13. Siapa?

1543 Kata
Mendengus pelan, gadis itu pada akhirnya beranjak dari tempat tidurnya. Flora benar-benar tidak habis pikir dengan Stephen Huarliman. Pria itu yang memintanya untuk mengabari semua hal yang dia lakukan disini. Selama seminggu Flora melakukannya. Selama itu juga Stephen sama sekali tidak membalas pesannya jangankan membalas, membaca saja tidak. "Apa sekarang semuanya benar-benar gila?" tanya Flora sembari menatap dirinya di cermin, "memang dia itu siapa sampai membuat gue dengan bodohnya benar-benar menuruti apa yang dia inginkan. Kenapa lo mengirimi dia pesan setiap hari Flora seperti orang yang sedang menulis diary. Bukannya ini benar-benar konyol?" Flora terus meruntuki itu, harinya cukup bagus seminggu terakhir namun pesan yang dia kirim pada Stephen benar-benar membuat mood-nya berantakan. Flora benar-benar merasa di permainkan oleh Stephen. "Ini nggak bisa, gue harus tarik semua pesannya!" seru Flora, dia kembali melangkah ke arah ranjangnya kemudian mengambil ponselnya. Saat Flora membuka ingin membuka room chat-nya dengan Stephen dan berniat ingin menghapus semuanya saat itu pesan dari Stephen masuk. Mata Flora membola. GM. Stephen Huarliman Good Morning, Istri Apa yang kamu lakukan di pagi pertama weekend tanpa aku? Flora mendengus pelan, matanya menatap sinis room chat Stephen yang sudah terbuka membuat Flora semakin kesal, "ngata-ngatain lo!" seru Flora dengan nada suara yang semakin sinis. Saat Flora ingin kembali menutup room chat-nya dengan Stephen. Pesan dari pria itu kembali masuk. GM. Stephen Huarliman Ngomong-ngomong makasih ya udah ngabarin aku tiap hari Ternyata istriku bisa bersikap manis juga Flora sekarang benar-benar seperti orang yang ingin menelan orang hidup-hidup, gadis itu melempar ponselnya ke kasur. "Manis katanya? Hahaha gue bahkan nggak berniat mengirim pesan seperti itu untuk dia. Gue seharusnya nggak mengirim pesan apapun kan? Pesan gue bahkan nggak di balas. Ah sial, lo bego banget Flora Primalya!" seru Flora sembari mengacak rambutnya sendiri. Dengan tatapan yang masih sama sinis nya, Flora masih sempat melirik pada ponselnya sebelum akhirnya dia masuk ke dalam kamar mandi. Hari ini Flora memiliki janji dengan Milka. Mereka akan menghabiskan waktu bersama. Laskar sedang melakukan penerbangan sehingga Milka sendiri saja. Flora juga sedang sendiri. Mereka juga sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama. Jadi sekarang adalah waktu yang tepat. Tidak butuh lama untuk Flora bersiap, sekitar tiga puluh menit kemudian gadis itu sudah keluar dari kamarnya dengan pakaian santai yang terlihat sangat nyaman. Flora memakai celana setengah paha dan yang di paduka dengan kaus dan blezer sebagai atasannya. "Mau kemana, Kak?" suara itu membuat Flora langsung menghentikan langkahnya, Orlando menatapnya dari atas sampai bawah. Pria itu sedang bermain game di ruang santai rumah mereka. "Ketemu Milka," jawab Flora jujur. Orlando terlihat mengangguk-anggukan kepalanya, mata pria itu sudah kembali fokus pada game-nya membuat Flora kembali melanjutkan langkahnya. "Jangan lupa kasih tahu kak Stephen kalau keluar, izin," ucap Orlando tiba-tiba membuat Flora kembali menghentikan langkahnya, tatapannya kembali tertuju pada Orlando. Flora tidak percaya ini, adiknya bahkan benar-benar ada di pihak Stephen. Mengedikan bahu, Flora kembali melanjutkan langkahnya. Dia harus menghirup udara lepas sebanyak mungkin supaya dia tidak di serang stres kelamaan. *** "Kenapa wajahnya kelihatan kesal?" tanya Milka ketika dia masuk ke dalam mobil Flora. Sangat jarang Milka melihat ekspresi seperti itu ada di wajah cantik Flora. Biasanya gadis itu hanya akan tersenyum atau memasang wajah sangat kalem. "Kesal?" tanya Flora, gadis itu tersenyum pada Milka membuat Milka sedikit mengerdik ngeri. Flora mendadak terlihat sangat menyeramkan untuknya. "Iya, lo kelihatan kesal. Kenapa? Berantem sama Orlando?" tanya Milka saat Flora mulai melajukan mobil. Membelah jalanan yang cukup padat hari ini. "Nggak," jawab Flora seadanya. Mata Milka menyipit, senyumnya kemudian mengembang tipis. "Lo kangen sama Stephen?" tanya Milka, mata Flora membola bahkan laju mobil gadis itu langsung memelan. "Gue? Kangen sama dia? Enggak banget!" seru Flora sinis, Milka menatap Flora dengan sangat takjub. "Semenjak nikah sama Stephen lo jadi lebih ekspresif ya." Celetuk Milka. "Gue?" tanya Flora, tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Milka. "Iya dong siapa lagi. Lo jadi memiliki banyak ekspresi setelah menikah sama dia. Selama ini lo kalem-kalem aja tuh kan. Tapi gue lebih suka lo yang sekarang sih. Jadi ngerasa kalau lo itu benar-benar hidup," ucap Milka. Flora hanya diam saja, tapi Flora rasa apa yang di katakan oleh Milka ada benarnya juga. Iya sih dia lebih ekspresif tapi ini ekspresif nya karena dia merasa kesal. Kalau hal ini di biarkan lebih lama, Flora yakin dia akan darah tinggi. "Jadi lo kenapa kelihatan kesal. Stephen?" tanya Milka lagi. Sudah seminggu Stephen di New York. "Menurut lo, nggak ada orang yang membuat gue sekesal sekarang selain dia!" "Memang Stephen ngapain?" "Nggak balas pesan gue seminggu. Lo bayangin aja dia minta gue untuk selalu ngabarin dia terus ketika gue melakukan itu, dia justru nggak balas pesan gue sama sekali. Itu apa namanya apa? Dia ngelunjak itu namanya kan Mil?" tanya Flora dengan emosi yang menggebu-gebu. "Jadi sekarang lo sudah menganggap pesan dari Stephen adalah sesuatu yang penting?" tanya Milka. Flora mengerem mobilnya secara mendadak, kebetulan mereka juga sudah sampai di parkiran salah satu kafe yang ingin mereka kunjungi hari ini. "Nggak! Pesan dia sama sekali nggak penting!" seru Flora. Dia buru-buru melepas seatbelt kemudian segera turun dari mobil. Milka tersenyum geli. Dia kemudian ikut menyusul Flora turun dari mobil. "Nggak penting ya, Flo ya," ucap Milka sembari menyenggol lengan Flora. Entah kenapa Flora yang dulu selalu kalem dan anggun kini berubah menjadi sangat menggemaskan di mata Milka. "Memang nggak penting!" seru Flora sinis. Keduanya kemudian menempati meja yang menurut mereka sangat nyaman untuk menghabiskan waktu weekend kali ini. Milka kembali tersenyum geli. Flora kali ini benar-benar sangat menggemaskan. "Gue akan menyukai Flora seperti ini. Gue yakin persahabatan kita akan awet sampai akhir hayat!" seru Milka. Kali ini Flora yang menggelengkan kepalanya. "Mil, ini nggak akan bertahan lama," ucap Flora. Milka terkekeh pelan. "Tapi ketika lo masih bersama dengan Stephen, gue yakin ini akan bertahan sangat lama. Gue bahkan yakin pernikahan kalian akan bertahan sampai akhir," ucap Milka. Dia tahu bagaimana Stephen berjuang selama ini. Stephen sangat mencintai Flora. Itu adalah fakta yang tidak akan bisa di sangkal siapapun mungkin hanya Flora yang berani melakukan itu. Selama mengenal Stephen, ini untuk pertama kalinya juga Milka melihat Stephen jatuh cinta dengan begitu gilanya. Setelah pernikahan Stephen dan Flora hari itu, keadaan benar-benar tidak kondusif. Semuanya kacau. Semua orang membicarakan keduanya. Tidak ada yang berniat untuk berhenti bicara. Namun malam itu Stephen juga bekerja dengan sangat keras untuk membuat semua orang berhenti bicara. Dia menghubungi satu persatu orang kantor yang dia miliki kontak nya kemudian memohon pada mereka, meminta tolong untuk menghubungi yang lain. Sampai pada akhirnya, benar-benar tidak ada yang membicarakan tentang pernikahan mendadak Stephen dan Flora. Benar-benar tidak ada satupun yang berani membicarakan itu sampai Milka dan Reynard benar-benar takjub saat itu. Ternyata para karyawan benar-benar menghormati Stephen sebagai atasan mereka. Mungkin semua itu karena memang Stephen pantas untuk mendapatkan semuanya. Pria itu adalah atasan yang sangat baik untuk setiap karyawannya. "Gue bahkan nggak yakin dengan itu," ucap Flora. Milka menggeleng pelan. "Flo, kenapa lo selalu mengatakan itu? Lo benar-benar tidak ingin mecoba dengan Stephen?" tanya Milka. "Sejak awal lo tahu bagaimana posisi gue Mil, gue nggak akan pernah bisa," ucap Flora. Pesanan pertama mereka datang. Keduanya kompak tersenyum pada pegawai restoran . "Lo bisa, lo punya banyak kesempatan untuk bahagia tapi lo selalu menolak itu. Flo, Anzel tidak menganggu lo lagi kali ini. Di saat dia tidak melakukan itu. Seharusnya lo memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Lo bisa mencari kebahagiaan lo." Milka menggenggam angan sahabatnya itu dengan sangat erat. Tatapannya sangat lekat pada Flora. "Bukannya akan sangat egois Mil. Kebahagiaan itu hanya akan bertahan sementara. Lebih baik memberikan rasa sakit mulai sekarang tanpa bahagia supaya yang dia ingat hanyalah bagaimana gue bersikap buruk selama ini," ucap Flora. "Flo pada siapa lo benar-benar jatuh cinta selama ini?" tanya Milka. Flora memalingkan wajahnya sebelum akhirnya kembali menatap Milka, "bukan Anzel?" tanya Milka lagi, Flora merapatkan bibirnya "Jadi benar-benar bukan Anzel?" tanya Milka lagi. "Lo tidak pernah benar-benar mencintai Anzel?" "Mil, bisa ubah topiknya?" tanya Flora. Milka langsung menggeleng. "Lo mencintai Stephen?" tanya Milka. Flora langsung terkekeh. "Mil, nggak usah becanda, gue enggak! Mana mungkin itu terjadi kan? Gue nggak memiliki kedekatan apapun sama dia sebelumnya selain rekan kerja." Flora menegaskan namun Milka kembali menggeleng. "Tidak pernah memiliki kedekatan bukan berarti nggak bisa jatuh cinta bukan? Flo jawab gue, siapa orang yang benar-benar pernah menetap disini?" tanya Milka sembari menunjuk d**a Flora. Tatapan Milka kali ini benar-benar tajam. Flora bahkan rasanya kini sama sekali tidak bisa menghindari tatapan Milka. "Mil, gue bahkan nggak pernah merasa bahwa gue mencintai seseorang!" seru Flora dengan suara yang sedikit bergetar. "Lo berbohong lagi kali ini Flo, kenapa lo selalu membohongi diri lo sendiri?" tanya Milka, kali ini nada suara gadis itu meninggi. "Gue nggak bohong Mil." "Lo bohong, lo selalu bohong sama diri lo sendiri. Flora, gue ingin melihat lo bahagia. Berhenti bohongin diri lo sendiri!" seru Milka, mata gadis itu sekarang memerah. Emosinya terlihat bercampur dengan harapannya yang besar untuk melihat sahabatnya bahagia. "Gue nggak pernah mencintai siapapun Mil." "Lo jatuh cinta, bilang sama gue, siapa pria yang benar-benar lo harapkan hidup sama lo?" Milka terlihat menarik napasnya. Tangannya menggenggam tangan Flora dengan sangat erat. "Bilang, dengan siapa lo mengharapkan kehidupan selama ini? "Pada siapa lo mempercayakan hati lo? "Siapa Flo? "Stephen?" Flora menangis dan Milka langsung tahu apa jawabannya. Ya Milka mendapatkan jawabannya sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN