12. Semakin Jadi

1545 Kata
"Stephen apalagi?!"Flora menatap gemas pada pria yang sangat berhasil mengacaukan waktu liburnya hari ini. Stephen benar-benar sangat menyebalkan dengan terus bersikap manja padanya. "Barang-barang aku buat ke New York udah siap semuanya?" tanya Stephen, Flora menarik napasnya perlahan. Entah sudah berapa kali Stephen menanyakan itu padanya sejak tadi. "Kan gue udah jawab kalau semua barang lo udah siap dari tadi bapak Stephen Huarliman. Lo mau terbang ke New York sekarang juga udah bisa," jawab Flora dengan sangat gemas. "Aku kamu Flora Huarliman!" Stephen kembali mengingatkan. Flora yang sedari tadi sibuk meracik kopinya sendiri di meja bar dapur kembali menarik napasnya. Stephen memang bukan pria yang irit bicara seperti pada umumnya, namun Flora tidak tahu bahwa pria itu bisa berubah sebawel ini. "Fine, sejak kapan nama belakangku berubah?" tanya Flora. Dia masih tetap dengan kesibukkannya. Weekend ini Flora benar-benar sangat produktif, dia mengawali harinya dengan berolahaga kemudian menemani Stephen check up untuk memastikan bahwa tangan pria itu benar-benar sudah pulih. Dia membagi tugas membersihkan apartemen dengan Stephen dan beberapa menit yang lalu Flora baru selesai menyiapkan barang-barang yang akan di bawa oleh Stephen ke New York karena pria itu akan memiliki pekerjaan di sana. "Sejak kita menikah. Flora Huarliman. Bukannya itu terdengar bagus?" Tanya Stephen, pria itu kemudian mengambil satu cangkir kopi yang baru saja jadi kemudian meminumnya. Flora benar-benar terlihat seperti ingin membunuh Stephen saat itu juga. "Step, itu kopiku kenapa diminum?" tanya Flora. Stephen nyengir. "Flo, kita tinggal berdua, jadi kalau bikin sesuatu harus dua. Aku juga mau kopinya," jawab Stephen dengan santai, dia mengangkat gelas kopi itu ke atas kemudian mengedipkan sebelah matanya pada Flora. Hal itu benar-benar berhasil membuat Flora kesal. Gadis itu kembali meracik kopinya sebaik mungkin. "STEPHEN HUARLIMAN GUE BIKIN SALAD BUAH LO MAU?" Flora jelas sangat sengaja berteriak seperti itu. Dia tidak akan mengizinkan Stephen kembali merebut salad buahnya. "MAU DONG ISTRI!" seru Stephen dari ruang santai tidak kalah keras. Flora menyelesaikan kegiatannya membuat salad buah dengan sangat cepat. Kemudian bergabung dengan Stephen diruang santai apartemen. Diantara keduanya, sepertinya memang tidak ada yang berniat untuk melakukan kegiatan di luar rumah hari ini. "Thank you, Istri," ucap Stephen, pria itu tersenyum pada Flora. Flora mengangguk saja. Dia mulai menikmati salad buahnya sembari menonton berita yang di tayangkan sore ini. Seperti teman-temannya yang lain, yang benar-benar memiliki ketertarikan pada dunia bisnis. Stephen termasuk orang yang nggak akan pernah melewati perkembangan berita yang terjadi terutama di bidang ekonomi. "Flo, bagaimana divisi kamu, aman?" tanya Stephen. Flora mengangguk. "Sejauh ini nggak ada masalah, komplain konsumen juga nyaris tidak ada tapi gue menyarankan kita harus lebih meningkatkan kenyamanan konsumen lagi. Entah itu menambahkan fasilitas di kamar mereka atau lain sebagainya," ucap Flora. Stephen terlihat mengangguk, mungkin pria itu akan mempertimbangkanna nanti. "Kamu udah kirim proposal tentang itu ke aku?" tanya Stephen. "Udah ke email, mungkin sekarang udah tenggelam mengingat lo maksudnya kamu udah banyak libur, nanti aku kirim ulang," ucap Flora langsung mengubah caranya memanggil Stephen ketika pria itu menatapnya penuh peringatan. "Oke," jawab Stephen. Keduanya duduk cukup berjarak. Sama-sama menikmati salad buah dan fokus mereka juga sama-sama pada layar televisi. "Flo menurut kamu di saat ekonomi melemah, siapa pihak yang paling di rugikan?" tanya Stephen, Flora yang tiba-tiba diajak berdiskusi seperti itu terlihat berpikir. "Orang-orang yang pendapatannya rendah. Mereka akan kesulitan hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan dasar mereka. Itu benar-benar nggak adil menurut gue sih eh maksudnya aku. Gimana ya Step, beberapa kalangan mungkin nggak akan begitu merasakan dampak melemahnya perekonomian karena kebutuhan dasar mereka masih terpenuhi walau mereka mengalami kerugian dalam bisnis mereka," ucap Flora, Stephen menoleh pada gadis itu kemudian mengangguk pelan. Stephen setuju dengan apa yang di katakan Flora. Ketimpangan ekonomi itu sangat mengerikan karena semuanya terlihat sangat nyata perbedaanya. Terkadang sulit untuk percaya keadaan seperti itu ada namun pada kenyataannya itu sangat nyata. "Ketimpangan ekonomi itu memang mengerikan namun mau bagaimana lagi. Hal itu memang terjadi dimanapun itu," ucap Stephen. Suapan pria itu melambat. Dia kembali menatap Flora dengan sangat lekat. "Aku besok berangkat ke New York, kamu mau stay di apartemen atau mau pulang ke mama?" tanya Stephen. Setelah menikah ini untuk pertama kalinya Stephen akan meninggalkan Flora. Rasanya agak sedikit tidak ingin namun pekerjaan Stephen memang sudah seperti ini sejak awal. Dia bahkan bisa berpindah ke beberapa negara dalam satu hari. "Kayak besok pulang kantor aku ke mama dan Orlando," jawab Flora, dia kembali hampir menggunakan gue saat bicara namun untung saja hal itu tidak terjadi. "Oke, jangan lupa kabarin aku ya Flo," ucap Stephen. Kening Flora terlihat berkerut. "Penting?" tanya Flora. Stephen menatap gadis disamping nya dengan sangat gemas kemudian mengangguk. "Ya penting dong, Sayang. Kabarin pokoknya ya," ucap Stephen. Flora kali ini mengangguk saja supaya obrolannya dan Stephen cepat selesai. *** Ini untuk pertama kalinya Flora mengantarkan Stephen ke Bandara. Sebenarnya tadi Flora sana sekali tidak ingin melakukan itu namun karena Stephen terus merengek padanya, akhirnya Flora melakukannya. "Aku masuk ya," ucap Stephen pada Flora. Pria itu kemudian tiba-tiba menarik Flora kedalam pelukannya. Flora jelas kaget dengan apa yang dilakukan oleh Stephen. "Stephen lo ngapain?" tanya Flora dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Dia sangat terkejut. Keterkejutan Flora itu semakin menjadi ketika Stephen mengeratkan pelukan dan mengecup sisi kening Flora berkali-kali. "Kamu jaga diri baik-baik ya. Jangan sedih. Jangan banyak pikiran. Jika ada hal yang mengganggu dan itu membuat kamu merasa nggak nyaman, kamu bisa segera menghubungi aku," ucap Stephen. Dia menatap Flora penuh kasih sayang. Flora mengerjabkan matanya kemudian mengangguk ke arah Stephen. "Yaudah aku masuk ya, Flo. Bye dan sampai ketemu lagi," ucap Stephen. Dia melambaikan tangannya pada Flora. Flora menatap dengan sangat lekat punggung Stephen sampai pria itu benar-benar hilang dari pandangannya. Tiba-tiba tangan Flora memegang sisi keningnya yang tadi di kecup oleh Stephen berkali-kali. "Seharusnya dia nggak melakukan ini sama gue," gumam Flora. Sebelum asik dengan pikiran nya sendiri Flora buru-buru menggelengkan kepalanya. Dia meninggalkan bandara setelahnya karena seperti Stephen yang terbang ke New York untuk pekerjaan, Flora juga harus datang ke kantor untuk bekerja. *** "Kak disuruh makan sama Mama," Flora yang sedari sibuk dengan ipad-nya di ruang keluarga langsung mengangguk pada adik laki-laki nya itu. Ini sudah hari kedua Flora tinggal di rumah keluarga nya. Stephen yang meminta nya untuk menghubungip pria itu justru sama sekali belum membalas pesan Flora. "Kamu udah kasih tahu Stephen kalau kamu pulang ke rumah?" tanya Mama-nya ketika Flora bergabung di meja makan. Orlando terlihat menatapnya dengan semangat. "Sudah Ma, kenapa?" tanya Flora Mama Tyas terlihat menatap putri nya itu bingung. "Mama nanya aja sih. Ingat Flora, Stephen sekarang adalah suami kamu. Bertindak lah sebagai istri yang baik. Karena orang sebaik Stephen sangat di sayangkan jika kamu cuekin terus menerus," ucap Tyas. Flora menatap mama nya tidak percaya. Orlando terlihat mengangguk cepat-cepat mendukung ucapan sang Mama. "Bukannya lebih bahagia bersama kak Stephen, Kak?" tanya Orlando tiba-tiba. Flora semakin dibuat tidak percaya. "Apa yang dilakukan oleh Stephen sampai Mama dan Orlando sangat berpihak pada dia, bukannya kalian belum pernah bena-benar mengobrol satu sama lain?" tanya Flora, dia mulai menikmati makan malamnya. Tyas dan Orlando terlihat saling tatap satu sama lain kemudian tersenyum. "Aku pernah pergi jalan sama kak Stephen waktu weekend beberapa minggu yang lalu," jawab Orlando, "Kami pergi bermain golf, kak Stephen adalah orang yang menyenangkan, sangat easy going, nggak suka ngatur kayak kak Anzel," lanjut Orlando. Flora lagi-lagi terlihat terkejut. Dia tidak tahu kalau Stephen melakukan hal seperti itu sebelumnya. "Dia juga pernah datang ke apartemen kamu waktu mama sama Orlando ada di sana. Bawa makanan terus kami makan siang bersama. Seperti yang di bilang sama Orlando, Stephen adalah orang yang menyenangkan dan sangat baik." Tyas juga mengatakan hal yang sama. Flora kemudian berakhir mendengarkan cerita Tyas dan Orlando tentang Stephen. Stephen adalah orang yang hidup dengan jadwal kerja yang sangat padat namun Flora benar-benar tidak menyangka pria itu akan meluangkan waktunya untuk bertemu dengan Mama dan Orlando. "Aku akan merasa sangat tenang ketika kak Flo bersama dengan kak Stephen. Dia adalah pasangan yang cocok untuk kakak, kalian benar-benar di takdirkan untuk bersama," ucap Orlando. "Kamu nggak tahu apapun, Dek," ucap Flora. Orlando mengangguk. "Tapi setidaknya aku tahu mana orang baik dan enggak" ucap Orlando. Dia kemudian bangkit dari kursinya dan berdiri disamping Flora. "Aku tahu banyak yang kak Flo pikirkan terutama tentang aku dan mama tapi kakak juga harus ingat kalau aku dan mama juga sangat memikirkan kak Flora. Kak, kita juga mau kakak hidup bahagia seperti orang pada umumnya. Jika beban itu terasa sangat berat, kakak bisa membanginya dengan Olando mulai sekarang. Orlando sudah siap untuk semuanya, kak Flo," ucap Orlando, adik laki-laki Flora itu menunduk dan mengecup puncak kepala Flora sebelum akhirnya memeluk kakak perempuannya itu dengan sangat erat. Pada awalnya mungkin Orlando tidak terlalu paham dengan apa yang terjadi di dalam keluarga mereka dan apa yang di perjuangkan oleh kakak perempuannya selama ini namun setelah mencari tahu semuanya dan menemukan beberapa fakta. Orlando sekarang tahu betapa sangat melelahkannya menjadi Flora. "Kak Flo, jangan berjuang sendirian lagi. Jangan terlalu fokus untuk melindungi aku dan mama karena kakak juga harus fokus melindungi diri kakak sendiri," ucap Orlando lagi. Flora menghentikan aktivitas makannya. Ekspresi wajah gadis itu sangat sulit untuk di tebak. Flora tidak mengatakan apapun bahkan sampai Orlando melepaskan pelukannya. Orlando tidak tahu apapun, semuanya tidak hanya seperti yang terlihat karena masih ada hal yang lebih besar dari itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN