Stephen menggunakan tangannya yang lain untuk memeluk buket bunga dengan ukuran cukup besar. "Yang ditunggu akhirnya datang juga." Suara seorang perempuan langsung menyambut mereka. Stephen dan Flora kompak tersenyum. Stephen langsung mencium pipi perempuan itu. Agni Huarliman, dia adalah kakak perempuan satu-satunya yang di miliki oleh Stephen. "Mbak kenalin ini Flora, istri gue yang cantik luar biasa," ucap Stephen sembari memperkenalkan Flora pada Agni. Senyum Agni terlihat langsung mengembang, dia langsung memeluk Flora, menyambut adik iparnya itu dengan penuh kehangatan. "Selamat datang di rumah Flo, senang akhirnya bisa ketemu sama kamu," ucap Agni. Flora tersenyum ramah. Flora sekarang sadar bahwa keluarga Stephen benar-benar adalah gambaran keluarga yang diinginkan oleh semua orang. Keluarga ini terasa begitu hangat. "Terimakasih, Mbak," ucap Flora. Mereka kemudian masuk ke dalam rumah keluarga itu dan saat sampai di ruangan keluarga yang sangat luas, di sanalah Flora bertemu dengan keluarga besar Stephen. Flora menyapa mereka satu persatu dan seperti apa yang dikatakan oleh Stephen, Flora tidak perlu menghawatirkan apapun karena apa yang Flora takutkan tidak akan terjadi. "Kamu baru pulang toh Step?" tanya seorang wanita paruh baya yang Flora tahu sebagai kakak dai mama-nya Stephen terlihat menepuk-nepuk lengan Stephen dengan penuh kasih sayang. "Kalau Agni nggak kirim pesan kayaknya dia bahkan lupa ulang tahun mamanya sendiri Budhe!" seru Agni sambil menatap adik laki-lakinya itu dengan raut wajah yang terlihat penuh sindiran. "Kebiasaan kamu toh, wong Budhe bilang nggak usah toh kerja di perusahaan orang lain, kerja di perusahaan keluarga aja." Flora cukup terkejut mendengar itu. "Kerja di perusahaan keluarga toh sama capeknya dan membuat aku jadi manja nggak mau usaha lebih nanti karier ku nggak berkembang-kembang." Stephen menjawab santai. Dia mencium pipi budhe nya itu dengan gemas. "Paling bisa memang kamu ngejawab. Sudah gih, ketemu mama mu dulu sana di ruang makan. Dia nunggu kalian buat makan sejak tadi sedangkan yang lain sudah pada selesai makan." Stephen langsung mengangguk kemudian melangkah keruang makan keluarganya bersama dengan Flora. "Selamat ulang tahu Mama," ucap Stephen, pria itu langsung memeluk sang mama dengan erat mencium pipinya berkali-kali. Flora tersenyum melihat itu. Melihat bagaimana Stephen memperlakukan keluarganya sejak tadi, Flora membenarkan apa yang dikatakan oleh Milka, bahwa dia sangat beruntung karena bisa bersama dengan orang sebaik Stephen tapi haruskah Flora mulai menikmati keberuntungan itu? "Kenapa kalian lama toh?" tanya sang Mama ketika dia sedang memeluk Flora. Flora bahkan sampai memejamkan matanya ketika merasakan kehangatan pelukan ibu mertuanya itu. "Tadi jemput Stephen ke Bandara dulu, Ma," jawab Flora seadanya. Wanita itu langsung menatap putranya dengan tatapan yang tidak jauh berbeda dari Agni tadi. "Kamu tuh ya baru juga menikah sudah ninggalin istri sendirian, gimana toh, Nang?" tanya sang Mama. Beliau kemudian mempersilahkan Stephen dan Flora duduk di meja makan untuk menikmati makan malam. "Namanya juga kerja, Ma, ya mau bagaimana lagi toh," jawab Stephen. Keluarga Stephen memang aslinya adalah orang Jawa. Tepatnya Jawa Timur jadilah bahasa mereka seperti itu. "Yasudah, makan yang banyak, nanti gabung di taman belakang. Acara makannya masih akan berlanjut." "Tapi tadi kata Budhe, Mama juga belum makan toh?" tanya Stephen. "Mama sudah keburu kenyang karena bau makanan, gampang lah nanti mama makan." Stephen pada akhirnya mengangguk kemudian mulai menikmati makanan bersama dengan Flora. Flora sesekali terlihat menatap sekelilingnya sampai pada akhirnya tatapan Flora terpaku pada seseorang yang sedang menggendong seorang bayi. Gerakan Flora yang sedang mengunyah makanannya memelan. Apalagi melihat pria itu melangkah mendekat ke arah meja makan. Sosok Agni kemudian menyusul di belakang pria itu dengan senyum cerahnya. Flora kemudian langsung refleks berdiri dari tempat duduknya. Senyum gadis itu mengembang tipis. "Flora, perkenalkan ini suami aku, mas Arham," ucap Agni, wanita itu mengambil alih anaknya dari gendongan suaminya itu. Flora semakin berusaha keras mempertahankan senyumnya kemudian menyambut uluran tangan Arham. "Flora," ucap Flora memperkenalkan diri. Arham terlihat tersenyum ramah membuat Flora rasanya ingin mengubur dirinya hidup-hidup. "Arham," ucap pria itu, pria itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Flora, "nice to meet you again, Flora Primalya ah sorry Flora Huarliman!" lanjut pria itu dengan nada suara rendah kemudian senyumnya kembali melebar dan jabatan tangan mereka langsung terlepas. Flora. Gadis itu kembali duduk di kursinya kemudian melanjutkan kegiatan makannya. Dia tidak tahu dunia benar-benar akan sesempit ini. Kenapa suami Agni harus Arham?!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN