10. Your Mine

1523 Kata
"Lo mau ngapain dulu?" tanya Flora ketika mereka sudah sampai di dalam apartemen, Stephen sudah duduk di sofa yang tersedia disana. Stephen melihat gadis yang berdiri di hadapannya itu dengan sangat lekat, Flora benar-benar sedang menunjukkan semua fokus padanya. "Aku mau ganti baju dulu kayaknya Flo, ini baju kotor banget," jawab Stephen sambil melirik bajunya sendiri yang memang sangat kotor. Flora terlihat mengangguk dengan sangat ragu.Stephen ingin berganti pakaian jelas itu membutuhkan bantuan orang lain. Apa yang harus Flora lakukan sekarang? Rasanya tidak mungkin dia membiarkan Stephen berganti baju sendirian dan lebih terasa nggak mungkin jika Flora yang membantu pria itu berganti pakaian. "Lo mau ganti baju dimana?" tanya Flora, tidak ada pilihan lain, dia satu-satunya orang yang bisa membantu Stephen sekarang. "Kamar," jawab Stephen, Flora mengangguk, dia kembali sedikit menunduk di hadapan Stephen, membiarkan pria itu melingkarkan tangan di bahunya dan sekarang Flora dengan ragu ikut melingkarkan tangannya di pinggang Stephen supaya memudahkan langkah mereka berdua. "Kaki kiri, Stephen!" seru Flora ketika melihat Stephen mulai kesulitan dengan langkah, mereka berhenti sejenak, tatapan mereka kembali tidak sengaja bertemu dan Flora lagi-lagi memutuskan tatapan itu secara sepihak. "Kaki kiri dulu, melangkah pelan-pelan," ucap Flora, fokus gadis itu kini kembali pada kaki Stephen dan sekarang Flora menyadari bahwa celana Stephen di robek secara asal mungkin tadi karena ingin memeriksa luka pria itu. "Flo, aku mau pakai piyama aja supaya lebih muda bukanya," ucap Stephen setelah Flora membantunya duduk di sisi ranjang. Gadis itu mengangguk pelan dan mulai mencari piyama untuk Stephen, dengan model yang simpel dan Flora juga mencari celana piyama yang pendek supaya tidak membuat mengenai luka-luka di kaki Stephen. "Buka bajunya bisa?" tanya Flora setelah dia mendapatkan piyama yang akan membuat pria ini merasa nyaman. Stephen terlihat menatap Flora dengan ragu kemudian menggelengkan kepalanya. "Flo, untuk beberapa hari ke depan sampai aku pulih, aku sepertinya akan sangat merepotkan kamu, maaf ya," ucap Stephen. Flora menarik napasnya sejenak kemudian mengangguk. Tatapan gadis itu lagi-lagi terlihat sangat ragu. Jika dia membantu Stephen melepaskan kaus itu, Flora akan melihat Stephen tidak menggunakan apapun nanti. Entah kenapa itu sangat mengerikan untuk Flora. "Badan lo kerasa lengket nggak? Mau di lap dulu?" tanya Flora lagi, Orlando pernah jatuh dari motor dan mama-nya merawat Orlando seperti itu karena tidak memungkinkan untuk mandi. "Lengket banget bahkan aku bau lumpur," jawab Stephen dengan sangat jujur. Flora langsung mengangguk, gadis itu melangkah masuk ke dalam kamar mandi kemudian keluar dari sana dengan baskom berisi air hangat dan juga handuk. "Kalau sakit bilang gue, sekarang lepas kaus-nya," ucap Flora, dia berdiri lagi di hadapan Stephen, tangan gadis itu mulai menarik ujung kaus Stephen ke atas, baik Flora maupun Stephen terlihat kompak menahan napas mereka, Flora terlihat berulang kali mengalihkan tatapannya dari Stephen ketika kaus itu benar-benar hampir terlepas. "Flo pelan-pelan bagian ini," ucap Stephen ketika yang inging melewati tangan Stephen yang di gips, gadis itu mengangguk dengan sangat kaku. Dia melakukannya dengan pelan-pelan sesuai dengan apa yang di minta oleh Stephen bahkan Flora sampai menahan napasnya takut-takut dia melakukannya dengan terlampau kasar dan juga Flora merasa malu sendiri karena melihat Stephen tanpa menggunakan atasan apapun. "Gue bantuin lap ya," ucap Flora setelah berhasil melepaskan kaus Stephen dengan sempurna, sekarang Flora semakin ragu untuk sekedar mengelap tubuh Stephen. Mereka pernah liburan bersama sebelumnya bersama sahabat-sahabat mereka yang lain, ini bukan untuk pertama kalinya Flora tanpa atasan namun entah kenapa rasanya malam ini sangat berbeda. Flora benar-benar hanya ingin melarikan diri dari Stephen. "Flo, apa yang ada dihadapan kamu adalah milik kamu, kamu bisa melakukan apapun. Mau aku tunjukkin jalannya?" tanya Stephen, Flora mengerjabkan matanya, keterkejutan gadis itu semakin bertambah ketika Stephen menggenggam tangannya yang sedang memegang handuk yang akan dia gunakan untuk mengompres tubuh Stephen. Tatapan mereka kembali bertemu satu sama lain, kali ini Stephen tidak membiarkan sedikitpun Flora mengalihkan tatapan darinya. "Di mulai dari sini Flo," ucap Stephen, pria itu mengarahkan tangan Flora ke lehernya, menggerakkannya dengan sangat pelan di sana yang membuat Flora mati-matian menahan napasnya. Sungguh ini terasa sangat aneh untuk Flora. Detak jantungnya semakin menggila. "Tidak ada satupun orang yang akan memarahi kamu ketika kamu menyentuh apa yang kamu miliki Flo," lanjut Stephen dan Flora merasa tubuhnya sekarang benar-benar terasa kaku namun gadis itu sama sekali tidak membiarkan itu terjadi terlampau lama. Ketika dia kembali mendapatkan kesadarannya, Flora menyelesaikan kegiatannya membantu Stephen membersikan diri dan berganti pakaian dengan sangat cepat. Ketika Stephen harus berganti celana, Flora memilih memejamkan matanya. Tidak ada yang salah dengan tubuh Stephen, pria itu memiliki bentuk tubuh yang sangat sempurna namun Flora tidak sanggup untuk menatap tubuh pria itu jauh lebih lama. *** Setelah semuanya selesai dan Flora juga sudah selesai membersihkan dirinya sendiri, kini dua orang duduk di sofa. Stephen tidak melepaskan sedikitpun tatapannya dari Flora yang sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka. Sate yang Stephen inginkan juga sudah tersaji di atas meja. Mereka memilih untuk makan di ruang santai supaya Stephen lebih nyaman saja. Pria itu membutuhkan ruang yang lebih luas supaya kakinya tidak terbentur atau juga tangannya tidak terbentur. "Lo mau minum apa?"tanya Flora, gadis itu juga memasak sayuran untuk menjadi pelengkap makan malam hari ini. Flora juga memasak spaghetti carbonara yang pernah dia buatkan untuk Stephen. Sepertinya gadis itu juga kelaparan malam ini. "Air hangat Flo." Gadis itu terlihat mengangguk. Flora sejak tadi tampak tidak mengeluh sedikitpun, dia juga tidak protes ketika Stephen memiliki banyak permintaan padanya. "Ada lagi?" tanya Flora, gadis itu kembali dengan air mineral hangat. Beberapa minuman lain juga tersaji di atas meja, mungkin sebagai alternatif atau memang Flora sedang ingin meminum minuman itu. "Sudah cukup, thanks Flo," ucap Stephen. Gadis itu mengangguk. Dia mulai menaruh lauk-pauk ke piring Stephen beserta dengan nasinya tentu saja kemudian memberikan piring itu pada Stephen. Flora sendiri juga mulai menyantap makan malamnya dengan sangat santai namun ketika tatapan matanya bertemu dengan Stephen yang terlihat kesulitan memakan makanan sendiri karena tangan pria itu yang bisa digunakan hanya tangan kiri, saat itu Flora menarik napasnya pelan. Dia sampai melupakan fakta itu. Flora langsung beranjak dari tempat duduknya kemudian duduk di samping Stephen. Mengambil alih piring pria itu. "Kalau butuh bantuan itu bilang!" seru Flora, dia memisahkan daging sate dari tusukannya kemudian mulai mengarahkan sendok yang sudah berisi sate itu pada Stephen. Stephen tersenyum tipis kemudian mulai membuka mulutnya untuk menerima suapan Flora. "Kamu makan juga Flo," ucap Stephen, Flora melirik piringnya sendiri kemudian menggeleng. "Gue akan makan setelah lo selesai makan," ucap Flora, gadis itu terus menyuapi Stephen makan dalam diam. Dia hanya fokus pada kegiatannya. Dia harus segera memastikan pria di hadapannya ini sembuh kemudian kehidupan akan kembali normal. "Lo mau langsung minum obat?" tanya Flora, Stephen menggeleng. "Kamu makan dulu, nanti baru bantu aku minum obat," jawab Stephen, Flora mengangguk setuju, gadis itu melanjutkan makannya yang tertunda. Stephen sama sekali tidak melepaskan tatapannya dari Flora. Dia tahu gadis itu adalah orang yang memiliki kepedulian yang sangat tinggi pada orang lain bahkan tanpa melihat siapa orangnya namun Flora juga tidak terlalu menunjukkan itu, Stephen tidak tahu apa alasannya. "Flo, kamu sudah baik-baik saja?" tanya Stephen, beberapa hari terakhir, gadis itu terlihat jauh lebih tenang, Flora tidak pernah lagi meninggalkan apartemen di pagi buta kemudian kembali dengan wajah ketakutan dan kelelahan. "Gue ada dalam kondisi yang baik, lo nggak perlu menghawatirkan gue. Yang perlu lo khawatirkan sekarang adalah diri lo sendiri," jawab Flora masih sama ketusnya. Gadis itu seolah selalu memberikan batasan padanya. Flora seolah benar-benar tidak ingin dia masuk ke dalam hidup gadis itu jauh lebih dalam. "Flo, aku ingin bersama kamu selamanya, tidak peduli seperti apapun itu. Aku hanya ingin bersama kamu. Jangan terus-terus membatasi diri dengan aku seolah aku adalah orang yang sangat menjijikan untuk kamu," ucap Stephen. Gerakan tangan Flora yang ingin menyuapkan makanan ke mulutnya terhenti. Tatapan Flora terlihat langsung berubah. "Bukan lo yang menjijikan untuk gue tapi gue yang menjijikan untuk lo. Stephen, gue nggak sebagus kelihatannya, banyak hal yang sudah rusak dalam diri gue dan itu adalah hal yang akan lo sesali dalam hidup lo, jadi gue mohon jangan berusaha terlalu berlebihan karena di kemudian hari lo akan menyesali usaha lo itu," ucap Flora. Stephen menggelengkan kepalanya. "Aku nggak akan menyesali apa yang sudah aku pilih Flo. Mau seburuk apapun itu, aku akan tetap bersama dengan apa yang sudah menjadi pilihanku. Pernikahan kita mungkin diawali dengan tanpa rencana namun pernikahan itu penuh dengan harapan Flo. Kamu akan sangat sulit menerima pernikahan kita, tapi bisakah kamu untuk mencobanya. Bisa untuk mencoba menerima sesuatu yang terjadi di hidup kamu. Flo, bisakah kita sama-sama berusaha? Jika kita terus melihat ke belakang, kita nggak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di depan. Aku ingin pernikahan kita selayaknya pernikahan pada umumnya walau kita tidak memulainya seperti kebanyakan orang di luar sana. Aku ingin melihat istriku bahagia dengan hal-hal yang aku lakukan untuk dia. Flora, mari mengusahakan bahagia bersama," ucap Stephen. Flora terlihat menarik napasnya pelan. Tatapannya pada Stephen kini berubah menjadi sendu. "Stephen, lo yakin ingin bahagia bersama seseorang yang memiliki masa lalu yang buruk dan bahkan nggak berhasil menjaga dirinya sendiri?" tanya Flora. Kening Stephen terlihat berkerut. "Ayah gue seorang narapidana dan lo nggak akan pernah jadi laki-laki pertama untuk gue. Lo yakin ingin bahagia dengan perempuan yang seperti ini?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN