11. Menggoda

1572 Kata
"Sayang." Bulu kuduk Flora benar-benar meremang ketika mendengar Stephen memanggilnya seperti itu. Setelah mengatakan pada Stephen bahwa ayahnya adalah seorang narapidana dan dia tidak akan pernah bisa menjadikan Stephen sebagai laki-laki pertamanya. Bukan bertanya lebih jauh tentang maksudnya, Stephen justru semakin menunjukkan sisi manisnya. Pria itu sekarang bertindak sebagai seorang suami yag sangat manja dan selalu ingin berada di sekitar istrinya. "Lo kenapa sih?" tanya Flora sembari menatap pria itu heran. Pria itu baru saja melakukan check up, kondisi tangan Stephen mulai membaik dan luka-luka di tubuh pria itu juga sudah kering. Stephen bahkan sudah bisa kembali berjalan dengan normal. "Aku kamu, Flora," ucap Stephen mengingatkan dengan sangat lembut. Pria itu memang meminta Flora menggunakan aku kamu dalam percakapan mereka namun Flora tentu saja menolak itu. Akan terdengar sangat aneh ketika dia menggunakan aku dan kamu ketika bicara dengan Stephen. "Mau apa?" tanya Flora tanpa menghiraukan permintaan Stephen, sebenarnya Flora harus berada di kantor sekarang namun karena harus menemani Stephen check up, dia memilih untuk pulang sebentar. "Kita makan siang di kantor ya, aku kangen banget makan di sana," ucap Stephen. Flora terlihat mempertimbangkan permintaan Stephen sebelum pada akhirnya gadis itu mengangguk. Selama masa pemulihannya, Stephen memang tidak pergi ke kantor. Pria itu selalu stay di apartemen. Flora tidak bisa membayangkan akan sebanyak apa pekerjaan Stephen ketika pria itu kembali ke kantor nanti. Beberapa dokumen yang memang memerlukan tanda tangan Stephen akan di bawa ke apartemen oleh sekretaris pria itu kemudian Stephen akan berusaha dengan keras untuk menandatangi berkas itu. "Lo udah bisa jalan dengan benar Stephen, kenapa harus rangkul bahu gue?" tanya Flora ketika mereka mulai menelusuri lorong rumah sakit, tangan Stephen melingkar dengan sangat manis di bahu Flora. Gadis itu menatap Stephen dengan wajah kesal namun Stephen justru tersenyum dengan sangat manis. "Aku kamu dulu nanti baru di lepasin," ucap Stephen santai, mereka terus berjalan menelusuri lorong rumah sakit yang cukup sepi di waktu jam makan siang akan datang. "Itu sih mau lo!" seru Flora, Stephen mengangguk-anggukkan kepalanya sembari tersenyum. Pria itu kemudian semakin mengeratkan rangkulannya pada bahu Flora bahkan sekarang dia mengunci leher Flora dengan sangat lembut membuat Flora lagi-lagi tersentak kaget melihat apa yang di lakukan oleh Stephen. "Stephen, berhenti, gue lagi nggak mau becanda sama lo!" seru Flora, Stephen sedikit menunduk untuk melihat wajah Flora. Pria itu tersenyum gemas melihat Flora yang mati-matian menahan kesal padanya. "Aku kamu dulu makanya," ucap Stephen, dia tidak akan menyerah kali ini. Dia ingin berjuang dengan sangat keras untuk membuat Flora menyadari keberadaanya. Gadis itu harus tahu bahwa Stephen tidak akan pernah meninggalkan Flora. "Fine! Stephen lepasin aku," ucap Flora dengan sedikit emosi namun raut wajah gadis itu terlihat sangat menggemaskan di mata Stephen. Flora jarang-jarang menunjukkan ekspresi kesalnya sepeti itu, biasanya Flora hanya akan bersikap kalem atau lebih parahnya gadis itu akan diam saja walaupun dia merasa kesal pada keadaan. "Nah gitu dong, Sayang. Kalau kesal itu tunjukkin dengan jelas lewat ekspresi wajah dan nada suara kamu kalau kamu lagi kesal, begitu juga sebaliknya. Bukannya lebih melegakan jika jujur ada diri sendiri?" tanya Stephen, pria itu melepaskan tangannya dari leher Flora dan memilih hanya untuk merangkul bahu gadis itu dengan sangat lembut. Flora terlihat menoleh ke arah Stephen sejenak kemudian gadis itu kembali menatap ke depan untuk melanjutkan langkahnya. "Nggak usah ngatur ekspresi wajah gue!" seru Flora dengan ketus. "Aku, Sayang, aku!" seru Stephen kembali mengingatkan, tangan pria itu kembali bergerak untuk mengunci leher Stephen namun Flora lebih dahulu menahan tangan Stephen. Gadis itu kembali menoleh pada Stephen dengan raut wajah yang terlihat masih sangat ketus. "Nggak usah atur ekspresi aku!" seru Flora dengan penuh tekanan dan sangat ketus membuat tawa Stephen kemudian meledak. Pria itu terlihat sangat puas sekali. Flora menarik napasnya perlahan. Gadis itu tiba-tiba terdiam, ekspresi wajahnya kembali berubah menjadi sangat datar seolah dia baru menyadari sesuatu dan itu terasa sangat menentang dirinya sendiri. *** "Mau makan dimana?" tanya Flora ketika mereka sudah sampai di Hilton Hotel Jakarta, Stephen terlihat menatap sekitarnya, pria itu seolah sedang mengamati apa yang terjadi di hotel setelah hampir seminggu pria itu tidak pernah berkunjung ke tempat ini. "Nggak ada masalah yang terjadi di kantor selama lo libur, jadi nggak ada yang perlu lo khawatirkan. Lo hanya perlu sembuh kemudian kembali bekerja seperti biasanya," ucap Flora, dia sedikit menarik kemeja yang digunakan Stephen untuk lebih dekat dengannya apalagi banyak sekali orang-orang yang berlalu-lalang, takut orang-orang itu tidak sengaja menyenggol lengan Stephen yang jelas akan menghambat masa pemulihan. "Perhatikan jalan dan orang-orang di sekitar lo. Minggu depan tangan lo harus berfungsi dengan normal lagi, sekretaris lo bilang, lo punya banyak pekerjaan di kantor pusat Hilton. Mr. Hilton kemarin juga menghubungi gue, kalau seumpama tangan lo belum pulih juga sampai minggu depan, pengobatan lo di lanjutkan di New York aja. Lo harus sadar betapa pentingnya lo bagi perusahaan sekarang, jadi jangan banyak tingkah!" seru Flora, Stephen terlihat cukup takjub mendengar ucapan Flora yang cukup panjang itu. Tanpa melihat sekitarnya, Stephen mengecup sisi kening gadis itu dengan sangat gemas membuat Flora benar-benar kaget luar biasa. "Dan tindakan lo barusan benar-benar bukan tindakan yang baik untuk lo lakukan di ruang publik apalagi perusahaan tempat lo bekerja," lanjut Flora, gadis itu mempercepat langkahnya. Stephen hanya tersenyum gemas mendengar ucapan Flora. Dia ikut menyusul langkah Flora dengan santai. Sesekali dia menganggukkan kepalanya ketika ada karyawannya yang menyapanya. "Makan disini aja," ucap Flora ketika mereka sama-sama berdiri di depan pintu restoran yang memang jadi favorit mereka sama yang lain. Stephen mengangguk. Pria itu kemudian mendorong pintu untuk Flora, tangan sebelah kiri Stephen jelas masih berfungsi dengan sangat baik sampai hari ini jadi sekedar mendorong pintu untuk istrinya bukanlah pekerjaan yang berat untuknya. "Eh pak Bos dan bu Bos!" seruan itu membuat Stephen dan Flora langsung menoleh, di sana terlihat Reynard yang sedang nyengir kayak kuda seolah hidup pria itu sama sekali tidak ada masalah sedikitpun. Stephen hanya melambaikan tangannya pada Reynard kemudian fokus memesan makanan dengan Flora. "Kamu harus makan yang banyak, Flo," ucap Stephen, dia menunjuk beberapa menu favorit Flora di restoran ini kemudian memesan semuanya membuat gadis itu menatap Stephen dengan sangsi. "Lo juga harus makan yang banyak kalau gitu." Flora juga menunjuk beberapa menu yang sering di pesan oleh Stephen di restoran ini kemudian memesannya. "Aku nggak percaya loh ternyata kamu juga ingat menu favorit aku di restoran ini," ucap Stephen sembari senyam-senyum. Flora memaksakan dirinya untuk tersenyum pada Stephen. "Gue juga tahu menu favorit Reynard di restoran ini," jawab Flora kalem kemudian dia bergabung duduk bersama dengan Reynard yang duduk sendirian menikmati makan siang di restoran ini. "Seger banget muka lo, sebenarnya sekarang lo hanya pura-pura sakit supaya di manjain sama Flora kan, ngaku lo!" seru Reynard sembari menunjuk wajah Stephen dengan pisau yang dia pegang membuat Stephen langsung memundurkan tubuhnya, menatap pria itu dengan sangat ngeri. "Ngeri banget lo, belum juga gue duduk udah lo todong pakai pisau!" seru Stephen, pria itu kemudian duduk di samping Flora. "Lagian wajah lo nggak menunjukkan sama sekali kalau lo lagi sakit!" seru Reynard, tatapan pria itu berubah menjadi penuh selidik. Stephen menarik napasnya pelan. Sesungguhnya bersama dengan Reynard sama dengan dia kehilangan harga dirinya. "Yang lain mana Step, tumben lo sendiri?" tanya Flora. "Yang lain maksud lo itu Milka?" tanya Reynard. Flora mengangguk. "Milka pergi makan siang sama Laskar, semenjak teman-teman gue menikah, gue merasa hidup gue semakin mengerikan sekarang. Cynthia asik bersantai di Bali karena dapat suami kaya raya yang hartanya nggak bakal habis tujuh turunan. Milka dapat suami pilot yang sekalinya libur kerja langsung ngekepin Milka. Kemudian kalian berdua juga menikah yang bucinnya depan mata gue banget. Gue harus apa sekarang. Masak gue ngedate sama angin mulu," ucap Reynard dengan wajah menyedihkannya. Stephen dan Flora menatap pria itu dengan ekspresi wajah datar. "Gayaan lo ngedate sama sama angin. Gue tanya, selama satu bulan terakhir, lo udah mutusin berapa cewek?" tanya Stephen. Flora juga ikut menatap Reynard, mereka sudah sangat hapal bagai mana player-nya kuda di hadapan mereka ini. Reynard Wiliam memang dilahirkan dengan wajah tampan dengan pesona sangat memikat yang bisa mengikat hati banyak gadis hanya dalam satu kedipan mata. "Gue kosong ya sekarang, nggak dekat sama siapa-siapa--" ucapan pria itu langsung terhenti ketika pegawai restoran datang menghidangkan beberapa menu makanan siang yang dipesan oleh Flora dan Stephen, mata pria itu menatap pasangan di hadapannya dengan tataan tidak percaya, "kalian mau makan siang atau mau ngapain astaga, banyak banget yaelah!" seru Stephe, dia mengangkat satu piring yang memang berisi makan siangnya ketika berbagai menu makan siang Flora dan Stephen memenuhi meja. "Kita mau makan siang lah, lo pikir apa lagi," jawab Stephen santai. Dia menatap ke Flora yang langsung mengiris beef steak untuknya supaya Stephen langsung bisa memakannya begitu saja. Stephen sekarang sedikit terbiasa mengunakan tangan kirinya. "Jangan bilang visi misi pernikahan kalian sekarang adalah menggendut bersama?" tanya Stephen masih tidak percaya dengan pasangan di hadapannya. "Ngaco lo Rey, kalau mau ikut makan, makan aja," ucap Flora dengan kalem, Stephen mati-matian menahan tawanya. Reynard kemudian tersenyum sumringah dan menambah sesi makan siangnya. "Flo, suami lo ngeselin nggak?" tanya Reynard di sela-sela makan siangnya. "Banget, lo nikah gih," jawab Flora kalem. Reynard terlihat jadi kebingungan sendiri untuk berekspresi antara mau menertawakan Stephen atau sedih karena mendengar ucapan Flora yang memintanya menikah setelah gadis itu menjawab dengan santai bahwa suaminya ngeselin. "Sama cici money changer kayaknya oke tuh," ucap Stephen dengan ekspresi super jenakanya. Reynard menarik napasnya. Dia kemudian menatap Flora dan Stephen bergantian. "Sekarang gue tahu alasan kalian berdua ditakdirkan menikah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN