Pekerjaan Flora sudah selesai sejak satu jam yang lalu namun gadis sama sekali tidak terlihat berniat untuk meninggalkan ruang kerjanya. Ruangannya terasa sangat dingin karena di luar sana hujan juga turun dengan cukup deras beserta angin yang berhembus cukup kencang membuat Flora semakin enggan untuk beranjak dari tempat duduknya sekarang. Akhir-akhir ini cuaca memang sedang tidak menentu, terkadang panas terik kemudian beberapa waktu kemudian akan berubah menjadi mendung di susul dengan hujan yang tidak ada hentinya.
Flora mengambil ponselnya dari dalam tas, pemberitaan tentang pernikahannya dan Anzel yang kandas kini sudah mulai meredup. Tidak ada lagi wartawan yang mengejar-ngejarnya. Flora sudah mulai bisa bernapas sedikit lega. Anzel juga sudah tidak mengganggunya, pria itu pasti sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Anzel selalu melakukan ini, ketika dia butuh dia akan datang pada Flora kemudian akan memaksa Flora untuk melakukan apa yang pria itu inginkan.
Ada pesan dari Orlando-adiknya, pria itu mengatakan bahwa akan menginap di rumah teman hari ini karena memiliki kerja kelompok. Orlando baru setahun yang lalu duduk di bangku perkuliahan, sepertinya memang Orlando mulai sibuk dengan berbagai tugas. Flora membalas pesan Orlando dan meminta adik laki-lakinya itu untuk hati-hati dan tidak telat makan.
Setelah memastikan pesannya terkirim pada Orlando, Flora juga mengirim pesan pada Mama-nya, meminta wanita itu hati-hati di rumah karena mereka sudah kembali lagi tinggal di rumah sejak dua hari yang lalu.
Flora menaruh ponsel itu di atas meja kemudian melangkah mendekati jendela, gedung-gedung di hadapannya tertutupi oleh kabut, hujan masih terlihat tidak ingin berhenti, pikiran Flora tiba-tiba melayang begitu jauh. Hujan selalu berhasil membuat banyak orang larut dalam pikiran mereka masing-masing, hujan seolah suasana yang bisa membuat seseorang berbicara dengan dirinya sendiri begitu dalam, mengingat segala hal yang terjadi dalam hidup mereka tanpa terlewat mulai dari rasa senang sampai rasa sakit.
Flora mengusap lengannya yang memang terbuka ketika merasa udara begitu dingin, gadis itu masih betah berdiri di sana namun perhatian Flora teralih ketika mendengar ponselnya bergetar di atas meja. Gadis itu melangkah dengan sangat cepat ke sana. Nama Reynard tertera di sana. Pria itu melakukan panggilan. Kening Flora sedikit berkerut, Reynard termasuk orang yang jarang menghubunginya lewat telpon, kalaupun ingin menelponnya, pria itu pasti akan mengirim chat terlebih dahulu apakah Flora dalam keadaan yang bisa di telpon atau tidak.
Dengan sangat ragu Flora mengambil ponselnya, menerima panggilan telpon itu dan membawa ponsel itu lebih dekat dengan telinganya. Raut wajah Flora langsung berubah ketika mendengar ucapan Reynard yang terdengar terburu-buru dan juga sedikit panik di seberang sana. Flora sekarang juga terlihat terkejut. Gadis itu hanya mengangguk tanpa suara menanggapi ucapan Reynard. Setelah panggilan itu terputus, Flora buru-buru mengambil blazer dan tasnya kemudian meninggalkan ruangannya dengan langkah cepat bahkan gadis itu sedikit berlari, tidak peduli bahwa sekarang dia menggunakan heels.
"Flo, mau kemana?" tanya Milka, Flora langsung menghentikan langkahnya, gadis itu mengatur napasnya sejenak kemudian memegang pundak Milka.
"Mil, Stephen kecelakaan," ucap Flora setelah berhasil mengatur napasnya, wajah Milka juga terlihat langsung berubah panik.
"Tunggu di sini sebentar, gue ambil tas, kita ke rumah sakit bareng," ucap Milka. Flora mengangguk, dia kembali mengatur napasnya. Walau Flora tidak pernah bisa menerima pernikahannya dengan Stephen tapi Flora juga tidak bisa melihat pria itu dalam kondisi yang tidak baik. Sebelum mereka menikah dengan secara tidak sengaja, mereka adalah sahabat dan rekan kerja.
"Dia kecelakaan dimana?" tanya Milka ketika mereka melangkah ke parkiran mobil, mereka akan berangkat ke rumah sakit menggunakan mobil Flora.
"Gue nggak tahu, Reynard hanya bilang tempat rumah sakit Stephen," jawab Flora, dia membuka pintu kemudi dan masuk ke dalamnya. Milka juga masuk di sisi pintu penumpang. Mobil itu menerobos hujan. Mereka hanya berharap tidak terjebak macet ataupun banjir. Mereka hanya ingin sampai di tempat Stephen jauh lebih cepat untuk memastikan keadaan pria itu.
***
"Mikirin apa sih lo di jalan sampai di gips gitu tangan lo mana lukanya di mana-mana lagi!" seru Milka sembari menatap Stephen yang duduk di sisi ranjang rumah sakit dengan galak. Stephen meringis pelan. Tangan kanannya terkilir kemudian dia mendapatkan beberapa luka di tangan, kaki dan juga keningnya.
"Gue nggak sekarat Mil, santai aja," jawab Stephen sembari meringis karena merasa sakit hal itu jelas membuat tiga orang yang sedari tadi menatap pria itu mendengus.
"Santai-santai, itu yang nggak bisa digunain tangan kanan lo ya. Lo bayangin seberapa banyak pekerjaan yang akan tertunda selama lo masa penyembuhan?" tanya Milka lagi dan kali ini ekspresi wajah Stephen berubah menjadi syok sedangkan Reynard mati-matian menahan tawanya.
"Seperti yang gue bilang kan, lo kecelakaan sama dengan merugikan perusahaan. Lagian ngapain sih lo gaya-gayaan motoran dari Bogor ke Jakarta, mana cuaca lagi nggak jelas kayak sekarang. Mau jadi pembalap lo?" tanya Reynard. Stephen menatap Reynard dengan kesal namun pria itu juga tidak isa melakukan apapun pada sahabat sekaligus rekan kerjanya itu.
"Emang ada gila-gilanya lo ya!" seru Milka, gadis itu terlihat aish belum merasa puas mengomeli Stephen. Floa yang juga berdiri di sana hanya menatap Stephen dari atas samai bawah bolak-balik sejak tadi. Gadis itu tidak mengatakan apapun.
"Flo, suami lo tingkahnya bocil banget. Mentang-mentang itu motor baru, tapi ujung-ujungnya motor itu berakhir di bengkel juga kan," ucap Reynard. Flora masih tidak memberikan respon apapun. Dia masih berdiri di pijakkannya dengan tatapan yang masih bolak-balik mengamati Stephen dengan luka-lukanya.
"Nanti sampai rumah guyur aja Flo pakai air dingin, gemes banget gue lihatnya. Jadwal kerja lo padat Stephen Huarliman!" seru Milka.
"Kayaknya gue harus istirahat deh Mil, ini waktunya gue ambil cuti nggak sih?" tanya Stephen.
"Lo ambil cuti sama dengan membunuh diri lo sendiri karena kerjaan lo bakal berkali lipat di hari berikutnya!" seru Milka semakin gregetan.
"Teman kalian lagi sakit lo ini, seharusnya kalian prihatin kan, kenapa kalian justru ngomongin kerjaan!" seru Stephen sembari mendengus.
"Ya gimana ya Bro, lo kan emang sangat cinta bekerja jadi ya kalau lagi sama lo itu bawaannya pengen ngomongin kerjaan doang," ucap Reynard, dia juga ikut duduk di samping ranjang Stephen.
"Tapi nggak gitu juga konsepnya Reynard Wiliam!" seru Stephen gregetan. Reynard nyengir.
"Flo bawa pulang gih ini orang buruan, udah malas gue liat wajahnya!" seru Reynard lagi. Flora terlihat cukup terkejut.
"Memang udah boleh pulang?" tanya Flora. Reynard dan Stephen kompak mengangguk.
"Ini nggak terlalu parah Flo, cuma terkilir dan luka ringan," jawab Stephen, Flora mengangguk mengerti.
"Obatnya udah di tebus?" tanya gadis itu lagi, Reynard langsung menunjuk nakas yang ada di samping ranjang, di sana ternyata sudah ada obat-obat Stephen.
"Yaudah kita pulang aja sekarang, Flo langsung bawa bapak general manajer kita yang terhormat pulang, Rey lo harus antar gue pulang!" seru Milka, Stephen langsung mengangguk dengan sangat cepat.
Flora memasukkan obat-obat milik Stephen ke dalam tasnya kemudian mengikuti langkah semua orang. Reynard membantu Stephen berjalan. Pria itu memang terlihat sedikit kesulitan berjalan mungkin karena ada beberapa luka di kaki Stephen.
"Ini lo bener-bener nggak mau pakai kursi roda?" tanya Reynard, Stephen menggelengkan kepalanya. Pria memegang pundak Reynard dengan tangan kirinya yang memang dalam kondisi baik, hanya ada luka baret tipis-tipis yang jelas akan cepat kering dan sembuh.
"Gue nggak perlu kursi roda, luka di kaki gue paling tiga hari kering," jawab Stephen. Reynard mengangguk saja, dia kemudian membantu Stephen untuk masuk ke dalam mobil Flora.
"Flo nitip ya, kalau dia ngelunjak, lo dorong aja dari balkon apart!" seru Reynard yang membuat pria itu mendapatkan sumpah serapah dari Stephen. Flora hanya mengangguk kemudian gadis itu berpamitan pada Milka dan Reynard.
"Flo, maaf ya," ucap Stephen ketika Flora sudah duduk di balik kemudi, gadis itu menyalakan mesin mobilnya dan menatap Stephen lagi dari atas bawah. Pria itu benar-benar terlihat mengerikan dengan berbagai luka walaupun luka itu terlihat kecil-kecil. Kaus putih yang digunakan pria itu terlihat kotor karena tanah, warna kaus itu sudah berubah.
"Untuk?" tanya Flora, dia mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit menuju apartemen yang dia tempati bersama dengan Stephen.
"Karena membuat kamu harus datang ke rumah sakit di waktu hujan kayak sekarang dan juga membuat kamu harus nyetirin aku," ucap Stephen.
"Gue nggak kehujanan dan ini juga bukan pertama kalinya gue nyetir," jawab Flora seadanya, tatapan gadis itu tetap lurus ke jalan. Jalanan sangat padat malam ini bahkan Flora beberapa kali terjebak macet namun gadis itu terlihat sangat tenang sekali. Tidak mengeluh sedikitpun.
"Flo, kita beli sate dulu ya, aku lagi pengen makan itu," ucap Stephen, Flora mengangguk tanpa protes, gadis itu langsung turun dari mobil untuk membelikan sate untuk Stephen sedangkan Stephen hanya mengamati apa yang gadis itu lakukan untuknya.
"Mau makan apa lagi?" tanya Flora setelah dia mendapatkan sate untuk Stephen, pakaian gadis itu terlihat sedikit basah.
"Udah cukup," jawab Stephen seadanya, gadis itu mengangguk, dia kembali melajukan mobilnya, apartemen Stephen sudah tidak terlalu jauh dari posisinya yang sekarang. Mereka hampir sampai.
"Bisa?" tanya Flora ketika melihat Stephen membuka pintu mobil, gadis itu sudah berdiri di sisi pintu mobil tempat stephen duduk. Tasnya sudah Flora sampirkan di bahu, tangannya juga memegang kantong berisi sate. Stephen tampak cukup kesusahan. Flora sedikit menunduk.
"Pegang bahu gue," ucap Flora, Stephen mengangguk pelan, pria itu kemudian memegang bahu Flora sampai pada akhirnya dia berhasil untuk berdiri. Setelah memastikan mobil terkunci, keduanya sempat tidak sengaja saling tatap satu sama lain. Flora lebih dahulu memutuskan tatapan itu.
"Sudah siap jalan?" tanya Flora.
"Flo, aku lingkarin tangan di bahu kamu ya?" tanya Stephen minta izin. Flora mengangguk kemudian keduanya dengan kompak melangkah pelan-pelan, Flora benar-benar sangat menjaga langkahnya supaya tidak terlalu terburu-buru dan Stephen jelas sangat kesulitan hanya untuk melangkah namun senyum pria itu sedikit mengembang tipis. Stephen benar-benar tidak percaya ternyata Flora mau melakukan hal seperti ini untuknya. Stephen pikir gadis itu akan membiarkannya berusaha sendirian untuk naik ke lantai tempat unit apartemennya berada.